CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Tertangkap


__ADS_3

Dari balik jendela, Zara menatap kepergian Reza dengan pandangan penuh harap. Akhirnya dengan berbagai desakan dan iming-iming imbalan menggiurkan, pengawal muda keluarga Atmadja itu menerima pekerjaan darinya. Lewat Zara, akses keluar Reza pun dipermudah. Dengan alasan orang tua, pria itu diizinkan untuk pulang kampung selama beberapa hari. Tak ada yang curiga, hingga Zara dan juga Reza bisa menghela nafas lega.


Kedua tangan Zara bergerak untuk mengetik sebuah pesan yang dikirim untuk Reza.


Lekas kabari begitu sampai. Datangi kantor Atmadja grup, dan ikuti gadis itu ke mana pun.


Kirim.


"Semoga dia berhasil." Zara bergumam dan menautkan kedua telapak tangan. Perempuan itu menyimpan harapan besar agar Reza dapat melakukan penyelidikan tanpa diketahui siapa pun. Sementara identitas Natasya dapat ia ketahui baik itu tentang hidup dan juga orang tuanya.


Zara tak bisa diam. Ia bergerak ke sana ke mari, dan setiap menit selalu memeriksa ponsel miliknya.


💗💗💗💗💗


Di dalam taksi yang ditumpangi, Reza berdecak. Sama sekali tak menikmati perjalan dan justru terbebani oleh keadaan. Sang sopir yang sedang mengemudi hanya mengikuti arahan, tujuan mereka kali ini adalah gedung milik Atmadja group. Tempat Ernest dan juga Natasya bekerja.


"Pak, kita berhenti di depan saja," titah Reza sementara sang sopir menganggukkan kepala.


"Anda tidak turun?." Pria yang duduk di kursi kemudi itu bertanya selepas menyadari jika penumpang yang ia bawa tetap berada ditempat semula.


"Tidak, aku sedang menunggu seseorang."


"Tapi.." Sang sopir berkata ragu. Ia berfikir bagaimana, ia pun harus mencari penumpang lain yang mencari jasanya.


"Jangan khawatir. Aku akan membayarmu, bahkan lebih banyak dari tarif normal."


"Terimakasih." Meski kurang yakin namun sang sopir meng-iyakan. Setidaknya dilihat dulu, andai penumpangnya ini berbohong maka ia pun akan berteriak dan mencari bantuan.


Reza terlihat tampan. Seragam pengawal Atmadja group ia tanggalkan sementara. Berganti dengan celana jins dan kaos polo, kemudian dilapisi kembali dengan jaket berbahan jins yang menutupi tubuh tegapnya. Tak lupa Reza menutup kepalanya dengan topi agar tak mudah dikenali.


Beberapa kali pria muda itu memeriksa ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Ia terlihat harap-harap cemas.


Apa lebih baik aku keluar saja. Sepertinya akan mempermudah diriku untuk mencari gadis yang dimaksud oleh Nyonya Zara.


"Pak, aku akan keluar sebentar dan tetap tunggu di sini." Reza menatap sang lawan bicara yang terlihat ragu. "Aku akan meninggalkan barang-barangku di sini. Percayalah, aku bukan penipu," sambung Reza berusaha meyakinkan sang sopir.


"Baiklah."

__ADS_1


Reza lekas keluar, tentunya ia meninggalkan barang pribadi di kursi penumpang dan hanya membawa ponsel.


Senja mulai datang. Beberapa karyawan mulai keluar dari pintu masuk gedung, yang menandakan jika jam waktu kerja sudah habis. Reza lekas bergerak, mencari posisi yang paling tepat. Tidak bersembunyi tapi juga tak menampakkan diri secara berlebihan. Reza memilih duduk tenang di sebuah kursi dan berpura memainkan ponsel.


Sepuluh menit, dua puluh menit, sampai tiga puluh menit waktu berlalu. Akan tetapi seseorang yang ia cari tak jua menunjukkan batang hidung.


"Apa mungkin dia sudah keluar tapi aku tak menyadari?." Reza bermonolong. Bagaimana ini?. Reza mulai khawatir. Jika misi awal saja gagal, lalu bagaimana dengan misi selanjutnya?.


Pria itu kembali membuka galeri ponsel. Memperhatikan kembali wajah gadis yang menjadi targetnya.


Hem, cantik juga. Heh..


Reza lekas menampaar pipinya sendiri sekaligus merutuki diri. Bisa-bisanya disituasi seperti ini dirinya justru menilai paras seseorang.


"Hah, sepertinya aku harus mencari kopi untuk menjernihkan pikiranku." Reza bangkit. Karna kesal dirinya justru ingin mencari kedai kopi dari pada menunggu Natasya.


"Sebentar. Apa itu dia?." Di luar dugaan, ketika hati mulai kesal, tuhan justru mempermudah pekerjaannya. Seorang gadis yang begitu mirip dengan gambar pemberian Zara, tiba-tiba keluar dari pintu utama. "Ya, benar. Itu dia," sambung Reza dan kembali memposisikan diri seperti semula agar gadis yang diincar tak curiga.


Ekor mata Reza terus bergerak, mengikuti kemana arah perempuan itu melangkah. Rupanya Natasya berjalan menuju area parkir. Begitu gadis tersebut memasuki sebuah mobil, Reza pun bergerak untuk kembali masuk ke dalam taksi.


"Tuan, ada apa?." Sopir yang terkejut dengan kedatangan tiba-tiba penumpannya, bertanya.


"Ya, ikuti itu. Mobil merah di depan," titah Reza yang mana membuat sang sopir bergerak sigap untuk mengikuti mobil di depannya.


"Cari jarak aman. Jangan terlalu dekat tapi jangan juga sampai terlepas."


Di depan sang sopir menelan ludah. Pria itu mulai gemetar, mendengar perintah dari sang penumpang.


Ya tuhan, lindungilah aku. Jika aku mati, bagaimana dengan istri dan anak-anakku.


Meski fokusnya terbagi diantara perintah dan keluarga, sang sopir tetap bekerja secara profesional. Mengejar mobil merah di depan namun tetap dengan jarak aman.


Beberapa menit kemudian mobil milik Natasya memasuki sebuah toko bunga.


"Tempat apa ini?." Reza menatap bangunan yang menjadi tempat persinggahan target. Sementara bersembunyi di tempat yang tak terlalu dekat, Reza mengambil beberapa kali foto dari dalam mobil untuk diserahkan kepada Zara.


Rupanya foto yang ia kirim langsung dibuka oleh sang Nyonya. Meski tak mendapat balasan, itu saja sudah menjadi sebuah kehormatan bagi Reza.

__ADS_1


Bukan hanya toko bunga, tetapi Reza juga mengambil gambar kendaraan Natasya. Ya siapa tau hal seremeh itu berguna.


"Setelah ini kita akan ke mana, Tuan."


"Tunggu pergerakan dari gadis pemilik mobil merah. Jika dia bergerak, maka ikuti saja."


"Baik." Tak ada jalan lain kecuali pasrah.


Cukup lama menunggu membuat Reza bosan. Ia berfikir untuk keluar dan bertanya pada orang-orang disekitar tentang pemilik toko yang disinggahi Anastasya.


Setelah meminta izin pada sang sopir, Reza benar-benar turun dari mobil dan mendekati penjual buah yang berdagang tak jau dari toko bunga. Ia juga lebih dulu menghidupkan alat perekam yang nantinya akan dijadikan laporan.


Reza menghela nafas saat jawaban yang pedagang buah itu katakan tak memuaskan. Dia mengatakan jika pemilik toko, adalah pemilik toko baru setelah membelinya dari seseorang. Toko bunga itu milik seorang perempuan yang katanya baru saja pindah dari luar negeri. Itu saja. Reza pun lekas pergi selepas membeli dua kilo buah apel. Ya setidaknya penjual buah tidak akan menaruh curiga dan mengira dirinya hanya pembeli biasa.


Rekaman suara itu kembali dikirimnya pada Zara. Bertepatan pula mobil milik Natasya yang keluar dan bergerak menuju jalan tol.


"Ayo, ikuti dia."


Tak menjawab, sopir itu terus mengatur kemudi agar tak kehilangan jejak. Sampai memasuki perumahan elit, Reza cukup kesulitan untuk masuk sebab tak memiliki akses. Beruntung, sopir yang sudah kerap kali mengantar penghuni perumahanelit tersebut, membuat alasan serapi mungkin sampai penjaga keamanan tak menyadari jika dikibuli.


"Aku benar-benar akan membayarmu tiga kali lipat setelah kita keluar dari komplek ini dengan selamat," racau Reza. Ia masih gemetar ketika berhadapan dengan beberapa penjaga berbadan kekar seperti dirinya. Ya, Reza memang pengawal tapi jika satu banding lima, Reza mana sanggup.


Mobil Natasya terlihat memelan sebelum berbelok ke sebuah rumah. Pagar tinggi menjulang terbuka, seorang pria tergopoh mendorong pintu, memberi akses pada mobil merah itu untuk masuk.


Tetap berada dalam jarak aman. Reza mengambil foto rumah megah gadis intaiannya, dan mengirimkannya pada Zara. Saat sedang mengamati bagunan mewah beberapa lantai itu, pintu kaca diketuk dari luar.


Reza menelan ludah. Ia tatap ke arah luar, sepertinya ada beberapa pria yang berdiri di samping taksinya.


"Hei, siapa anda?. Ayo keluar!." Suara yang lebih mirip teriakan itu tak ayal mengetarkan Reza. Ia kebingungan hendak berbuat apa sementara sang sopir sudah terlihat ketakutan.


"Hei, kalian. Keluarlah!."


Tanpa banya berfikir, Reza pun keluar. Setidaknya mereka masih bisa bicara baik-baik. Akan tetapi, diluar dugaan. Begitu tubuh Reza keluar dari pintu mobil, seseorang bertubuh kekar lekas menariknya secara kasar hingga terjungkal di jalanan.


"Hei, tunggu sebentar. Kita bisa bicara secara baik-baik." Reza berusaha bangkit. Ia berdiri dan menangkupkan telapak tangan kepada beberapa pria yang langsung datang menyerang.


"Kau fikir kami boodoh. Sudah sedari tadi kami mengamatimu. Kau, orang mencurigakan yang sudah memata-matai rumah ini."

__ADS_1


"Tapi aku ti--" Reza tak dapat menyelesaikan ucapan saat salah satu dari mereka meennendang kearah perutnya. Kondisi Reza yang belum siap mendapat serangan, terhuyun. Satu pria lain kembali mendekat dan menghadiahi bogem mentah. Reza tertangkap dan ia hanya berharap jika hidupnya tidak akan berhenti di sini.


Tbc.


__ADS_2