Istri Butaku

Istri Butaku
Amarah Cakra


__ADS_3

“Allah minta buat Nayy beristirat buat ngeliat kok bang. Sama nyuru Nay istirahat sebentar.” Jawab Nayya bergetar.


“Maksud kamu?” Tannya Cakra bergetar, hatinya bagaikan dicubit mendengarkan hal itu dari mulut Nayya.


“Nak...” Ucap Bunda Ina. Saat Cakra menatap bundanya. Bunda Ina menggeleng tanda ‘berhenti bertanya’


Cakra hannya bertanya lewat isyrata dengan tangannya. ‘Nayya nggak bisa liat?. Ibunya mengangguk. Terus ia mengarahkan tangan dan kakinya sebagai isyarat, ‘kaki dan tangan Nayya juga?’ dan Bunda Ina kembali mengangguk dalam tangis.


Abang Nayya langsung mundur. Ia mengusap wajahnya kasar lalu mengacak rambutnya frustasi. Ia tak bisa menahan air matannya. Ia menenggelamkan bibirnya untuk tidak terisak. Ia menatap Adiknya sendu. Ia merasakan jika dunianya sedang runtuh.


“Abang mau ketoilet dulu ya Nay... Nanti abang kesini lagi ya.” Ucapnnya serak. Ia tak bisa menangis disini. Ia ingin menangis ditempat lain. Tanpa meminta jawaban Nayya, Cakra keluar dari kamar Nayya dengan seribu jarum bercucun menyerang dadanya.


Tangisnya pecah saat diluar kamar. Ia menggigit kuat tangannya untuk tidak menjerit. Tanpa ia sadari Habib mengikutinnya dari belakang.


Cakra duduk dikursi jauh dari kamar Nayya. Tepatnya kursi itu ada di taman rumah sakit. Ia menangis sejadi-jadinya.


Habib memandang Cakra dari kejahuan. Saat Cakra sudah mulai meredah tangisannya, ia mendekat untuk menenangkan.


“Assalamu’alaikum.” Ucapnya sopan.


Cakra langsung menghapus kasar air matannya. Ia menatap pria asing tak jauh darinya. “Wa’alaikum salam.” Jawabnya serak.


“Saya boleh duduk disini?” tanyanya pada Cakra. Cakra pun mengiyakan dengan ragu ragu.


Habib menatap Cakra. Cakra sama sekali tak tau jika Habib adik ipar sekaligus orang yang menabrak adiknya. “Kamu bukannya yang tadi diruangan adik saya?” Tannya Cakra menatap Habib.


Habibpun tersenyum tipis dan mengangguk. “Iya. Saya diruangan Nayya tadi.”


“Kamu siapa?” Tannya Cakra heran. Ia sama sekali tak mengenali Habib.


Habib mengulurkan tangannya “Kenalin. Nama saya Habib, saya suami Nayya. Dan kamu siapa Nayya?” Tannya Habib. Ia sama sekali tak tau Nayya punya abang. Ia menerka saja jika Cakra adalah abangnya Nayya.


Cakra menganga kaget. Ia tak tau adiknya sudah menikah. “Kamu jangan bercanda. “ Ucapnya meninggi.


Habib menatap Cakra miris. Sepertinya ia sama sekali tak mendapatkan respon baik dari kerabat Nayya. “Saya serius. Ini buktinya.” Ia mengangkat tangannya yang menunjukan cincin bertengger indah dijari manis. “Dan kamu apakah abang Nayya?” Lanjutnya bertanya.


Cakra menatap Cincin Habib tak percaya. “Saya abangnya Nayya. Jika kamu memang sudah menikah dengan Nayya. Mengapa tidak ada kabar untuk saya?” Tanyanya masih ngotot tak percaya.

__ADS_1


“Pernikahannya mendadak. Dan saya menikahi Nayya karena sayalah yang membuat ia seperti ini.” Ucapnya mengakuhi kesalahannya.


Sontak saja Cakra menarik paksa baju kokoh Habib tinggi. “Kamu yang nyelakahin adik saya...!” Teriaknya. Tangannya terkepal kuat dan melayangkan pukulan tepat dirahang kiri Habib.


Sedangkan Habib hannya diam saja. Ia hanya meringis sakit saat Habib menyerangnya berkali-kali.


Sampai pada satpan menarik Cakra paksa.” Pak ini rumah sakit. Tolong jangaan buat keributan disini”


Cakra menatap Habib tajam. Ia meronta-ronta meminta dilepaskan. Tapi sayangnya ia ditahan begitu erat. “Lepasin pak. Saya mau hajar pria brengse* ini. “ Teroiaknya.


Salah satu scurity itu memegang erat Cakra. “Sabar pak. Jika bapak mau mencari keributan sialakan keluar. Kalian bisa bicara baik-baik.” Ucapnnya.


Habib menyekah darah disudut bibirnya. Rahannya sangat sakit. Tapi ia merasa jika itu pantas untuk dirinya. Ia menatap Cakra sendu dengan sejuta rasa bersalah.


“Cepat seret saja pak.” Ucap salah satu scurity itu lalu menyeret Cakta untuk keluar.


“Berhenti.. Saya mau ngomong saya dia pak.” Ucap Cakra mengarahkan tatapan pada Habib.


Securitypun menghentikan langkahnnya. Mereka melepaskan Cakra. Cakra menatap Habib sebagai adik iparnya. Ia berjalan mendekat dimana Habib berdiri, scurity menahannya lagi. Tapi ia sama sekali tak merespon. “Saya mau ngomong sama kamu.” Ucapnya. Ia sekarang berada dihadapan Habib.


Habib hannya menganngguk sopan dan mengajak Cakra kembali duduk dikursi semula. Dan mengisyaratkan kepada security untuk pergi. Saat security pergi Cakra mulai bicara. “Kenapa kamu tidak melawan pukulan saya?” Tannyanya getir.


“Bahkan kamu hanya merasakan setitik dari adik saya. “Ucap Cakra getir. Ia menangis saat mengingat adik tercintannya sudah tak bisa melihat.


Habib hannya menunduk sedih. Ia tak tau harus melakukan apa. Semua sudah berjalan atas kehendak Allah. sampai saat ini bahkan ia tak tau kabar Bus yang hampir menabraknya, yang menyebabkannya menabrak Nayya.


Cakra tertawa getir. “Kamu pasti kena marah sama Bunda sama Ayahkan?.” Tannyanya.


Habib mengangguk pelan. Ia menatap Cakra yang layaknya orang gila. Tadi ia marah dan sekarang ia menangis sambil tertawa.


“Saya abangnya saja, jika saya bikin Nayya nangis, atau godain Nayya kelewatan saja mereka bakan marahin saya selama berhari-hari.” Ucapnya miris.


Habib mengerutkan keninngnya. Ia tak paham, apa orang tua mereka pilih kasih seperti itu?.” Maksudnya kak, eh, mas Cakra?” Tanyanya. Ia bingung harus memanggil kakak iparnya apa. Apa lagi ini baru pertama kali ia bertemu.


Cakra menatap Habib, dengan penampilan Habib, ia yakin jika Habib orang yang pandai agama, ia yakin Habib orang baik. “Nayya itu anak kesayang bunda sama ayah. Dia juga adik kesayangan saya. Orang tua saya saja lebih mencintai dia dari pada saya.” Jawabnya getir.


“Apa Bunda dan Ayah mas pilih kasih?”

__ADS_1


Cakra menggelengkan kepala. “Kami selalu diberi sama dalam segi apapun. Mulai dari sekolah, pakaian, uang dan sebagainya. Tapi Nayya lebih unggul dari saya. Dia selalu ngajarin Orang tua kami agama, cerama buat jadi orang yang lebih baik. Bahkan ibu saya berjilbab seutuhnya itu diajarin oleh Nayya. Nayya lebih cerdas dari saya dan anak yang sangat baik.” Jawabnya sambil meneteskan air mata saat mengingat itu.


Habib menatap Cakra tak percaya. Bagaimana bisa begitu?. Tapi itu fakta dalam diri Nayya.


“Kamu nggak percaya kan?. Saya juga tidak percaya” Ucap Cakra menatap Habib yang seakan tak percaya. Ia menatap kedepan. “Tapi itu faktannya. Saya disekolahkan S1 saja Nayya adik saya yang bantu saya kulia.” Lanjutnya.


“Nayya selalu ikut lomba. Mulai dari lomba pidato agama, lomba memanah bahkan lomba silat ia ikut. Dan uangnya ia tabung, dia juga sering ikut lombah Karya Tulis Ilmia ada beberapa Karya Tulis Ilmia yang terbit karena ia memenangi lomba. Kamu tau uang tabungannya untuk apa?” tanya Cakra menatap Habib. Habib menggelengkan kepalanya.


“Buat saya. Buat orang tua kami. Dia bahkan tak memikirkan dirinya, ketika orang tua saya tak punya uang buat saya bayar UKT, Nayya turun tangan untuk mencari lomba, saat saya butuh uang buku, Nayya mengeluarkan uang tabungan yang ia sisikan dari jajannya. Bahkan saat lebaran ia selalu beri Bunda sama Ayah baju. Kamu tau apa yang dia ucap?” Tannya Cakra getir. Lagi-lagi Habib menggeleng.


“Dia nggak mau dia pakek baju bagus. Sedangkan orang tuannya tidak. “ Ucapnya. Ia menangkup wajahnya getir saat mengingat semua itu. Diumur semudah itu Nayya sudah memikirkan orang tua sebesar itu, siapa yang tak sakit orang tuanya melihat anak yang begitu baik hancur?.


“Semua Sisi Rumah Nayya yang membersikannya. Dia bangun jam empat subuh untuk sholat malam dan lanjut sholat subuh. Lalu setelah selesai dia pergi kedapur untuk membersikan seluruhnya, ia masak, nyapuh, siapkan bekal ibu dan ayah kekebun. Dia juga siapkan sarapan untuk saya, dia setrika baju kami rapi. Semua Nayya lakuin buat kami. “ Ucap Cakra menangis. Ia tak menyangkah adiknya yang begitu baik mendapatkan cobaan begitu berat.


Habib terdiam, tanpa diminta air matannya jatuh. Ia tak menyangkah Nayya hidup begitu indah. Ia bahkan baru tau ada anak yang begitu memulyakan ibu dan ayahnya. Ia sebagai Ustadz saja tak sebegitu patuh kepada orang tua. Dia bahkan masih sering mengeluh dan sebagainya.


“Kamu pasti nggak liat dia nangiskan saat tau dia buta?” Tannya Cakra tersenyum miris.


Diam sesaat. Ia ingat jika Nayya tidak menangis didepan orang tuannya. Ketika orang tuannya pergi ia baru menangis. Ia juga tak menangis lagi ketika uminya mendekat.


Cakra menatap Habib dia pun menandakan ‘iya.


“Karena Nayya nggak bakal mau bikin Bunda sama Ayah sedih karena dirinya. Dia sangat menjaga hati ayah dan bunda. Bahkan dengan nyawannya sendiri.” Ucap Cakra sendu.


“Wajarkan orang tua saya sangat menyayangi dia. Saya juga tak pernah iri akan hal itu. Karena memang dia pantas mendapatkan itu semua. Bahkan saya mencintai Nayya melebih jantung hati saya sendiri” Lanjutnya.


Habib diam sekaligus tersentu akan hati Nayya. Ia tak tau harus percaya atau tidak akan adanya gadis semualya itu dimuka bumi saat ini. ia masih mendengarkan cerita Habib secara khusyuk.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih buat yang masih baca hehe.... Nyokkk Like komen and Vote.


__ADS_2