
Selamat hari raya..!
.
.
Ia kehilangan separuh nyawanya hingga ia tak bisa bicara apapunb selain menangis. Tulang—tulangnya mendadak menjadi jelly. Daranya seakan-akan ikut berderai akibat luka yang tergores begitu dalam ini. “Bunda...” Gumamnya disana menangis. Dimana Acha? Acha tak jadi dibawa kerumah sakit karena hanya pingsan jadi ditingalkan saja dikamar karena ia shok.
Rey disana tak lagi bicara apapun selain menangis. Rian disana menghapus air matanya dan menatap jalan.”Bunda baik-baik saja.. iya Bunda baik-baik saja..”! Gumamnya dengan kembali menjalakan mobilnya. Mobil yang ia bawa sangat ngebut bagaikan angin. Bahkan ia hampir menabrak beberapa pengendara lain.
Rey disana tak banyak bicara. Ia merasa hancur sehancur-hancurnya. Denyut nadinya bahkan melemah akibat Rindu. Disana ia menatap wajah pucat Rindu dan memnbuka jasnya. Ia mengusap wajah itu dengan bajunya dan tersenyum.”Kau cantik.. dan terimakasih sudah menjaganya hanya untuk saya.”Gumamnya disana dan memeluk Rindu lagi nyaman. Namun mengingat itu pelukan terakhir membuat air mata itu kembali jatuh berderai dan tak ingin berhenti hingga dadanya sesak.
Mobil yang memnbawa Rindu kerumah sakit terhenti dilorong parkir. Disana Rian segera membuka pintu ibu dan ayahnya. Disana sudah ada Rey yang menangis. Rian segera menariknya.”Ayah CEPAT BAWA IBU YAH... “Ujarnya. Rey disana mengeleng lemah sebab memang denyut nadi istrinya sudah terhenti.
Rian disana menatapp ayahnya marah.”Apa maksud ayah ha..!!! cepat menyingkir biar Rian yang bawa bunda..” Ujarnya. Namun Rey tetap tak berucap. Tak berka-akata hanya memeluk Rindu dalam. Rian yang geram segera menarik ibunya untuk ia gendong.
Namun ia terhenyak merasakan tubuh ibunya dingin dan kaku. Ia disana merasakan dadanya sesak namun ia tak menghiraukannya. Ia masih punya harapan hingga ia merebut paksa Rindu dari pelukan Rey. Rey disana merasakan hampa dan menatap Rian yang membawa istrinya pergi dari pandangannya. Ia disana menangis dengan memukul dadanya sendiri. Ia bodoh tak pernah bisa menjaga istrinya..!!
Bohong jika semua orang mengatakan Habib itu lelaki pengecut tak mampu menjaga Nayya. ia juga bodoh tak pernah bisa menjaga Rindu.
Rian disana membawa ibunya dengan tergesah-gesah menuju ruang UGD ia berteriak kencang untuk membawa ibunya kedalam. Hari sudah malam membuat penjagaan sudah sangat sepi. Dilorong-lorong itu bahkan suaranya menggema dan juga derap langkahnya mengendong malaikatnya.”Suter tolong..!! Dokter..!” Teriaknya.
Beberapa suster dan dokter membantunya membawa Rindu. Rian disana terisak ingin masuk namun ditahan.”Maaf tuan. Istrinya saya bawah kedalam dulu untuk diperiksa. Mohon tuan diluar saja..”Ujar dari suster kepala Rian.
“Istri..!! dia ibu saya..!” Bentak Rian membuat ia kaget dan meminta maaf. Rian disana menatap ibunya jauh dengan tangan yang bergetar. Semua tubuhnya penuh darah. Yang artinya ibunya sudah banyak kehilangan darah bukan..!!! ia bergetar.. ia takut. Sangat takut kehilangan malaikatnya. Malaikat yang menolongnya yang tidak mengenali dunia dan juga kasih sayang.
Ia terjatuh mengusap kepalanya. Memeluk dirinya sendiri. Jika ibunya pergi ia dengan siapa? Bagaimana ia menjelaskanya dengan Rani yamng masih dikota seberang? Bagaimana ia menjelaskan pada sang adik yang begitu mencintainya.. ia tak mampu membayangkannya saat ini.
Tal berselang lama Rey datang dengan lemah. Wajahnya disana memerah menatap Rey yang memeluk diri sendiri dihadapannya,, darahnya berdesir. Ia bagai tak hidup saat ini. ia kehilangan seluruh jiwanya dan sendi-sendi kehidupan hingga dokter keluar dan Rian bangkit.
”Bagaimana keadaan bunda saya dok?”Tanyanya nanar.”Diia baik-baik saja kan dok? tolong blang jika dia baik-baik saja.. dia selamatkan.?”Ujarnya lagi mengguncang bahu sang dokter.
Dokter itu menggeleng, ia kenal Rindu sang istri Rey membuat ia menitihkan air matanya juga.”Maaf tuan muda, nyonya Rindu sudah meninggal beberapa menit yang lalu, tepatnya dia meninggal diperjalanan.”Ujarnya dengan nanar.” Peluru itu merusak tepat dibagian paru-paru Rindu yang sudah hancur akibat sakit kangker yang dulu ia deritakan, lalu karena ia kehabisan banyak darah. Ia mengalami luka cukup parah. Luka dilengannya tepat terkena nadinya.”Ujarnya disana ikut menangis. Rindu sosok yang sangat baik,dan dikenal banyak pekerja dirumah sakit ini.
__ADS_1
Rian disana menatap dokter itu tajam.”Dokter pasti salah kan? Yah.. bunda tidak mungkin meninggalkan kami secepat ini kan?”Tanyanya disana. Air matanya jatuh dengan dendiri maksi ia tak mau menangis. Dokter itu menggeleng membuat Rian disana terduduk merasakan hatinya diremas-remas oleh kenyataan.
“ Bunda..!!!!” Teriak dari ujung orong yang tak lain adalah Rajja dan keluarga.”Bunda bagaimana ayah... bunda..!!” Teriaknya menangis pilu.. diikuti Nochol yang disana diam tak bereksperesi apapun. ia hanya diam dengan wajah yang tak tenang,.
Rey segera memeluk Rajja dengan erat menahan Rajja yang memberontak.”Bunda ayah.. bunda kemana ayah.. Bunda baik-baik saja kan?!!!!” Tanyanya.
Rey disana menggeleng memeluk sang anak. Ia berbisik dan berkata.” Ikhlaskan bunda yah sayang. Bunda sudah pergi..”
Duar.... bagai tersambar petir tubuh Rajja disana melemah, tulang-tulangnya mencair mendengarnya.”ENGGAK..!! BUNDA ENGGAK PERGI AYAH.. HIKS HIKS BUNDA..!!!” Ia memberontak dielukan Rey. Ia bahkan reflek memukul Rey yang tak mau melepaskannya. Ia disana menendang angin yang ada dan menangis pilu.
Semua keluarga Rindu disana menangis dibuatnya. “Ayah ..”Gumam raja, ia segera masuk kekamar ibunya yang ternyata sudah ditutup kain putih, ia membuka kain putih itu yang menampilkan wajah ibunya yang sudah bersih dan pucat. Sangat pucat, namun wajah itu sangat bersih dan juga rapuh. Hanya saja ia nampak sedikit tersenyum.
Rey disana diam menatap snag anak. Raja disana menepuk dadanya dan segera berlari.”Bunda....!” Teriaknya memeluk Rindu pilu. Sangat pilu, suasana pilu itu sangat menyayat hati siapapun.Rajja memeluk Rindu dengan nanar.”Bunda bangun.. hiks hiks. Rajja butuh bunda. Hiks hiks. Bunda...!!” Teriaknya dengan nanar. Suaranya bergetar hingga parau. Air matanya tak henti-hentinya menuntut untuk keluar, Rajja disana bahkan memukul angin dan juga menggoyangkan tubuh Rindu.
“Nak sabar..!! hey..!!! lihat ibu kamu pasti dia sedih lihat kamu sayang...!” ujar Rey disana.
Siapa yang bilang Rey tak sedih..!! ia bahkan paling merasa hancur saat ini. tapi ingat kata-kata Rindu yang harus menjaga anak-anaknya membuat ia harus terlihat kuat. ia sandaran, Penopang anak-anaknya. Jika ia tak menjadi kuat anak-anaknya bagaimana? Tapi ia sendiri tak kuat. ia tak kuat..!! bahkan sedari tadi air matanya jatuh mengalir deras karena hancur.
Nichol? Disana diam menatap ibunya, dia berumur 16tahun, anak terakhir Rindu. Anak bungsu.... dia sama sekali tak menangis bukan tak mau menangis, bukan..!! ia mendekati ayahnya dan kakaknya. Ia memandang wajah ibunya yang pucat, sangat oucat. Wajah yang selalu tersenyum kepadanya, mengusap kepalanya sabar... yang kadang suka marah ketika ia melakukan kesalahan, tapi sekarang tak ada ekpresi, tak ada apapun membuat ia kehilangan warna dihidupnya dan hatinya.
Ia lihat tangan Rindu yang penuh darah itu, tangan yang selalu mengusap kepalanya, berdoa akan hal yang baik untuknya. Sekarang lemah membuat ia mengusap tangan itu. Dadanya sesak sampai air mata itu menggenjolak hendak turun.. lagi dan lagi ia menatap bibir ibunya yang penuh dengan ilmu dan ajaran yang baik. Lagi dan lagi ia kehilangan sumber ilmu dan kenyamanannya,,
Ibunya tak pernah marah, yang ada memarahi, kebh tepatnya menasehati. Ibunya tidak pernah berkata kasar bahkan ketika Nichol sekalipun mengatakan hendak menikah muda dan akan menikah seusai tamat SMA. Ia ingat betul ucapan Rindu. ‘Menikahlah jika itu yang menurut mu yang terbaik. Tapi kamu harus tau jika menikah itu bukan tentang cinta tetapi tentang kesiapan. Bunda mau kamu mendapatkan yang terbaik, tetapi bunda tak mampu menentang kehendak Allah. Ingat bunda selalu ada untuk kamu dan mendukung hal itu selagi itu hal positif.”
Nichol menahan hati disana, ia tak kuat membuat ia disana mendekati bibirnya ditelinga Rindu,, ia berbisik. “Bunda adalah malaikat yang Tuhan kirim buat Nichol,bunda terbaik dan juga guru terbaik dihidup Nichol. Nichol bangga punya bunda, bahkan sampai bunda pergi sekalipun bunda akan tetap hidup dihatinya Nichol sampai kapanpun. Tungggu kami yah bund supaya kelak kita berkumpul lagi disana. Bunda sehat-sehat disana yah jangan sakit lagi.”Ujarnya bergetar dan mengusap air matanya.
Rey disana menangis memeluk Rindu membuat Nichol kasihan melihat ayahnya. Ayahnya sangat kehilangan ibunya,. Wajar saja ayahnya sangat mencintai ibunya. Matanya menatap Rajja ibah. bahkan Rajja juga menangis dalam pelukannya Umi Rindu yang tak lain ibu angkat Rindu. Rian? Ia dipelukan ayah angkatnya Rindu. Semua berduka malam ini. Niochol? Ia terus memandang wajah Rindu hingga ia bosan-bosan. Ia mencium setiap jengkal wajah ibunya, tanganya dan juga kakinya. Sebab ia tau ini yang terakhir kalinya..!! yah ini yang terakhir kalinya,
“Nak sudah yah nak jangan nangis terus. “Ujar Fotri Umi Rindu disana kepada Rey yang terus menangis memeluk Rindu dan mencium kepalanya. Ia mengusap kepala Rey yang Nampak sangat kacau dengan mata bengkaknya, Fitri menangis melihat Rindu yang pucat.”Tenang yah nak jangan gini,,.”Ujarnya. hanya saja Rey tak mendengarkannya. Ia tetap menangis memelu istrinya.
Fitri disana tak bisa berbuat banyak selain diam menatapnya. Hingga Rey pingsan disana membuat semuanya disnaa panic. Rey dibawa keruangan sebela namun karena cidera hati, rey selalu menggumamkan nama Rindu dipingsannya. Sungguh Fitri disana kasihan melihatnya.
...----------------...
__ADS_1
Disisi lain sosok Aron berlari sekuat tenaga ingin keluar dari mansion itu, namun keluarga Rindu disana tak begitu mudah dikalahkan. Mereka mengepung seluruh ruangan hingga Aron mentok diujung ruangan. Ia tak lagi bisa keluar dan ia sudah dikepung oleh penjaga dan beberapa orang disana.
Gio mengepalkan tangannya disana memnatap Aron yang panic menatap kesemua arah. Tak ada cela untuk ia pergi dari sana. Ia menatap keluarga itu dengan nanar.” Mau kemana hm?”Tanya Gio disana sadis. Nampak guratan marah sangat kentara diwajahnya.
Aron disana tersenyum sinis, dadanya bergemuru akibat lelah, nafasnya tak beraturan Karena berlari kesana kemari. Ditangan Guo ia bisa lihat ada pistol, ia mengepalkan tangan mengingat bagaimana mereka melakukan membunuh adiknya Khumairo. Ia tak mau hidup seperti itu.. sungguh ia tak mau.
Tangannya terangkat hendak menembak Gio Dorr... argh... ia kaget ketika belum ia mengangkat tangan menempak Gio. Tanganya sudah ditempak duluan dengan penjaga disana. Pistol ditangannya masih bertahan namun lengannya sudah tertembak dan penuh dengan darah. Rasa panas menjalar diseluru tangannya membuat ia meringis sakit.
Habib? Disana ia menatap Aron dari kejauhan, matanya merah disana mendekati Willy sang kakak Rindu. Tangannya dengan gemetar disana meminta pistol itu, namun sebelum itu Willy berkata.”Tidak usah kotorkan tangan sucimu untuk membunuh. Biarkan tangan kotor kami saja yang membunuhnya. Kami sudah biasa melakukan hal ini.”Ujarnya.
Habib disana menggeleng kekeh”Aku ingin membalas rasa sakit istriku.”Ujarnya dengan dingin. Willy disana mengeleng namun Hbaib memaksa hingga Willy memberikan pistolnya. Aron disana menatap habib demngan tatapan beringas. Ia mebenci Habib.
Tanganya teranbgkat hendak menembak Habib namun kaah cepat karena Habib sudah menembaknya tepat dibagian kepalanya duar.. namun gagal. Yang terkena hanya telinganya.. Duar.. Duar. Habib kembali menembaknya hingga terkena dikeningnya. Darah segar mengalir dikepalanya Aron. .
Gio disana mengarahkan penjaga mendekat dan Crap.. Habib memejamkan matanya nanar disana merasakan darah muncrat kema-mana akibat darah yang keluar dari kepala Aron. Kepalanya dikapakoleh penjga Gio hingga hamper terbelah disana.
Gio tak segan lagi menendang dadanya hingga terjatuh dan menekan dadanya.”Tidak akan ada yang masih hidup setelah melukai anak saya... Kamu bisa mati jika sudah puas saya siksa..”Teriaknya disana dan bugh. Ia menendang kepala Arion disana sadis.
Aron mengerang merasakan sakit dikepalanya. Perih. Matanya bahkan tak sanggup ia buka lagi, darah dimana-mana. Bauh amis bgeit5u pekat.. ia lemah dna tak berdaya, Gio disana pun berkata.”Bawa dia keruang operasi dan buat dia masih hidup..!!! jika dia mati maka kalian yang saya jadikan tumbal..!” Teriaknya pada penjaga.
Penjaga disana mengangguk dan membawa Aron keruang isolasi. Ruangan yang akan mengobati Aron meski sudah di buat luka. Bukannya bodoh atau bagaimana., bukanya keluarga Rindu ingin melepaskannya dengan kejam. hanya saja mai itu urusan paling mudah, yang mereka mau membunuh tampa membunuh, yang tak lain adalah menyiksa..
Habib disana diam dengan tangannya yang gemetar akibat sudah menembak Aron. Matanya disana menjadi tajam dan menatap nanar Aron yang dibawa pergi, dendamnya terbalaskan tetapi ada yang sakit didadanya. Dia sudah membunuh? Bukan bukan..! dia tidak membunuh..!!! ia masih hidup bukan..!! tetapi ini adalah hal yang paling jahat baginya.
“Berhenti berfikir bodoh. Aku sudah mempringatkanmu untuk tidak mengotori tangan sucimu.”Ujar Wlly membuat habis sadar. Disana Willy ,memandangnya dengan sinis dan berkata” Jangan sok jahat kalo memang tulang lo tulang cumi. Sampah.”Ujarnya.
habib disana menggeleng.”Saya tidak menyesal, saya akan melakukan apapun untuk melindungi orang yang saya sayangi.”Ujar Habib disana tegas
“Good... jadi cowok memang harus gitu, ngelindungi dengan bertindak bukan dengan kata-kata sama hati doang cinta doang enggak cukup buat ngelindungin.”Ujar Willy membuat Habib diam dan bungkam. Iya... dia harus kuat dan menunjukan secara nyata Bukan kata kata..!
.
Kenapa Rindu mati? Yahh karena memang mati... Lihat sajaa nanti yah.
__ADS_1