
Di dalam sebuah kamar, Zara dibantu seorang pelayan tengah melakukan perawatan pada lengannya yang terluka akibat tersiram air panas. Begitu hati-hati pelayan perempuan tersebut mengoleskan salep yang terasa dingin saat diaplikasikan ke kulit.
"Terimakasih."
Seorang pelayan menundukan kepala selepas merampungkan tugas sebelum menghilang dari hadapan sang Nyonya. Saat itu bertepatan pula dengan Arka yang memasuki kamar.
"Sayang, sudah pulang?" Zara terkejut saat mendapatkan sebuah ciuman di kening. Ia tak menyadari kedatangan sang suami saat sibuk mengamati luka di lengan yang kini menyisakan bekas kehitaman.
Arka mengulas senyum simpul, ia pun mengalihkan pandangan hingga tertuju pada lengan sang istri yang terluka.
"Apa ini masih terasa sakit?" Tanya Arka seraya mendaratkan tubuhnya untuk duduk di samping Zara. Pria maskulin itu mengangkat tangan sang istri dan meniup-niup dibagian yang terluka.
"Sedikit," jawab Zara. Tiupan Arka seperti obat pereda rasa sakit yang ampun. Terasa hangat dan membuat nyaman. Perlakuan Arka padanya memang tak pernah berubah. Tetap hangat dan penuh kasih sayang.
Arka menautkan kelima jarinya dengan jemari sang istri. Ia tatap kembali luka dilengan putih itu dengan sorot mata iba.
"Sayang, ingin ada yang aku tanyakan."
"Tentang," ucap sang istri penuh tanya.
Pria yang masih terlihat tampan diusianya yang tak lagi muda itu menghela nafas.
"Seorang koki berbicara padaku jika sebenarnya Sandara-lah yang menyiram air ke lenganmu. Apa benar seperti itu?"
Zara terkesiap. Sontak ia menggelengkan kepala.
"Bukan, bukan seperti itu, sayang."
"Maksudmu, koki kita berbohong?"
Zara meraup udara dalam. Sebentar. Ia akan pelan-pelan mengurai kembali kejadian sebelum terjadi kesalah fahaman.
"Tidak juga."
__ADS_1
Arka menatap lekat wajah cantik sang istri. Ia ingin mendengar seperti apa kejadian sebenarnya yang bisa membuat istrinya terluka.
"Sebentar." Tengorokan Zara seakan tercekat. Ia kebingun memberi jawaban. Meski ia pun sempat tak membenarkan sikap Sandara yang tak mau berkata jujur, namun ia pun tak ingin jika suaminya menyimpan kejengkelan pada gadis yang kini menjadi kekasih putranya.
"Sebenarnya Sandara tidak sengaja melakukan. Saat membawa air panas tanpa sengaja ia menyenggol sesuatu hingga menyiram lenganku. Tapi percayalah, gadis itu pasti tidak sengaja melakukannya." Zara merasa was-was, terlebih mendapati raut wajah sang suami yang tak menunjukan ekspresi apa pun. Datar dengan tatapan menusuk.
"Aku tidak mempermasalahkan jika Sandara memang tak sengaja melakukan, hanya saja kenapa ia tak berkata terus terang dan seolah membenarkan jika dirimu sendiri yang melakukan."
Glek. Inilah yang Zara takutkan dan kenapa Koki yang berada di tempat kejadian pada saat itu justru melaporkannya pada Arka.
"Aku sangat membenci kebohongan. Meski pun itu bisa membuatnya terpojok, tapi setidaknya dengan berbicara jujur bisa mengurangi rasa bersalahnya kepadamu."
Zara terhenyak. Kenapa ia dan Arka berfikiran sama.
"Aku bahkan mempertimbangkan kelayakan Sandara untuk bisa bersanding dengan putra kita."
Zara menelan salivanya berat. Rupanya mempunyai pemikiran yang lebih jauh darinya. Jika ia sempat meragukan, Arka justru berbicara tentang kelayakan Sandara. Perempuan berkulit putih itu mengusap dada bidang sang suami. Berusaha menengkan saat ucapan pria itu hampir menciptakan percikan-percikan amarah yang mungkin akan menciptakan suatu masalah.
Helaan nafas terdengar. Arka menangkap tangan sang istri, ia gengam lalu diciumnya berulang.
"Entahlah, aku merasa jika kita perlu meminta bantuan seseorang untuk bisa mengali kehidupan Sandara lebih dalam." Beberapa tahun menjalin kasih dengan Ernest, Sandara memang mengaku jika tak memiliki sanak saudara. Hanya seorang paman yang tinggal di kota XX namun juga belum pernah dipertemukan dengan Ernest, apalagi Arka.
"Apa itu perlu?" Zara sendiri sempat berfikir demikian. Ingin membayar seseorang untuk menguntit dan mengorek informasi tentang Sandara sedalam-dalamnya.
"Perlu, aku rasa ini juga demi kebaikan Ernest." Sebenarnya Arka juga tak habis fikir dengan sikap sang putra yang begitu sangat memanjakan kekasihnya. Bukannya melarang, hanya saja ia ingin jika sang putra tak berlebihan. Baik dalam bersikap atau pun dalam hal perasaan.
Ernest yang mengaku begitu mencintai Sandara, tak segan menghujani gadis itu dengan segala kemewahan. Baru beberapa bulan menjalin kasih, penampilan gadis itu sudah banyak berubah dan bisa dipastikan peeubahan tersebut bersumber dari sang kekasih, Ernest.
Arka dan Zara sempat terbelalak begitu mendapati kenyataan yang ada. Lagi-lagi bukannya melarang, hanya saja terlihat jika gadis tersebut begitu memanfaatkan status yang merupakan kekasih pria dari keluarga berpunya.
Sempat disuatu siang saat mereka menikmati makan malam, Arka mengatakan jika ingin bertemu dengan keluarga Sandara. Itikad baik Arka dijawab tegas oleh Sandara jika dirinya hanya seorang gadis tanpa sanak saudara. Sepasang suami istri itu sempat ragu namu penjelasan yang didapat dari Ernest jika ucapan kekasihnya benar, membuat Arka dan Zara pun mengalah. Mungkin memang benar jika Sandara hanya hidup seorang diri.
"Tapi bagaimana jika putra kita marah jika kelak mengetahuinya?" Zara sadar secinta apa putranya pada Sandara. Ia bahkan yakin andaikata rencana ini sampai di telinga Ernest, entah akan semurka apa dia.
__ADS_1
"Jangan khawatir, serahkan semuanya padaku." Arka kembali menciumi punggu tangan Zara juga meniupi lengannya yang terluka. Cukup lama mereka berada diposisi demikian sebelum Arka beranjak untuk membersihkan tubuh.
💗💗💗💗💗
Hubungan yang merengang di antara Sandara dan Ernest membuat intensitas pertemuan keduanya berkurang. Hanya seorang diri disebuah apartemen membuat Sandara mulai diselimuti rasa bosan. Mengecek ponsel pintarnya berulang, selepas memastikan jika kekasihnya tak akan datang membuat gadis itu bersiap dan bergegas keluar.
Out fit dan tas mahal selalu menjadi penunjang penampilan gadis berambut sebahu itu. Sepasang kaki jenjangnya mulai menyusuri lorong apartemen untuk bisa sampai ke area basement.
Sedan mewah nan mengkilap juga menjadi tunggangan pribadinya. Begitu elegan Sandara membuka pintu mobil kemudian mendaratkan tubuhnya di kursi kemudi. Senyum terukir di bibir mungilnya yang berpoles lipstik berwarna nude.
Kuda besi itu mulai meninggalkan apartemen untuk menuju sebuah perumahan Elit yang dua minggu sekali pasti Sandara kunjungi. Tiga puluh menit berlalu gadis berlesung pipi itu sudah berada di depan rumah yang dituju. Seorang pelayan tergopoh membuka pintu gerbang saat sadar jika ada tamu datang.
Sandara lebih dulu merapikan penampilan sebelum turun dari mobil dengan penuh percaya diri. Seorang pelayan membuka lebar pintu utama kemudian mempersilahkan pada gadis tersebut untuk masuk.
"Kau datang," sapa seorang perempuan, sang pemilik rumah yang rupanya sedang menikmati segelas teh di ruang tamu.
"Ya, seperti biasa," jawab Sandara enteng sebelum mendekat kemudian mencium kedua pipi perempuan yang menjadi lawan bicaranya. Gadis itu pun menghempaskan bobot tubuh di sofa lain, ikut bergabung dengan sang pemilik rumah.
"Bagaimana rencanamu, berhasil?"
Sandara menghela nafas kemudian menggelengkan kepala.
"No, Mam. Aku lupa mengunci pintu hingga Bibi Zara memergoki kami."
Perempuan yang menjadi lawan bicara Sandara, tersenyum sinis.
"Dia benar-benar seperti hama. Penganggu yang selalu menggangu semua rencanaku." Perempuan itu terdengar tak suka saat nama Zara disebutkan.
"Tapi Mam tenang saja, sebab aku sempat menyiram lengannya dengan air panas hingga melepuh." Sandara tergelak disusul oleh sang pemilik rumah, hingga tawa keduanya memenuhi ruangan yang membuat para pelayan hanya geleng kepala.
Tbc.
Tebak tebakan yuk, kira-kira si pemilik rumah ini ada hubungan apa ya dengan Sandara atau bahkan Zara?
__ADS_1