CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Do'a Anak


__ADS_3

Seorang pria muda bertubuh tegap tengah mematut pantulan tubuhnya di depan cermin. Stelan jas lengkap berwarna Navy tampak cocok membalut tubuhnya yang nyaris sempurna. Akan tetapi kesempurnaan penampilan, nyatanya tak sesuai dengan isi fikiran.


Semenjak penjelasan panjang lebar dari Ibunya semalam, Ernest tak banyak bicara. Fikirannya terasa kosong. Entah karna terlalu terkejut atau karna memang dirinya belum bisa menerima tentang masa lalu sang Ayah. Ya, ia akui jika Ayahnya tak bersalah menurut cerita dari sang Ibu.


Tetapi melindungi orang lain dengan cara menikahi, Itu juga tidak bisa dibenarkan. Terlebih perempuan yang dinikahi sedang dalam kondisi hamil.


"Ya tuhan." Ernest merauh wajahnya secara kasar.


"Aku tak menyangka jika Paman Rangga ..., hah, sudahlah." Tak ingin dipusingkan, Ernest lekas mempersiapkan diri dan keluar dari kamar. Ia ingin bekerja dan cepat-cepay sampai perusahaan sebelum terlambat.


"Ernest, kau tidak sarapan?." Zara bertanya saat Ernest terlihat tergesa dan ingin melewati meja makan begitu saja.


"Maaf, Ibu, Ayah. Sepertinya aku akan sarapan di kantor saja. Takut jika terlambat." Ernest hanya berpamitan sebab dirinya pun sedang tak nafsu makan.


"Tunggu sebentar," cegah Zara saat sang putra hendak kembali melangkah meninggalkan meja makan. Perempuan itu mengambil beberapa lembar roti tawar dan mengolesnya dengan selai, kemudian memasukkannya dalam kotak bekal. "Ini sarapanmu. Berhati-hatilah. Jaga dirimu baik-baik." Sang Ibu berpesan, sementara Arka hanya memperhatikan sang putra dalam diam.


"Terimakasih, Ibu. Aku pamit." Kini Ernest benar-benar meninggalkan meja makan.


"Sayang, apa kau mengatakan sesuatu hal pada putra kita?." Sepertinya Arka menyadari perubahan sikap sang putra. Pria muda itu memang cuek, tetapi tak secuek dan seabai ini pada anggota keluarganya, dan ia juga meninggalkan sarapan bersama keluarga yang merupakan suatu hal yang tak pernah ia tinggal sebelumnya.


"Ya, aku hanya mengatakan tentang sesuatu yang sudah waktunya ia ketahui. Sayang, putra kita mulai curiga dengan apa yang ia lihat semalam." Zara sedikit menjelaskan. Ia pun tak ingin menutupi, toh baginya Putra putri mereka sudah waktunya mengetahui akan sosok perempuan yang dulu sempat dinikahi oleh Ayah mereka.


"Aku harap putra putri kita tak akan salah faham dan berfikir yang tidak-tidak." Entah kenapa timbul rasa khawatir dalam diri Arka. Jodoh tak ada yang tau, dan saat menikahi Anastasya dulu sesungguhnya ia pun tak main-main.


"Entahlah, aku sendiri tak berani menjamin. Akan tetapi, aku rasa putra putri kita pun sudah besar. Lambat laun mereka pasti akan mengerti."


Arka menghela nafas dalam dan mengangguk perlahan. Keduanya pun kembali melanjutkan sarapan tanpa adanya ketiga putra putri mereka. Jika Ernest sudah berangkat bekerja, begitu pun dengan Emely yang sudah berangkat ke kampus tiga puluh menit lalu.


💗💗💗💗💗


Di balik meja kerja, seorang Ernest pun tak mampu merampungkan tugas seperti biasa. Otaknya seakan buntu dan membeku saat diajak untuk berfikir. Ia nampak tak konsentrasi dan justru memikirkan hal lain.


Saat makan siang ia pun tak keluar ruangan dan meminta Natasya untuk mempersiapkan makanannya di ruang kerja. Saat Natasya sedang memindahkan makanannya ke atas meja yang berada di ruangan dibantu dengan seorang pelayan, Ernest sempat melirik wajah cantik itu sekilas.


Mereka memang mirip. Wajar saja, merekakan memang Ibu dan anak, dan aku masih tidak menyangka jika pemilik wajah yang mirip sekali dengan Natasya adalah mantan istri Ayahku.

__ADS_1


Ernest menghela nafas. Kini ia menundukkan kepala dan meminta pada Natasya serta pelayan untuk keluar dari ruangan.


Perasaan macam apa ini?. Mungkinkah ia kecewa pada sang Ayah, atau kecewa pada keadaan sebab Ibu dari seketarisnya itulah yang pernah memiliki hubungan masa lalu dengan Ayahnya.


"Apa Natasya juga sudah mengetahui perihal masalah ini?." Dengan berat hati Ernest mengusir semua fikiran dan praduga yang bersarang di kepala. Melihat aneka makanan yang terhidang, Ernest memilih untuk mencicipi meski sejatinya ia tak berselera.


Ernest hanya makan sebagian kecil dari makanan yang terhidang di meja. Lewat sambungan interkom dia meminta pada Natasya untuk membereskan sisa makanan.


Seorang pelayan cukup terkejut mendapati makanan yang hampir tak tersentuh oleh sang Tuan.


"Maaf, aku hanya memakannya sedikit. Ada masalah dengan indra perasaku, jadi aku tidak bisa menikmati makanan seperti hari biasa." Ernest seperti sedang meminta maaf. Pelayan tersebut lantas menundukkan kepala dan memaklumi. Ia dan Natasya lekas memindahkan makanan ke meja dorong kemudian membawanya keluar.


"Natasya."


Gadis yang namanya disebut, menghentikan langkah. Membiarkan seorang pelayan lebih dulu meninggalkannya.


"Ya, Tuan," jawabnya kemudian pada sang Tuan selepas berbalik badan.


"Selepas jam kerja usai, ikutlah bersamaku," titah Ernest.


"Baik, Tuan." Tak ingin bertanya tentang tujuan, Natasya hanya meng-iyakan.


💗💗💗💗💗


"Aku tak mengira jika orang tua kita pernah memiliki keterikatan di masa lalu." Ernest menatap lurus ke depan. Di ruang VIp sebuah cafe, dirinya bersama Natasya duduk saling berdampingan dan menatap mata hari tenggelem dari lantai teratas bangunan.


Pada awalnya Ernest secara pelan-pelan bertanya pada sekretarisnya tentang hubungan Ibunya dengan kedua orang tuanya. Ernest sempat mengira jika Natasya tak tau apa-apa, namun nyatanya, gadis itu pun sudah mengetahui bahkan lebih dulu dibanding dirinya.


"Saya juga tidak pernah berfikir demikian, Tuan. Sebab sedari dulu pun Ibu tidak pernah mengungkitnya."


Hening. Kedua insan itu diam. Duduk berdampingan dan menatap kosong ke depan. Hah, entahlah. Akibat rasa terkejut mereka sampai tak mampu berkata-kata.


"Ibumu tidak pernah bercerita tentang masa lalunya?."


Pertanyaan yang keluar dari mulut Ernest tak ayal membuat sang Sekretaris menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Tidak, saya justru mengetahuinya dari Nyonya Zara, Ibunda Tuan."


Ernest tentu terkejut. Ia berfikir, untuk apa Ibunya melakukan hal demikian sedangkan Ibu dari Natasya sendiri terkesan menutupi.


"Ibuku?."


"Benar, Tuan."


Aneh sekali.


"Terlahir di negara orang tentu saya sendiri sama sekali tak memiliki kenangan di Indonesia sebab Ibu dan mendiang Ayah tak pernah membawa saya untung pulang kampung. Ya, saya sama sekali tak mengenal negara kelahiran orang tua meski saya mahir berbahasa Indonesia. Akan tetapi setelah Ayah berpulang, saat sakit beliau pernah berpesan agar kami pulang ke Indonesia. Pada awalnya saya tak mengerti, namun saat ini saya baru menyadari jika mungkin Ayah memiliki tujuan khusus dengan meminta kami pulang ke mari." Ada kisah masa lalu yang mungkin belum terselesaikan. Mungkinkah demikian?.


"Ada banyak hal yang sesungguhnya ingin ku ketahui, tapi aku juga sadar jika semua ini bukanlah ranahku untuk ikut campur." Ernest, pria muda itu sepertinya menyimpan rasa penasaran akan kisah cinta sang Ayah di masalalu. Ibunya Natasya dan Ibunya sendiri. Sang Ayah menikahi Ibunya Natasya kemudian menikahi Ibunya. Ya tuhan, ini sungguh rumit.


"Natasya, apa kau juga sama sepertiku yang begitu penasaran dengan hubungan percintaaan orang tua kita di masa lalu?."


Natasya tersenyum tipis.


"Em, sedikit."


"Kenapa sedikit?."


"Karna saya rasa itu hanya bagian dari masa lalu, Tuan."


"Lalu masa depan?." Ernest seperti sedang memancing Natasya.


"Bukankah Tuan Arka sudah berbahagia dengan Nyonya Zara."


"Lalu Ibumu?."


"Biarkan itu menjadi pilihan Ibuku, Tuan. Sebagai anak, saya hanya bisa mendoakan. Saya yakin jika apa yang beliau putuskan, pasti akan menjadi yang terbaik untuk hidup kami ke depan." Natasya tersenyum. Ia menatap bintang di langit yang mulai muncul kala langit mulai menggelap. Ia yakin, sama seperti dirinya, Sang Ayah pun selalu mengawasi dirinya beserta sang Ibu dari syurga. Sama seperti dirinya mendiang Kenan pun pasti senang andai istrinya bahagia.


"Setelah Ayah tiada, saya selalu berdoa agar Ibu mendapatkan seorang pengganti yang memiliki hati sebaik dan sehangat Ayah. Siapa pun itu, saya tak perduli. Asalkan dia bisa memastikan bila Ibuku akan bahagia bersamanya sampai akhir hayat."


Tanpa aba-aba, Ernest menyentuh lengan Natasya. Ia usap lembut. Ernest seperti tersentuh akan ucapan Natasya yang terdengar bertalu dan menggema diindra pendengar.

__ADS_1


Pria muda itu sontak mengingat akan Rangga. Sosok pria yang Ibunya sebut jyga pernah memiliki hubungan dengan Ibu dari Natasya.


Tbc.


__ADS_2