
Hawa dingin masih menembus kulit saat sepasang kaki seorang gadis menapaki halaman gedung nan tinggi menjunjulang di kota xx. Bulatnya tekad yang membuat Isabel berada di tempat ini, saat ini. Bangunan beberapa lantai yang merupakan tempatnya mengais rezeki beberapa bulan lalu.
Setidaknya ia harus menemui Erich lebih dulu hingga bisa menemukan keberadaan Retno saat ini. Sebelum membawa perempuan paruh baya itu untuk pulang bersamanya.
Suasana sekitar gedung masih tampak sepi. Mengingat waktu yang baru saja memasuki pukul 06;30 pagi. Hanya ada beberapa penjaga keamanan yang sedang siap siaga atau berlalu lalang memastikan kondisi sekitar aman dalam penjagaan.
Isabel mulai berjalan kearah lobi, kemudian duduk di jajaran kursi tunggu yang berada tak jauh dari area tersebut.
Dari kaca tembus pandang Isabel dapat melihat pantulan dirinya sendiri. Gadis itu terkikik dalam hati. Sekilas dirinya seperti pria sungguhan. Cukup tampan. Isabel menggumam seolah mengagumi perubahan penampilannya saat ini.
Akan tetapi ada satu hal yang membuatnya tak nyaman. Kumis buatan yang menempel di atas bibir, kerap membuatnya risih dan bersin-bersin.
Huh, bukan setiap keberhasilan tentu ada perjuangan.
Isabel terus menyemangati diri. Sebagai pengusir rasa jenuh gadis itu memainkan ponsel miliknya untuk bertukar pesan pada seseorang yang sudah ia tugaskan untuk mengelola kafe selama ia tinggalkan.
Waktu terus berjalan. Para pekerja mulai berdatangan dan mulai berkutat dengan kesibukan masing-masing. Isabel memeriksa arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Rupanya kini sudah hampir jam 08;00, dimana perusahaan mulai beroperasi.
Erich memang sosok pria yang selalu menuntut kesempurnaan. Begitu pun yang selalu ia terapkan pada dirinya sendiri sebagai seorang atasan untuk datang tepat waktu menuju perusahaan yang selama ini ia pimpin. Terbukti dengan sebuah sedan berwarna hitam yang kini berhenti di depan pintu masuk gedung. Isabel tentu mengenali siapa pemilik kuda besi itu, dan benar saja begitu pintu penumpang dibuka oleh seorang sopir, maka tubuh tegap Erich lah muncul dengan wajah datarnya.
Gadis yang sedari tadi duduk menunggu itu, setengah berlari hendak mendekati Erich. Setidaknya, ia harus bertemu dan bicara pada Erich sekarang, untuk mempercepat dirinya bertemu dengan Retno pula.
Erich berjalan dengan langkah lebar. Sementara Agung yang tadinya menunggu di depan pintu masuk gedung, kini mengokor di belakang langkah sang tuan. Isabel berusaha mengejar, kini terlihat panik saat Erich kian melangkah menjauhinya.
"Tuan," panggil Isabel, berusaha untuk memanggil Erich agar pria itu menghentikan langkah.
"Tuan Erich," panggil gadis itu lagi saat Erich masih terus berjalan tanpa membalikkan badan. Begitu pun dengan Agung yang seperti tak bisa mendengar panggilan Isabel.
"Tu--, Aww." Isabel memekik saat kedua orang penjaga keamanan menarik kedua tangannya.
"Pagi-pagi sudah berbuat kegaduhan," ucap salah seorang penjaga dengan wajah suram. Isabel tentu dibuat tak nyaman. Sadar jika penampikannya kini berubah, maka ia pun harus merubah suara aslinya menjadi suara mirip pria.
"Ehem."
"Maaf pak, saya hanya ingin bertemu dengan Erich untuk membicarakan sesuatu hal," terang Isabel.
"Jika seperti itu, maka anda bisa mendatangi meja resepsionis. Bukan dengan cara berteriak-teriak seperti ini." Satu penjaga keaman lain ikut bersuara. Meski wajahnya cukup garang namun tutur katanya cukup ramah.
"Maaf, baiklah. Aku akan menemui resepsionis sekarang."
"Hem, silahkan anak muda." Pengawal itu mempersilahkan dengan telapak tangan mengarah ke sisi kanan ruangan di mana meja resepsionis berada.
Seorang perempuan tersenyum ramah pada Isabel. Bukan senyum biasa, namun lebih tepatnya seperti senyum menggoda. Awalnya gadis itu merasa risih ditatap sedemikian rupa oleh seorang gadis yang notabe adalah sama dengan dirinya. Hingga ia tersadar, jika penampilan dirinya lah yang mungkin saja membuat pandangan gadis itu berbeda padanya.
Mungkin aku tampan, ku benar-benar tampan.
Isabel terkikik dalam hati.
"Ehem." Deheman Isabel seketika membuat gadis di balik meja resepsionis itu gelagapan.
"Y-ya, ada yang bisa saya bantu." Bibir perempuan itu tetap tersenyum semanis madu dengan bola mata berbinar.
__ADS_1
"Em, saya ingin bertemu dengan tuan Erich."
"Sudah buat janji?"
"Em, belum."
Resepsionis itu menatap Isabel sesaat, kemudian beralih pada lembaran kertas di mejanya.
"Sepertinya akan sedikit sulit untuk bisa bertemu tuan Erich mengingat anda tidak membuat janji lebih dulu."
"Benarkah?" Jelas gurat kekecewaan nampak di wajah Isabel.
"Saya akan konfirmasi dengan sekretaris tuan Erich. Tunggu sebenar."
Isabel mengangguk pasrah. Mendengar wanita di depannya itu tengah menghubungi Starla dan berbicara beberapa menit sebelum memutuskan panggilan.
"Maaf, menurut sekretaris tuan Erich, jadwal beliau cukup padat hari ini. Ada meting di beberapa tempat sampai petang nanti," papar gafis dengan rambut disisir rapi itu.
Isabel menghela nafas dalam seraya berucap, "Baiklah. Tapi aku akan tetap menunggunya."
Resepsionis itu menautkan sepasang alisnya yang terukir rapi. Di beberapa detik kemudian perempuan itu justru mengulas senyuman yang bisa membuat pria mana pun jatuh cinta.
"Baiklah, nanti akan saya sampaikan Dengan siapa?"
"Isabe.."
Raut wajah resepsionis itu mulai berubah.
"Em, maksud saya, Is, em Ikhsan. Ya ikhsan. Nama saya Ikhsan." Isabel meringis seraya mengaruk rambut palsunya dengan hati-hati. (Gimana ga hati-hati, bakal berabe urusannya kalo wignya sampe lepas)
"Terimakasih." Isabel melengang selepas menundukan kepala pada sosok gadis yang masih menatapnya dengan mata berbinar.
Ya tuhan, apa aku setampan itu hingga perempuan itu begitu mengagumiku.
Isabel bergidik ngeri. Bukannya digilai lawan jenis, parasnya justru dikagumi oleh sesama jenis sekarang.
Andai aku tau di mana rumah tuan Erich berada, pasti tak akan sesulit ini kondisinya.
💗💗💗💗💗
Isabel hampir menyerah. Berjam-jam ia menunggu bahkan pantatnya seakan panas saat hanya duduk di sofa tunggu tanpa melakukan aktifitas lain. Wajahnya sudah terlihat lelah, pun dengan perutnya yang teramat lapar. Isabel nampak begitu menyedihkan sekarang.
"Tuan Ikhsan," panggil seseorang.
Isabel terkesiap. Mendongak dan mendapati seraut wajah cantik tengah tersenyum kearahnya.
"Mari saya antar ke ruangan tuan Erich," ucap seorang gadis yang tak lain resepsionis yang tadi menyambut Isabel.
"Baik," jawab Isabel dengan penuh semangat.
Gadis itu mulai membing langkah Isabel mulai dari menaiki lift yang akan membawa keduanya menuju lantai teratas gedung, di mana ruangan Erich berada. Dari ekor mata, Isabel menangkap jika gadis yang sedang bersamanya itu selalu mencuri padang padanya, dan saat tanpa sengaja bersitatap resepsionis itu lekas menunduk dengan wajah tersipu malu.
__ADS_1
Isabel lekas mengusap dada. Ia tak habis fikir, kenapa gadis itu selalu menunjukan gelagat yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Ya tuhan, aku benar-benar takut andai gadis ini berbuat nekat hingga sampai menciumiku.
"Tidak!" Tanpa sadar Isabel berteriak di dalam lift yang masih bergerak.
"Ada apa?" Gadis itu juga terkejut.
"Em, tidak. A.. maksudku tidak apa-apa."
Lift berdenting dan pintu pun terbuka. Keduanya mulai melangkah menuju ruangan Erik yang sudah mulai terlihat dari kejauhan.
"Em, saya sudah tau nama anda. Tetapi anda belum tau nama saya. Perkenalkan, saya Nadia, Nadia Almira," ucap gadis itu seraya mengulurkan tangannya pada Isabel. Langkah gadis itu terhenti, menungu uluran tangan Isabel.
Isabel kian gelagapan. Ia memasang wajah setenang mungkin. Sungguh, tangganya sampai gemetar saat ini.
Mau tak mau Isabel menyambut uluran tangan gadis bernama nadia itu.
"Anda seorang pria, tetapi jemari anda nampak lentik seperti wanita." Rupanya Nadia sampai mengamati hingga ketangan Isabel.
"Maaf saya sudah lancang." Nadia salah tingkah. Beberapa kali menundukan kepala sebagai bentuk permohonan maafnya.
"Sudahlah. Lagi pula tujuanku ke sini untuk bertemu dengan tuan Erich."
"Oh, baik-baik." Nadia kembali melangkah hingga kedua insan itu sudah mendekati meja Starla yang berada di dekat pintu ruang kerja Erich.
"Starla. Ini Tuan Ikhsan yang meminta bertemu dengan tuan Erich."
Starla yang semula menunduk, kini mendongak kemudian menatap penampilan pria bernama Ikhsan itu dari ujung kepala hingga kaki.
Mata gadis itu menyipit. Merasa asing dengan tamu atasannya saat ini. Seorang pria berkaca mata dan kumis tipis, tetapi paras pria itu begitu manis dengan kulit putih dan wajah mulus layaknya opa-opa korea.
"Mari saya antar untuk bertemu dengan tuan Erich, tuan." Starla berjalan lebih dulu sementara Isabel mengikutinya dari belakang.
Pintu terbuka. Starla menundukan kepala disusul oleh Isabel. Erich terlihat duduk bersandar pada punggung kursi kerjanya seraya menatap kearah tamunya.
"Ada seseorang yang meminta untuk bertemu, tuan. Namanya Tuan Ikhsan. Silahkan tuan." Selepas berucap Starla bergegas keluar dari ruangan dan menutup pintu rapat dari luar.
"Siapa anda?" Erich menatap penuh tanya pada sosok pria yang menjadi tamunya.
Isabel diam, bingung hendak melakukan apa.
"Ada perlu apa hingga anda menemui saya." Jelas tak ada senyum sedikit pun yang nampak di bibir Erich. Terlebih saat Isabel hanya berdiri tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Jika tidak ada yang ingin dikatakan, maka lebih baik jika anda keluar dari ruangan saya." Telapak tangan Erich bahkan sudah mengarah ke pintu. Hingga Isabel cepat-cepat bergerak untuk melepas kacamata, kumis, hingga terakhir rambut palsunya.
"Maaf sudah mengganggu anda, tuan Erich."
Erich terkesiap. Tubuhnya mematung saat rambut palsu gadis itu terlepas hingga rambut asli Isabel yang indah terburai.
"Isabel," gumam Erich tanpa bisa menyembunyikan raut keterkejutan.
__ADS_1
Tbc.
Tetapi kasih dukungan ya guys. Ajak temen-temen yang lain juga untuk baca😍😘