CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Kau Imut Sekali


__ADS_3

"Untuk apa kau menemuiku?" Erich menatap tajam pada gadis yang masih berdiri di tempatnya semula. Seolah sengaja, Erich bahkan tak mempersilahkan gadis itu untuk duduk.


"Maaf," jawab Isabel seraya tertunduk, sementara kedua tangannya yang saling bertautan, ia remat coba mengusir ketegangan.


"Bukankah kau sudah menolak tawaranku, jadi untuk apa kau datang kemari?" Erich berusaha abai, setelah beberapa saat terfokus pada kedatangan Isabel, kini pria itu tampak memulai kembali aktifitasnya sebelum gadis itu datang. Berjibaku dengan kertas dan laptop.


Isabel tersenyum masam. Keberadaanya hanya dianggap lalu oleh mantan atasannya. Dasar patung! Maki Isabel, tetapi tentunya hanya dalam hati.


"Saya datang ke kota ini, bermaksud untuk menjemput Bi Retno agar bersedia ikut saya pulang ke ibu kota."


Spontan Erich mendongak dan menatap tajam sepasang mata bening Isabel. Sementara gadis yang ditatap, gelagan hingga mundur beberapa langkah.


"Apakah kau sudah memikirkan seperti apa konsekuensinya?"


"Ma-maksud anda?"


"Dengan siapa kau datang? Apa kau membawa cukup banyak pengawal untuk menjamin keselamatanmu?"


Isabel menelan ludah. Ucapa Erich membuat tubuhnya gemetar seketika.


"Sa-saya hanya datang seorang diri."


Erich geleng-geleng kepala. Tak habis fikir dengan Isabel.


"Untuk ukuran seorang gadis, cukup bernyali juga kau rupanya." Erich setengah mencibir. "Kau fikir hanya dengan menganti penampilanmu layaknya seorang pria cukup untuk mengelabui mereka? Tentu tidak semudah itu, nona."


Semangat Isabel yang sempat membara, berangsur padam. Seperti ucapan Erich benar adanya. Tentu Resikonya sangat besar andai anak buah Arum menemukannya.


"Duduklah. Kakimu pasti pegal jika terlalu lama berdiri," titah Erich begitu menyadari jika Isabel masih berdiri di tempatnya semula.


"Terimakasih."

__ADS_1


Begitu Isabel duduk, Erich meminta pada Starla untuk membuatkan dua gelas minuman. Tentu Starla sendiri belum menyadari jika tamu Erich adalah Isabel.


"Kau tidak perlu khawatir, Bu Retno tetap aman dalam perlindunganku. Tetapi aku masih tak habis fikir dengan tindakanmu, sebenarnya apa tujuanmu datang untuk menjemput Bu Retno seorang diri tanpa didampingi siapa pun. Apa kau bisa menjamin jika cara yang kau pilih ini akan aman? Lalu bagaimana andai kalian tertangkap, tentu nyawa kalian sendiri akan menjadi taruhan. Ingat, kau perempuan Isabel, juga dengan bu Retno dan putrinya. Kalian semua perempuan. Apa kau masih belum sadar seperti apa berbahayanya andai kalian tertangkap?!"


Isabel kian tertunduk dalam. Gafis itu cukup terkejut dengan respon yang diberikan oleh Erich yang menurutnya cukup berlebihan untuk ukuran seorang mantan atasan.


"Maaf," lirih Erich setelah sadar. "Bukan maksudku seperti itu, hanya saja aku pun sangat mengkhawatirkan keselamatan kalian, terutama Bu Retno yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri," lanjut Erich lagi.


"Anda benar. Tidak seharusnya saya segegabah ini dalam menentukan keputusan. Saya bahkan tidak sempat berfikir sampai sejauh itu. Maafkan saya." Ada gurat penyesalan dalam diri Isabel. Benar, nyawanya dan juga nyawa Retno dan putrinya, begitu berharga. Sungguh tidak sepadan dengan nyawa Arum si singa betina.


Erich sejenak terpaku, menatap seraut wajah Isabel yang lembut nan menenangkan. Pria itu akui jika paras gadis di hadapannya ini benar-benar cantik. Terlebih untuk kali pertama ia melihat Isabel dengan rambut panjang indahnya yang terburai. Nyaris sempurna bak bidadari kayangan.


Erich lekas mengalihkan pandangan. Ia engan tertangkap basah tengah mengagumi keelokan paras seorang gadis yang seumur hidup belum pernah lakukan.


"Tidak perlu cemas. Kau bisa mengatur ulang strategi. Lebih akurat dan tentu meminimalisir beberapa kemungkinan yang bisa datang tanpa kita duga. Kau faham?"


Isabel hanya mengangguk.


"Selepas menilik kejadian pembakaran itu, aku berasumsi jika ibumu memiliki benteng cukup kuat yang berdiri di depannya. Maka dari itu aku sarankan padamu untuk mencari tameng yang sekiranya sepadan dengan lawanmu. Bukankah kau juga ingin menang agar bisa membawa Retno pergi bersamamu?"


"Rumah Bu Retno terbakar. Tapi kami menyakini jika rumah itu bukan terbakar tetapi sengaja dibakar dan pelakunya siapa lagi jika bukan orang suruhan Ibumu."


Ucapan Erich seketika membuat sekujur tubuh Isabel melemah. Benarkah jika Ibu tirinya bertindak sejauh ini, hanya untuk mencari keberadaannya. Bahkan yang tak habis fikir, Retnolah yang terus menjadi sasaran.


Sebenarnya untuk membawa Retno pulang ke ibukota, bukanlah rencana utamanya. Hanya saja ia ingin mengamankan Retno lebih dulu sebelum merebut harta orang tuanya dari tangan Arum.


"Fix, maka kau tidak punya pilihan lagi selain mengikuti kata-kataku."


Isabel tak menjawab. Gadis itu justru sibuk memasang rambut palsu beserta kumis saat mendengar pintu ruangan diketuk dari luar.


"Minumannya, tuan." Starla datang dengan dua gelas minuman segar. Isabel yang sudah kembali kewujud semula, bersikap setenang mungkin saat bertemu dengan Starla. Mungkin hanya pada Erich lah ia menunjukan wajah aslinya. Selebihnya, ia tak yakin.

__ADS_1


💗💗💗💗💗


Isabel memilih untuk ikut pulang bersama Erich. Selain untuk bertemu Retno, pulang dengan Erich setidaknya bisa menjamin keselamatan nyawanya dari para anak buah Arum yang mungkin saja berkeliaran.


Isabel menjaga jarak tubuhnya dari Erich yang sama-sama duduk di kursi penumpang. Gadis itu diterpa kecanggungan, hingga memilih duduk menepi agar kemungkinanan untuk bersentuhan dengan Erich kian tipis.


"Kita akan ke mana tuan?" Tanya sang sopir yang kini terfokus pada jalanan dan stir kemudi.


"Langsung pulang saja Paman."


"Baik, tuan."


Keduanya tak terlibat pembicaraan. Isabel kebingungan menentukan topik, begitu pun sebaliknya. Tetapi tanpa Isabel sadari, sepasang mata pria yang duduk di sampingnya tampak menatap gadis itu, hingga nyaris tak berkedip.


"Katakan, siapa yang mengajarimu untuk berpenampilan seperti ini?" Sudut bibir proa itu melengkung, seperti tertawa namun ditahan.


Tentu Isabel terkesiap. Begitu pun dengan dahinya yang mengernyit tanda tak mengerti.


"Maksud anda?"


"Siapa yang mempunyai ide agar kau berpenampilan seperti ini?" Erich mengulang kembali pertanyaannya.


"Memangnya kenapa?" Isabel yang ingin mendengar penjelasan Erich, kini menatap pada wajah pria taman tersebut.


Tak jauh berbeda dengan Isabel, Erich pun melakukan hal yang sama hingga pandangan keduanya saling berpaut.


Kinibtanpa ragu satu tangan Erich terangkat kemudian mencubit pipi sedikit berisi Isabel dengan gemas seraya berucap, " Kau imut sekali." Yang spontan membuat Isabel mengerkap saking terkejutnya.


"Ya, kau imut sekali ketika berpenampilan seperti ini." Selepas berucap Erich menurun katang yang baru saja ia gunakan untuk mencubit pipi Isabel yang kini sudah bersemu merah. Begitu pun wajah sang pria yang mulai menjauh, hingga jarak diantara keduanya kembali terbentang.


Isabel merasakan detak jantungnya yang berdegub kencang. Sungguh ia tak mengira jika Erich bisa bertingkah seperti itu padanya. Sementara Erich, apakah pria itu menyesal selepas mencubit Isabel? Tentu saja tidak. Justru ia ingin mengulangnya lagi dan lagi selepas bisa mencubit daging halus bak skuisi yang membuatnya ketagihan.

__ADS_1


Di kursi penumpang Isabel kini sibuk menetralkan degub jantungnya sementara Erich tersenyum senang seakan menemukan mainan baru yang begitu ia suka. Keduanya terhanyut dalam suasana hati masing-masing. Hingga tanpa sadar ada beberapa pasang mata yang tengah mengamati bergerakan mereka dari kejauhan.


Tbc.


__ADS_2