Istri Butaku

Istri Butaku
Ribut


__ADS_3

Langkah kaki Nayya menuju tokoh bunga itu tadi benar adanya, dia ketoko bunga untuk membeli bunga dan juga beberapa manisan, Disana sebab ada jual manisan dari bunga. Unikkan? Tapi yah begitulah dan itu untuk pasiennya yang ada disana.


Nayya bahkan tak melihat adanya Habib yang mengejarnya dan juga mencarinya. Ia tetap stay coll mengendarai mobilnya. Yah Nayya mampu mengendarai mobil nya dan tidak bergantung dengan orang lain si. Bahkan ia sudah punya rumah loh. Cuma yah belum ditempati saja. Kadang jika ia butuh sendiri barulah dia kesana untuk menyendiri.


Sesampainya dirumah sakit ia membawa bunga itu dengan senyumnya yang manis. Namun dijalan ia berpaapasan dengan bosnya membuat ia tak menatapnya. Bahkan ia tak menyapa membuat bosnya menyipitkan mata dan juga menarik bunga yang dipegang Nayya itu dengan cepat kerika bersebelahan.


Nayya kaget, ia disana menatap bunganya nanar menatap bosnya.”Eh eh pak.. itu bunga saya ada apa nih.”Ujarnya disana dengan tak terima namun suaranya tetap tak terlalu keras dan juga masih menjaga intonasi suaranya.


Bosnya mendelik dan pergi begitu saja membawa bunga. Ia melirik seseorang dibelakangnya dan berbisik. Seseorang dibelakangnya pun menatap nayya yang menatap mereka meminta penjelasan. Nayya diberi uang lima ratus ribu kes.” Beli lagi saja nona... ini uangnya.”Ujarnya.


“Eh bagaimana bisa begitu..!!” Ujar Nayya menaiki suaranya tak terima.”Itu bungaku dan aku tidak jual, aku membelinya untuk seseorang bukan kalian. Kalian beli saja lagi.”Ujarnya disana.


“Mau saya beli atau dipecat?!!” Tanya bosnya. Nayya disana diam dibuatnya membuat bosnya disana tersenyum menyungging.” Bagus.”Ujarnya lalu pergi.


Nayya mengusap kepalanya. Bosnya itu memang sakit jiwa, suka sekali membuat ia naik darah. Ia mengusap dadanya dna memilih mengambil uang tadi dan masuk saja. Rugi. “Lumayan untung 250ribu.”Gumamnya disana. Syukuri sajalah yah,,.. hahaha. Jangan sok jual mahal.


Dilain sisi ada Arga yang mengantarkan Habib mengelilingi kampusnya dengan baik hati.. Ia mengenalkan bagian kelas mana saja, ruang mana saja. Habib Disana hanya diam dan sesekali bertanya juga. Tatapan Habib pun sekarang tak lagi sedalam tadi. “ Kamu pintarkan? Berarti kamu dapat beasiswa disini?”Tanya Habib kepada Arga disana, dari tadi mereka juga sering sedikit masalah pemahaman Arga.


Arga disana tersenyum.” Dapat si, hanya saja ayahku tidak membolehkanku mengambilnya.”Ujarnya disana tersneyum menatap Habib.” Ayahku cukup mampu membiayakanku mangkanya beasiswanya diberi saja dengan temanku yang sekarang mengurus panti milik bundaku,” Ujarnya disana dengan bangganya.


Habib disana menatap dalam mata Arga, ada rasa sangat bangga untuk ayahnya disana, ia iri membuat ia disana bertanya.” Kamu bahagia banget yah punya ayah kayak dia. Ayah kamu sepertinya baik.”Ujarnya disana menatap kegedung tinggi didepanya. Tepatnya mereka sedang menuju kekelas lainnya.


Arga disana malah tersenyum.” Sangat hehe.”Ujar Arga disana. “ Ayahku sangat baik, tak pernah marah dan juga baik, ia juga adil dan juga selalu menyayangi kami seutuhnya, mengajarkan kebaikan dan juga segalanya. “Ujarnya Srga disana bangganya dan semangat.”Bahkan sedari kecil aku bercita-cita menjadi seperti dirinya meski sulit. “Ujarnya bahagia.


Habib disana tersenyum mengangguk. Apa kabar dengan dirinya? Masa lalunya? Apa kabar anaknya? apakah anaknya banggga dengannya? Mengenalinya sebagai ayah? Ia ingin dibangakan juga membuat ia menatap Arga. Arga disana pun tersenyum.”Bahkan aku dulu pernah berkelahi dengan temanku. Bapak tahu apa yang dilakukan ayahku?”Tanyanya disana.


Habib mengernyit.” Memangnya berkelahi karena apa? Dan apa yang ayahmu lakukan?”Tanyanya disana dengan herannya.


Arga disana malah terkekeh dan menjawab”Dulu aku berkelahi gara-gara bundaku dihina hanya karena dia mengenakan Tudung atau Niqob yang berlebihan, mereka bilang bundaku dan agama kami ter0r1s (Sensor) membuatku muak dan memukuli mereka secara habis-habisan.. sampai mereka masuk rumah sakit dan ada juga yang patah pinggang.”Ujarnya disana.


“Aku pukang sangat takut dimarahi ayahku dan bunda, bundaku sangat mengeramkan, dia lebih ditakuti dari pada ayahku hehe.. tapi ternyata ayahku dan bundaku malah mendukungku. Mereka bilang jika membela agama tak apa, ayah dukung. Tapi lebih baik diam dan tersenyum saja. Buktikan yang terbaik. Mereka tak memukulku sama sekali.”Ujarnya disana tersenyum. Matanya bahkan berkacakaca. “Dan yang paling mengharukan bagiku dikalah ia marah dia malah mencium kepalaku dan memelukku erat. Menggumamkan kata sayang berkali-kali hingga aku merasa sangat bersalah. apakah ada ayah sebaik dirinya?”Tanyanya disana. Air matanya jatuh juah.


Habib disana menggigit bibir bawahhnya dibuatnya. Air matanya ikut jatuh dibuatnya.”Dan ayahku urus semuanya dan meminta maaf kepada mereka yang ku hajar. Seharian itu ia memelukku dan bergumam kata sayang denganku. Dan itu terjadi setiap kali aku melakukan kesalahan, haha unik ketika aku melakukan kesalahan dia begitu yah. Rasanya aku menjadi anak yang paling beruntung didunia.”Ujarnya disana.


Habib menatapnya terkekeh.” Jika kau melakukan kebaikan dan juga kebenaran dia memberi apa jika begitu?”Tanyanya disana.


Arga disana tersenyum kembali menjawab.”Hal yang sma, hanya saja aku jarang diberi hadia, katanya biar aku bisa belajar dan juga berusaha, kadang-kadang jika aku butuh sesuatupun aku tak minta pada ayahku. Namun lucunya ayahku sudah lebih dulu mengetahuinya dan memberikannnya. “Ujarnya. Habib disana mengangguk menatap lain arah. Apaah ia bisa begitu?

__ADS_1


Nyatanya sudahlah.


“Oh pak.. maaf kelas yang harus bapak ajarkan ini, kita sudah sampai.”Ujarnya Arga menunjukan kelas didepan matanya membuat Habib sadar.


Habib pun menatapnya.”Jika begitu saya permisi pak.. bapak boleh masuk sekarang.”Ujarnya disana tersenyum kepada Habib.


Habib disana mengantuk menepuk pundaknya.”Terimakasih yah. Lain kali kita cerita lagi.”Ujarnya. Arga pun mengucapkan salam dan pergi dari sana meninggalkan Habib yang menatapnya menjauh. Bahkan sampai punggungnya menghilang dari balik beton yang ada. Habib merasakan dadanya sakit. Ada apa? Kenapa?


Dilain sisi ada Acha yang diantar oleh Rindu kesekolah mengenakan bis itu berlari cepat meninggalkan bundnaya. Ia sudha telat..


Sangat-sangat menyebalkan bukan? Ia berlari menabrak beberapa orang dan juga menghela nafas berkali—kali. Ia mengenakan baju hitam semua milik ibunya padaghal ia tak suka hitam.


Ia suka warna hijau muda dan juga pink muda. Namun taknapa, wangi bundanya menenangkan.


Brak... nafasnya terengak-engah membuka pintu dan ternyata sudah ada dosen membuat ia menganga.


“O-o” Gumamnya disana menatap siapa yang didepanya. Ia menatap Tasya dan Radit namun mereka disana menunnduk tak berani menatap kedpean. Acha disanapun menatap seseorang yang asing didepanya.”Oh maaf, “Ujarnya lalu memilih duduk kekursinya.


“Siapa yang menyuruh kamu duduk?”Tanya sang orang asing didepannya.


Acha disanapun menatap orang aisng itu lagi.. tak asing si membuat ia bertanya.”Memangnya kenapa? Kan Caca mau duduk, “Ujarnya disana.. “Tapi bentar----“Ia menatap orang asing didepanya itu menyipit dan mendalam sampai ia menatap sepatu dan jasnya. Tatanan rambutnya dan juga bulu bulu diwajahnya.”Oh kamu yang ngelemparin aku kopi yah..?”Tanyanya disana berteriak.


plak.. Kyaaaakk


.


“Balesanya.”Ujarnya dan memilih menatap Habib tajam setelah melempar sepatunya kesal.


Plak.. tepat mengenai keningnya Habib membuat seisi kelas meringis. Barusan Hbaib menjelaskan dirinya dan Acha sudah berani.”Acca.. dia tu dosen kita.”Ujarnya Tasya disana meringis menatap sahabatnya itu. Acha yang samar samar mendengarnya malah tak takut.


“Biarin, dia yang resek. Mangkanya kalo jadi orang jangan jahat.”Ujarnya disana. Habib menatapnya tajam., tanganya disana menggenggam sepatu Acha erat, namun ia melihat gadis itu mendekatinya dan mengambil sepatunya.”Sini balikin. Hadia dari umi ini.”Ujarnya mendelik mengambil sepatu warna hitamnya


“Keluar..!!” Ujar habib dingin disana. Nayya menatapnya dingin.


”Keluar saya bilang!!! Saya tidak kenal anda dan anda sudha telat dikelas saya..!! anda tidak sopan dan juga tidak bisa menghargai orang lain.. apa kamu tidak diajarkan sopan santun dengan orang tua anda ha?!!” Bentaknya disana


Dibentak? Acha menatapnya dengan mata yang sudah ingin mengembun.”Bapak bentak saya..?!!”Tanyanya. habib terdiam menatapnya. Mata itu..!! ia marah, ia sangat marah sebab dikelas ia harus tegas membuat ia terdiam.

__ADS_1


Nayya disana menatap Habib dengan air mata yang jatuh.”Hua hiks hiks hiks..Bunda....”Teriaknya disana nanar lalu pergi.


”Iya ACHA PERGI HUA TAPI JUANGAN BENTAK CACA. CACA ENGAK SUKA DIBENTAK,. AYAH CACA AJA ENGGAK BENTAK Caca kalo Caca salah huaaaaa...”tangisan Acha pecah bagai bocah umur 3tahun meminta permen. Ia pergi meninggalkan kelas dengan wajah yang memerah.


“Caca..!!” Teriak Tasya disana mengejar Acha yang menangis. Habib Disana menghela nafas, kenapa dadanya nyeri mendengar suara tangisan itu? Sangat nyeri bahkan ia tak tega. Apa ia keterlaluan? Ia memegang kepalanya yang ternyata berdarah juga.


“Ih bapak tidak boleh membentak dia pak.”Ujar dari Radit disana meringis.


”Maaf pak saya Cuma mau ngasih tau saja, jika teman saya memang kekanakan dan juga tak bisa diatur.”Ujarnya disana dnegan meringis.


“Iya pak. Dia itu murid Istimewa disini. Jadi lebih diistimewakan. Jika ia telat sekalipun kadang dia tidak dimarah atau dibentak karena memang dia itu berbeda." Ujarnya Komti disana kepada Habib yang diam.


“Dia gila?”Tanya Habib disana dengan dinginnya.”Dia tak sopan dan saya lihat dia itu sadar-sadar saja tu, dia juga bisa berdiri dan juga berteriak.”Ujarnya disana dengan delikan. Ia disana kembali mengusap kepalanya yang berdarah, meski sedikit tapi tetap saja sakit.


Radit disana menggeleng.”Intinya dia berbeda deh pak. Bapak tidak boleh tau. Jadi tolong jangan bentak dia atau apapun itu, dia murid yang berbeda disini. Tidak bisa menangis dan juga dibentak, dia mudah sakit dan juga lemah, kadang hanya karena mandi terlalu lama saja dia sakit. pertahanan tubunnya tipis pak, “Ujarnya disana habib disana pun menatapnya tajam.


“Tidak ada alasan yah. Mau skait mau lemah jika sudah salah tetap saja salah. Saya tidak membenarkan hal itu terjadi.”Ujarnya disana dengan tajam kepada semua murid.


Namun semua kembali terdiam ketika melihat Acha yang datang dengan pipi dan mata yang membengkak dibelakangnya ada Tasya. “Kita ke UKS Aja yuk.”Ujarnya Tasya membujuk


Acha disana menunduk dan menahan tangisnya lagi.”Mafain Acha.”Ujarnya Disana polos. Habib Disana menatapnya tak jelas.”Acha mau belajar boleh yah.”Ujarnya Acha disana memandang nanar. “Kita engak baikan tapi acha mau belajar janji engak nakal.”Ujarnya disana nanar.


“ Pergi saja. Saya tidak suka anak yang tidak sopan dan susah diatur. Kamu pikir kamu siapa berani beraninya melemparkan saya sepatu.. dan sekarang malah mau belajar tadi mau pergi.”Ujarnya disana mendelik. Meski ia menatap Acha lucu. Bahkan sangat.


Acha disana menggeleng.”Engg-Engak. Acha engak jadi marah dan pergi.”Ujarnya disana.”Acha mau sekolah, acha mau belajar. Acha engak belajar aja bodoh apa lagi enggak belajar.”Ujarnya Avha nanar.. Semua diam menatapnya. Acha meremas tanganya takut dna berkata lagi.” Kata Umi Caca kalo diluar sana banyak anak yang mau sekolah tapi tidak punya biaya. Bahkan yang pinter juga banyak mau sekolah tapi mereka tidak sekolah karena tak punya biaya.”


“Acha bodoh tapi punya uang, jadi Allah beri kesempatan Caca buat jadi orang pinter. Nanti kalo Acha bodoh siapa yang banggain umi ? kakak-kakak Caca pinter semua huaaaaa... Caca engak mau huaaa Caca pengen pinter juga tapi enggak pinte-pinter.”Teriaknya menangis.


Hahaha. Semua orang tak tau harus terharu apa tertawa sekarang. Acha itu teralu unik dan polos. Liatlah dia menangis disana dengan tanpa malunya,, Bahkan ingusnya keluar sana sini. Kan sudah dikatakan otaknya sedikit terganggu akibat dirinya yang kecil dulu memiliki masalah, Bahkan Habib yak mampu menahan tawanya yang sudah lama menghilang. Caca sangat lucu dimatanya. Masih ada manusia sepolos ini kah?


“Kali ini saya maafkan.”Kata Habib disana menahan tawanya supaya Nampak berwibawa dihadapan Acha yang menangis memilin bajunya. Tasya disana menutup wajah malu saja dibuatnya.”Tapi Acha janji mau belajar dan tidak terlambat lagi. harus sopan dan juga tidak melakukan hal seperti itu lagi dengan saya.”Ujarnya disana tegas,


Acha mengeleng.” tidak mau. Acha tidak suka bapak, sebab bapak muka Acha hampir jadi jelek. Lagipula kata bunda nggak boleh janj-janji, karena nanti jika tidak bisa diitepati akan menambah dosa, diisanya akan menjadi dua kali lipat, satu tak mampu menepati dan dua dosa melakukan kesalahan. Acha tidak mau.”Ujarnya disana pelan. habib diam dibuatnya.


“Kepala Acha sakit,, boleh duduk engak?”Tanya Acha disana. Habib disana mengeleng membuat Caca menunduk memegang kepalanya pelan..


Habib disana harus apa selain menghela nafas.. namun setelahnya semua terdiam dikalah melihat Caca pingsan didepan mata.”Acha....!!!” teriak mereka disana. Syukurlah Tasya cepat menangkapnya disana.

__ADS_1


.


...Jangan lupa tinggalkan jejak yah......


__ADS_2