
Mentari pagi memancarkan sinarnya yang begitu hangat saat menyapa kulit. Hari ini, cuaca begitu cerah, langit pun nampak membiru dengan sisiapan awan putih tipis yang berarak mengikuti pergerakan sang surya.
Dikediaman Praja diwangka, rumah megah itu sedikit disulap. Beberapa tenda kecil tampak di pasang di halaman rumah. Begitu pun dengan area ruang tamu. Bunga-bunga hidup dirangkai sedemikian rupa dan diletakkan dibeberapa sudut ruangan. Juga tambahan pernak pernik dekorasi lain yang kian menegaskan adanya sebuah acara yang digelar.
Petang hingga malam nanti rencananya acara pertunangan Lara dan Steven akan digelar. Terbilang prifat dan hanya mengundang kedua belah pihak keluarga dan orang terdekat saja.
Isabel mengengam ujung pakaian saat ia menyisir pandang kearea sekitar rumahnya. Dari beberapa tamu yang berdatangan, hanya ada keluarga Ibu tirinya dan tak tak mengikut sertakan keluarga kedua orang tuanya sama sekali.
Bertambah hari, kian bertambah pula sang ibu tiri menorehkan luka di hati. Bukankah rumah tempat mereka menggelar pesta pun masih milik orang tuanya? Bahkan dirinya sendiri sebagai sang empunya rumah pun tak ubah layaknya seorang pelayan yang sibuk di dapur, bertemankan asap dan keringat. Tak ada gaun mewah atau pun perhiasan yang bisa Isabel kenakan. Gadis itu hanya menggenakan stelan berwarna biru muda yang sederhana namun tetap indah membalut tubuh rampingnya.
Kerabat Arum mulai berdatangan. Pria, wanita, baik dewasa dan anak-anak mulai memasuki ruang tamu. Sang ibu tiri yang hari ini berpenampilan begitu cetar, tampak menyabut keluarganya dengan penuh suka cita. Sementara Lara sendiri, masih belum terlihat. Bersama kru MUA, gadis itu sepertinya tengah bersolek di kamar pribadinya.
Ratih yang memergoki Isabel tengah mengintip dari cela tirai yang sedikit terbuka, lekas mengusap lembut bahu gadis tersebut.
"Nona, yang sabar. Mungkin tuan Steven bukanlah pria yang terbaik untuk Nona Isabel. Lupakan dia. Seiring berjalannya waktu, Bibi yakin jika Nona Isabel pasti akan mendapatkan seorang pengganti yang lebih baik." Ratih coba menenangkan. Meski dari luar Isabel terlihat tegar namun dalam hati siapa yang tau. Wajar, mereka sudah berhubungan dekat bertahun lalu. Pasti banyak momen indah yang dilewati keduanya dan Ratih sendiri pun tau akan hal itu.
"Pasti, bi," jawab Isabel lirih.
Mungkin seperti inilah takdirku.
Isabel mundur perlahan. Mendaratkan bobot tubuh pada sebuah kursi. Merenung. Gafis itu mendadak melamun. Entah apa yang tengah difikirkan.
"Keluarga ayah tak ada yang datang?"
Ratih spontan menggeleng.
"Tidak, mungkin tidak diundang oleh nyonya Arum atau pun Nona Lara."
Isabel mungkin bisa menebak, jika selain keluarga mendiang sang Ibu, keluarga sang Ayah pasti tak ada yang datang mengingat konflik yang terjadi beberapa tahun lalu. Selain dirinya, rupanya keluarga sang auah pun tak ada yang setuju jika Praja menikahi Arum. Bukan tanpa alasan, Gelagat mencurigakan Arum rupanya sudah bisa diendus oleh kluarga Praja. Akan tetapi Praja yang sudah diperdaya nafsu, justu nekat menutup mata dan menjadi Egois. Bahkan hingga detik ini pun, keluarga Praja masih menyimpan amarah, dan sama sekali tak ada yang menginjakan kaki ke kediaman Praja semenjak pasangan itu memutuskan untuk menikah.
"Hei, pelayan. Apa yang kalian kerjakan? Lihat, di meja prasmanan sebagian kudapan masih kosong. Apa mata kalian buta? Cepat siapkan sebelum tamu undangan datang atau kalian akan dipecat sebab mempemalukan pemilik rumah."
Isabel yang duduk termanggu, tersentak. Seorang perempuan berwajah sinis seraya berkacak pinggang itu melotot ke arahnya dan juga Ratih yang beberapa saat lalu sempat berbincang.
"Cepat kerjakan!" Suara perempuan itu bahkan lebih nyaring dari pada ucapannya beberapa detik lalu.
__ADS_1
"Ba-baik nyonya." Isabel lekas beranjak juga menarik tangan Ratih untuk bergegas menuju dapur.
"Dasar kaum rendahan." Perempuan itu menyerigai. Gadis yang ia lihat baru saja, tentu ia tau jika gadis itu ada Isabel. Anak tiri dari adik kandungnya, Arum.
"Arum benar-benar hebat," gumam perempuan tersebut seraya pergi meninggalkan ruangan untuk bergabung bersama keluarganya yang lain.
πππππ
"Nona, biar bibi saja?" Ratih coba mengambil alih nampan berisi kudapan yang tersusun di piring namun Isabel menolakknya.
"Tidak usah, biar aku saja. Bibi Beristirahatlah, pasti lelah kan?"
Ratih menghela nafas. Lelah? Tentu saja. Para pelayan bahkan haris bekerja secara ekstra selama dua hari ini. Bahkan Arum seperti sengaja tak menggunakan jasa katering dan hanya mengandalkan koki yang biasa bekerja dirumah dengan dibantu beberapa pelayan. Sedangkan menu yang disajikan memiliki banyak macam hingga membuat koki kewalahan.
Belum lagi dengan dekorasi serta alat penunjang lain. Semua hanya mengandalkan tenaga para penjaga keaman rumah yang selama ini bersiaga. Seakan semua yang terjadi atas unsur kesengajaan Arum. Akan tetapi, para pekerja pun tak mampu protes, hanya bisa pasrah dari pada kehilangan pekerjaan.
Dengan membawa nampan, Isabel menuju ruang tamu di mana acara pertunangan akan di langsungkan dan bertepatan pula dengan munculnya Steven beserta keluarga memasuki pintu utama kediaman Praja.
Isabel spontan membalikan badan. Memilih melangkah ke sudut ruangan agar tak terlihat.
Arum dan para tetua keluarga menyambut dengan rasa bahagia. Dapat dilihat jika Arum dan ibuda Steven begitu dekat. Terbukti dari interaksi keduanya.
Isabel tersenyum penuh ironi. Mengejek serta memuji ekting terbaik sang ibu tiri. Sungguh perempuan bermuka dua.
Di depan kau pura-pura ramah, tapi di belakang kau rayu-rayu pula suaminya.
Isabel masih mengingat dengan jelas, bagaimana Ayah Steven berlutut di kaki Arum seraya menyanjungkan kalimat puji dan puja untuknya.
Lalu, apakah Ayah Steven dan Arum memiliki hubungan? Tentu saja. Isabel bahkan kerap memergoki keduanya sedang bercumbu rayu di ruang kerja sang Ayah.
Isabel bukanlah gadis bodoh. Semenjak perselingkuhan sang ayah, gadis itu dituntut untuk berfikir lebih dewasa dari usia sebenarnya. Peka pada hal yang dirasa tak wajar dan juga lebih peka pada orang-orang yang berniat menghancurkan masa depannya.
Hubungan Ayah Steven dan Ibu tirinya bahkan sudah terjalin saat Praja masih segar bugar atau pun belum lumpuh. Hah, apakah itu bisa dikatan Karma dari pengkhianatan yang sudah ia lakukan pada Laura? Entahlah.
Steven beserta keluarga duduk dijajaran kursi yang sudah tersusun rapi. Beberapa saat kemudian Lara muncul dari arah tangga dengan digandeng dua orang gadis berpakaian serupa.
__ADS_1
Isabel tertegun sejenak. Melupakan nampan yang ia pegang saat pandangannya justru tertuju pada Larasati.
Momen tersebut pun rupanya tak luput dari pandangan seseorang. Seseorang yang rupanya ingin memanfaatkan keadaan.
Prankk
"Aw!" Jeritan itu bergema memenuhi ruangan.
Isabel terkesiap. Lebih terkesiap lagi saat mendapati nampan yang ia bawa sudah terjatuh dan kudapan yang ia bawa sudah berhamburan ke lantai. Sontak semua pandangan tertuju padanya.
Riuh suara beserta cibiran dari para tetamu undangan. Isabel gelagapan. Tubuhnya gemetar. Terlebuh saat mendapat tatapan tajam dari orang-orang yang memang sudah tak menyukainya.
"Bodoh! kau ingin merusak acaraku?" Tak disangka, Larasati yang berpenampilan anggun saat ini justu memaki Isabel. Bahkan lupa untuk mamakai tatakrama di depan keluarga calon suaminya sendiri.
"Maaf, aku- aku benar-benar tidak sengaja."
"Bohong! Bohong! Bilang saja jika kau iri. Kau iri padaku 'kan?"
Lara kini mendekat kearah Isabel dengan pandangan mengintimidasi. Suasana hening seketika. Para tetamu dan keluarga justru terlihat bagai penonton. Sedangkan dua gadis itu bagaikan objek paling menyenangkan untuk dipandang mata.
"Tidak! Aku berani bersumpah jika tak sengaja melakukan."
Lara menyerigai. Begitu mengerikan, Seiring langkah kakinya yang semakin mendekati Isabel dan..
Plak..
Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi kiri Isabel.
Larasati murka. Bahkan jika hanya dengan satu tamparan saja masih belum membuat hati perempuan itu lega.
Kasih semangat terus buat autor yak
Karna like dan komenmu adalah semangatkuππ
Duh jangan greget dulu yak. Entar kita kasih balasan juga buat lara, biar dia kapok π
__ADS_1