Istri Butaku

Istri Butaku
Pilihan


__ADS_3

Gelak tawa Nayya dan Habib terdengar dikalah melihat wajah Acha yang teridur. Dengan isengnya Habib membuat video anaknya yang mengelindur dan juga ngorok. Yah Acha ngorok tidur dan itu adalah aib wanita cantik satu ini. “Uhhh Lucu banget anak abi.”Gumam habib disana menatap video anaknya dan bergantian pada anaknya yang sedang tidur.


Nayya tergelak dan berujar.”Jelas dong. Anak siapa dulu.. ini ibunya pasti lah cantik dan lucu.”Ujarnya disana dengan bangga dan sombongnya..


Habib disana menatap nayya tak mau kalah.”Eh-eh eh... dia anak aku dong. Liat tu mukanya mirip sama aku, tinggi dan juga cantik.. Dia itu anak aku dong..”Ujarnya Habib bangga.


“Oh jadi menurut kamu aku enggak cantik dan pendek gitu enggak kayak kamu yang tinggi dan tampan?”Tanya Nayya disana melotot.


Habib bukannya takut, ia malah terkekeh melihat Nayya yang menggemaskan dimatanya. Nayya bersedekap dada dan berkata. “ Dia tetap anakku titik, yang mengandung, membesarkan dan juga anakku titik.”Ujarnya Nayya.


“Apa MAS ENGGAK SALAH DENGER TADIKAN?”Tanya Habib mendekat dan menempelkan telinganya dekat Nayya membuat Nayya mundur.


Habib menatap Nayya jahil dan berkata.”Mas ganteng, mas tinggi gitu tadi kan?”Tanyanya menggoda membuat Nayya gelagapan dan mau mengelak.”Hayyo bilang lagi mas mau denger dong hhehe..”Ujar Habib menarik pinggang Nayya yang mencoba menjauh darinya dan merapatkan tubuh mereka.


“Ehh-hh enggak gitu ih.”Ujarnya Nayya menjauh.


Habib malah mendekati wajahnya menatap Nayya lebiih dekat dan wajah mereka lebih dekat.”Duuuh mas jauh-jauh deh. Intinya Acha anak aku bukan anak mas, titik..!!!” Ujarnya disana dengan dengusan dan berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh predator dihadapannya ini.


Habib semakin mendekati wajahnya dengan Nayya membuat Nayya menjauh dan memejamkan erat matanya.” Ngaku atau....!!” Ucapan Habib terdengar sangat ambigu membuat Nayya berdebat dikalah itu.


Kenangan indah dimana Habib dulu yang memperlakukannya dengan penuh kehati-hatian dan kelembutan membuat ia disana semakin memejamkan erat matanya. Kenapa kenangan itu tak mau hilang?


“Iya-iya.. kamu tampan dan tinggi.”Ujar Nayya membuat gelak tawa Habib pecah dan menjauhkan dirinya dari Nayya. Nayya menatapnya tajam dan juga bergumam.”tapi bo’ong wllleee.”Ujar Nayya tak mau diejek dan semakin membuat Habib tertawa membuat Nayya mengerutkan keningnya. Mukanya memerah disana menatap habib dengan tak terima.


Habib menahan gelaknya dan mencoba bicara.”Muka kamu ketakukan kayak mau dimakan buaya haha.”Ujarnya Habib tergelak lagi.


” Emang aku seserem itu yah? haha..”Gelaknya masih mengiringi ucapanya yang terbata-bata oleh perkataannya yang menurutnya lucu.


“OIya kamu buaya.. Mangkanya aku takut.”Ujarnya Nayya disana ketus dan memalingkan wajahanya.


Habib disana diam dan menatap Nayya tak terima. Tapi ada ide lain membuat ia berkata.”Yah aku buaya, asal kamu tau yah Nay jika buaya itu setia. Bahkan termasuk jenis binatang paling setia didunia. Nasib saya dengan buaya itu juga mirip, sama-sama suka difitnah. Kami setia tapi difitnah tidak-tidak. Miris yah.”Ujarnya dengan senyum masam mengingat masa kelamnya yang ditinggal oleh istri. Sungguh ia kehilangan duniannya.


“EMANG GUE PIKIRIN.. ITU MAH DERITA LOE.. Itu kalo kata bahasa anak gaulnya haha,.”Ujar Nayya tergelak disana.


“Jahatnya..!” Ujar Habib menarik pipi Nayya yang kembang itu. Nayya hanya tergelak dibuatnya dan juga memasang muka tak peduli kepada Habib...


“Buat lagi aja muka kayak gitu. Nanti biar aku cium sekalian ..”Ujarnya disana menggoda membuat Nayya disana tak peduli.

__ADS_1


“Ohhh nantangin yah..”Ujar Habib menariknya dan ingin menciumnya. Namun Nayya mengelak."Tidak kena wllee.”Ujarnya. Habib disana gemes dibuatnya dan segera menarik Nayya dan..


Hap... Dapat.. itu membuat darah Nayya berdesir hebat.. dan Cup.. Habib mencium pipi Nayya dan tersenyum smirk.”Sekali lagi makal nanti mas cium bibir kamu.”Ujarnya membuat nayya pias dan merona. Sungguh jantungnya ingin loncat dari sangkarnya saat ini..!!!


“Ehem....”Kedua insan itu kaget ketika mendengar suara itu, ia menatap kedepan dan ternyata anaknya sadar.. Acha sudah bangun membuat keduanya kaku. Acha menatap mereka dingin membuat keduanya menelan saliva kering dibuatnya. Acha menghela nafas dan bertanya.”Udah puas mesra-mesra nya? Orang lagi sakit kalian malah sibuk cium-ciuman.” Ujarnya disana dengan datar dan juga tak terima.


Habib gelagapan dan Nayya memukul pundak Habib.”Abi kamu nih yang ngajak rebut.. Umi enggak ko sayang.”Ujarnya mendekat namun Habib menarik ujung baju Nayya.”Oh jadi lempar batu sembunyi tangan he.. siapa yang nantangin dan siapa yang nakal he?”Tanyanya disana dengan muka delikan tak terima.


Nayya disana menggeleng tak mau menjawab membuat mata Acha disana menontoin keduanya.”Ih mas malu liat tu anak kamu liat kita.”Ujar Nayya berbisik.


”Anak Kita Nay..!!” Ujarnya menekan kata-kata membuat nayya mendengus.


“Huaa Acha dicuekin hiks hiks.”Acha disana menatap kedua orang tuanya dengan tangisnya. Ia sudah dari tadi melihat perdebatan keduanya yang tak ada hentinya.


Sungguh ia kesal karena diabaikan terus sedari tadi.” Acha itu anak kalian bukan si? Atau acha tu Cuma jadi meneqin disini yang jadi pajangan?”Tanya Acha disana dengan muka merahnya.


“Duh.. utu-utu tayang Abii. Tayang abi ko nangis uluu--ulu..”Ujar Habib disana mendekat dan memeluk Acha namun Acha semakin menangis membuat Habib gelagapan.”Eh eh kok malah tambah nangis ? enggak mau Abi peluk yah? Abi minta maaf yah sayang adu..”Ujar Habib disana tak tau harus apa-apa.


Nayya disana malah tertawa melihatnya. Acha menatap Habib dengan tatapan tak terimna.”Abi Acha udah gede kok manggilnya gitu. Acha kan jadi malu hua.. hiks hiks.” Ia menutupi wajahnya menangis membuat Habib disana menatap anaknya tak percaya namun tak bisa menahan gelak tawanya saat ini.


“Ih kok anak abi lucu banget si. Jadi pengen cubit ginjalnya.”Ujar Habib Disana bercanda.


”Eh maksudnya pipinya hehe.”Ujar Habib menggaruk lehernya yang tiba-tiba terasa gatal seperti tidak mandi satu minggu padahal baru dua hari.. ehh hahaha.


Sedangkan mata Nayya hanya menatap Habib dengan tatapan tak percaya sembari menggeleng.”Ih beneran abi Cuma berjanda ehh bercanda maksudnya.”Ujar habib membuat Mata Nayya dan Acha melotot. Habib hanya cengengesan melihat kekompakan kedua wanita yang ia sayangi ini.


“Gimana keadaan kamu sayang? Ada yang masih sakit enggak?”Tanya Nyaya mengusap kepala anaknya/ syukurlah Acha sudah lupa akan kejadian dan kemarahannya kemarin. Ia menatap wajah pucat anaknya itu sayang dan mengusap kepalanya.


Acha diam sebab ia tak tau harus jawab apa. Jika bilang dadanya sakit pastilah dan ia belum pulih, tapi ia tak mau jujur dan tak mau membuat ibunya dan ayahnya khawatir membuat ia tersenyum.” Sudah baikan tapi masih nyeri aja disini.”Ujarnya memegang luka didadanya. Ia hanya memperhalus saja kata-katanya.


“Beneran hm?”Tanya Nayya mengusap kepalanya. Acha disana menganguk jujur pada keduanya.


Nayya disana kembali berujar.”Nanti kalo sakit ngomong yah sayang jangan ditahan. Nanti Umi sama abi bakal cari cara supaya Acha sembuh oke.. acha janji yah sama Umi jika Acha akan jujur dan baik-baik saja?”Tanya Nayya. Achha disana tersenyum dan mengangguk dibuatnya meski ragu namun ia ingin membuat ibunya tenang.


Acha mengangguk polos disana menatap Uminya. “Iya Umi. Acha udah enggak apa-apa kok.”Ujarnya disana dengan polos. Nayya tersenyum dibuatnya. "Ini baru anak Umi.. Jangan sakit lagi yah sayang. Umi bisa Gila.”Ujarnya Nayya disana lirik kepada sang anak dihadapannya.


“Hmm..” Acha menatap sekelilingnya mencari-cari sesuatu. Nayya dan habib saling tatap dibuatnya.”Bang Arga, bang raja sama Bunda dan ayah dimana Mi? mereka enggak dateng sama Acha yah? bang Rian sama kak Rani engak juga yah?”Tanyanya disana dengan nanar kepada sang Umi. Sebab baru kali ini ia merasakan sepi ketika bangun dari tidur panjangnya.

__ADS_1


Nayya saling tatap dibuatnya, ia tak tau harus jawab apa., Nayya menatap habib yang mulai mengusap kepala anaknya dan berkata.”Mereka kesini terus kok, cuma lagi diluar saja dan belum kemari. Mungkin nanti malam atau besok mereka kesini.”Ujarnya disana dengan lembut.


Acha disana menatapnya nanar dan menggeleng.”Enggak mau... Acha mau mereka disini.”Cicitnya disana dengan nanar.”Apa mereka udah enggak sayang lagi sama acha? Mereka udah punya anak perempuan yang lebih cantik dibanding Acha gitu gara-gara acha engak bangun-bangun.. hua...”Ia menangis lagi.


“Siapa bilang gitu hm?”Suara itu membuat tangis Acha terhenti. Itu membuat jantungnya terassa terhenti berdetak dan darahnya yang berdesir hebat. Ia tak mimpi kan? Ia segera menatap sumber suara.. Nayya dan Habib pun melihat kesumber suara saat ini.


Dugh.. Nafas Acha terhenti disana. Yah disana ada Rian yang datang sembari membawa bunga dan juga banyak lainnya. Nayya dan Habib pun sambil tatap dan mundur memberi ruang untuk Rian mendekati Acha, acha diam menatapnya dengan diam dan juga tangis yang terhenti.


Rian disana tersenyum dan menatapnya dengan tatapan kekehan.”Bernafas Acha...”Ujarnya membuat Acha sadar jika ia sedari tadi menahan nafas. Acha disana segera memalingkan wajah merahnya dan bernafas. Jantungnya berdetak tak normal namun ia memaksakan tersenyum saja.


Rian disana menghela nafas dan memberi bunga dan bonekanya.”Nih buat kamu.”Ujarnya memberinya kepada Acha. Acha segera menatapnya dengan tatapan binar. Matanya menatap Tedybeard yang ditangan Rian yang bahkan tingginya hampir sama itu.”Beneran bang?”Tanyanya disana dengan tatapan tak percayanya. Rian disana mengangguk dibuatnya.


”Asiiik Acha punya temen main.. maacii bang..”Ujarnya Acha disana dengan heboh dan mulai memeluk bonekanya. “Tapi besar banget. Acha kan enggak bisa pegang. Taro dibawa aja deh.”Ujarnya Acha. Mau ditaro disampingnya juga tidak akan muat.”Acha mau bunganya saja.”Ujarnya Acha lagi semangat melihat bunga ditangannya Rian.


Rian disana menatap nayya dan habib. Mereka hanya menatap mengejek dan Rian tidak peduli. Rian memberi bunga dan juga bonekanya tadi. Acha menerimanya dan mencium bunga itu.”Hmmm.. bauknya wangi.”Ujarnya tersenyum bahagia.”Maacii bang. Abang enggak benci acha lagi kan tandanya?”Tanyanya disana dengan polos.


Rian disana menatapnya dengan alis terangkat. Apa? Membenci? Kenapa Acha berfikir seperti itu? Apa hanya karena dia biasanya tak menegurnya? “Siapa yang bilang saya membenci kamu?”Tanyanya disana dengan kening yang mengerut.


Acha disana menatapnya mengerjab.”Kan memang abang benci acha. Kak Rani saja abang cium keningnya kalo pergi kesekolah, sama bang Raja dan juga bang Arga abang senyum terus tapi enggak sama Acha. Acha tau kalo abang beda sama Acha.”Ujarnya disana dengan polos.


“Tapi itu bukan patokan membenci Acha.”Ujarnya Rian.


”Patopkan abang..!” Bantah Acha tak terima.”Emang abang Fikir Acha enggak iri gitu liat abang cium-cium kening kak Rani tapi sama Acha enggak padahalkan Acha adiknya abang. Abang peluk sama pegang. Sama Acha enggak kek najis banget. Acha inget pas SMP Acha jatuh abang endak(Tidak) nolongin Acha. Acha inget semuanya.”Ujarnya tak terima akan perlakukan kakaknya selama ini.


Rian disana mengulum senyumnya dan menatap Acha dnegan tatapan kekehan.”Jadi acha juga mau dipeluk sama dicium? Jadi Acha iri gitu?”Tanyanya. acha gelagapan dan juga menggeleng lemah. Bibirnya terasa kaku dan kelu.


“Ada syaratnya jika kamu mau gitu. “ Ujar Rian disana mengangguk.


“Apa emang?”Tanya Acha cepat.


Rian disana menatapnya dengan tatapan menggoda membuat Acha sadar dan segera menepuk bibirnya. ‘Duh lancang banget si nih mulut, enggak bisa dikontrol..” Gumam Acha dalam hati mengerutu ucapannya sendiri.


Rian disana tersenyum.”Gmm mau banget yah kayaknya.” Acha menggeleng disana.”Beneran enggak?”Tanya Rian membuat Acha menggeleng tak terima. Ia ragu dan ia kembali mengangguk menatap Rian. Ia mengerutuhi kebodohannya. “Jadi maksudnya ngangguk dan geleng-geleng itu apa?”Tanya Rian disana.”Jangan malu-malu kucing ih.,”Gumam Habib dibelakangnya Rian mengejek Acha membuat Acha melotot tak terima sama ayahnya.


“Enggak jadii. Acha enggak mau.”Ujar Acha disana tak terima dan meau menatap lain arah.”Yakin enggak nih? Kan kesempatan hanya satu kali loh. Kalo tidak nanti kamu nyesel.”Ujar Habib menggoda anaknya,:”Ih abi diem deh, jangan buat hati Acha gunda dan goyah,”Ujrnya Acha disana membuat Habib dan nayya disana tertawa dan Rian tersenyum saja,


“Yaudah kalo enggak mau. “Ujar Rian disana. Acha melirik sedikit membuat Rian tersenyum,.” Saya kasih kesempatan dalam hitungan tiga yah. jika kamu tidak berubah pikiran maka tidak akan ada perubahan..dan kamu akan jadi tetap asing didalam hidup saya.”Ujarnya tegas..

__ADS_1


Acha disana diam kaku mendengarnya.”Satu....” Gumam Rian menghitung.”Hayoo loh acha... ayooo ayok.,.” Ujar Abinya membuat Acha tambah galau dan kacau.


__ADS_2