
“Abu..” Gumam Habib, dan ternyata itu hanya mimpi. Ia terbangun dengan nafas naik turun akibat entah mengpa ia merasa apa yang ia mimpikan itu semuanya nyata, tubuhnya sudah penuh dengan pelu hingga basah.. ia merasa nyata ada Abu yang datang padanya dan meminta bantuan..
Namun tungggu dulu.. ia mencium bau-bau gosong membuat ia menatap kedepan dengan tatapan tak percaya... ada banyak kepulan asap membuat ia segera bergeser dan juga bangkit. Disana ia pun mulai ketar ketir memikirkan anak-anaknya. ia tak memikirkan siapapun kecuali anak-anaknya sungguh..!!!
“Acha.. Rian..!!!” Teriaknya lalu pergi keluar kamar, dan ternyata semuanya sudah hangus terbakar.. wajahnya memerah karena marah dan juga panas. Ia hendak segera memasuki kamar Acha, dan ternyata disana ia dikagetkan dengan seseorang yang keluar dari kamar Acha dengan menggendong Acha, yang tak lain adalah Rian.. dibelakangnya disusul sosok yang membuat ia tertegun dan kaget.
Itu abu..!!! namun ia bisa melihat disana Abu meringis memegang kakinya dan juga dadanya. “Acha.. cepat keluar nak...”Gumam Habib disana nanar dan segera mengiring Rian dan Acha meninggalkan Abu... abu menatapnya nanar dan juga terdiam merasakan sesak didadanya.
Ia tam dipedulikan..!
Yah,, dia masuk dikalah semua orang tertidur, ia berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menyelamatkan Acha dan rumah. Namun ia ditinggal membuat ia tak lagi berani bangkit. Ia ingin mati saja saat ini membuat ia terkulai. Namun sebelum ia terkulai ia sadar jika ditubuhny ada alat peledak, dan jika ia diam saja maka itu akan meledak dan menghanguskan siapapun disekitarnya,
Ia segera bangkit merasakan kakinya kaku untuk keluar dan bertahan, ia hanya punya 10menit saja.. ia harus kuat ditengah rasa sakit yang ia pikul. Matanya menatap sisi ruangan yang ada foto diinya dan Habib. Ia tersenyum dan berkata.”Selamat tinggal Abi...”Gumamnya dan terus saja berjalan meski terlatih menuju ruang belakang.
Disisi lain ada sosok habib dan yang lain keluar. Acha disana sudah merasakan sesak nafas dan juga lemah karena menghirup asap terlalu banyak, “Abu dimana?”Tanya Rian disana dengan nanar menatap sekeliling. Ia ingat bagaimana ia dikagetkan ketika satu sosok yang menggedor pintu kamarnya. Andai ia tak mengedor, pasti ia dan Acha tak akan sadar dan juga mati dimakan api.
Habib menatapnya menyuram dan berkata.”Dia pasti yang terlibat akan semua ini.”Gumamnya. ia menatap rumahnya dan rumah nayya ini. rumah penuh dengan kenangannya. Ia mengepalkan tangan marah dan juga memaki dirinya. Ia menatap ketempat lain dan ternyata pondok pesantrennya juga dihanguskan oleh api.. banyak siswa dan siswi yang berbondong-bondong keluar dan sadar membuat ia terdiam.. “Apakah ada korban?”Paniknya dihati.
Bugh... tak sadar dirinya ketika pipinya dipukul, ia kaget ketika tubuhnya terhuyung kebelakang hingga ia terjatuh. Pipinya terasa perih saat ini karena seseorang itu. Matanya menatap kedepan dan juga tetdiam. Itu Acha yang sudah melemah. Acha disana menatap habib dengan tatapan marahnya.”Cari Abu abi..!! dia tidak bersalah, dia menyelamatkan Acha.. dan kita semua...!!” Teriaknya memekakkan telinga memegang dadanya.”Jika terjadi sesuatu pada Abu maka Acha pastikan jika kita tidak akan bertemu hinga kapanpun lagi.. dan Acha akan membenci abi seumur hidup Acha!!” Teriaknya nanar disana.
Habib terdiam merrasakan pukulan yang kuat itu, ia menatap sang putri dengan wajah bertanya. Kenapa ia dipukul? Namun mendengar anaknya akan membencinya ia segera mencari Abu yah ia harus..!!
Rian memeluk Acha yang menangis. Habib dibantu dengan Fatih bangkit.” Bagaimana keadaan sekitar Fatih? Apakah pemadam kebakaran sudah dipanggil?”Tanya Habib nanar memegang pinggiran bibirnya yang sakit itu.
__ADS_1
Faith menganggukdan berkata.”Rey tadi sudah mengirim sepuluh pemandam kebakaran sehingga beberapa tempat tak terbakar dan semua santri tidak ada yang terluka, jadi yang dikatakan Rey itu benar jika Abu tidak bersalah kak. Ia sudah mengingatkan kita akan tragedi ini kemarin tetapi kita saja yang menganggapnya sepeleh. sekarang kita cari Abu sajayukk kak..”Ujarnya lembut dan kasihan pada Habib. HABIB YANG MENDENGARNYA TERDIAM. DADANYA BAGAIKAN DITIKAM OLEH BELATI Beracun saat ini. meredam dan meremuk menjadi satu.
Habib disanapun mengangguk dan berjalan nanar mencari Abu,, ia ingin memasuki rumah itu lagi namun dilarang oleh Fatih. Namun ia nekat.”Kak rumah semakin terbakar kakak bisa celaka jika didalam nanti..”Ujar Fatih dengan nanar.”Kita cari diluar saja yah, abu pasti sudah diluar saat ini.”Ujarnya lagi lirih. Ia menatap rumah yang semakin terbakar oleh banyaknya api tersebut.
Abu mengeleng nanar dan mencoba memasuki rumah itu. Fatih tak mampu menahan sang kakak. Habib masuk dengan dada yang penuh sesak, pikirannya kemana-mana. Asap mengepul ia memasuki rumah itu , mengibas wajahnya membuat ia semakin memerah dan terbatuk-batuk.. disana ia melirik ke kanan dan kekiri.. kosong, itulah yang ia lihat sedari awal. Ia disana meringis dan terdiam menatap kekanan dan kekiri terus.. api dimana-mana membuat ia menatap nanar apapun itu.
“Abu... nak kamu dimana nak.. maafkan abi uhukk. Uhuk... Abu..”Teriaknya nanar disana dan mencari kekanan dan kekiri. Tak menemukan siapapun membuat kepalanya terasa hendak pecah sakit lelah dan sakitnya. Hingga ia melihat siluet seseorang yang keluar kepintu belakang.
Ia puns egera menuju belakang dan mengejarnya.. Bugh.. ia dikagetkan oleh kayu besar yang hampir menimpahnya. Ia disana sgera kebelakang dan mulai melompat api dan kayu itu. Tubuhnya terasa ingin meledak saking panasnya tempat itu.. ia segera keluar dan mencari sosok itu..”Abu..”Teriaknya kekanan dan kekiri. Semuanya gelap membuat penglihatannnya sedikit tak berfungsi alias tak bisa melihat apapun.
Namun ia bisa mendengar suara dentingan waktu. Ia terdiam apakah itu peledak? ia disana melirik kenanan dan juga diujung sana. Dimana itu menuju hutan belakang rumahnya.. ia disana merasakan perasaan yang tidak enak. Ia memiluh berlari dan mengejar seseorang disana. Ia yakin Abu menuju kehutan karena yang dikatakan Rey itu.. ia yakin hal itu..”Abu... abi bilang berenti dan jangan melakukan apapun..!!” Teriak Habib disana kuat dan nanar
Matanya menatap sekeling dengan nafas yang terengah-engah. Ia disana menjadi lirih dan tak tau harus apa. Ia memegang dadanya yang sesak.. sampai pada titik ia bertemu dengan seseorang yang terjatuh dan terkulai lemah.. ia tak bisa melihat apapun akibat gelap, hanya cahaya bulan saja yang membuat ia bisa melihat samar-samar. Ini hutan penuh dengan pohon.. ia tak punya apapun dan ia tak bisa apapun selain mengandalkan indra pendengarannya.
Sosok Abu yang dikejar Habib tadi merasakkan pendengarannya terganggu, suara lembut dan kekhawatiran itu membuat ia membuka matanya yang sudah memberat.”Abi jangan mendekat..!!” gumamnya mengeleng “Jangan mendekat abi.. ini bahaya abi.. Abu tidak apa-apa..”Ujarnya ditengah bibirnya yang kering. Seluruh tubuhnya mati rasa saat ini Karena tak bisa berbuat apapun.
Habib mendengarnya meresahkan nyeri diuluh hatinya.. ia bisa melihat Abu meski tak terlalu jelas akibat rembulan malam, ia berlati dan menerjang Abu dan memeluknya.. ia menangis dengan kuatnya membuat Abu mendorongnya kuat dan tak terima.. “Abi lepass pergi..!! pergi dari sini..!” Tertiak Abu dengan kuat mendorongnya.. waktunya sudah tak banyak lagi saat ini.
Habib masih memeluknya erat. Ia bisa mencium bau anyir ditubuh Abu. Itu membuat ia menjadi semakin sakit, ditambah baju Abu yang Nampak amis dan juga tak enak bagai bauh nana. Ia semakin sakit karena merasa yak becus menjadi seorang ayah.
Abu yang lemah tak mampu mendorong lebih kuat. kekuatan Habib jauh dari kekuatannya. Habib disana terdiam kaget mendengar suara nyaring dari perut Abu.. abu tak menyia-nyiakan kesempatan itu.. ia disana memukul perut Habib kuat hingga Habib mundur dan terdiam merasakan sakit dipertanyakan.
Abu meringis ditengahh kesadarannya dan menatap ayahnya lirih.”Maaf bi.”Gumamnya lirih. Ia disana menggeleng.”Abu bukanya mau nyakitin Abi. Abu Cuma enggak mau abi kenapa-napa Bi.. Abu hiks hiks Abu enggak mau Abi kenapa-napa.”Gumamnya dan mencoba menjauh dengan berusaha berdiri.
__ADS_1
Habib menggeleng hendak mengejarnya.”Bi berhenti disana jangan ikutin Abu.. abu pergi dan abi bawa B0m, abu enggak mau Abi kenapa-napa.. Abu sayang Abi dan semuanya... tolong pahamin perjuangan Abu tolong..”Teriaknya frustasi dan nanar wajahnya penuh air mata itu mencoba menjauh.”Jika abi mendekat maka abu kehilangan perjuangan. Sebab perjuangan abu sia-sia. Toolong abu bi..” Ujarnya nanar dan berusaha lagi berjalan.
Hingga BUgh.. Abu terkaget ketika ada seseorang memeluknya erat.. Abu kaku disana karena sosok yang memelukny dan seseorang yang tak lain adalah sosok yang tak pernah ia sangkah. Ia menatap sosok itu dan ternyata itu Rajja. Disana Rajja menatapnya lembut dan berbisik.”Kamu saudara saya Abu dan saya tidak akan membiarkan kamu pergi menyusul bunda.”Gumamnya berbisik."Bunda sangat menyayangimu. Bahkan sebelum ia pergi ia berpesan kepada saya untuk melindungi kamu dan menganggap kamu sebagai suadara saya. Jadi tolong jangan pergi dulu nanti saya akan gagal dimata bunda..”Ujarnya melirih disana.
Abu menangis di pelukannya dan mendorongnya. Raja disana menggeleng dan juga menahan Abu. Abu disana menangis nanar.”Tolong menjauh dari saya. Saya tidak mau kalian berada disini. Kalian orang baik, daya tidak mau kalian mati dengan kesia-siaan..” Teriaknya nanar dan serat akibat bibirnya yang kering.. sungguh ia saat ini tak kuat. ia pergi dari rumah kehutan supaya b0m itu meledak dan hanya dirinya saja yang mati bukan begini,
“berhenti berteriak. Biar paman yang mematikan b0mmu itu..”Ujarnya Raja menahan tangannya, tak lama setelahnya ada Willy yang datang membawa senter yang cukup terang. Disana baru mereka bisa melihat jika wajah Abu penuh lebam dan juga bengkak. Bahkan sebelah matanya membiru membuat ulu hati habib dan Rajja ikut membiru lebam. Sudut pipi nya membengkak dan juga bernana saking sakitnya. Siapapun tak kan sanggup melihatnya
Mata Rajja menuju bajunya Abu. Hodie itu dibuka dan menyisahkan tubuh ringkuh itu. Tangis Habib semakin pecah melihatnya.. tubuh Abu penuh luka dan nana/. Habib memukul kepalanya merasa gagal saat ini, belum lagi luka berdarah yang masih basah membuat bauh busuk menyengat. Kaki Abu terlihat mengeluarkan darah yang begitu banyak. Namun disisi lain Abu menahan tangisnya dan berkata “Saya baik-baik saya jangan menangis kak..”Ujarnya mengusap air mata Rajja yang rajanya sendiri menggigit bibir bawahnya supaya tidak menangis histeris namun tertahan.
Raja memeluk kepala Abu dan juga menangis mengusap kepalanya.”Maafkan kakak yang tidak bisa menjaga kamu dik.’Gumamnya lirih.. abu menghangat merasakan pelukan itu.. ia merasakan nyaman dielus bagaikan elusan bunda Rindunya sungguh Rajja membuat obat rindunya kepada ibu angkatnya itu terobati. Apakah begini asalnya memiliki abang dan saudara? Jika ia maka tolong hentikan waktu saat ini supaya ia bisa selalu bersama dan memeluk saudaranya. Ia tak ingin kehilangan kenyamanan ini.
Willy berusaha membuka benda yang akan meledak ditubuh Abu. Sungguh kemarahan Willy memuncak menatapnya. Bagaimana bisa sosok Somad tega melakukan hal seperti ini pada cucunya sendiri.. abu memanglah cucu yang tidak diharapkan, tapi bukan begini caranya...!! Meski begitu ia merasa bersalah karena sudah menuduh Abu sebelum nya.
tubuh yang penuh lebam dan luka itu diikatkan benda yang akan meledak itu mengenakan rantai yang cukup sulit dilepas. Namun untungnya willy bisa membukanya dengan beberapa alatnya. disana juga ia mencoba mengotak atik benda tersebut.. waktunya tak banyak. Ia disana mencoba tenang menatap waktu yang tersisah yang ternyata hanya 2menit lagi. apakah ia bisa? mustahil..
Namun melihat Rajja yang memeluk dan menenangkan Abu melihat tubuh Abu yang begitu ringkih dan menyedihkan membuat ia tak sanggup mengatakan hal itu.. ia akan berusaha membuat ia segera mengotak atik benda itu.. abu yang terlepas dari benda tersebut terjatuh dipelukannya Rajja. Ia memeluk raja membuat raja segera menggendongnya..
Habib melihatnya segera mengambil alih Abu dan juga membawanya kedalam dekapan hangatnya, ia menyambut nya dengan nafasnya yang tercekat. Ia mengusap kepala Abu sayang dan mengecupnya sayang.”Nak bangun. Jangan tutup matamu hey..!”Teriak Habib disana. Abu disana tersenyum menghangat.
Ada banyak orang yang peduli padanya ternyata membuat ia disana tersenyum dan juga membuka matanya sayu menatap mata Habib yang menyayu.,”Abi sayang kamu bangun sayang. Maafkan abi.”Gumamnya lirih. Abu disana menatapnya nanar dan mengangguk.
Raja menatap kaki Abu dan melepaskan ceaynanya. Abu tak bisa menahan malu lagi, sedangkan Raja? Ia melepaskan jaketnya dan menutupi kaki Abu. Ia mencobek bajunya dan juga mengambil obat yang mereka bawa tadi. Semua persiapan memang sudah disiapkan tadii, jadi ia segera menumpahkan air kekakinya Abu. Abu meringis dan merintih sakit. Tak berselang lama Rajja membuka bajunya dan sekarang hanya ada tangtop hitam menutupi tubuhnya ditengah malam yang sunyi itu. Dingin menyergap tubuhnya namun tak ada rasanya, ia membersihkan kaki Abu menuangkan alcohol dan obat merah. Cukup dalam namun itu suha cukup setidaknya darah itu tak terlalu banyak keluar. Ia mengikat luka itu dengan menyobek bajunya tadi. Abu yang lemah tak bisa melakukan apapun, ia hanya merasakkan hangat diekukan Habib saat ini. sangat nyaman batinnya..
__ADS_1
Willy yang masih berusaha itu berusaha tak panik melihat waktunya yang hanya 30detik itu, berusaha tak panic dan juga tetap fokus.. ketika detik ke 5.. Tin... alat peledak itu berhenti berdetak barulah Wily bisa melepaskan nafasnya yang tertahan dan tercekat.. ia baru bisa bernafas legah.