
Mata Nayya menyayu menatap kedepan. Hidupnya smakin rumit saat ini. sebab Rey yang tiba-tiba menyulap rumahnya dengan tenda pernikahan dan orang tuyanyapun menyetujui keputusan Rey. Nayya? ia tak mampu menolak sebab ia sendiri tidak tau harus apa. orang tuanya sangat egois akan pilihan, melihat orang yang telah sangat tanggung jawab dan menjadi laki-laki yang yang sempurna di mata mereka mereka menganggap bahwa Naya tidak akan pernah menolak pernikahan ini dan mereka akan hidup bahagia. padahal bahagia tidak sesederhana itu...
Bukan. Ia tidak berada dirumah yah..!! saat ini ia berada dirumah sakit menikmati jam kosongnya disiang haru, seharusnya si ia makan siang kali ini, tetapi ia sedang tidak mood membuat ia memilih kekamar sang anak yang ia tolong beberapa hari lalu. Namun dijalan ia merasa suasana nya hangat dan nyaman membuat ia duduk dulu didepan ruangan sang anak itu.
“He dokter..” Nayya dikagetkan ketika sesosok yang tak terawatt itu berdiri disisinya. Nayya mendengarnya tersentak dan menoleh kepadanya. sosok yang Nampak mengenakan jas dan juga baju yang rapi, namun tak bisa dikatakan rapi juga sebab sudah lepas, bahkan kemejanya sudha terbuka dua kancing. Lengan yang sudah digulung. Untung lelaki ini tampan, jadi ia Nampak keren meski penampilan cukup acak begini. “Oh maaf saya ngagetin mbak yah?”Tanyanya disana menyadarkan nayya..
Nayya disana mengerjab dengan pelan dan tersenyum. Tangannya yang tadinya ia lipat belakang sekarang ia masuki kesakunya dan tersenyum.” Sedikit. Tapi tak apa sebab saya yang melamun tadi.” Ujarnya disana jujur kepada Vano.
Vano disana terkekeh dan mengangguk.”Ngomong-ngomong dokter kenapa melamun? Ada masalah?”Tanyanya kepada Nayya. ia bisa melihat wajah nayya yang Nampak sangat lelah saat ini. sungguh ia bisa lihat itu.
Nayya disana tersenyum tipis dan terkekeh.”Sedikit. biasalah.”Gumamnya. vano yang menengarnya mengangguk paham, ia tak mau mengungkit lebih jauh. Baginya semua orang punya masalah dan semua orang tak selalu bisa meminta semua orang bercerita dengannya dan mempercayainya.
“Dokter mau kemana?” mau makan siang kah?”Tanyanya menatap jam dilengannya.”Jam makan siang kan sekarang?”Tanyanya lagi kepada Nayya untuk meyakinkan apa yangh ia pertanyakan dan apa yang ia ketahui. Ia takutnya nanti beda tempat beda jam.
Nayya disana mengangguk dengan pelan dan menjawab.”Saya ingin bertemu dengn Syila sebab saya belum laper. Jadi yah saya kesini.. tadi sebelumnya udaranya sangat segar jadi saya berhenti sebentar eh bertemu ayahnya Syila.”Ujarnya tulus.
Vano mendengarnya mengangguk.”Yaudah dok. masuk saja jika begitu. Nanti saya pesankan makanan saja dan makan didalam.”Ujarnya dengan sopan. Nayya disana pun tersenyum dan mengangguk mengikuti Vano.”Dokter mau makan apa biar saya pesankan?”Tanyanya dijalan.
Nayya mengeleng.”Saya sedang tidak mau makan apapun. jadi tidak usah.”Ujarnya.
vano mendelik mendengarnya tak terima.”Kok gitu si? Kamu harus makan supaya sehat. Kamu itu dokter anak saya jika kamu sakit siapa yang akan merawat anak saya? Dan jika tidak ada yang merawat anak saya nanti anak saya sakit lagi loh. Dan jika anak saya sakit maka saya akan bersedih dan juga terpukul. Jadi banyak dampak yang akan kamu tuai jika kamu sakit.”Ujarnya panjang disana.
Nayya mendengarnya termangu dibuatnya. Ia disana terkekeh sebentar dan menjawab.”Saya pikir bapak orang yang pendiam. Ternyata bapak sama dengan Syila.Cerewet.”Gumamnya Nayya terkekeh.
Sosok vano malah terkekeh disana.”Jelas.. anak saya itu.. jadi memang mirip dengan saya. Masa mirip sama kamu. Kaku.”Ujarnya. nayya hanya tersenyum tipis. Vano terkekeh mnelihatnya. Nayya memang kaku di,matanya, sudah beberapa kali mereka mengobrol tetapi Nayya tetap mengenakan bahas aformal, tertawa yang dipaksa dan hanya untuk ‘ramah tama saja..’ ia tak menyukai hal yang begitu.
Sosok mungil yang nayya hendak temui ternyata sedang disuapi oleh suster. sosok Syila yang mendengar pintu terbukapun menatap nayya berbinar..” Buna....!” Teriaknya bahagia disana henak turun. Andai tidak ditahan oleh suster pasti ia sudah meloncat saat ini.”Buna Lala mau makan sama Buna saja..!” Teriaknya merengek disana.
__ADS_1
Nayya terkekeh mendengarnya dan juga mengangguk mengusap kepada Lala sayang..”Suster rawat anak lain saja biar Syila saya yang menyuapainya.”Ujarnya. suster yang tadi menyuapi Syilapun mengangguk dan pergi meninggalkan Nayya yang mulai mengambil alih makanan Syila.
Syila disana menatap Nayya dengan binar,.”Ihh Lala enggak kangen ayah apa? Kok Ayah enggak disambut padahal ayah kangen Syila loh..”Ujar Vano yang membuyarkan tatapannya pada Nayya dan menatap sosok tinggi dengan kulit sawi matang itu... itu ayahnya.
“Ayah.. hehe.”Ia tercengir lucu membuat siapapun akan gemas dan hendak memakan pipi kemera-merahan miliknya.”Lala pikir Cuma ada Buna dan ayah tidak kesini.. ayah kok kesini siang si? Kan jadinya tumben gitu.”Ujarnya mencerocos dengan bibir yang maju-maju bagaikan bebek. Ia semakin gemas meski kadang membuat telinga ayahnya memanas dan ingin meledak.
Naytya mendenarnya saja terkekeh sembari menyuapinya dengan telaten.” Ayah tadi pulang cepet karena metting hari ini sudah selesai semua. Yah lagi koosng mangkanya ayah mau makan bareng Lala. Eh Lalanya makan duluan jadi yah kita kumpul aja. Ayah kangen Lala.”Ujarnya vano tersenyum.
“Lala emang ngangenin si. Wajar saja kalo ayah kangen Lala.”Cerocos Lala percaya diri membuat Nayya tertawa lebar, Lala dan vano terpana melihat senyum Nayya yang lebar. Sungguh Nayya sangat cantik ketika tertawa seperti ini.
“Ihh kamu lucu banget si Laa hahaha.. kamu percaya diri sekali rupanya.”Ujar nayya kepada Lala. Lala yang diosanapun terkekeh dan mengangguk menggaruk tengkuk belakangnya kaku. Vano? Ia disana tertegun dan diam menatap wajah nayya. sungguh baru kali ini ia melihat wajah nayya tersenyum lebar dan setulus ini.
Lala disana menatap nayya dan berkata.”Buna cantik. Mau nggak jadi Buna nya Lala? Lala capek nggak punya Bunda.. Lala mau punya bunda kayak Buna,”Ujarnya Lala ngerocos sembari ngunya.”Cantik, baik, seorang dokter. Nanti Lala bisa ceritain sama teman-teman biar lala bisa bangga. Nanti Buna ajarin Lala masak dan juga make up.. kalo ayah nggak bisa soalnya dia sibuk kerja jadi Lala sendirian terus dirumah.. Lala kesepian kalo Lala punya Buna pasti bahagia banget.”cerocosnya lagi tanpa titik koma.
Namun ucapannya membuat Nayya tertegun, ia menatap lala dengan tatapan iba sebab tidak memiliki sosok ibu ketika sedari lahir itu memang sangat sulit dan menyedihkan, sedangkan ayahnya Lala menatap Lala dengan tatapan sendu dan Nayya dengan tatapan tanda Tanya menatap raut wajah nayya yang berubah atau tidaknya. Yah.. Lala memang memanggil Nayya Buna sebab Nayya itu baginya bundanya. Pertama kali ia bangun melihat Nayya dan segera memanggilnya Buna. Ia pikir awalnya Nayya ibunya. Tetapi harapan itu sirna ketika ingat Bunanya sudah meninggal.
“Tapi kata dokter Lexi dan beberapa dokter disini kamu sudah bercerai Nay dan tidak punya suami. Kamu hanya punya dua anak?”Tanya Vano kaget. Yah ia sudah mendengar hal itu dari beberapa dokter dan suster disini akan perkara Nayya.
Nnbayya mendengarnya pun menggeleng.”Meeka hanya tau yang berada dikertas tapi tidak pada kenyatan. Seandainya kamu diberi makanan namun berbalutkan cover baju apakah kamu tahu didalamnya makanan? pasti kamu tahu itu baju bukan? Begitulah kehidupan saya. Jadi tidak semua hal yang orang lain ketahui dan bicarakan itu benar.”Ujarnya dengan tulus membuat Vano tertegun. ia merasa harapan-harapan yang baru ia buat kemarin itu menghilang entah kemana.
Disisi lain ada sosok Rey yang melaporkan kasus Abu kekantor polisi dan menyewa banyak detektif mencarinya. Ia sangat mengkhawatirkan Abu sungguh,,!!! Meski ia sadar jika dirinya bukanlah ayah kandungnya, meski dunia menolak keberadaan Abu maka ia akan menjadi tameng utama,. Rumah pertama dan tempat berlindungnya Abu.
Ia memang sudah membuat acara pernikahan dirinya dengan nayya diwaktu dekat ini.. bukan tanpa lasan ia ingin memercepat masalahnya dengan semua ini. ia sudah mulai muak dan lelah.”Bagaimana kabar Abu bang?”Tanya Rey pada Willy yang seujurnya usianya lebih tua,, hanya saja Willy kakaknya Rindu. Jadi ia juga harus punya sopan santun bukan?
Willy menghela nafas dan menggeleng.”Keluarga Khumairo tidak ada pergerakan sama sekali dirumahnya. Dan sepertinya kita akan sangat sulit Rey.”Ujarnya disana kepada Rey. Rey yang mendengarnya memijatkan keningnya yang terasa berat. Sungguh baginya ini sungguh berat..
Willy yang mlihat Rey begini pun terdiam. Ia bisa melihat Rey sangat lelah dan pusing.”Kau memang benar-benar percaya Rey jika dia bukan orang jahat dan terlibat akan masalah kemarin?”Tanya Willly kaku dan nanar.
__ADS_1
Rey mendengarnyapun menatapnya dalam.”Saya rasa semua yang saya ucapkan kemarin sudah sangat meyakinkan Wil. Jika kamu tidak mempercayai saya itu hakmu tapi hakku adalah mempercayainya sebagai anak saya,.”Ujarnya dengan semua penekanan,”Dan saya akan menyelamatkannya dengan bagaimanapun seharusny seeorang ayah lakukan..!” Tegasnya. Willy hanya menghela nafas dan menatap lagi monitornya.
Sampai pada sosok Somad keluar dari rumahnya dengan menggandeng seseorang mengenakan hodie disana membuat ia menajamkan matanya. Disisi sosok itu juga ada sosok lainnya membuat ia mengezoomnya lagi.” Kimoo zoom lagi dan perjelas siapa dia.. siapa yang pak tua itu bawa..”Ujarnya Willy pada orang suruhannya itu segera dilakukan oleh orang suruhannya namun sosok yang ia lihat tertutup rapat oleh masker diwajahnya. Ia terdiam dan juga kembali meneliti kedua sosok yang memasuki mobil yang berada disana.
Rey yang melihatnya ikut menatap dan juga menyelidiki siapa sosok itu.. sampai pada Rey ingat suatu hal.”Itu Abu..!” Ujarnya dengan kaget.
Wily mndengarnyapun terdiam dan juga menatap Rey.”Apa kau yakin? aku tidak yakin sebab kemarin sudah ada beberapa polisi yang menyelidiki rumahnya namun tidak ada Abu disana.”Ujarnya Willy pada Rey tak percaya.
“Saya yakin Willy..! sebab dia kemarin mendatangi saya dengan jaket itu juga...!! itu milik Abu dan saya sangat meyakini hal itu..! saya melihat dengan mata kepala saya sendiri.”Ujarnya panik menepuk pundaknya Willy.
Wilyy disana pun terdiam mengangguk dan kembali berkata pada orang suruhannya. “Kimo mereka mau kemana? Dan ikuti mereka.. aktifkan terus kamera mobil kalian.”Ujar Willy, Rey panik menatap mobil yang dibawa oleh keluarga Abu. Hingga pada suara orang suruhannya berkata.”Sepertinya tujuan mereka adalah pesantrennya tuan habib..!
Rey yang mendengarnya membelalak dan juga mengingat kata Abu.”Dia? apakah dia ingin melakukan rencananya kemarin?” yang sempat tertunda itu?”Gumamnya kepada Willy yang berada disisinya.”Jika begitu mereka sedang berada dalam bahaya.”Ujarnnya dengan melotot.
Willy mendengarnya pun mengkaget dan Bragkk.. ia bangkit dengan kursi yang terjungkal.”Sekarang jam setengah dua pagi dan sebentar lagi jam dua..!!! semua orang dipesantren dalam bahaya...! kita harus kesana cepat..!! “Teriaknya kaget.
Rey pun disana mengangguk.” Saya hubungi Habib dan semua yang ada disana dulu yah..!!”Ujarnya Rey dan segera menghubungi Habib. Namun tak ada sahutan disana.. ia menghubungi Rian dan Acha namun juga tak ada sambutan. Bahkan tak ada yang menyambung membuat ia bingung harus apa dan terus menghubungi mereka..” bagaimana ini.”Gumamnya disana cemas.
“Rey cepat.,!!! kita harus bertindak.”Teriak Willy disana dan segera hendak berangkat. Rey disana mentapnya nanar dan menjawab.”Aku harus kerumah Nayya dan menolongnya..!! Nayya juga dalam bahaya.. kau yang akan kepesantren..”ujarnya disana dengan tulus.
Willy yang mendengarnyapun terdiam dan tak lama setelahnya mengangguk.. “Baiklah.. kau selamatkan mereka dan aku yang kepesantren si bodoh itu.”Ujarnya. “Aku ikut..” Teriakan diluar membuat keduanya terdiam dan menatapnya. Itu sosok Raja yang menatap keduanya tajam,”Kalian itu tidak memberi tahuku tentang hal segawat ini. aku mau ikut dan menolong Acha adikku..!!” Ujarnya khawatir.
“Kau dirumah saja. Ini sangat bahaya sayang. “Ujar Rey melarang. Bukanya meragukan kemampuan Raja. Tapi ia tak mau anaknya kenap[a-napa. Jiwa kebapak-bapaakan ada ditubuhnya. Ayah mana si yang suka anaknya kenapa-napa
“Tapi Raja mau ikut ayah. Ayah jangan khawatir.. raja ikut om willy dan ayah selamatin Umi Nay.”Ujarnya. rey mendengar anaknya yang kekeh hanya mengangguk dan mulai berangkat. Raja disana berangkat dengan Wily menuju kepesantrennya Habib.
Sedangkan sosok yang berada didalam mobil bersama kakeknya itu terlemas dan juga terlayu. Tubuhnya terasa teramat sangat pedih, seperti disayat-sayat habis. Namun ia harus apa?
__ADS_1
Somad disanapun menekan pisau di pangkal kakinya Abu membuat Abu meringis sakit.”Ingat.. jika ini gagal maka saya pastikan jika Acha akan saya buat lumpu dan juga buta selama-lamanya paham?”Tanyanya membuat Abu meringis perih merasakan darah menjalar disekitar kakinya. Sungguh ini sangat nyilu dan perih..