CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Arka, Aku bertemu Anastasya


__ADS_3

"Arka, aku bertemu dengan Anastasya"


Dalam tidur lelap, seorang pria terbangun akibat sebuah mimpi yang terasa seperti nyata. Arka terperanjat. Ia menelan ludah dengan bulir peluh yang menitik dan memenuhi area wajah.


Deru nafas Arka berkejaran. Dirinya seperti baru saja kembali dari medan pertempuran. Padahal beberapa detik lalu dirinya masih terlelap sebelum sebuah mimpi hadir dan menghancurkan tidur nyamannya.


Ya Tuhan, ada apa ini?.


"Arka, aku bertemu dengan Anastasya."


Arka termenung saat satu kalimat yang diucap Rangga kembali terngiang. Rangga bertemu dengan Anastasya?. Benarkah?.


Arka mengusap wajah kasar sebelum mengalihkan pandangan ke arah Zara yang masih terlelap damai di sampingnya. Rupanya perempuan tersebut tak terusik dengan pergerakan sang suami akibat mimpinya.


Pria yang kini mengenakan kaos tipis berwarna putih itu mengarahkan telapak tangannya untuk mengusap puncak kepala sang istri dan mengusapnya penuh kelembutan. Setelah memastikan sang istri tak terbangun, Arka pun turun dari ranjang. Setidaknya dia butuh udara segar untuk menetralisir ketegangan.


Arka meneguk segelas air putih di atas nakas sebelum mengayunkan langkah menuju balkon. Ia ingin menikmati udara malam sekaligus berfikir tentang mimpi yang baru saja dialami beberapa menit lalu.


Pada malam pesta yang diselenggarakan perusahaan, tiba-tiba Rangga menemuinya saat acara hampir selesai. Mengetahui jika dirinya sedang berada di toilet, Rangga pun membututi, dan disitulah terjadi pembicaraan yang tak ayal membuat Arka terkejut luar biasa namun juga tak percaya.


"Arka, aku bertemu dengan Anastasya." Rangga berucap diiringi deru nafas yang tak beraturan. Wajah Rangga masih terlihat syok pun dengan tubuhnya yang masih menyisakan gemetar.


Arka berdecak.


"Berhentilah berhalusinasi. Anastasya bahkan sudah menghilang berpuluh tahun lalu setelah berpisah dariku." Arka menjawab dengan nada santai sambil merapikan pakaiannya di depan cermin. Pria itu bahkan tak menyadari wajah Rangga yang berubah merah padam, seakan tak terima begitu saja dengan jawaban yang ia berikan.


"Ini nyata, Arka dan aku sedang tak berhalusinasi. Aku baru saja bertemu dengan Anastasya dan bahkan aku sempat memegang tangannya," kekeh Rangga dengan suara meledak-ledak.


Sementara Arka yang masih sibuk merapikan penampilan, menghentikan gerakan tangan. Pria itu terdiam namun menatap lekat wajah sang lawan bicara dari pantulan cermin.


"Kau tidak berbohong?."


"Berbohong?. Apa untungnya bagiku dengan membohongimu?."

__ADS_1


Arka terdiam dan berbalik badan. Kini kedua pria itu saling berhadapan.


"Lalu di mana Anastasya sekarang?."


Terdengar Rangga menghela nafas dalam.


"Entahlah. Dia seperti menghindar dan berlari saat melihatku." Rangga menunduk. Wajah Anastasya kembali terbayang di pelupuk mata.


"Hei, kau kenapa?." Arka kembali bersuara begitu mendapati wajah sendu sang sahabat selepas membahas Anastasya. Ya, Arka akui. Sama seperti dirinya, hubungan Rangga dan Anastasya pun sangat dekat sebelum Anastasya menghilang.


Rangga bergeming. Sama sekali tak berniat untuk menanggapi pertanyaan Arka.


"Lupakan dia. Kurasa dia sudah memiliki kehidupan baru hingga memilih menghilang dari pandangan kita."


Lagi-lagi Rangga tak menanggapi. Pria itu justru tengah sibuk dengan fikirannya sendiri.


Tasya berada di area gedung Atmadja group?. Sedang apa dia di sana?. Eh, bukankah malam itu dia mengenakan pakaian pesta?. Jangan-jangan dia...


*Anastasya.


Apa kabarmu*.


Dalam diam, pada malam ini fikiran Arka tiba-tiba tertuju pada Anastasya. Anastasya, sosok mantan istri yang dulu sempat terabaikan. Ah, bukan terabaikan, hanya saja dirinya pun tak kuasa untuk bisa menyayanginya layaknya seorang istri pada umumnya karna alasan Rangga.


Sama seperti Zara, Anastasya pun sempat memberi warna dalam hidupnya. Abigail surya atmadja. Pada mendiang putra Anastasya yang sudah ia anggap anak sendiri pun, Arka tak pernah lupa. Setiap tahun seluruh keluarga Atmadja akan datang berziarah. Si kembar dan Emely pun menganggap mendiang Abigail sebagai Kakak sulung mereka. Meski pada nyatanya baik Si kembar dan Emely sendiri tak tau seperti apa wajah istri pertama dari Ayahnya tersebut.


Sekian tahun hidup bahagia tanpa bayang masa lalu. Malam ini sebuah mimpi yang hadir seakan kembali menguak bayangan semu di masa lalu tentang pernikahannya yang gagal bersama Anastasya. Sebuah pernikahan yang awalnya dibina karna rasa Iba dan berakhir karna sang wanita memilih mundur.


Benarkah jika hidup terkadang kejam?.


Ataukah aku yang kejam?.


Kini teringat jelas jika saat Anastasya pergi, dia menolak apa pun yang dirinya berikan. Rumah, uang, perhiasan atau apa pun itu yang sudah menjadi haknya.

__ADS_1


Puluhan tahun berlalu apa kau masih baik-baik saja?.


Terpekur. Untuk beberapa saat Arka menikmati kesendiriannya. Sampai suara petir menyadarkannya. Pria itu pun bangkit, kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat.


Arka kembali menuju ranjang. Di sana Zara masih terlelap, namun ke dua tangannya bergerak seolah mencari keberadaannya. Pria itu tersenyum. Sebelum sang istri tersadar jika dirinya tak ada di sisi, Arka pun lekas berbaring dan memeluk sang istri hingga perempuan itu pun kembali tenang.


"Tidurlah, aku akan selalu mencintaimu," bisik Arka yang sepertinya tak mampu didengar sang istri yang sudah kembali terlelap.


💗💗💗💗💗


Dilain waktu.


Saat Ernest mencapai ruang tamu, rupanya di sana Langit pun sudah menunggu.


"Langit," sapa Ernest.


"Ya, Tuan. Saya sudah membawa laporan yang Tuan perintahkan."


"Terimakasih."


Ernest yang sepertinya sedang malas membaca, meminta pada Langit untuk menjabarkannya saja.


"Natasya Syailendara adalah putri dari Tuan Kenan Syailendara. Beliau adalah salah satu kontraktor yang bukan hanya menangani proyek di dalam negeri namun sama manca negara. Setelah menikah dengan Nyonya Anastasya, Tuan Kenan memilih tinggal di Washington D.C sampai beliau wafat. Sepeninggal Tuan Kenan, barulah Natasya beserta sang Ibu kembali ke indonesia."


Langit masih terus berbicara namun fikiran Ernest justru terfokus pada mendiang Ayah Natasya.


Kenan Syailendra?.


Luar negeri?. Kontraktor?.


Langit juga menjelaskan beberapa usaha yang dimiliki Ayah Natasya. Benar dugaannya, Natasya bukanlah dari kalangan biasa.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2