CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Pemakaman


__ADS_3

Anastasya menghirup udara dalam-dalam ketika kakinya baru saja menapaki Negara yang sekitar satu tahun lalu ia tinggalkan. Setelah sampai di Bandar Udara Washington DC, Anastasya masih membutuhkan beberapa puluh menit perjalanan untuk sampai ke kediamannya. Bersama Natasya, Ernest dan juga Rangga, perempuan yang masih terlihat segar diusianya yang tak lagi muda itu menyewa transportasi umum agar dapat dengan cepat membawa mereka sampai rumah.


Sepanjang perjalanan, baik Anastasya atau Natasya lebih banyak diam. Ernest dan Rangga tentu menyadari hanya saja mereka pun menghargai, mungkin diamnya kedua perempuan tersebut ada hubungannya dengan mendiang Kenan yang akan mereka kunjungi peristirahatan terakhirnya.


Kuda besi yang membawa mereka menepi di sebuah bangunan mewah, rumah megah yang sejatinya menjadi rumah ternyaman yang pernah Anastasya tinggali disepanjang hidup.


Sepasang mata Anastasya sudah memerah. Berulang kali ia menghela nafas dalam saat pintu pagar terbuka dari arah dalam.


Sepasang suami istri berusia senja tampak menyambut mereka. Beliau adalah pasangan yang selama ini menjaga serta merawat rumah Anastasya bersama Kenan dan menempatinya.


"Selamat datang, Nyonya," sapa pasangan tersebut dengan menundukan kepala sebagai bentuk penghormatan. Pasangan tersebut merupakan pendatang yang berasal dari Indonesia, sama seperti Anastasya dan Kenan dulu.


"Selamat datang, Paman, Bibi. Bagaimana kabar kalian?." Seperti biasa, Anastasya yang memang memiliki kepribadian yang hangat menanyakan kabar. Pasangan senja tersebut menjawab dengan antusias dan wajah yang berbinar senang serta penuh kerinduan. Mereka sudah seperti keluarga dan menganggak Anastasya seperti anak sendiri.


"Anastasya," panggil sang Bibi. Paruh baya itu menatap haru pada Natasya, gadis yang sudah seperti cucu sendiri.


"Nenek," jawab Natasya. Ia berhambur, merentangkan tangan dan mendekati perempuan yang ia panggil nenek itu untuk dipeluk. "Aku merindukanmu," sambung Natasya setelah berada dalam pelukan sang Nenek.


Paman dan Bibi terlihat luar biasa senang, sampai kebahagiaan mereka teralihkan pada kedua sosok pria yang datang bersama Anastasya.


💗💗💗💗💗

__ADS_1


Sebuah pemakaman elite di Washington D.C menjadi tujuan pertama Anastasya setelah mengistirahatkan tubuh selepas perjalanan selama kurang lebih dua jam. Rasa rindu yang teramat sangat membuat perempuan tersebut tak mau berlama-lama di rumah.


Paman dan Bibi pun ikut serta. Setelah kepergian Anastasya, merekalah yang merawat serta menyambangi makam Kenan, rutin dan setiap minggunya. Anastasya tentu berterimakasih. Ia peluk erat sang bibi dengan air mata bercucuran, beberapa saat sebelum perjalanan ke pemakaman.


Beberapa orang yang duduk mengelilingi makam kenan, terdiam. Semua khusyu memanjatkan do'a serta mengenang di saat-saat kenan masih hidup di dunia.


Natasya, gadis ayu itu menunduk. Kaca mata hitam yang dipakai tak serta merta menutupi mata sembab yang sedari awal datang sudah meneteskan air mata.


"Kau permata hati Ayah, kau adalah kesayangan Aya. Natasya, putriku."


Natasya menghembuskan nafas perlahan. Menghalau rasa sesak yang memenuhi daada. Ucapan sang Ayah, selalu ia ingat. Ia ingat benar, dulu Kenan sering memanggilnya dengan sebutan permata. Permata yang berharga dari pada memangil dengan nama aslinya sendiri.


Gender, bukanlah menjadi batasan. Sedari kecil Kenan membesarkan serta membimbing Natasya dengan sepenuh hati. Ya, gadis kecil itu pun tumbuh sesuai dengan mimpi Kenan. Cerdas, sopan, cantik serta menjadi kebanggan. Prestasi Natasya tak perlu diragukan lagi. Segala bidang dan mata kuliah ia kuasai. Tidak kalah dengan putra pejabat lain yang dibanggakan rekan-rekan kerja sang Ayah meski dirinya perempuan.


"Ayah," lirih Anastasya dengan suara terdengar serak. Ernest, pria yang posisinya tepat di samping Natasya, menggeser pandang. Menoleh pada Natasya yang tubuhnya mulai gemetar menahan tangis.


Ernest pun bergerak sigap. Ia dekap Natasya agar tak terjatuh atau pun limbung. Anastasya yang juga diterpa kesedihan, sibuk menata hatinya sendiri terlebih di sampingnya kini ada sosok Rangga.


Ernest tak berbicara apa pun. Ia tatap lembut Natasya dan mengusap lengannya untuk menenangkan. Tidak berbeda jauh dengan Rangga, pria itu selalu berada di samping Anastasya. Memastikan jika perempuan itu baik-baik saja namun juga berusaha untuk tidak mengganggunya.


Di sini, di depan makan Kenan, Baik Anastasya, Natasya, Rangga atau pun Ernest melayangkan doa masing-masing. Terlihat, Ernest memandang dalam ke makam Ayah kandung dari Sekretarisnya. Bibir pria itu seperti sedang mengucap kalimat namun sayangnya tak mampu di dengar oleh siapa pun disekitarnya. Sesekali sepasang matanya terpejam dan menarik nafas dalam, sebelum ia kembali berbicara. Entah apa yang pria muda itu bicarakan namun satu yang pasti jika kata-kata itu memang ditunjukan Ernest untuk Ayah Natasya.

__ADS_1


💗💗💗💗💗


Selesai dari pemakaman, mereka kembali ke rumah untuk beristirahat. Mengisi perut dengan masakan yang dibuat Bibi dan Anastasya, menjadi sesuatu yang ternikmat bagi seorang Rangga. Pria itu makan dengan lahap. Sang Paman sampai tertawa memperhatikan sifat lucu Rangga yang tertangkap indra penglihatan.


Baik Anastasya atau Natasya, belum menceritakan siapa sebenarnya Rangga pada Bibi dan Paman. Anastasya tak ingin jika pasangan tersebut salah faham dan kecewa padanya yang berniat meninggalkan Kenan untuk menikah lagi. Entahlah, Anastasya belum siap bercerita saja. Ia masih menunggu waktu yang pas agar pasangan tersebut bisa mengerti.


Semua sudah beristirahat di kamar masing-masing. Terkecuali Rangga yang justru lebih tertarik untuk berkeliling di rumah Anastasya.


Rumah yang megah, begitu gumamnya saat pertama kali datang. Kaki panjangnya mulai melangkah menyusuri setiap ruangan yang terasa sepi sampai berada di ruang keluarga yang sejatinya sudah ia lihat saat datang tadi.


Ruang tamu yang luas. Dekorasi yang terlihat simpel namun elegan serta pemilihan warna pastel pada cat dinding, bisa ia ketahui jika Anastasya lah yang merancang setiap detail dan penataan rumah.


Akan tetapi bukan itu saja yang menjadi pusat perhatiaannya di rumah ini, melainkan album foto keluarga yang tertempel di dinding. Foto keluarga berukuran besar yang membuat hati tersayaat peris seperti dicabik-cabik.


Di sana terlihat jelas seperti apa kemesraan serta perjalanan cinta Anastasya dan Kenan. Dari foto pernikahan, kelahiran Natasya dan segala momen tumbuh kembang Natasya sampai memakai baju Toga saat wisuda. Ya Tuhan. Batin Rangga seakan menjerit. Rupanya bukan hanya dengannya Anastasya memiliki banyak cerita hidup tetapi dengan Kenan pun sama, justru bersama Kenanlah Anastasya lebih banyak tertawa, berbeda dengan saat bersamanya yang hanya bisa menorehkan banyak luka.


Rangga merasa dirinya kerdil, tidak pantas untuk bersanding dengan wanita sebersahaja Anastasya. Pria itu tertunduk, mengusap air mata yang membasahi pipi sebelum menjauhi ruang keluarga yang membuatnya sulit bernafas.


Sedangkan tanpa Rangga ketahui, sedari tadi seseorang mamperhatikannya dari kejauhan. seseorang itu pun ikut menangis saat Rangga termenung menatap jajaran foto dan mengusap pipinya yang basah sebelum pergi. Takdir terkadang memang sekejam ini. Membolak balik hati seseorang sebelum bertemu dengan seseorang yang digariskan.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2