CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Mengantarmu Pulang


__ADS_3

Kemeriahan acara tak lagi Natasya rasa saat dia menyadari jika sang Ibu tak terlihat sejak beberapa waktu lalu. Bukan hanya di meja tamu, gadis berambut panjang itu juga sudah mencari sang Ibu kesegala penjuru namun tak menemukan hasil.


"Di mana Ibu, apa beliau pulang lebih dulu?." Rasa gugup dan kecemasan yang meyergap membuat Natasya tak berfikir untuk memeriksa lebih dulu ponsel pintarnya.


Selepas menuruni panggung untuk mendampingi Ernest, Natasya langsung berlari keluar untuk mencari Ibunya.


"Ada apa?."


Natasya terkesiap saat tiba-tiba Ernest sudah berdiri di depannya. Rupanya pria itu mengikuti pergerakannya hingga sampai ke tempat ini. Meninggalkan acara perusahaan yang masih berlangsung di dalam gedung.


"Tidak apa, Tuan. Saya hanya sedang mencari Ibu."


Ernest mengernyit.


"Ibu, maksudnya Ibumu?."


Pertanyaan Ernest dijawab Natasya dengan anggukkan.


Ernest terlihat menghela nafas. Pria itu menatap kesekeliling. Berfikir jika Ibunya Natasya tersesat di gedung yang seluas ini.


"Apa mungkin Ibumu tersesat?."


Lagi, Natasya hanya bisa menggelengkan kepala. Ernest sendiri menghela nafas dalam. Membayangkan perempuan tua yang merupakan Ibu dari Natasya keluar dari gedung acara sampai tersesat.


"Tunggu, aku akan kerahkan petugas keamanan untuk mencari keberadaan Ibumu." Ernest berbalik arah dan hendak beranjak namun tangan Natasya menahannya.


"Jangan dulu, Tuan. Saya takut jika para tamu undangan mendengar dan berujung merusak acara perusahaan." Menurut Natasya, bukan tidak mungkin jika akan timbul kekisruhan dari para tamu undangan andai mengetahui jika ada salah satu dari tamu undangan yang hilang atau tak diketahui keberadaannya. Para awak media yang sedang meliput pun pasti dibuat heboh, hingga terkadang membangun opini sendiri demi rating.


Ernest mengangguk, seperti membenarkan ucapan sang gadis.


"Apa kau sudah memeriksa ponselmu?. Barang kali Ibumu meninggalkan pesan di sana atau jejak apa pun itu tentang di mana keberadaannya sekarang." Ernest coba mengingatkan. Mungkin saja dapat sedikit membantu saat dalam kondisi kritis seperti ini.

__ADS_1


Natasya terdiam. Ia berfikir dan menginggat.


"Belum, aku belum memeriksa ponselku."


"Lalu di mana kau menyimpan benda itu sekarang?."


Di mana?


Gadis itu melirik ke kiri dan ke kanan serta menajamkan indra pengingatnya. Ia berusaha mengingat di mana terakhir kali ia meninggalkan tas, sebagai tempat menyimpan ponsel beserta dompet miliknya.


"Di..., di meja. Ya, dimeja." Gadis itu teringat jika meninggalkan tasnya begitu saja di atas meja tamu setelah dipanggil untuk mendampingi Ernest berdiri di atas panggung.


Gadis itu setengah berlari untuk masuk kembali ke dalam gedung sementara Ernest mengekor di belakang. Saat berpapasan dengan tamu undangan lain, Natasya lekas menyetel wajah santai agar tak ada siapa pun yang curiga begitu pun dengan Ernest.


Begitu dari kejauhan tas miliknya sudah terlihat, Natasya menghela nafas lega.


"Tetap santai. Periksa ponselmu dan hubungi aku jika ada sesuatu yang kau temukan tentang Ibumu." Ernest berbisik sebelum melangkah meninggalkan Natasya untuk bergabung dengan keluarga besarnya. Samar Ernest bisa melihat jika Natasya menganggukkan kepala dan mulai melangkah menuju meja tamu yang sempat gadis itu duduki bersama sang Ibu.


💗💗💗💗💗


Ernest menghela nafas selepas membaca sebuah pesan dari sang sekretaris tentang keberadaan Ibunya. Rupanya bukan hanya Natasya yang merasa lega namun Ernest pun juga.


Para keluarga inti Atmadja sedang berbincang dan menikmati hidangan. Arka dan Erich berulangkali mengajak Ernest berbicara namun pria itu terlihat tak fokus dan justru mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ernest," tegur Arka saat putranya dipanggil berulang kali namun tak kunjung menjawab.


"Y- ya, Ayah. Apa tadi, kalian bertanya apa?." Ernest yang tak fokus justru balik bertanya dan sukses membuat keluarganya yang duduk melingkar di satu meja menggelengkan kepala.


"Sudahlah, lupakan saja," jawab Arka yang menyadari jika fokus sang putra sepertinya terbelah pada malam ini. Bukan sekadar tertuju pada perusahaan dan keluarga namun masih terbagi pada hal lain.


"Em Ayah, Ibu, paman dan semua sepertinya aku harus pamit lebih dulu sebab ada urusan lain yang harus aku selesaikan." Ernest bangkit. Saat mulut Arka hendak terbuka, satu dari putra kembarnya itu sudah melangkah pergi.

__ADS_1


Ck, dasar bocah.


Rupanya ada sesuatu hal yang mampu menarik diri seorang Ernest untuk bangkit dari kursi dan meninggkan keluarganya. Dari kejauhan ia melihat Natasya mengemasi barang pribadinya ke dalam tas dan meninggalkan meja. Pria itu yakin jika sang gadis akan pulang. Lalu bagaimana dengan Ibunya?. Meski pria itu tau jika Ibu dari Natasya sudah kembali lebih dulu namun bagaimana dengan Natasya.


Ernest melangkah lebar untuk bisa menyusul pergerakan Natasya. Cukup lama ia mencari dan akhirnya menemukan Natasya di area parkir. Gadis itu sudah hendak memasuki mobil sebelum Ernest memanggil.


"Natasya," panggil Ernest dan sontak membuat sang empunya nama menengok ke arah sumber suara.


"Tuan," jawab sang gadis dengan suara lirih. Raut wajahnya cukup terkejut sebab, tak mengira jika Ernest mengikuti langkahnya.


Mungkinkah masih ada pekerjaan dari Tuan Ernest yang masih belum kukerjakan?.


"Kau sudah akan pulang?." Ernest bertanya dengan tangan menahan pintu mobil Natasya yang terbuka seakan meminta pada sang gadis untuk tidak beranjak lebih dulu.


"Iya, Tuan. Apa masih ada sesuatu yang belum saya selesaikan?."


"O, tidak. Tidak ada, hanya saja apa kau pulang sendirian?." Ernest bahkan menundukkan kepala, menatap ke arah kursi samping kemudi yang memang tak diduduki penumpang. Ya, iyalah Ernest. Natasya memang hanya datang bersama Ibunya sedangkan paruh baya itu sudah pulang lebih dulu. Jadi tentu saja Natasya akan pulang sendiri.


Natasya mengangguki. Membenarkan jika dirinya memang pulang seorang diri.


"Ayo, ikutlah bersamaku. Aku akan mengantarmu pulang," ucap Ernest yang sukses membuat Natasya terkesiap. Pria itu bahkan menarik lembut pergelangan tangan Natasya, meminta pada sang gadis untuk keluar dari mobil.


"Tu-tuan, bagaimana dengan mobil saya?." Natasya yang kebingungan begitu Ernest menggandengnya untuk menjauhi mobil, tak urung menyerukan apa yang berkeliaran difikir.


Mobilku, mobil kesayanganku.


"Akan ada sopir yang mengantarnya sampai ke rumahmu," jawab Ernest enteng masih dengan mengandeng tangan Natasya menuju mobil pribadinya.


Natasya pasrah. Terlebih saat seorang sopir membukakan pintu untuknya, hingga dirinya duduk di kursi penumpang sebuah kendaraan mewah, berdampingan dengan Ernest yang sudah terlihat begitu nyaman pada posisinya.


Gadis itu memejamkan mata. Hah, merutuki diri kenapa malam ini dirinya seakan mendapatkan banyak kejutan di acara penting perusahaan tempatnya bekerja.

__ADS_1


Mulai dari mendapatkan kehormatan untuk mendampingi Ernest di atas panggung, dan kini justru seorang Ernest berada dalam satu kendaraan dengannya dan berniat untuk mengantarnya pulang. Ya tuhan, kejutan macam apa lagi ini?. Natasya bukannya merasa senang. Gadis itu justru terbebani. Andai saja bisa memilih, tentunya ia akan menolak tawaran sang atasan dan memilih untuk pulang sendiri. Akan tetapi, apa boleh buat. Ia hanya bisa pasrah dari pada memperpanjang urusan.


Tbc.


__ADS_2