
Zara merasa dalam dilema begitu mendengar permintaan Andara untuk mempertemukan Ernest dengan Sandara. Sepanjang perjalanan pulang perempuan itu memilih diam. Arka yang duduk di samping dan senantiasa menggengam tangannya, tak berani bertanya. Ia membiarkan sang istri larut dalam keterdiaman untuk beberapa waktu sampai ia sendiri yang memulai pembicaraan.
Cukup lama keheningan melanda di dalam kuda besi yang melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan padat kendaraan.
Zara menghela nafas dalam. Suasana hatinya mulai lebih tenang sekarang.
"Sayang," panggil Zara pada Arka seraya mencondongkan kepala ke arah pria tersebut.
"Hem, kenapa? Apa ada masalah?." Arka merentangkan tangan, meminta sang istri untuk mendekat kemudian memeluknya.
Arka memeluk tubuh Zara erat, begitu pun sebaliknya.
"Ada apa? Katakanlah." Arka mendaratkan kecupan di puncak kepala sang istri secara berulang. Menikmati keromantisan berdua yang selalu tetap terjaga.
"Em, Andara memintaku untuk mempertemukan putrinya dengan putra kita. Bagaimana, apa kau mengizinkan?." Zara mendongak, menatap reaksi wajah yang ditunjukan oleh suaminya.
Arka mengernyitkan dahi. Terlihat jelas raut keterkejutan dari sang suami.
"Untuk apa. Toh hubungan mereka sudah berakhir dan tak bisa diperbaiki lagi."
Memang benar, tapi..
Zara menelan salivanya berat. Benar, hubungan mereka sudah berakhir dan Ernest pasti menolak keinginan Andara. Akan tetapi apakah selamanya akan tetap seperti ini? Setidaknya dengan bertemu mereka bisa menuntaskan masalah hingga tak mengakibatkan dendam. Semua hanya perlu diluruskan. Bertemu, duduk dan saling memaafkan. Bukankah itu terdengar lebih baik?.
"Iya, aku tau. Tapi bukankah sebagai orang tua, kita wajib memberi solusi tepat untuk masalah yang tengah dialami putra putri kita? Seperti kita tau, Ernest dan Andara berpisah dalam situasi tidak baik-baik saja. Kau tentu masih ingat, Andara pergi selepas kau usir, dan putra kita? Sayang, percayalah. Setidaknya pertemukan dan biarkan mereka memutuskan berpisah dengan cara baik-baik. Ingat, dendam tidak akan bisa menyelesaikan masalah."
Arka tak bisa menjawab. Ia hanya bisa menganggukan kepala pertanda menyetujui permintaan istrinya.
💗💗💗💗💗
"Maaf, tidak bisa, Ibu. Aku masih tak ingin bertemu dengannya." Ernest menyela cepat ucapan sang Ibu saat memintanya untuk menemui Sandara atas permintaan Andara.
__ADS_1
Sepulang dari kediaman Andara, Zara tak kembali ke rumah melainkan langsung menuju gedung Atmadja grup untuk menemui sang putra.
Penolakan sang putra membuat Zara menghela nafas dalam. Sepertinya akan membutuhkan waktu lumayan untuk bisa membujuk sang putra, berbeda dengan suaminya.
Sikap Ernest tak lagi setenang dulu. Kini ia kerap kali mudah marah dan tersulut emosi meski pun dalam perkara yang tak jelas.
"Setidaknya temui dia sekali saja, Nak. Aku dengar jika San hanya akan meminta maaf padamu."
Di meja kerjanya Ernest terus berkutat dengan pekerjaan, namun siapa yang tau jika fikirannya sudah tak fokus lagi pada layar laptop di hadapan. Permohonan sang Ibu sedikit banyak membuat hatinya gerimis. Sandara, Huh. Ernest memejamkan mata begitu mengucap satu nama yang sempat terpatri begitu lama di hatinya.
"Ibu tau, pasti sulit bagimu untuk bisa memafkan pengkhianatan San begitu saja. Akan tetapi tidak mungkin jika hubungan kalian akan berakhir seperti ini selamanya. Tidak ada kejelasan. Diam saling diam dan hanya akan saling menyakiti hati kalian masing-masing." Kiranya Zara mulai geram. Berfikir jika sang putra tidak gentle dalam menyelesaikan masalahnya sendiri.
Kalimat putus mungkin hanya terucap secara sepihak, lalu apakah Sandara bisa legowo menerima. Sakit yang tengah dialami Sandara mungkin saja akibat beban mental yang ia terima. Lalu seperti apa nasib gadis itu kedepannya?.
"Aku masih tak ingin melihat wajahnya, Ibu. Karna setiap aku melihatnya maka aku akan..." Ernest tak mampu menyelesaikan ucapan. Fikirnya kacau balau setiap kali membahas tentang Sandara. Ia sendiri sudah berjuang sebisa mungkin untuk memusnahkan segala tentang Sandara dalam fikirnya.
"Baiklah. Ibu mengerti jika itu memang keputusanmu. Memang sangat sulit bagimu untuk bisa memaafkan Sandara. Akan tetapi, ketahuilah. Sandara sedang sakit. Ia seperti mayat yang tak punya gairah hidup. Ibu pamit, Assalamualaikum."
Lengkung tipis Zara mengulas senyum. Ia yakin jika di balik semua kebencian, sang putra masih mempunyai rasa simpati pada sesama.
Ernest pun bangkit, ia lebih dulu keluar dari ruangan dari pada sang Ibu.
💗💗💗💗💗
Hati pria mana yang tak teriris pedih ketika lima tahun lamanya dirinya didustai oleh seorang gadis yang ia cintai. Bangunan megah tempatnya berpijak saat ini merupakan kebohongan besar yang juga sang kekasih sembunyikan darinya
Cih, mengaku sebatang kara padahal rumahmu megah bertingkat.
Seorang penjaga keamanan tergopoh menyambut kedatangan Ernest. Membuka lebar pagar besi dan mempersilahkan kendaraan Ernest untuk masuk ke halaman. Penjaga tersebut berlari lagi menghampiri pelayan rumah, mungkin mengabarkan pada sang Majikan jika tamu yang dittunggu sudah datang.
Begitu tubuh Ernest keluar dari pintu mobil yang terbuka. Sepasang suami istri sudah berdiri di depan pintu masuk seraya menatapnya dengan seulas senyum simpul.
__ADS_1
"Nak Ernest?." Sapa seorang perempuan yang merupakan Andara, Ibu dari Sandara.
"Ya, Benar Nyonya. Saya Ernest."
"Perkenalkan, saya Andara dan Ini," Tunjuk Andara pada pria di sampingnya. "Sandy, suami saya. Kami berdua adalah orang tua dari Sandara," sambung Andara seraya mengulurkan tangan ke hadapan Ernest.
Sejenak Ernest tertegun. Tangannya seakan berat untuk menerima uluran tangan ke dua orang tua Sandara.
Jadi, merekalah yang memanfaatkan putrinya untuk tujuan balas dendam?.
Mendapati Ernest tak menyambut uluran tangan darinya, Andara menarik kembali tangannya dengan perasaan kecewa. Tapi tak mengapa. Bukankah wajar. Ernest pasti membencinya dan tak senudah itu untuk bisa melupakannya.
"Aku kemari hanya untuk bertemu dengan San dan tidak lebih." Nada bicara Ernest terdengar ketus dan lantang. Andara bahkan sampai meneguk ludah. Takut.
"Baiklah. Mari Ibu antar sampai ke kamar eSandara." Andara lekas membimbing langkah kali Ernest. Menaiki anak tangga hingga sampai di depan pintu ruangan di mana tertulis nama Sandara di sana.
Gila, kau bahkan pandai berakting layaknya gadis miskin yang tak punya apa-apa. Tapi apa kenyataannya. Kau hanya berpura-pura miskin hanya untuk membodohiku. Dasar breng*sek.
Dalam hati Ernest terus mengumpat. Fikirnya yang semula tenang kini seakan tersulut kembali begitu mendapati kenyataan yang ada.
Andara membuka pintu yang tak terkunci itu secara perlahan. Ernest kembali menggelengkan kepala begitu melihat isi kamar dari seorang Sandara. Kamar yang luas denfan furnitur super lengkap khusus perempuan. Ia terkesiap. Bukan hanya penampakan kamar sang mantan kekasih namun juga tubuh seorang gadis yang terbaring terlentang di atas ranjang dengan ke dua mata yang terbuka.
San
Begitu menengar jejak langkah kaki yang mendekat, perempuan di atas ranjang itu lantas menggerakkan kepala ke sumber suara. Momen yang tepat, mata sepasang mantan kekasih itu saling berpandangan.
Gadis itu terkesiap. Matanya kini berkaca-kaca dengan bibir terbuka.
"Ernest," gumam Sandara dengan bibir bergetar.
Tbc.
__ADS_1