
"Selamat pagi," sapa seirang pria yang baru saja memasuki ruangan pribadi Arka.
"Wah, sobat, apa kabar?" Arka bertanya seraya bangkit mendekat dan merentangkan ke dua tangan. Tak menyangka jika sepagi ini ia sudah dupertemukan dengan sahabat karib yang begitu ia rindukan.
"Kabar baik, sobat," jawab seseorang yang tak lain adalah Rangga. Pria itu menyambut pelukan Arka yang juga ia rindukan. Jadilah kedua pria berusia matang itu saling berpelukan layaknya seorang sahabat yang tak bertemu dalam waktu yang lama.
Pelukan pun terurai. Kedua pria itu saling berpandangan dan tersenyum bangga.
"Kita bahkan baru satu bukan tak bertemu, tapi kenapa sudah seperti satu tahun berpisah saja." Sesungguhnya Rangga hampir menertawakan sikap Arka yang terlihat berlebihan. Padahal ia hanya bertandang ke singapura selama satu bulan untuk mengurus sesuatu hal, dan kembali pulang ke ibu kota selepas masalahnya selesai, namun Arka sudah seperti rindu berat padanya.
Kedua pria itu tergelak kemudian memilih untuk duduk di sofa yang berada di rung kerja.
"Aku datang untuk membicarakan kesepakan kerja kita seperti biasa." Rangga menyebutkan tujuan utamanya ia datang berkunjung. Bukan sekedar untuk bersua namun juga untuk urusan kerja. Mereka bukan hanya bersahat namun juga merangkap sebagai rekan bisnis.
Atmadja group tak segan mensponsori setiap acara yang diselenggarakan agensi model Wiratama group, begitu pun sebaliknya. Seperti akhir pekan ini, saat agensi model Wiratama group menyelenggarakan acara pencarian bakat tahunan yang bertujuan mencari bibit baru dalam dunia permodelan, seperti pada masa Anastasya dua puluhan tahun lalu.
Oh, Anastasya.
Tak terasa sudut bibir Rangga terangkat. Pria itu tersenyum seraya tertegun. Kenapa bisa gadis yang ia lihat di lobi tadi memiliki wajah seperti Anastasya. Ada-ada saja, begitu fikirnya.
Kedua pria itu terlibat perbincangan seputar dunia bisnis yang selama ini mereka geluti. Sebagai pasangan bisnis yang saling menguntungkan, namun nyatanya persahabatan mereja tetaplah awet dan tak termakan oleh masa. Dunia bisnis ya dunia bisnis, mereka tidak pernah mencampurkannya dengan urusan pribadi. Begitu pun halnya dengan Rangga yang masih betah melajang, Arka tak pernah sedikit pun menyinggunya. Bagi Arka, dengan melihat Rangga hidup berbahagia, sudah menjadi suatu kebahagiaan tersendiri untuknya.
"Bagaimana dengan Ernest. Aku lihat penampilannya mulai berantakan, ya meski aku akui putramu itu tetap tampan meski membiarkan rambutnya panjang." Rangga tersenyum tipis. Layaknya pria muda seusia Ernest yang masih terhanyut dalam buaian cinta dan kemudian dikhianati, Rangga pun bisa memahami seperti apa perasaan yang dialami Ernest saat ini. Terpuruk dan tak punya semangat hidup.
"Selepas mempertemukannya dengan Sandara, kondisi Ernest berangsur membaik. Dia mulai terlihat banyak bicara dan semangat dalam bekerja. Sebagian besar waktunya bahkan digunakan untuk bekerja. Aku tak menegur, begitu pun Zara. Kami beranggapan jika itu sebagai bentuk pelampiasan dari rasa sakit hatinya yang masih tersisa. Dan aku juga meminta pada Ernest untuk mencari sekretaris baru sebagai penganti Sandara. Ya, setidaknya untuk membantu meringankan pekerjaannya dan mengurus semua agendanya."
Angga menganggukkan kepala begitu mendengar penjelasan Arka.
"Jika masalah penampilan. Percayalah, Emely bahkan sudah bosan memperingatkan pada Kakaknya untuk memangkas rambut. Akan tetapi, Ernest seakan tak mendengar dan terlihat nyaman dengan penampilannya yang sekarang. Entahlah, sejujurnya aku pun risih pada rambut panjang putraku sendiri." Arka bahkan mengelengkan kepalanya berulang. Merasa jengah, namun ia pun tak punya kuasa untuk mengomentari penampilan putranya secara terus menerus.
__ADS_1
Biarkan saja.
πππππ
Senyum Natasya terkembang begitu turun dari kuda besinya dengan menenteng beberapa kotak makanan yang nantinya akan dibagikan pada karyawan toko bunga Ibunya.
"Assalamualaikum," salam Natasya begitu memasuki toko bunga.
"Waalaikumsalam," jawab para karyawan toko yang spontan menatap ke arah sumber suara.
Natasya melangkah ringan dan sesekali menegur para karyawan yang sedang bekerja. Ia pun menaruh beberapa kantong plastik berisi box makanan dari sebuah resto di atas meja. Kemudian ia pun memberi isyarat pada salah seorang karyawan untuk membagikannya sebagai makan siang.
"Terimakasih Mba Tasya. Sering-sering aja ya," goda karyawan paruh baya yang terkenal supel dan banyak bicara. Berkumpul hampir setiap hari membuat mereka tak sungkan lagi untuk berinteraksi meski dengan bos sendiri.
"Siip. Doakan Rezeki Tasya lancar supaya bisa sering-sering traktir Mba-mba." Ah, mereka bahkan bukan hanya karyawan tapi sudah dianggap kluarga oleh Natasya.
Natasya pun meminta izin untuk menemui Ibunya di ruangan lain. Masih berada di lantai yang sama, namun Anastasya memiliki ruangan khusus yang biasanya hanya dimasuki oleh dirinya dan Natasya.
"Ibu," panggil Tasya saat tak mendapati Ibunya di dalam ruangan. "Aku bawa makan siang untuk Ibu. Ibu di mana?." Natasya celingak celinguk, mencari keberadaan sang Ibu.
"Tunggu sebentar," jawab Anastasya dari arah kamar mandi di dalam ruangan.
"Oo.." Tasya manggut-manggut. Ia pun menaruh dua kotak makanan yang ia bawa ke meja. Membuka kemasanya kotak makan lebih dulu baik miliknya dan milik sang Ibu. Perutnya sudah terasa lapar. Menghindu aroma masakan yang tercium, membuatnya tak sabar untuk lekas melahap makanan di hadapan.
"Tasya," panggil Anastasya begitu keluar dari kamar mandi.
"Ya, Ibu. Ayo makan, aku sudah membawakan makan siang untuk Ibu." Gadis itu tersenyum senang. Ia meminta sang Ibu untuk duduk di depannya dan lekas menyantap makanan yang ia bawa.
"Terimakasih."
__ADS_1
Ibu dan anak itu pun mulai menikmati makan siang. Seperti inilah kehidupan Anastasya dan putrinya sepeninggal Kenan.
Otor jadi sedih kalau ingat Kenanπ€§
Hidup hanya berdua, dalam menempuh suka dan duka. Meski mereka hidup berkecukupan, namun tetap saja ada yang kurang jika pilar kokoh yang selama ini menyangga dan mendekap tubuh ke dua perempuan itu kini sudah tiada.
"Apa Ibu tau?." Natasya bertanya setelah menghabiskan makan siangnya.
"Ya?."
"Aku baru saja mengirim berkas lamaran pekerjaan di sebuah perusahaan atas rekomendasi teman."
"Ya?." Anastasya tersenyum. Ia cukup antusias menanggapi putrinya yang mulai berkeinginan untuk bekerja. Padahal Natasya sediri sudah melarangnya. Tapi, apa mau dikata. Tekat butrinya sudah membara dan sangat sulit untuk dipadamkan. Padahal boleh dikatakan jika hidup mereka tetap bisa bermewah-mewah tanpa harus bekerja.
"Huum. Meski aku sendiri tidak yakin bisa diterima atau tidak, tapi aku sangat bahagia karna sudah memasukkan lamaran ke sebuah perusahaan besar yang pastinya banyak diincar para pencari kerja."
"O ya? Hebat," puji Anastasya. "Memang Tasya melamar kerja di perusahaan mana?."
"Atmadja Group."
Anastasya yang masih menyuapkan nasi ke dalam mulut sontak tersedak.
"Ibu! Ibu kenapa? Pelan-pelan, Ibu." Tasya lekas mengangsur segelas air minum untuk sang Ibu. Sementara Anastasya lekas meneguk segelas air putih itu hingga tandas.
Atmadja group? Benarkah itu perusahaan milik kakek Atmadja, ataukah ada Atmadja lainnya?.
Perut Anastasya mendadak kenyang. Ia sudah tak berminat lagi untuk makan. Keringat dingin justru mulai menitik di kening dan pelipis. Anastasya seperti gemetar dan ketakutan. Akan tetapi ia tak ingin memperlihatkan itu semua pada putrinya. Berusaha terlihat baik-baik saja dan menanggapi ucapan putrinya dengan diselingi gelak tawa.
Tbc.
__ADS_1