
Cinta mereka Quais dan Laila melebihi diri mereka sendiri namun tak mampu saling memiliki. Dari cerita ini mampu kita belajar jika cintai seseorang dengan apa adanya saja jika sebelum ada ikatan dna juga kata Halal yang sesungguhnya. Sebab cinta itu buta. Jika sudah menjadi buta maka kita akan buta. Buta melihat lelaki atau perempuan yang tulus mencintai kita karena terfokus pada orang yang kita cintai. Buta akan dunia jika sebenarnya dunia itu juga indah. Buta jika sebenarnya diri kita yang seharusnya kita tangisi. Sebab diri kita sudah terlalu mendewakan cinta itu sendiri. Jangan sampai membuat Tuhan cembru akan kecintaan kita pada makhluk ciptaannya(Just ini pandangan dari aku ye. jadi jangan sampai mencintai manusia terlalu dalam webab semakin dalam kita mencintai seseorang maka semakin sakit yang kita rasakan ketika tak mampu bersama. Apalagi cinta itu semu, tak menentu atau tak bisa dipastikan apakah kita bisa bersatu atau tidak. Sebab kata-kata yang harus kita ingat jika sebenarnya ‘Jodoh yang sesungguhnya yang datang itu hanya satu. Yaitu maut. Jangan terlalu memikirkan jodoh sebab jodoh sudah ada yang mengatur. Bisa jadi yang sibuk memikirkan jodoh ternyata maut yang duluan menjemput. Jangan salah maut bisa datang kapan saja sebagaimana layaknya jodoh)
Begitu juga hubungan. Hubungan itu tentang dua manusia yang menyatuhkan dua keluarga, jika sedari awal kalian tak bisa disatukan hanya karena tahta dan juga harta. Tolong yah jangan mau menikah maski kalian saling mencintai..!! sebab makan hati itu tidak enak. Kalian mau dibanding-bandingkan dan selalu dicaci maki disetiap harinya? Dibandingkan dengan wanita yang dianggap baik diluar sana..! secinta apapun kalian jika sudah menyangkut keluarga yang tak merestui pilihlah mundur dan terima yang bisa menerima kamu apa adanya.. bisa menghormati kamu layaknya wanita yang sebagaimana diri kamu. Kamu miskin kamu kurang cantik. Kamu berisi atau kamu kurus. Sebab menikah itu tentang mencari kebahagiaan bukan menekan batin. Lagi pula banyaknya orang bercerai itu karena terlalu banyak makan batin. Dikira enak dicaci maki? Jangan terlalu buta oleh cinta sebab cinta tak selalu bisa membuat kamu bahagia.
Habib segera bangkit dari duduknya dan memilih memasuki kamarnya Nayya. ia ingin memeluk istrinya dan mengatakan kata maaf sebab tak bisa menjadi laki-laki baik. Entahlah hatinya selalu terasa ditampar dan juga ditendang oleh kenyataan. Bahwa sesungguhnya ia bukanlah suami yang baik. Ia malu akan titelnya yang Gus. Sungguh ia berjanji akan membuat istri dan anaknya itu lebih baik kedepannya. Langkah kaki lebarnya mendekati Nayya yang masih tertidur itu.
Matanya menyelirisik garis wajah nayya dan juga terdiam. Nayya masih tetap cantik meski dimakan usia. Ia mengusapnya dan mencium tangannya dalam, sangat dalam seperti menghantarkan rasa dan cinta yang ada didalam hatinya hinga ia menitihkan air mata. Haha lebay yah hingga menangis. Sungguh tangisan ini adalah tangisan untuk terakhir kalinya Habib berjanji.
__ADS_1
Ciuman itu seakan-akan tak mau ia lepaskan, ia menangis lagi hingga menaruh tangan Nayya dipipinya dan memejamkan matanya, ia mengengamnya erat dan menangis lagi dengan tulusnya. Ia tak mampu membuka air matanya mengingat kata-kata setiap perkataan yang ia dengar tadi. Dimulai dari kisah yang menyakitkan hingga ke cerita yang indah.
Dimana kisah Quais dan Layla yang mampu membuat setiap cinta menjadi iri.
Tanpa ia sadari Nayya sudah bangun disisinya. Nayya tadi bagun karena meeasa terganggu ketika tanganya ditarik oleh Habib dan menangis sesegukan. Ia menatap habib yang Nampak sangat tulus dan juga terasa sulit dihadapanya. Sudah dikatakan jika Nayya orang yang ketika mencintai maka ia akan sangat mencintai hingga ia akan sulit melupakan seperti layaknya perasaanya lepada cinta pertamanya.
Hey dia tidak menentang sunnah ataupun ketetapan sebenarnya bahwa poligamui dibolehkan. Hanya saja ia memang tidak terima jika dipoligami. Ia selalu bertekat pada dirinya jika ia bisa bahagia tanpa lelaki yang berani menduakannya. Ia juga menetaplkan pada hatinya jika berani poliugami berani berpisah. Yah ia menetapkan hal itu pada dirinya.
__ADS_1
Bagi Nayya poligami itu tidak aduil, ketika lelaki dibolehkan memiliki istri lebih dari satus edangkan wnaita tidak, ketika istri harus berbakti pada suami tapi suami tak mampu memahami hatis eorang istri. Istri mana yang ikhlas jika dimadu? Sebesar-besarnya iman sesoerang maka ia tak akan mau berbagi. Jika pun ia mau berbagi itu tandanya ia tak mencintai.
Ia tidak menghasut untuk seluru wanita dipembaca ini untuk menolak poligami, tapi ia hanya mau wanita berfikir cerdas, ia tak mau wanita ditindas dan juga tak mau ada orang atau wanita yang masih bertahan hanya karena cinta..!! karena seadil-adilnya seorang laki-laki pasti dihatinya ada satu wanita yang paling ia sayangi, dan ketika tau siapa wanita itu mustahil bagi wanita yang bukan didalam hatinya tak sakit hati. Baginya masuk syurga itu tidak meski dalam jalan poligami. Terserah mau dibilang rasis, tapi itu adalah penetapan pada dirinya. Lucu saja jika ia harus menangisi lelaki yang tidak pantas ia tangisi, dan mempertahankan laki-laki yang bahkan tidak mampu memahami hatinya.
Ia menatap Habib dengan lelah. Ia tau Habib tidak sepenuhnya salah, tapi baginya Habib tetap salah, karena Habib itu laki laki. Laki-laki itu harus memilih dan juga menetapkan. Dirumah tangga laki-laki itu adalah pemimpin, ia adalah nakodah yang memimpin jalannya perahu rumah tangga. Jika nakodanya saja tak tahu arah dan tidka tegas memilih arah maka mereka akan tenggelam dilautan tanpa tujuan. Kalian pernah lihat prahu plinplan memilih jalan? Bisa diatyur oleh angina? Maka perahu itu tak akan mampu berjalan maju Oleh angin? Maka perahu itu tak akan mampu berjalan maju.
Sama halnya dengan pernikahan. Lelaki harus bisa menetapkan. Baik pahit atau buruk, ketika menetapkan hal yang memang menyakitkan harus diberi tahu padanya. Salah Habib ketika ia menikahi Khumairo tanpa pengetahuannya sedangkan ia sudah menegaskan jika ia tak mau dipoligami.
__ADS_1
Apalagi bentuan oleh keluarganya dan juga pikiranya yang berputar entah tak memiliki arah. Nahkoda pemimpin itu harus tegas, sekuat apapun angin dan badai ia harus tegas dan juga berkata keras harus berarah kemana, menuju kemana dan apa yang harus dilakukan. Bukan diam-diam dan plimpian menuruti permainan angin.