
...Kadang orang yang menertawakan orang yang ia anggap remeh sedang menyiapkan racun untuk menghentikan tawanmmu dan menghancurkan mukamu sampai kau tak lagi berani menunjukan wajahnu dihadapan wajahnya.. Nayya... ...
.
.
.
...Jangan bilang pemborosan kata... Sebab aku hanya ingin memberikan cerita untuk kita sadar apakah hari ini kita sudah bersyukur? ...
.
Habib menahan tubuh Nayya yang menyebutkan nama Acha berkali kali ketika sang dokter memeriksa tubuhnya. Ia mencium telapak tangan nayya lirih. Dokter menatap habib dnegan helaan nafas.”Bagaimana keadaan istri saya dok? dia baik-baik saja kan?”Tanyanya disana lirih ketika sang dokter memberikan suntikan penenang untuk Nayya dan nayya pun sudah beryenti memberontak dan menyebut nama Acha berkali-kali tadi.
Dokter melepaskan alat dari telinganya dan tersenyum lirih.” Sepertinya Nyonya Nayya mengalami gangguan pada fisikisnya. Ia mengalami trauma berat. Saya tidak tau apa yang ia lalui hingga ia merasakan takut yang berlebihan dan tak bisa bangun padahal tubuhnya bereaksi ketika ia takut.”Ujarnya.
Habib menatapnya dengan kalut. Wajah tampan dokter bahkan tak mampu membuat ia berfikir lainnya.”Lalu saya harus bagaimana dok? kapan istri saya sadar?” Tanyanya disana dnegan nanar. Ia merindukan nayya yang menatapnya tajam, mengusirnya hingga membencinya. Tak apa asal Acha bisa didekatnya sungguh.
“Sepertinya sebentar laggi ia akan bangun. Hanya saja ia butuh waktu untuk menyetabilkan ingatanya dan tubuhnya. Sebab yang terganggu itu bagian dalam bukan bagian luar. Bapak harus banyak-banyak berdoa yah pak.”Ujarnya lagi.
Habib mengangguk pasrah.”Terimakasih dok.”Ujarnya lirih. Dolkter mengangguk.” Jika begitu saya permisi yah. Jika bapak butuh sesuatu bapak bisa hubungi saya lagi mlalui tombol darurat. Permisi.” Dokter pun undur dari habib dan nayya setelah memberikan obat dan menjawab pertanyaan Habib tadi. Namun tak nampak dokter itu pungkiri jika Nayya sangat cantik membuat ia tersenyum.
Habib terduduk disana menatap wajah nayya. ia mengusap kepalanya dan juga menghela nafas. Ingatanya ke,mbali pada Abu membuat ia disana terdiam.”Abu.. dimanba abu? Aku tidak melihatnya sedari---“ Ia kembali mengingat lagi.”Kejadian itu. Dimana dia?”Ia kaget negan ingatanya sendiri. Bisa-bisanya ia melupakan anaknya yang satu itu.
Ia memijat pelipisnya sakit. Apa dibawa oleh Rindu? Atau dimana yah? Ia menghela nafas dan memilih berdiri.”Sayang aku keruangan Acha dulu yah. Kasihan dia sendirian.”Ujarnya lirih disana lalu memilih menicum kening Nayya dan pergi meningalkan ruangan itu. Kepalanya sakit akibat terkaget ketika tidur tadi. Ia harus menemui anaknya yang satu lagi ini.
Ketika didepan kamarnya Nayya, ia kaget ketika melihat ada seseorang yang mengintip Nayya dari luar, namun tak berselang lama ia memilih pergi. Siapa dia? Dia tak salah lihatkan ada seseorang yang mengintip Nayya? Ia menggeleng dan memilih berjalan menuju kamarnya Acha.
Dan disanalah ia bertemu dengan Rian yang membawakan bunga dan menitipkan pada suster untuk diberikan pada Acha. Setelahnya Rian disana memilih pergi dengan menyaku tangannya dan menunduk. Ia sangat tampan dan cool sehingga memancing tatapan para kaum hawa baik dari yang muda hingga yang tua. Sungguh ia itu lelaki idaman.”Rian..!” panggil Habib pada Rian.
Rian disana menatapnya dan berhenti., ia masih marah pada Habib. Habib tersenyum pada anak itu.”Kau tidak masuk? Acha pasti senang melihatmu disini. Dia pasti merindukan kamu.”Ujarnya Habib lirih.ia ingin Rian bisa ada disampingnya Acha disaat sakit.
Rian disana menghela nafas.”Dia tak mengenakan hijab, dan saya tidak mau melihatnya.”Ujarnya. habib diam dibuatnya.
Rian tersenyum menatap habib lagi.”Lagian bukankah kami sudah bertemu emski diperantarakan dengan doa? Apa yang lebih indah dari saling sapa dengan perantara Tuhan?”tanyanya. habib diam mendengarnya.
“Kau tak mau duduk disini mengorbol bersamaku?”Tanyanya Habib. Rian mengangguk dan memilih duduk didepan ruang melati tepat didepanya ada taman yang lumayan asri dan juga segar. Habib menatapnya dengan senyum.”Kau mencintai anakku?”Tanyanya Habib dengan senyumnya.
__ADS_1
Rian diam disana dan menatap langit.”Yah.”Jawabnya tanpa keraguan.
Habib disana mentpnya dengan senyumnya.”Aku tak merestuimu karena kau memukulku kemarin,.”Ujarnyua Habib disana dengan muka yang menyebalkan.
“Tapi aku tak peduli.”Ujarnya Rian tersenyum dengan ejekan.”Lagian pula itu hanya pukulan bukan apa-apa yang kau rasakan..!! bahkan ingin ku bunuh saat itu.”Ujarnya terkekeh. Habib mendengus dibuatnya.
Rian disana menghela nafas menatap habib.”Ada lagi yang mau dibicarakan? Aku sibuk, aku harus kembali pulang.”Ujarnya disana. Habib menatapnya dengan delikan. ”Kau sombong sekali, emang apa yang kau sibukkan ha? Masih sekolah juga.”Ujarnya mengejek.
Rian tersenyum mengangguk tak membantah. Habib tak tahu saja kenapa ia mau pulang. Ia hanya menjawab.”Kau benar. Aku sok sibuk haha.”Ujarnya.
Habib terkekeh disana dibuatnya. Ia menatap rian dengan tatapan Tanya.”kau anaknya Rindu? Kenapa wajahmu tidak mirip Rey seperti Rajja dan Nichol?”Tanyanya dengan heran.
Rian disana menatapnya dan menggeleng.”Aku bukan anak kandung bunda dan ayah.”Ujarnya. habib mendengarnya kjaget dibuatnya.”Aku diangkat oleh bunda Rindu anak sebelum ia menikah dengan Reyy. Dan dia juga yang membantuku dan menyelmtkanku.”Ujarnya tersenyum. Habib disana menatapnya kaget.
Rian disana tersenyum.”Meski begitu mereka lebih dari kata orang tua bagiku. Mereka malaikat yang Tuhan kirim untukku. “Ujarnya lirih.
Habib mengangguk saja dibuatnya.”Kau melihat Abu tidak? Aku tidak melihatnya sedari kemarin. Dan apakah kau tau siapa yang membantu nayya mendonorkan darahnya? Aku bingung mencari tahu semuanya.”Ujarnya memijit pelipisnya.”Dan bagaimana dengan Aron dan Khumairo? Apakah mereka masih bersama kalian?”Tanyanya dengan nanar,”Arga? Bagaimana?”Tanyanya lirih.
Rian menggeleng.”Aku tidak melihat Abu sedari kejadian itu, tapi bunda tau dia dimana.” Ujar Rian dengan tegas.”Dan lagi aku tidak tahu menahu akan hal itu. Meksi aku tau aku tak akan buka mulut. Itu tugasmu mencari tahu semuanya. Dan semoga bisa memulai semuanya dengan baik.”Ujarnya tersenyum. Ia bangkit dengan helaan nafas.”Sepertinya waktuku cukup banyak terbuamg. Aku harus pamit.” Ujarnya menunduk. ”Assalamu’alaikum.” Ujarnya.
“Walaikum salam.”Gumam Habib. Habib disana diam mendengarnya., Mengapa semuanya begitu berat. Ia harus berfikir dan bertindak rupanya. Ia menghela nafas dan mengusap kepalanya. Ia harus cepat menyelesaikan semua ini. ia menghela nafas berkali-kali menenangkan dadanya yang sesak hingga ia dikagetkan ada anak kecil yang mengenakan kursi roda datang didekatnya dan juga membawakan balon kepadanya. Ia diam menatap sosok anak kecil yang tak lain adalah perempuan itu. Ia tersenyum menatap sang Habib.” Ini buat paman.”Ujarnya dengan imut,.”Jangan sedih lagi yah..!” Ujarnya terkekeh.
Namun Nampak anak itu murung dan berkata.”Ini untuk paman, aku tidak bisa memakannya lagi karena penyakitku. Mangkanya aku beri kepada semua orang yang bersedih dirumah sakit ini sebagai tanda supaya aku bisa bahagia dan merasakan manisnya coklat ini.”Ujarnya dengan mata yang basah.
Habib menatapnya ibah.”Maaf. sini aku ambil coklatnya. Kau baik sekali.”Ujar habib.
Anak itu mengangguk semangat menatap habib. Habib pun membuka coklat itu dan memakanya didepan anak itu.”Hmm. Manis sekali... terimakasih.”Ujarnya mengusap kepala anak itu. Namun sayangnya itu membuat ia terdiam. Rambut sang anak malah banyak yang gugur dan tersangkut ditanganya.
”Maaf.”Gumamnya merasa bersalah.
Anak itu tersenyum dan menggeleng,”Tidak apa paman.. hehe aku tau cokatnya manis dan lezat. Aku suka coklat.”Ujarnya.
Habib menatapnya diam dan mengulum coklat yang terasa manis dimulutnya itu,. “Kenapa kau tak bisa makan coklatnya?”tanyanya lirih
Anak itu mengangkat bahu acuh.”Entahlah. kata ibu dan ayahku aku terkena kencing manis, tapi pas aku ingin mencicipi pipisku mereka melarangku.. Padahal aku ingin memastikan apakah benar kencingku manis. Tapi mereka malah merubah penyakit ku menjadi diabetes akut dan juga kangker paru-paru. Apakah mereka berbohong paman?”Tanyanya polos. Habib diam disana, ia tak tau harus tertawa atau bersedih. Tertawa mendengar kekonyolan itu atau bersedih akan penyakit itu.
Anak itu mengusap pipinya sendu.”Aku tidak boleh lagi makan yang manis. Lihatlah lukaku disini tidak sembuh-sembuh. Malah tambah parah, kata ayah dan ibu jika aku makan manis-manis maka kakiku akan diamputasi. “Ujarnya menujukan luka dikakinya.. habib meringis melihat tulang dikakinya. Iya.. bahkan tulangnya kelihatan zat bernanah.
__ADS_1
“Mangkanya aku bagi-bagi saja coklat satu bulan sebanyak dua buah supaya orang-0orang bisa merasakan manisnya coklat. meski aku bukan penikmatnya setidaknya orang bisa tersenyum karenaku. Bukankah membuat orang tersenyum juga manis? Bahkan lebih manis dari makan coklat?”Tanyanya disana dnegan polos dan gemas.
Habib mengangguk menatapnya.”Ahh tentu saja. Sayangnya aku tak punya banyak uang. Juga aku punya banyak uang aku pasti akan membuat pabrik coklat dan akan membagikanya banyak-banyak untuk orang lain supaya banyak yang bisa tertawa dan juga merasakan manisnya hidup. Aku tidak suka melihat orang bersedih.”Ujarnya lagi mencicit bagaikan burung beo.
Habib tersenyum nmengangguk.”Kau baik sekali. Tapi kau tidak boleh bicara seperti itu. Kamu kaya, Karena punya hati yang besar. Karena ada banyak orang kaya didunia ini tapi tak mau berbagi dan tak mau memberi.. tapi ada ribuan orang yang tak kaya didunia ini tapi tak ragu memnberi. Karena ia tau jika tidak makan itu tidak enak.”Ujarnya Habib.
Anak itu mengangguk.”Paman benar. Kadang menjadi orang miskin memiliki banyak kunci jawaban dunia.”Ujarnya anak itu lirih.
Habib terkekeh dibuatnya. “Paman tidak percaya? Memang benar. Orang miskin menyimpan kunci jawaban dunia. Karena apa? karena ketika susah ia selalu berdoa kepada Tuhanya supaya apa yang ia dapatkan hari ini bisa mengisi perutnya, setiap saat ia berdoa supaya apa yang ada padanya bisa membuat ia hidup didetik berikutnya. Dan apa yang ia miliki saat ini semoga mampu membuat ia bertahan dijam berikutnya. dan begitulah seterusnya hingga tanpa ia sadari ia dekat dengan Tuhan. Dan bukankah dekat dengan Tuhan itu adalah sebuah kunci dunia?”tanyanya dengan muka polosnya itu,
Habib menatapnya dengan heran.”memangnya kunci dunia itu apa?”tanyanya dengan lembut.
Anak itu menggeleng.” Kunci dunia itu tergantung pada manusia. Jika manusia mentuhankan dunia maka kuncinya adalah kebahagiaan yang semu, tapi jika manusia yang menTuhankan Tuhan yang maha benar,, maka kuncinya adalah menjadi manusia yang benar dan baik.”Ujarnya tersenyum.
”Aku tidak terlalu pandai belajar tapi aku suka mengandaikan suatu hal supaya hidupku menjadi seperti anak lainya yang bisa berjalan dengan baik. Bisa bermain tanpa takut terluka, bisa berlari tanpa takut mati. Dan aku mendapatkan kunci jawaban dari apa yang aku butuhkan.”Ujarnya lirih.
Habib menatapnya dengan Tanya.”Apa itu?”Tanyanya dengan lembut.
Anak itupun menjawab.”Kematian dan syurga,.”Ujarnya cepat. Habib terdiam mendengarnya, namun lihatlah wajah anak yang berusia hampir 9tahun itu menatapnya dengan semangat,.”Katanya jika nanti manusia jika disyuga ia akan bisa berjalan meski ia cacat, meksi ia buta didunia maka disana nanti ia bisa melihat. Bisa bermain sepuasnya dan semuanya ada disana. Namun sayangnya masuk surga tidaklah perkra yang murah. Aku harus memiliki bekal yang cukup. mangkanya sekarang aku berdoa kepada Tuhan supaya memanjangkan umurku supaya aku bisa mendapatkan bekal yang cukup menuju syurganya,. Dan jangan ambil dulu nyawaku sebelum aku sudah mendapatkan kunci surga ”Ujarnya. Habib menatapnya dengan mata yang basah dibuatnya.
“kau hebat.. bisa tersenyum.. hiks hiks.”Habib menangis disana.
Anak itupun menatap Habib dengan nanar.,”Paman kenapa menangis? Paman sedih kah? Paman tidak punya uang kah untuk membayar rumah sakit atau apa?”Tanyanya. ia diam menatap penampilan habib yang memang cukup kacau dan terlihat gembel.
Habib diam dibuatnya. Apa dia sedang dihina?
”Paman tau tidak aku punya satu pengalaman .”Ujar sang anak itu dengan senyum.
Habib diam menatapnya.” Dulu waktu aku maish TK Aku bisa seolah meksipun harus mengenakan kursi roda, disana aku iri sekali menatap ana-anak lain yang bisa main ayunan, bisa main sepak bola dan bisa lari-larian ejaan kemari menguatkan berkecil hati.. tapi dikalah itu aku bertemu dengan sosok wanita buta yang duduk disisiku. Ia mendengarku menangis paman. Mungkin dia penasaran dan bertanya padaku kenapa aku menangis. Lalu akupun berkata alasan kenapa aku menangis dan aku pun menceritakan nya. “Ujar sang anak tersenyum.
“Tapi dia malah tertawa dan tersenyum. Aku bingung. Tapi ia menjawab. ‘Seharusnya kau bersyukur dan tidak menangis lagi. karena kau masih diberikan kenikmatan yang tiada tara, ketika kau mampu melihat mereka bahagia dan tersenyum, bermain ayunan dan sepak bola. Sedangkan aku? Aku hanya melihat kegelapan yang ada. Aku tak bisa melihat apapun, bahkan aku tak tahu bentuk bola itu bagaimana, aku tak tahu wajah ayah dan ibuku. Karena aku buta dari bayi, Bukankah kau lebih beruntung? .”Ujarnya tersenyum.
Anak itupun menjatuhkan air matanya ketika bercerita. “Benar. Aku lebih beruntung, meski aku tak bisa bergabung bermain, tapi aku bisa menatap dan melihat semuanya. Meksi aku tidak bisa seperti anak lain, ternyata aku lebih beruntung.”Ujar sang anak kepada Habib.
Habib diam menatapnya. Ia terasa terenyah dibuatnya. Ia ingat Nayya buta. Ia ingat dirinya yang beberapa hari ini mengelih akan anak dan istrinya. Dan ia ingat jika ia melupakan kata syukur saat ini.
.
__ADS_1
.