Istri Butaku

Istri Butaku
marah


__ADS_3

Acha disana menatap Uminya kaget dan menatap Edgard dengan tatapan tajamnya. Tanganya terkepal hingga urat dipipinya keluar.” Setan kalian...!”Teriaknya.


Nayya meringis disana dan segera melawann yang lain.”Bedebah.”Teriak Acha kuat dan segera menedang Edgard kuat hingga ia tak seimbang dan terjatuh cukup jauh hingga terkena dinding dan suara yang berdetum. Nayya pun disana kaget melihat anaknya bagaikan iblis. Itu sisi buruknya dulu..!!


Edgard kaget merasakan sakit dibagikan dadanya karena tendangan dengan tubuh terpental. Ia terdapar dilantai setelah menghantam dinding.


Belum lagi Acha yang mendekat dan segera menghentakkan kaki hendak menginjak tepat didadanya. Ia segera menggulingkan tubuhnya kekanan. Namun amarah Acha sudah diluar batas hingga ia disana menginjak lagi hingga terkena tanganya Edgard kuat. ia menginjaknya kuat dan juga tak mengenakan hati.


”Argghh.”Teriak Eddgar dan menarik kaki Acha supaya menjauh. Acha yang sudah marahpun mengiunjak wajahynya dan menendangnya kuat.


Argh.. Edgartd tak mampu melawan saking cepat dan kuatnya Acha menginjak dan menendangnya. Wajahnya panas dan juga sakit yang teramat sangat hingga ia meringis sakit.


Sungguh kekuatan Acha sangat besar dan tak mampu ia lawan. Acha mendekatinya dan menarik rambutnya. Ia tak tinggal cium, ia segera memukul dadanya Acha kuat dengan tintuanya membuat Acha mundur memegang dadanya.


Edgard meringis mengusap pipinya yang berdarah akibat injakan Acha tadi.” Bedebah.”Gumamnya. "Mati kau..!!!! " Teriaknya kuat.


Ia segera menendang Acha lagi. acha mengelak dan segera menendangnya tepat dibagian lehernya, sebagaimana yang ia pelajari maski dengan dada yang sakit. Bahkan bisa dikatakan membiru saat ini.


Namun itu tepat ketika Edgard kembali menendang dada Acha hingga acha dan Edgard sama-sama tumbang. Acha yang merasakan sakit didadanya dan Edgard yang merasakan tulang lehernya patah karena Acha.


“Acha..”Gumam Nayya disana menatap anaknya nanar. Ia ingin membantu namun sayangnya ia dihadang oleh stau lelaki tadi. Lengannya yang terluka membuat ia menguatkan diri. Ia harus menyelamatkan diri hingga ia menendangnya dan memukulnya. Lawannya tak tinggal diam, ia pun melawan dan juga menghindar dari nayya.


Ia masih memegang pisau. Nayya melihat Acha yang memuntahkan darah dan memegang dadanya membuat jiwa keibuannnya memberontak. Ia mengepalkan tanganya dan menedang lawannya hingga terjatuh. Ia mengambil pisau itu dan...


Clap.. Ia menaapkan pisau itu ditangannya hinga mengalirkan darah segar.. Clap.. sekali lagi didadanya penjahat karena amarahnya. Ia bangkit dan menendang kepalanya penjahat itu kuat.


Acha disana pun menatap Uminya diam. Ia menatap lawannya tadi yang mendekat dan membawakan pisau. Ia disana sudah tak bisa bernafas normal lagi karena jantungnya terasa berhenti berdetak. Berkali-kali ia memukul dadanya namun tetap tak mampu bernafas. Hingga ia melihat jika lawannya tadi mendekati ibunya dan mengacukan pisau yang terjatuh tadi keibunya.


Ia segera memainkan kakinya dan mengguntingnya kaki Edgard giungga Edgard jatuh dan Acha yang memiliki sisah tenaga itu segera memitukknya. Nayya yang sadar ketika edgard berteriakpun menatapnya hingga tak tak ingat lawan didepanya tadi.


Lawannya segera mau memukul Nayya dengan tendangannya namun lagi dan lagi Acha sadar hingga ia menendang ibunya sendiri supaya menjauh dari sana, hingga yang terkena tendangan kembali dadanya hingga ia terjatuh.”Acha..!” Teriak Nayya kuat disana tak terima. Acha disana tersenyum iblis dnegan darah yang mengalir dibibirnya.


Rey dan Rian disanapun sibuk mencari nayya dan Acha, mereka ketinggalan jejak akibat dari penjaga yang menghalangi mereka, belum lagi Nayya yang sempat hilang hingga ia bertemu dengan Arga yang berdiri menatap jam seperti gelisa.” Arga... Umi dan adikmu dimana?”Tanya Rey disana panik.


Arga disana menunuk kearah toilet.”Tadi ke toilet yah. Katanya kebelet pipi—“


“Tereus kenpa kamu disini? Kan ayah sudah bilang jagain adik kamu dan umi kamu. Jangan biarin dia sendiri...!” Ujar Rey disana dengan marah. Matanya memerah karena khawatir kepada anak nya itu.


Arga kaget disana menatap ayahnya yang baru kali ini memarahinya. “Kan Cuma ditoilet yah. Emang ken—“” Ucapannya terpotong ketika Rey sudah berlari menuju toilet dan Rian juga ikut ketoilet mencari mereka. Arga menatap mereka takut namun ikut saja. Ia jadi bingung apa yang terjadi saat ini. Melihat ayahnya marah pasti ada hal yang buruk terjadi kan?


Diposisi lain ada Rajja yang sudah selesai menuntaskan hajat nya ditoilet. Mereka satu toilet saja hanya saja beda jalur membuat ia menatap ketoilet samping san dibatasi dengan tembok. Disana durian pintu toilet yang dimasuki oleh Acha dan Nayya tadi ada tulisan 'Toilet rusak' membuat ia bingung. Tadi tidak ada tulisan tersebut sisipan pintu, bahkan adik dan Umminya masuk kesana tadi. Kok sekarang malah rusak? Hingga ia mendengar suara dentuman keras dari dalam. Ia kaget.”Acha..”Gumamnya disana kaget. "Acha. Umi kalian ada didalam?!!!" Teriaknya.


Ia segra mendekat dan mendengar disela-sela yang ada.”Acha..!!” Teriaknya dari luar keras dan mendobraknya.


Nayya yang didalampun panic.. ia tak mendengar itu.

__ADS_1


Sedangkan Acha? Ia ingin bicara dan berteriak mendengarnya panggilan Rajja. Namun bafasnya menghilang. Jantungnya seperti diremas saat ini. Kesadaranya menghilang akibat jantungnya tak berdetak.


“Acha..!” Teriak Nayya menatap anaknya pucat nanar. Ia menepuk pipi anaknya dnegan nanar. Ia lupa jika jamnya berfungsi. Ia lupa mengaktifkanya karena teralu panic.


Acha disana tersenyum.”Umi terluka.. Maafin Acha yang tidak bisa jagain Umi. ”Itulah yang Acha ucapkan hingga ia terjatuh pingsan.


”Acha..!” Teriak Nayya ketika anaknya tak sadarkan diri. Ia panik merasakan separuh nyawanya menghilang. Air matanya jatuh disana. Hingga ia melihat Edgard tyang tersenyum dengan wajah penuh darah.


Tanganya terkepal disana. Ia menarik lagi pisau ditanganya tadi dan mendekati Edgard. Ia melepaskan Acha dan mengusap air matanya dengan darah yang mengalir. “ Kamu...!” Ujarnya bergumam disana.


“Mati...” Teriaknya marah. Ibu mana yang tidak marah ketika melihat anaknya yang tak sadarkan diri dengan nyawa diujung tanduk? Ia membesarkan Acha dengan segenap jiwanya. Dengan semua kekhawatiranya. Ketika Acha yang berkali-kali kehilangan nafas ia selalu berusaha berjuang mati-matian untuk anaknya tapi ini apa? Dengan mudahnya orang lain membuat anaknya jatuh dan pergi?


Tangannya menggenggam pisau itu kuat. Argh. Ia menendang Edgard didadanya. Edgard menghindar namun amarah Nayya melingkupi dadanya. Bukan lagi diriinya yang keluar tapi iblis. Ia menendangnya dan..


Clap... ia menusukknya dibagian dadanya.”Kenapa kau membunuh anakku,,.!! “Teriak nayya memberontak.”Kenapa..!!! tidak cukup kah kau membunuhku saja..!!” Teriaknya nanar. Edgard terdiam disana merasakan luka didadanya yang begitu luar biasa sakitnya.


Nayya dengan nafas yang naik turun tak terima kembali menusuknya dibagian jantungnya dan memukulnya hingga ia melemah.”Kenapa ha?!!!! Kalian jahat sekali denganku. Kenapa ? apa salahku? Apa yang membuat kalian membenciku. Kalian tidak tau bagaimana saya mencintai anak saya..!!! bunuh aku jangan anakku..!” Teriak Nayya tak kuat. ia memukulnya hingga Edgard memberontak namun Nayya dilanda emosi bagai iblis yang tak lagi bisa dikendalikan. Ia bahkan tak sempat memberontak barang sedikitpun.


“Arggg.. sakit. Lepas Nay. Ampun..”Teriak Edgart disana. Nayya tak kuasa menahan buliran air matanya. Ia disana kembali menusuk dibagian pipinya hingga suara gebrakan dari luar yang ternyata Raja yang sudah berusa sedari tadi kaget menatap Uminya. Uminya membunuh orang?


Matanya menatap Acha yang terkapar dengan darah dipipiya.”Acha..!” teriaknya tak kuat dan segera mendekat. Sayangnya ternyata bukan hanya mereka berdua saja. Ada orang ain disana dan menendang Rajja hingga masuk kealam. Raja kaget disana menatapnya. Ditambah ada sepuuh orang yang lain dari luar mengenakan baju serbah hitam.


”Dia anknya Nayya dan Habib?”Tanya yang lain disana dengan rombongannya.


"aku rasa iya..! " Jawab temannya.


Hal yang membuat Rajja mengepalkan tangannya. Ia tak takut dan segera menedang satu orang disana.”Siapa takut? Bunuh aku jika mampu?!!!” Tantangnya sinis. Ia keturunan Rindu. Tak ada darah penakut didarahnya.


Mereka kaget melihat nyali Rajja. Satu orang mengeluarkan pistolnya. Namun Rajja sudah duluan menendangnya hingga terjatuh jauh dan memukul salah satu “Kalian terlalu lama..!!”Teruak Rajja sombong. Ia melirik Acha yang sudah pucat. Ia khawatir. Ia harus cepat.


Nayya? ia disana segera menjauh dari Edgard dan mendekati Acha. Namun ia ditarik yang lain. Ia sudah melemah karrena anaknya.


“Lepas..!” Teriaknya disana. Ia melirik Rajja yang melawan lima orang berpakaian hitam sekaligus disana. Raja bahkan tak gentar dan terlihat percaya diri. Ia pun menendang lwanya dengan percaya diri hingga ia terlepas.


Brak.. Itu kedatangan Rey dan Rian. Ada Arga yang menusul dari belakang.


“Tolong..!! TOLONG Acha..!” teriak Nayya nanar kepada Rian dan Rey. Rey dan Rian menatap keadaan kacaupun kaget hingga matanya Rey menatap Acha.


Acha yang ditarik seseorang disana membuat tangan Rian terkepal. Rian menendang kuat dinding disana dan juga kotak sampah hingga terkena kepala orang yang menarik Acha. Rey membantu anaknya Rajja melawan Lima orang.


Rian mendekati Acha yang ditarik dua orang disana yang mau membawa Acha tadu. Tak lama baginya. Ia hanya menghindar dan juga memukul kepala mereka hinga sekuat tenaga, bahkan telinga sang lawan mengeluarkan darah. Bisa dipastikan gendang telinganya pecah..!!


Rianpun menendang masa depan merekka kuat hingga mereka tak berkutik.Ia yakin jika hal itu kan membuat cidera cukup lama. Tatapannya menuju pada Nayya yang terjatuh juga. Ia menatap Acha yang pucat.


Matanya menatapnya nanar. Ia jatuh dan mengecek nafas Acha. Tak ada nafasnya, tanganya gemetar menatap wajah pucat itu. “Umi... adekk...!” Teriak Arga dari luar.

__ADS_1


Arga disanapun menatap uminya nanar dan segera mendekat. Nayya tak tahan dengan darah membanjiri dirinya menatap Acha. Sakit dipisiknya tak ada rasanya ketimbang kehilangan anaknya.”Adek kamu Ga.”Gumamnya lirih disana menjatuhkan air matanya lemah.


Hiks hiks.. ia menangis tak terima. Hingga ia terjatuh pingsan.”Bawa dia kerumah sakit cepat..!!” Teriak Rey disana.


Merekapun segera membawa mereka semua menuju kemobil. Rey menelpon petugas yang ada dan menyeleiakan semuanya. Raja dan dirinya sudah menghabisi puluhan orang. Ia merasa gagal menjaga mereka semua. Rian? ia berusaha tenang menggendong Acha yang baru kali ini bersentuhan langsung ditangannnya. Dengan nafas yang terasa sempit ia berusaha untuk tidak menangis.


Argapun memilih membawa Nayya dan mengendongnya. Arga menangis sepanjang jalan menyesal tak membantu umi dan adiknya. Ia tak tau hal ini akan terjadi. Sungguh ia tak tau, jika ia tau ia tak akan lalai begini. Ia sangat takut ia takut adiknya pergi.


Kan sudah dikatakan jika jantungnya Acha itu sudah mengalami kelainan semenjak bayi, jantungnya bahkan berhenti berdetak karrena kekurangan oksigen, begitu pula hidupnya berikutnya. Sering terjadi jantungnya berhenti berdetak dan juga mengalami gejala lain sewaktu tak terduga. Saat ini keadaan Acha lebih parah dari biasanya biasanya ia tak pernah membuntah darah, tapi lihatlah, baju bagian atasnya penuh darah muntahannya.


Disisi lain ada Aron yang menatap jam dilengannya dnegan gelisa. Disisinya ada Khumairo yang juga ikut gelisa.”Kok lama banget si kak. Udah hampir empat jam ini. panas tauk.”Ujar Khumairo khawatir selalu menatap ke arah yang seharusnya mereka membawa Nayya.


Aron mengetuk jamnya dan menggeleng.”Engak tau. Mungkin lama karena Nayya yang selalu didekat mereka yang ramai. Tunggu saja meeka akan segera kembali dan kamu akan mendapatkan apa yang kamu mau.”Ujarnya disana dengan tersenyum pada adiknya. Namun Khumairo sudah tak sabar disana. Ia disana sudah merasakan gelisah yang tiada taranya. Namun ia hanya mampu bersabar saat ini.


Dimana Rindu dan Rani? Rani memanggil kepolisian karena Rindu ingin mereka masuk penjara,


Rindu? Sayangnya sulit jika tak ada bukti dan tak ada saksi. Ia harus berusaha mencari Aron dengan usaha sendiri hingga melibatkan waktu cukup lama. Jika tak ada yang mampu membantunya ia akan berusaha sneidri bukan?


Mangkanya hidup jangan terlalu mengharapkan bantuan orang lain. Ia mencari dimana letak Aron berada. Ia harus mengumpulkan bukti hingga ia sendiri tau dimana Aron berada. Ia sudah menunggu didalam mobil. Rindu tak tahu menahu apapun sekitarnya. Yang ia tau ia membawa Nichol untuk membantunya. Tak ada rasa takut didadanya. Yang ada hanya esa ingin memberi pelajaran dengan manusia jahat seperti mereka semua.


Rindu mendekati mobilnya dan mengetuk pintu mobil Aron yang gelap itu. Aron yang menunggu Nayyapun segera membuka kaca mobilnya karena berfikir itu orang suruhannya. Dan disana juga ia merasakan pukulan paling kuat yang ia rasakan.


Bugh... Arghhh ..


Tanpa anda basi Rindu memukul tepat dibagian hidungnya.. Bisa dipastikan jika hidungnya sekarang patah. Rindu disana segera mnenarik pintu mobilnya kuat dan menarik jas dari Aron yang masih merasakan pening menjalar dikepalanya.


Nichol disanapun diam menatap bundanya yang penuh seperti preman saat ini. matanya menatap perempuan yang menatapnya ngeri. Ia menatapnya dengan tatapan menggigil.


“Siapa kalian?!! Lepasin kakakku..!!” Teriaknya kuat menatap kakaknya. Namun Rindu sudah terlalu marah hingga ia menendang mobil itu kuat hingga mobil itu bergoyang kuat. bahkan bagian depanya penyok.


Nichol mendekati bundanya.”Urus wanita itu saja bund. Lelakinya ini biar Nic aja yang beri pelajaran bund.”Ujarnya lembut dan sopan.


Rindu disana mengangguk dan segera mendekati pintu mobil dari perempuan. Perempuan yang tak lain adalah Khumairo itu kaget ketika Rindu membuka pintunya dengan kasar dan menatapnya tajam.


Bugh... Arghhh


Tak disangkah Rindu malah menedang wajahnya kuat hingga ia tak mampu bereaksi apapunbselain merasakan perih diwajahnya. Rindu tak main-main jika sudah marah.!!


Pedih menjalar diwajahanya Khumairo. Bahkan kepalanya mendadak pening sekali, seketika ia lupa membuka matanya.


Rindu menarik hijabnya menatap wajah Khumairo yang sudah pucat dan ketakutan. Darah mengalir dihidungnya saat ini dengan pipi yang memar.”Jika dari hukum tak mampu kami lakukan. Jangan salahkan saya yang trun tangan sendiri menghukum kalian..!” Ujarnya Rindu disana dan menariknya kasar.


.


.

__ADS_1


...Happy reading.... ...


__ADS_2