CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Undangan Yang Mengejutkan


__ADS_3

Benarkah ucapan Paman bila aku menyukainya?.


Ernest termenung. Berdiri di dekat meja Natasya namun hanya terdiam dan memandang wajah Natasya begitu dalam. Sementara Natasya sendiri masih tak menyadari kehadiran Ernest. Pandangan gadis itu tetap tertuju pada layar laptop, begitu ketara jika Natasya sedang fokus pada pekerjaan.


Semalam, entak tercipta ide dari mana, Rangga meminta pada Ernest untuk mengatur pertemuan yang diatur sedemikian hingga lebih mirip seperti kecan antara dirinya dengan Natasya juga dengan Rangga dan Anastasya.


Ernest menghela nafas. Jika untuk urusan dirinya dan Natasya, mungkin mudah saja tapi untuk urusan Ibunya Natasya. Dirinya bahkan tak bisa menjamin.


Pria muda itu tak habis fikir tentang sedalam apa perasaan sang paman yang tersimpan untuk Ibunda Natasya sampai sekarang. Lebih dari dua puluh tahun berlalu, dan waktu tersebut tidak bisa dikatakan sebentar. Sudah begitu banyak hari, bulan bahkan tahun terlewati, tetapi seorang Paman yang punya segalanya nyatanya tetapi menjaga hati untuk orang yang sama. Satu perempuan yang nyatanya pernah menikah dengan pria lain bahkan sudah dikarunia buah hati. Sungguh, kesetiaan serta ketangguhan hati raga tak perlu diragukan. Ernest sampai ternganga, rupanya di dunia nyata hal halngka tersebut masih bisa ia temui.


"Tuan, apa anda membutuhkan sesuatu?." Natasya yang tanpa sengaja menoleh, dibuat terkejut dengan penampakan sang atasan yang sudah berdiri tegap di samping meja kerjanya namun sama sekali tak menegur. Sontak tubuh gadis itu bangkit, menundukan kepala dan menyapa. Cukup takut dengan ekspresi sang Tuan yang datar, berfikir jika dirinya sudah melakukan kesalahan.


"Oh, tidak. Aku hanya ingin menanyakan agenda kerjaku hari ini dan... Besok."


Agenda kerja?. Bukannya tadi pagi kami sudah membicarakannya, apa iya Tuan Ernest lupa?.


Meski merasa aneh, Natasya kembali memberitahukan agenda kerja Ernest untuk hari ini serta esok, meski pagi tadi keduanya sudah sempat membahas dan Ernest sama sekali tak mendebat, tapi kenapa pertanyaan yang sama kembali diulang?. Benarkah pria itu lupa atau sedang ....


"Oh, baiklah. Rupanya jadi nanti malam cukup lenggang. Kau pun tidak perlu lenbur atau keluar menemaniku untuk urusan kerja."


Natasya mengangguk, membenarkan. Memang untuk dua hari ke depan, jadwal kerja serta meting penting dengan klien tak terlalu padat. Dirinya menjadi punya cukup waktu untuk beristirahat.


Huh, kata siapa?.


Untuk urusan kerja, Ernest terbilang sangatlah profesional. Natasya kerap kali lembur, merampungkan semua tugas yang dibebankan meski pada saat Itu atasannya sudah pulang lebih dulu bahkan dari beberapa jam yang lalu. Meski pun hubungan diantara keduanya terbilang dekat, namun untuk urusan pekerjaan Ernest tak pandang bulu. Pantang pulang jika pekerjaan belumlah rampung, dan peraturan tersebut ditujukan bagi seluruh karyawan tanpa terkecuali.


"Ya, benar, Tuan." Setelah beberapa saat terhanyut dalam fikiran sendiri, Natasya membalas ucapan Ernest yang masih berdiri di tempatnya semula.


"Nah, jika jam kerjaku lenggang maka berarti dirimu pun sama."


Natasya mengangguk ragu meski sejatinya tak mengetahui kemana arah pembicaraan atasannya tersebut.

__ADS_1


"Aku akan mengundangmu lagi untuk makan malam. Em, bawa serta juga Ibumu, Nyonya Anastasya. Tetapi kali ini acaranya tidak di rumah. Aku akan memesan tempat. Nanti setelah dapat, maka akan kukirim alamatnya."


Apa, undangan makan malam lagi?.


"Tapi Tuan, sepertinya malam ini kam---"


"Kenapa, apa kau berniat menolak undangan makan malam dari kami?."


Natasya gelagapan. Ia menggaruk kulit kepalannya yang tak gatal.


"Bu-bukan, kami bukan berniat untuk menolak, hanya saja --"


"Hanya saja apa, jika kalian berniat untuk tidak datang, bukankah sama saja dengan menolak?."


Benar juga.


"Tapi, Tuan. Saya sendiri tak bisa memastikan apakah Ibu berkenan datang atau tidak untuk menerima undangan makan malam keluarga anda." Bagaimana ini, Natasya sendiri ragu. Ia pun kebingungan untuk menyampaikan kepada Ibunya nanti.


"Tapi, Tuan. Saya harus berkata apa pada Ibu dan memastikannya sampai beliau mau datang?."


"Kau katakan saja seperti yang sudah aku katakan. Bilang, jika orang tuaku ingin bertemu. Aku yakin, Ibumu pasti tak akan menolak." Ernest terus meyakinkan sementara Natasya semakin dilema. Antara menerima atau menolak usul sang Tuan.


"Baiklah," jawab Natasya pada akhirnya. "Akan saya usahakan namun tak juga berani untuk berjanji."


"O, tidak masalah. Katakan saja lebih dulu, beri waktu pada beliau untuk mempertimbangkannya. Tapi aku sangat berharap, kau dan Ibumu bisa datang."


Natasya tak berani memberi banyak harapan. Biarlah, ia serahkan semua pada sang Ibu. Bila perempuan itu menolak, maka dirinya pun bisa apa.


💗💗💗💗💗


Tak ada drama yang berarti saat Natasya menyampaikan undangan Ernest untuk Ibunya. Justru Anastasya terlihat senang. Ia kembali akan bertemu dengan keluarga lama yang serasa belum lama ini ia temukan kembali.

__ADS_1


Ibu dan Anak itu mengenakan gaun terbaik. Ernest sudah memesan sebuah tempat yang letaknya berada di pusat kota.


Selama melangkah menuju ruang yang dipesan, Natasya berjalan seraya menggandeng tangan ibunya.


Anastasya mengulas senyum, rasanya ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Zara.


Keduanya sudah memasuki sebuah Resto yang direservasi oleh Ernest. Dua orang pelayan datang menyambut. Mempersilahkan dan mengiring langkah tamu VIP nya menuju tempat yang sudah dipesan.


"Silahkan masuk, Nyonya. Tuan Ernest sudah menunggu di dalam." Seorang pelayan resto membuka pintu ruangan kelas Vip.


"Terimakasih," jawab Ibu dan Anak tersebut serempak. Selepas berucap keduanya pun memasuki ruangan.


"Wah, selamat datang," sapa seorang pria yang suaranya begitu familiar di telinga Natasya.


"Ya, kami datang, Tuan." Natasya tersenyum, tetapi gadis itu juga kebingungan saat menatap ke arah sekitar. Sepi, kenapa orang tua Ernest tak terlihat, apa mungkun mereka belum datang.


"Tuan, Nyonya dan Tuan belum datang?." Natasya tentu penasaran. Sedangkan Ernest terlihat santai. Pria muda itu menghampiri Anastasya,meraih dan mencium punggung tangannya.


"Maaf, tadi Ibu baru menelfon dan mengatakan tidak jadi datang karna sebuah alasan."


Natasya terkejut begitu pun Anastasya.


"Tapi tak masalah, aku masih punya seseorang yang mungkin bisa mengantikan posisi orang tuaku untuk sementara waktu." Satu tepukan tangan dari Ernest membuat pintu lain dari ruang tersebut terbuka, dan wajah seseorang muncul di baliknya.


"Selamat datang." Pria itu langsung menyapa. Sementara Anastasya terkejut luar biasa.


"Untuk sementara waktu aku akan menggantikan orang tua Rangga untuk acara makan malam kali ini." Lewat gerakan tanggan, Rangga meminta Anastasya dan putrinya untuk duduk.


Tubuh Anastasya lunglai. Andai tak berpegangan pada putrinya mungkin saat ini tubuhnya sudah ambruk. Apa-apaan ini?. Anastasya ingin menjerit. Namun suaranya hanya terhenti ditenggorokan.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2