
BTW sebelumnya auditor mau nanya nih, emang bener ya sekarang lagi banyak yang meninggal di beberapa daerah, Kalau menurut aku itu hal yang biasa, tapi katanya di beberapa daerah memang banyak banget yang meninggal secara mendadak. di daerah kalian gimana?
Tak lama setelahnya ada Rian yang masuk. Ia menatap Acha disana dengan tatapan sendu. Arga menatapnya namun tak melepaskan pelukannya. Rian tak tau harus apa sebab ia memang tak bisa bebasa basi. Hingga matanya Acha bertemu dengan mata Rian dengan tatapan sendu.
Rian mendekat dan ingin mengusap kepalanya. Namun Acha menghindar dan menatap lain arah. Rian menatapnya dengan tatapan sedih dan bertanya.” Kenapa? Saya ada salah?”Tanyanya disana dengan suara yang terdengar serak. Mungkin akibat menangis.
Acha disana menangis dan mengusap pipinya. Ia mengeleng dan memainkan tanganya dibantal. Suaranya menangis tertahan sangat terdengar menyayat hati. Rian disana pun hendak memeluknya namun ACha disana menggeleng.”Bunda meninggal gara-gara acha. Abang enggak benci acha?”Tanyanya disana dengan suara yang tertekan.
Rian menatapnya dengan tatapan yang menyirat rasa tak suka. “ Acha tidak salah kok. Semuanya adalah takdir, dan meninggalnya bunda bukanlah karena suatu alasan. Meski tidak karena menyelamnatkanmu, jika sudah tercatat didalam lauwul mahfusnya begitu ia akan tetap meninggal dihari itu., dimenit itu dan disaat itu. “Ujarnya Rian dengan lembut..
Acha menatapnya nanar.”Tapi karena acha. Tetap Karena Acha. Andai bunda neggak nyelamatin Acha. Pasti semuanya baik-baik saja. “Ujarnya Acha menyalahkan dirinya hingga memukul dadanya sendiri serta kepalanya.
Rian disana menahannya dan juga menangkap tangan Acha yang memukulnya. Acha menatap Rian dengan wajah tersakiti dan tertekan. Rian disana memeluknya untuk pertama kalinya. Acha disana kembali menangis ketika Rian mengusap punggungnya. Rian disana menatap wajah Acha dan mengusap pipi gembulnya yang memerah.”Acha pernah dengar cerita dari bunda tidak yang tentang sahabat nabi sulaiman yang meninggal dinegeri cina?”Tanyanya.
Acha diam disana mengingat kisah itu., kepalanya blank mana bisa ia berfikir yang ada hanya trasa sedih yang membuat ia sesak. Rian mengusap pipinya meski hatinya masih sakit kehilangan bundanya.ia kembali berkata.”Ketika dimana Raja Sulaiman yang sedang mengobrol bersamanya. Disana ada seseorang asing yang terus saja menatapnya sangat dalam membuat ia dan nabi Sulaiman sadar akan hal itu.
Ia yang risihpun bertanya kepada Raja Sulaiman.” Wahay yang mulia. Apakah kau melihat pemuda itu? Mengtapa dia selalu melihat kesini tiada henti?”Tanyanya kepada Raja Sulaiman yang juga menatap arah pandangnya sahabtnya tersebut.
Raja Sulaimanpun mengangguk.”Sesungguhnya dia adalah malaikat maut.”Jawabmnya membuat pemuda itu kenatapnya kaget. Yah. yang menatapnya terus menerus adalah malaikat maut yang menjelma menjadi manusia. Dan Raja Sulaiman tau hal itu.
“Yang mulia berarti saya akan meningeal dong? Saya belum mau meninggall yang mulia.”Ujarnya disana panic dan itu membuat Raja sulaiman menatapnya. Pemuda itu kembali menatap malaikan maut yang masih menatapnya itu.
“Yang mulia bantu saya untuk menyebrang ke Negri Cina.. saya tidak mau meninggal saat ini .”Ujar sang pria membuat Raja Sulaiman menimbang dan mengikuti kehendaknya. Ia pun segera memerintahkan beberapa orang untuk mengirimnya untuk pergi ke negeri sebrang dengan kapal.
Tak berselang lama malaikat maut yang terus mentap pemuda sahabatnya Raja Sulaiman itupun bertanya sebab ia sudah tak melihat lagi pemudah itu. Ia pun bertanya pada Raja Sulaiman.”Wahai Raja Sulaiman, dimanakah si pulan?(Atau si sahabatnya Sang Raja Sulaiman kemarin)” Tanyanya dengan bingung.
Raja Sulaimanpun tersenyum dan menjawab.”Dia sudah ku kirm ke negeri China seberangg.”Ujarnya membuat sang malaikat maut disana mengangguk paman.
Ia menatap Raja Sulaiman dan berkata.”Sesungguhnya benar apa yang tertulis dilaumulmahfus berarti jika ia meninggal dinegeri China,..”Ujarnya membuat Raja sulaiman paham.
__ADS_1
Sesungguhnya malaikat maut menatap sahabatnya lama dan tak mencabut nyawanya itu karena heran , kenapa pria itu masih berada disini sedangkan yang tertulis dilauul mahfusnya ia meninggal dinegeri China bukan disini. Mangkanya ia belum mencabut nyawa sang pulan atau sahabat sang Raja Sulaiman, sebab memang sudah tertulis didalam lauwul mahfusnya."""
Sesuda Rian bercerita suara tangisnya ACha mereda ia menatap Rian dengan tatapan sendu. Rian mengusap air mata yang masih membasahi pipi istrinya itu. Ia menatapnya dalam dan berkata.”dari kisah tersebut kita bisa tahu. Bahwa kematian itu sudah tertulis didalam lauul mahfus secara detail, dimana kita akan meninggal, kapan kita akan meninggal dan dengan cara apa kita meninggal.”Ujarnya membuat Acha diam dengan dada yang masih sesak dan naik turun.
Rian tersenyum kepada Acha. Senyum tipis. “Mau bagaimanapun kita menolak maut, maka maut itu tetap mendekat dan ketika kita anggap kita menjauh dari maut ternyata Tuhan mendekatkan kita, dan ketika menghindar ternyata kita masuk kedalam lubang yang sama. Mati..”Ujar Rian tulus,.”Yang artinya bunda meninggal bukan karena menyelamatkan kamu saja, atau berkorban karena kamu. Tapi karena memang suratan takdirnya begitu disana. Ia meninggal katena ingin melindungi kamu putri kesayangannya. Ia meninggal karena tertembak.. bukan tampa alasan bukan? Hanya ada dua alasan, satu karena rasa ingin orang yang dia sayang baik-baik saja dan yang kedua memang takdirnya. Jika kamu masih bilang kamu penyebabnya bukankah kamu merasa diri kamu Tuhan yang membuat takdir kematian sesoerang?”Tanyanya,
Acha menggeleng nanar dengan mata bengkak dan merahnya.”Jadi berhenti bicara kamu penyebab kematan bunda., sebab yang bunda mau kamu baik-baik saja dan hidup bahagia bukan menangis tampa kesudahan karena merasa bersalah. “ujarnya.
Acha disana menangis lagi membuat Rian memeluknya dan mengusap kepala Acha.”Boleh menangis tapi menangis karena kamu sayang bunda. Tapi jangan menangis Karenna merasa bersalah, sebab nanti bunda sedih melihatnya. Bunda kita tidak akan pernah mau melihat anak-anaknya menangis karena dirinya.”Ujar Rian. Acha disana mengangguk dengan nanar dan membalas pelukan Rian. Ia memang butuh sandaran saat ini.
Arga disana menangis dibuatnya. Ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu mengatakan ia pengecut karena tak bisa melawan permasalahan hingga ia kehilangan bundanya. Ingatannya. yah dia tidak boleh pengecut dan harus menghadapi masalah disuatu saatnya nanti..!!
Keadaan berkabung masih terasa hingga dua hari berkutnya. Acha yang masih lemah suka diam dan menyendiri dikamar. Rian yang lebih sering memilih keluar mengajar dan ,melakukan aktiiivitas, bukan tak mau menemani Acha hanya saja ia masih tak bisa sendirian karena tak mau bersedih. Rey? Ia menjadi lebih meluangkan waktu untuk Nichol dan Raja, meksi begitu ia lebih terlihat dingin dan pendiam, tak seperti dulu yang terus tersenyum. Ibaratkan sedari Rindu meninggal, Rey tak memiliki senyum yang tulus dan bahagia, yang ada hanya senyum ramah tama saja.
Arga dan ACha yang masih dirumah Rindu itu memutuskan untuk keluar sjaa dari rumah inoi, sbeab rasa bersalah amsih menyarang didalam dada, memang si tidak ada yang menyalahkanya atau menyinggung hal out, tapi tetap saja rasa bersala itu hadir. Dipagi ini ia memilih sarapan bersama,s emuanya ada disana hingga Acha dan Arga saling lirik.
Gio yang melihat itupun menghela nafas,”Kalian mau bicara apa?”Tanyanya disela makan, semua orang menatap keduanya. Jujur yang disana menatapnya kurang tulus hanya Willy sang kakak Rindu. Namun meski begitu bukan berarti ia benci.
Rey menatap keduanya diam.”Lalu bagaimana dengan Acha? Dia sudah menikah dengan Rian dan tidak mungkin kan dia pergi begitu saja? Bukankah seorang istri harus meminta izin kepada suami ketika hendak memilih keputusan bukan dari sang kakak?”Tanya Rey disana. Hal yang membuat Arga bungkam.
Rey menghela nafas dan meletakkan pisau dan garpunya. Ia menatap keduanya.” Kalian sudah Rindu titipkan kepada saya. Kita akan memulai hidup baru dirumah kita. baik Rian dan Acha jika hendak pergi dan membeli rumah baru tidak masalah, tapi jika untuk Arga. Kamu tetap tanggung jawab saya.’'Ujarnya dengan tak berekspresi.” Jangan merasa masalah kemarin itu karena kalian... “Ujarnya lalu memilih bangkit..,’'Saya pamit.”Ujarnya.
Arga disana menatap Acha. Acha meremas tanganya dibawa meja, ia tak berani menatap kesemua orang. Hingga matanya menatap keatas dimana kepalanya diusap yang ternyata dari Umi angkat Rindu. Ia tersenyum membuat Acha menatapnya dengan mata berkaca-kacanya.
Matanya menatap Raja, Raja disana diam dengan makan dengan pelan. Sudah dua hari setelah tragedi itu Raja tak bicara padanya. Bahkan tak melirik sediikitpun. Ia bungkam seakan tak kenal satu sama lain. Apa ia marah? atau keecewa?
Paradigmanya berkelana kemana-mana hinngga tanda pada tangan Rian yang menarik tangannnya pelan. Matanya menatap suami dan bertanya dengan rautnya.”Kamu mau ikut saya kekampus tidak? Dari pada dirumah pasti kamu akan bersedih lagi.”Ujarnya.. acah mengangguk dengan lemah. Ia juga belum kulia dan taka da kerjaan.
“Yaudah bawa makananya dikamar saja sekalian kamu berees-beres. Saya temani.”Ujar Rian. Acha mengangguk lemah dan mulai melanglah melewati semua orang disana. Keluarga ang hangat ceria sekarang berubah drastic. Yang ada hanya wajah suram, wajah kelam dan juga sendu. Acha tidak suka, sebab ia lebih suka hari seprti hari biasa, dimana ia bisa menyapa keras selamat pagi, tertawa dan bercerita ria tentang yang ia lalui. Bukan diam begini..!!
__ADS_1
Dilain sisi ada Habib yang sudah siap dengan bajunya yang rapih. Ia sarapan didepan orang tuanya dengan semangat membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya. Bahkan Fatih juga menatapnya heran.”Mas mau kemana si? Kok kayaknya rapih dan semangat banget?”Tanya daeri Aisya yang berada disisinya Habib.
Habib menatapnya den tersenyum,”Mas mau kerumah nayya dan meminta restu oreang tuanya.”Ujarhya. orang tuanya saling tatap satu sama lain dibuatnya habib segra memasukan nasi goreng dipiringnya dan melanjutkan cerita,” Lalu nanti mau kerumah Rindu buat Minta Rian-Acha dan Arga tinggal bersama kita. Habib mau mereka bisa akrab bersama kita.” Lanjutnya tampa beban sekaan-akan itu hal yang mudah.
“Mas ngapain si ngajakin Mbak Nay balikan, lagipulakan dia dan keluarganya udah nolak. Apalagi Rian, Acha dan lainnya. Kayaknya mereka juga enggak bakal mau. Jadi mending mas cari kehidupan baru aja.. cari istri baru, dan punya anak. Udah deh. Yang berlalu biarlah berlalu.”Ujar Aisya disana dengan enteng tampa beban tampa tau ucapannya itu sangat-sangat tak disukai Habib.
Ting.. Habib melepaskan sendoknya sedikit keras membuat semuanya terdiam. Habib disana menatap Aisya yang menjadi bungkam. “ Kita lihat aja nanti, dan jika mereka kembali awas kamu bicara kasar. Mas tidak segan-segan memukul kamu.”Ujarnya mengancam karena tak suka.
“Habib.. sejak kapan kamu kasar begini?”Tanya Kyai Abu menatap Aisya yang ketakutan dan menatap habib yang marah.
Habib menatap kedua orang tuanya.,” Sejak saya tau bagaimana sakitnya kehilangan dan saya tidak akan membuat diri saya kehilangan untuk kedua kalinya.. dan saya tidak akan segan-segan melakukan tindakan kasar jika dia berani-berani menyakiti istri saya dan anak saya.”Ujarnya marah. Ia sangat marah karena memang ucapan Aiisya kelewattan batas.
“Habib Ais hanya bicara pendapat.”Ujar umi Ana.
“Dan Habib tidak butuh.pendapat.dia. yang.tidak.berguna.sama.sekali.” Ujar Habib menekan kata-katanya menatap Aisya. Aisya disana diam menatap Habib yang marah lalu menatap kearah lain. Ia tak berani kepada Habib.
“Sudah-sudah..”Ujarnya Fatih menengah menatap snag kakak dan adik.” Yang dikatakan mas Habib memang benar, ini arena kehidupan mas Habib, tak bisa dicampur pendapat dari Ais ataupun kita. yang harus kita lakukan adalah mendukung supaya dia bisa lebih maju dan mendapatkan kebahagiaannya. Ketika kita inginya begini tapi takdir berkata lain bagaimana? Jangan terus menerus menuntut apa yang kalian inginkan. Karena semua orang itu memiliki tuntutan yang berbeda-beda.” Ujarnya mengatakan pendapat.
Habib mengangguk menyetujui.” Kita tidak melarang. Kalian berhak kok disini,, tinggal bersama kami lagi. kami juga akan senang jika disini akan ramai.”Ujar Kyai Abu disana dengan tersenyum. Ia ingin mencairkan suasana.
“Tapi Habib tidak akan tinggal bersama abi dan Umi. Tapi akan tinggal dirumahnya Habib dan Nayya dulu. “Ujarnya. Memang benarkan rumahnya dulu sudah ada? Sangat asri dan juga indah malah. Hal yang membuat Aisya melotot tak suka.
“Lah terus Ais gimana dong kak? Kan Ais yang sekarang tinggal disana?”Tanyanya. yah memang Aisya yang tinggal disana beberapa bulan belakangan ketika Habib mengajar di SD dan Habib tidak tahu menahu hal itu. Hal itu juga yang membuat ia marah besar dan tidak suka Aisya yang melakukan semua hal semaunya tampa izin lagi.
Habib menatap Aisya dan berkata.”Kalian menikah sudah hampir lima belas tahun, masa rumah saja kalian tidak mampu terbeli. Atau kamu bisa tinggal dengan Umi. Sebab rumah itu atas nama Nayya bukan nama mas ataupun kalian. Jadi itu Haknya Nayya secara hukum maupun Negara.”Ujarnya disana santay.
“Kok bisa atas nama Nayya? Kalo begitu Ais minta kebun kakak dibelakang pesantren untuk buat rumah, Ais tidak memiliki tanah sekitar sini.”Ujarnya disana tampa dosa.
Habib menatapnya dengan helaan nafas.”Begini Ais.. semua yang kakak punya sudah atas nama Nayya semua sedari kami menikah. Jadi maaf mas tidak bisa mengalihkan melainkan Nay yang bisa. lagipula kamukan sudah punya tanah yang lain atau warisan lain. Kenapa tidak kamu jual saja dan kamu beli tanah pak Darmidi dibelakang? Katanya dia sedang jual tanah.”Ujarnya.
__ADS_1
Aisya disana membelalakkan matanya.”Kok bisa gitu mas?”Tanyanya. Bukan hany aisya yang kaget tapi juga orang tuanya...!