CEO Kembar Dan Gadis Pilihan

CEO Kembar Dan Gadis Pilihan
Episode Sepesial


__ADS_3

Sepulang mengunjungi makam Kenan, pernikahan Anastasya dan Rangga pun mulai direncanakan. Lebih dulu Rangga mengadakan temu keluarga besar untuk memperkenalkan Anastasya sebagai calon istri.


Semua keluarga dan teman dekat menyambut hangat keingin Rangga untuk melepas masa lajang. Tak terkecuali Arka dan Zara, Ibu dari si kembar itu sampai menangis dalam dekapan sang suami begitu kabar bahagia itu sampai ketelinga.


Sebagian dari mereka yang dulunya mengenal Anastasya sebagai mantan istri Arka, rupanya tak mempermasalahkan sebab mereka juga mendengar kabar bila sebelum menikah dengan Arka, Anastasya sempat menjalin kasih dengan Rangga. Semua prosesnya seakan dipermudah. Selesai memberi kabar maka Rangga pun langsung menentukan tanggal.


Meski sempat diprotes Anastasya karna tanggal yang dipilih terlalu cepat, namun Rangga tak ingin mendengarkan adanya perdebatan.


"Aku sudah tidak sabar, Anastasya. Kau tau, aku sudah terlalu lama menunggu," keluh Rangga saat Anastasya merasa keberatan. Pada akhirnya Anastasya tak bisa menolak. Saat sang pria menginginkan adanya resepsi dan bukan hanya akad, lagi-lagi Anastasya pun tak kuasa menolak meski pun dalam hati merasa keberatan. Mereka sudah tak lagi muda, untuk apa pesta dan resepsi juga membuat banyak undangan. Anastasya malu, perempuan itu sudah tak lagi percaya diri.


"Kau malu menikah denganku?." Rangga bertanya begitu Anastasya menolak adanya pesta.


"Bukan," jawab Anastasya kebingungan.


"Lalu apa maksudnya kau melarangku membuat pesta?."


Anastasya berdecak, dan memegang kedua bahu Rangga seraya berucap, "Kita ini sudah tua, dan aku rasa tidak perlu adanya pesta. Akad nikah, itu saja sudah cukup." Begitu Anaatasya mengutarakan isi fikiran, sementara wajah Rangga langsung menyiratkan keberatan.


"Hei, tidak perduli tua. Tua-tua begini, statusku masih lajang," protes Rangga. Pria itu memasang wajah cemberut. Tampak menggemaskan dan pada akhirnya membuat Anastasya tergelak.


"Baiklah baiklah, terserah apa pun keinginamu karna sepertinya diri ini tak akan pernah mampu untuk menolak." Begitulah pada akhirnya. Anastasya selalu kalah saat beradu argumen dengan Rangga, hingga akad disambung resepsi mewah menjadi pernikahan kedua insan yang dulu sempat dipisahkan oleh takdir.


Menjabat tangan seorang pemuka agama, Rangga mengucap akad pernikahannya dengan Anastasya yang disaksikan oleh keluarga dekat dan tetamu undangan. Wajah Rangga tampak tenang, meski sejatinya momen ini baru pertama ia alami nyatanya tak ada wajah tegang, seakan saat-saat seperti ini menjadi impiannya selama ini.


"Bagaimana para saksi?."


"SAAHH...."

__ADS_1


"Alhamdulilah." Seiring ucapan hamdalah, Rangga dan Anastasya kini sudah resmi menjadi pasangan suami istri baik dimata hukum maupun negara. Duduk tepat di belakang mempelai Pria, Anastasya sontak mengangkat wajah saat tubuh Rangga berbalik menghadapnya. Anastasya menyambut uluran tangan Rangga dan menciumnya takzim. Setelahnya Rangga mencium kening Anastasya dengan lembut, hingga kedua matanya terpejam. Percayalah, pernikahan ini sungguh seperti mimpi bagi Rangga. Tangis serta senyum lebar dirasa masih kurang untuk menggambarkan seperti apa kebahagiaannya.


Natasya, gadis itu duduk tepat di samping sang Ibu. Menggengam tangannya serta merapikan gaun yang dipakai sang Ibu saat terlihat mulai berantakan. Sedangkan Ernest, pria itu masih belum terlihat sedangkan keluarganya tampak duduk tak jauh dari kedua mempelai sejak tadi.


Kelegaan terpancar jelas di wajah kedua mempelai dan seluruh keluarga. Saat kedua mempelai sibuk mendapatkan ucapan selamat dari tamu undangan, Ibunda Rangga terlihat membawa Natasya untuk diperkenalkan pada keluarga besar serta kolega bisnis keluarga. Perempuan senja itu tampak senang, ia mengapit lengan sang cucu dan dibanggakan keseluruh tamu.


Setelah akad, pada hari yang sama resepsi pun digelar. Disebuah gedung yang disulap semeriah dan semegah mungkin untuk pesta resepsi pernikahan Rangga dan Anastasya. Kedua mempelai dibalut pakaian serba putih. Rangga mengenakan tuxedo dan jas berwarna putih, sedangkan Anastasya memakai gaun warna senada, beraksen lace yang tentu saja membuat penampilannya terlihat cantik dan elegan.


Meski usia mereka tak lagi muda, namun wajah keduanya tampak berseri tak kalah dengan para tamu undangan yang dari segi usia jauh lebih muda darinya. Anastasya bahkan seperti kembar dengan putrinya. Gaun ranjangan keduanya yang nyaris serupa serta wajah yang bak pinang dibelah dua, sukses membuat penampilan Anastasya saat ini terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.


Semakin malam pesta pun semakin meriah. Sorak sorai dan tepuk tangan terdengar saat kedua mempelai memotong kue pernikahan. Terlebih saat Rangga secara khusus memberikan hadiah-hadiah besar bagi para tamu undangan yang beruntung.


Diantara keramaian, ada seseorang gadis yang memilih untuk duduk sendiri. Memilih kursi di sudut ruangan yang cukup membuatnya tak terlihat dari tamu-tamu lain.


Natasya, gadis itu memilih menepi sejenak. Selain lelah ia pun ingin merenung sejenak. Malam ini adalah malam bahagia untuk sang Ibu begitu pun dirinya, hanya saja tetap ada kesedihan dilubuk hatinya yang terdalam.


Natasya menghela nafas dalam. Setelah ini pasti hidupnya akan berubah. Akan tetapi gadis itu selalu berdoa, andai pun berubah semoga saja segala perubahan yang ada berujung kebahagian untuk hidupnya.


Riuh suara tetamu undangan kembali memenuhi ruang pesta. Natasya melirik pada sang Ibu serta Rangga yang sepertinya ingin melemparkan buket pernikahan ke arah tamu yang berdesak-desakan untuk berebut.


Ya tuhan, Natasya bahkan sama sekali tak tertarik untuk ikut bergabung tapi, Tunggu... Kenapa..


Natasya melihat jika Ibunya beserta Rangga tidak melemparkan tetapi justru turun dari panggung kemudian berjalan guna menghampiri seseorang.


Pandangan Natasya fokus pada pergerakan kedua mempelai yang kini masih tetap berjalan ke arah..


"Ernest?."

__ADS_1


Ya, rupanya Rangga serta Anastasya sengaja memberikan buket pernikahan pada Ernest dan tak ingin dilemparkannya pada siapa pun.


Natasya masih tertegun di tempat. Sementara dikejauhan Rangga seperti sedang menyapu pandang ke sekeliling guna mencari keberadaan seseorang. Riuh suara tetamu kembali terdengar saat Ernest yang membawa serta buket pernikahan dalam gengaman, berjalan cepat menuju sebuah meja.


Seolah mengerti, para tamu sengaja memberi jalan pada Ernest untuk menghampiri seseorang. Seseorang gadis yang nyatanya sedari tadi hanya diam dan dalam posisi duduk sendirian.


Loh, kenapa kemari?.


Natasya menatap ke samping dan ke belakang. Tetapi tak ada siapa pun. Lalu kenapa langkah kaki Ernest menuju kemari?.


"Natasya."


Gadis yang disebut namanya, menelan ludah. Ernest kini sudah berada di depannya. Berdiri dengan sebuah buket pernikahan di tanggan.


"Y-ya," jawab Natasya dengan suara terbata. Setelah menatap kearah sekeliling di mana para tamu, keluarga serta kedua mempelai sedang menatapnya, gadis itu pun bangkit dari posisi duduknya.


Tanpa diduga, Ernest langsung berlutut dan meraih sesuatu dari dalam saku jas.


"Natasya, Wiil you Marry me?."


A-apa?.


Natasya terlihat syok. Ia pandangi kearah Ernest yang berlutut dan memegang sebuah cincin di tanggannya, juga para tamu undangan beserta keluarga yang berteriak histeris, meminta dirinya untuk cepat menjawab.


Se-sebentar. Ya Tuhan, bagaimana ini?.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2