Istri Butaku

Istri Butaku
Culik


__ADS_3

Langkah kaki Acha cepat mengejak ketinggalanya karena tadi ia sempat telat akibat lupa membawa benda kesayanganya. Yakni tempat obat hehe.. iya dia tak tau bagaimana jika itu ketingalan. Lagi pula tadi Nayya udah memperingatinya berkali-kali tapi tetap saja ia lupa dan juga teledor.”Isss cepet banget si. Tungguin acha dong”Gumamnya Aca sedikit tak suka sebab ketingalan. Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal dibuatnya.


Namun ia tak sadar jika Rian dibelakangnya dengan gaya coll dan tangan yang dalam saku. Matanya lurus menatap Acha yang berlari membawa obatnya sesekali berhenti dengan nafas yang tersenggal senggal menuju pesawatnya itu.


Rian memang sengaja tak mau berriringan.


Hingga mata Rian menelisik sekitar ia merasa ada yang janggal tetapi ia tetap santay dan juga mengikuti Acha dari belakang. Hingga ia merasakan tatapan pramugari lelaki yang disana menatap Acha dengan tatapan tak terbaca membuat ia mempercepatkan langkahnya dan berjalan disisinya Acha menatapmnya tajam.


Acha kaget ketika ada yang berjalan disisinya. Ia menatap keatas yang tingi Rian hanya berkisar 7senti darinya itu.”Kakak.”Gumammnya lirih. Rian tak peduli namun ia disana masih menatap pramugari itu dengan tatapan peringatan membuat pramugari itu membuang muka dari sana dan mengeleng., "Kakak kok disini? kenapa telat.? kakak mingguan Acha yah??? "Tanya Acha dengan PDNya pada Rian meski takut.


Jangankan menjawab, melirik saja tidak Tuan. Acha menatapnya sebal karena diabaikan. "Yaampun. Pen cubit ginjalnya.. "agunan Acha gatal mengaruk tangannya sendiri. Rian hanya diam mendengarnya. "Robot iiss... "Gumam Acha kesak diabaikan.


Rian melirik Acha dan menatap kedepan.Ia segera mengambil kupluk jaket Acha dan mengenakan keatas kepalanya dan ia mengambil masker didalam sakunya. Itu masker dirinya yang belum ia pakai sebnarnya.


Acha yang berceloteh terdiam mendapatkan perlakukan itu.” Cepatlah.”Ujarnya dan membuat Acha gugup dan menunduk malu. Bagaikan ada kupu-kupu berterbangan dipusarnya dibuatnya hingga ia melirik Rian yang menjauh.


Ia menggigit bibir bawahnya.”Kakak Tunggu.”Ujarnya berteriak dan memasuki pesawat itu. Rian semakin dekat dengan pramugari itu. Matanya menyilau bagaikan pisau dan berkata.” Tunjukkan tatapan mu.”Ujarnya.


Pramugari itu gemetar dan mengangguk. "Maaf tuan..! "


Rian disana segera menatap kelain arah dan memasuki pesawat yang sudah ada keluarga nya itu. Sungguh ia membenci orang yang menatap Acha sebegitunya. Ia saja tidak pernah menatap Acha seberani itu.


Keberangkatan mereka membuat pramugari itu menelpon seseorang. Tatapan Rian tak lepas darinya membuat yang disisinya Rian menatap tatapan yang dituju. Ia tersenyum miring dan berbisk pada yang disisinya. Disisinya mengangguk saja dan menatap nayya dan Acha.


Acha memilih duduk disampingnya Habib karena disampingnya Nayya ada Abu yang bercerita dan juga bersahaja dan Ia tak mau merusak itu. Acha tak memiliki hati yang iri dan dengki. Baginya kasih sayang orang tuanya sudah cukup pada dirinya. Berbagi sedikit tak masalah, atau jikapun uminya melupakanya barulah ia akan marah. Tapi ia punya Rindu.


Ayah Rey dan juga para kakaknya membuat ia tak kekurangan kasih sayang. Sikapnya itu jika marah saja kekanakan tapi yang lain tidak.


“Acha kalo mau bobok. Bilang yah. Kamar kamu disana, ajak saja abang Arga atau bang Raja kedalalam. Harus ditemenin.”Ujarnya Rey disana kepada Acha yang menguap. Namun mulutnya ditutup oleh Habib karena terlalu lebar.


Acha terkekeh mendengarnya.”Ay ay ayah.”Ujarnya hormat.”Tapi Acha mau bobok disini aja deh. Siapa tau bunda mau bobok didalem.”Ujarnya tersenyum. Ia pengertian jika Rindu lebih kudah lelah dan membutuhkan istirahat yang jauh lebih besar darinya secara ginjal Rindu sudah rusak stau, ditambah beberapa bagian system dalam tubuhnya sudah melemah.


Rindu tersenyum mendengarnya. Reypun sama, ia mengusap tangan istrinya lembut menatap Acha sendu.” Iya nanti jika mau tidur disana tidak apa- ayah sudah siapkan dua kasur disana jadi kamu tidak perlu khawatir.”Ujarnya dengan sendu. Ia tau jika Acha akan mengatakan hal demikian.


Acha mengangguk bersandar didadanya Habib. Habib disana mengusap kepalanya. ” Mau tidur hmm?”Tanya Habib lembut,”Tidurlah. Abi tau kamu pasti akan lelah soalnya penerbangannya cukup lama.”Ujarnya dengan sendu.


Acha disana mengangguk dengan lelah.”Abi nanti jika Acha pergi abi harus janji yah jagain Umi.”Ujarnya tersenyum.


Habib terdiam mendengarnya.”Kamu ngomong apa hm?”Tanyanya disana dengan delikan tak suka.”Kamu mau pergi kemana abi enggak izinin.”Ujarnya tak suka lagi.

__ADS_1


Acha disana menatap wajah abinya dan menusap jenggot halusnya.”Enggak tau pergi kemana, entah itu pergi nikah atau kemanapun acha tidka tau. Tapi yang Acha tau Umi tidak pernah bahagia, ia terlalu focus membahagiakan kami. Karena itu Acha mau abi bahagiaan umi.”Ujarnya tersenyum.


“Kita bahagiain sama-sama yah.”Ujarnya dengan mengusap kening sang anak sayang.” Jangan mau pergi sebelum umi bahagia karena kamu. Kamu tidak boleh menikah sebelum abi bisa bahagiaan umi.”ujarnya mencium telapak tanganya sayang dan kepala anaknya sayang. Entahlah ia merasa aka nada yang hilang didadanya saat ini,


Acha terkekeh dan mengangguk. “Nanti jika sudah sampai panggilin acha yah Abi. Acha capek mau bobok.”Ujarnya Acha dengan nanar dan memiih tidur.. kepalanya sakit dan dadanya sesak beberapa hari ini. entah ia tak tau karena apa tapi yang ia tau ia baik-baik saja.


Habib mengusap dadanya.”Ada apa ini? kenapa rasanya seperti akan ada yang hilang?.”Gumamnya Habib dihatinya. Ia menatap Nayya yang tertawa kepada Abu dan menatap Acha dipangkuannya. Ia mencium kepala anaknya sayang.. entah rasanya kenapa ia mau menangis saat ini. ia tak tau sungguh.


Hingga sudah beberapa jam penerbangan berlalu dan mereka sudah sampai ditanah air yang dicintai oleh mereka. Mau dimanapun mereka tinggal mereka tetap mencintai tanah air, dimana mereka lahir dan dibesarkan. Tanah yang subur dan penuh dengan dongeng dan halusinasi ini. penuh cerita dan juga janji manis para pecalon haha..


“Acha bangun hey. Udah sampek.”Ujar habib menepuk pipi Acha.


Acha yang dibangunkanpun mengerjab merasakan lelah dilehernya. Dan ternyata ada Nayya juga yang bersandar dibahunya Habib. Habib hanya meringis saja merasakan tubuhnya kaku dan remuk meredam bagai ditimpa tangga. Sungguh anak dan ibu sama saja. Rey dan Rindu? Mereka keluar dari kamar yang Rindu tempati dengan wajah pucatnya. Inilah yang tak bisa Rindu sukai dari perjalanan jauh. Ia mudah lelah


“Yaudah yuk keluar.”Ujar Arga mkepada Acha.”Abi sama umi saja. Biar Acha abang yang bantuin.”Ujarnya Arga. .


Raja disana pun mendekati mereka dan juga mulai berjalan membawa Acha yang oleng keluar. Acha mengejar dan menggeleng karena terasa pusing.”Kita sudah sampai?”Tanya Acha linglung.


“Iya sayang.”Ujarnya. acha mengangguk menatap sekeliling. Matanya berbinar menatap keramaian yang ada.”Rame sakelai.”Ujarnya tersenyum dan merasakan kepalanya kembali ditutup. Ternyata itu Arga.


“Ayo cepet. Nanti kita ketinggalan sama yang lain.”Ujarnya Arga kepada mereka.


“Ih itu bang Rian saja masih dibelakang.”Ujarnya Acha kepada yang lain.”Lagian kita tidak mungkin ditingalin ih.”Ujarnya lagi tak terima.


Acha mendengarnya bergidik ngerih dan segera memberikan tasnya pada Arga.


Arga memutar bola mata malas. Acha terkekeh melihatnya.”ABANGKAN BISA SILAT.”Ujarnya.


“Iyain.”Gumam Arga membuat gelak Acha kencang.


“Acha. Arga cepet.. Rian sama Rajja mana nih.”Teriak dari luar. Itu membuat mereka segera berjalan lagi dengan beriiringan dengan Rian paling belakang mengawasi disekityarnya. Tak mereka sadari juga jika Rey disisinya mengenakan baju beda dan karakter yang berbeda, sedangkan Nichol? Ia mengenakan baju Rey dan mengenakan masker dan kaca mata hingga tak ada yang menyadari mereka. Mereka memang sangat kompak


Suara roda koper terdengar dibawa oleh beberapa penjaga mereka serta Habib yang memba2a koper Nayya dan miliknya, sedangkan Acha disana terdiam menatap ramainya orang, tak sama si hanya saja ia heran menatapnya. Dengan segera berjalan menuju taksi. Disana tanpa mereka sadarai dari jauh ada sosok yang menatap mereka yang berjalan dari pesawat hingga menuju ketempat penjemputan. Disana sudah ada dua mobil yang sudah menunggu.


Nayya yang sudah diingatkan oleh Rindu untuk tak jauh-jauh dari mereka lupa, ia lupa sehingga ia yang sibuk memeriksa obatnbya Acha titipkan tadi dimana hingga ia ketinggalan dengan yang lain.”Duh apa ketingalan dalam pesawat yah? Apa gimana? Apa aku balik lagi aja yah.”Gumamnya lirih. Ia sangat menyayangi anaknya itu.


Hingga Acha dan lainya datang.”Umi ngapain disini?”Tanya Acha isana.


Nayya menatap anaknya dan mengusap kepalanya sayang.”Umi dari obat kamu. Kamu ingat tidak dimana obat kamu? Maaf umi lupa dimana naroknya pas kamu kasih ke umi tadi.”Ujarnya Nayya dengan lirih.

__ADS_1


“Oh obat Acha?”Tanya dari Abu membuat nayya menganguk. Abu menunjukan Rindu da Rani didepan.”Itu tadi Bunda Rindu yang simpen soalnya katanya takut kececer pas Umi ketiduran. “Ujarnya dengan senyumnya karena tadi ia melihatnya sendiri.


Nayya menghela nafas dan mengusap dadanya.”Yaampun Umi kira hilang tadi.”Gumamnya.


Acha terkekeh.”Yaudah yuk mi. tapi acha mau pipis temenin Acha yuk.”Ujarnya Acha lirih.


Nayya mengangguk.”Yaudah. abu sama yang lain bilang sama bunda yah kita ketioilet sebentar. Tungguin sebentar.”Ujarnya. “Mau dijagain enggak?”Tanya Arga kepada Uminya. Uminya menggeleng.’'Tidak usah. Kami saja kan disini ramai.”Ujarnya Nayya disana dengan sendu,


“Jangan Umi. Kata Abu disini banyak copet. Jadi harus dijagain.”Ujarnya Acha polos. Nayya terkekeh.”Kan kita neggak bawa barang berharga. Jadi apa yang mau dicopet.”Ujar nayya menolak.”Lgian nanti Arga malah dituduh mau ngintip lagi kalo ikut kesana.”Ujarnya Nayya.


Arga bergidik ngeri membayangkanya. “Yaudah kalo gitu Arga kagain disini aja deh sama Rajja. Abu duluan blang sama bunda dan yang lain yah. “Ujar Arga.


“Aku juga mau ke toilet paling pisah. Kamu disini saja jagain yah.”Ujar Raja padanya. Arga mengangguk disana dan membuat mereka melakukan tugas mereka. Acha dna Nayya memilih ke tolet tanpa memberi tahu yang lain.


Sebenarnya Rindu dan Rani itu duluan karena mencari penjaga untuk menjaga Nayya. namun dari tadi ia tak dapat, disini terlalu banyak orang yang mencurigakan baginya. Dan terlalu banyak yang tak dapat ia percaya.


Acha dan Nayya sampai ditolet. Acha segera memasuki tolet dengan meriingis.”Umi tunggu yah.”Ujarnya. Nayya mengangguk dan memilih menuju ke cermin yang ada disana. Ia memilih memperbaiki hijab dan penampilanya, melihat jika make upnya sudah luntur tu tidak, tak ada niatan untuk menambah sebab masih sangat rapih. Hehe dia cantik natural guys.


Hingga matanya taks engaja melihat kebelakang., ia kaet ketika melihat sosok mengenakan jaket membawa pisau ditanganya. Nayya terdiam melihatnya namun segera berbalik melihat jelas. Ternyata ada dua orang. “Siapa kalian?”Tanya Nayya panik namun berusaha tak panic.


Sosok penculik itu menyeringai.”Kamu lupa saya Nay?”Tanyanya terkekeh.


Nayya menjadi pucat ketika melihatnya. Suara itu suara yang membuat ia merinding hingga sekarang. Itu Edgard temannya Aron. Ia meremas ujung bajunya dan berfikir. Jangan sampai Acha yang terkena masalah.”Mau apa kau?”Tanyanya dengan dingin.


Sosok Edgard terkekeh dan mengusap rahangnya.. Baju serbah hitam dan juga wajah tampanya itu menatap Nayya dengan tatapan benci.”mau membunuhmu.”Ujarnya tersenyum.”Ayo kemari menuju syurga. Aku akan membantumu untuk pergi dari bumi ayo.”Ujarnya terkekeh.


Nayya menggeleng disana. Namun Edgard tak mau membuang waktu, ia segera menarik Nayya dan menghajarnya. Nayya tetaplah Nayya. wanita kuat meski tak terlalu kuat. ia segera menghindar dan berlari menuju pintu keluar namun disana ada penjaganya. Nayya disana terdiam dan tak ada pilihan lain selain melawan. Nayya menedang dan juga menghajarnya sebisanya.


Edgart kaget ketika Nayya menedangnya dibagian rahang hingga rahangnya terasa tergeser. Nayya pun melihat bkebawah. Gamisnya rusak..."Hmm. "Sudut bibirnya tertarik.


Edgart mentapnya dengan tajam dan..


Clap.. ia menarik pisaunya dna mengatahkan pada Nayya yang didepanya itu tepat dibagian jantungnya. Namun nayya menahanya dan menatapnya tajam. Ia menendang Edgart namun ditahan oleh Edhard kuat hingga Acha keluar dari tolet.


“ Udah Mi.”Ujarnya disana lirih dan memperbaiki hijabnya. Namun ia kaget melihat Uminya mau dibunuh didepan mata. “Umi..!! Tolong..!!” Teriak Acha kuat menatapnya. Ia munudur melihat Edgart yang tersenyum smirk kepadanya.


Penjaga satunya lagi segera mengunci pintu dan mendekati Acha dnegan membawa pisau ditanganya.”Jangan..!”! Teriak nayya dan segar menghemnpas tangan Edgard ingin melindungi Acha.


Acha disanapun kaget ketika melihat Edgard malah mengarahkan pisua kepunggung uminya hinga ia menendang tangan Edgard dan Nayya yang memeluk anaknya dengan lenganya. Lengannya terluka disana.

__ADS_1


Acha disana menatap Uminya kaget dan menatap Edgard dengan tatapan tajamnya. Tanganya terkepal hingga urat dipipinya keluar.” Setan kalian..! ”Teriaknya.Nayya meringis disana dan segera melawann yang lain.


”Bedebah.”Teriak Acha kuat dan segera menedang Edgard kuat hingga ia tak seimbang dan terjatuh cukup jauh hingga terkena dinding dan suara yang berdetum. Nayya pun disana kaget melihat anaknya bagaikan iblis. Itu sisi buruknya dulu..!!


__ADS_2