
Acha memijit pelipisnya sakit akibat banyaknya wanita-wanita disini yang bertanya banyak hal padannya. mulai dari fashion baju, perawatan kulit, sekolah. Tapi rata-rata semua bertanya tentang bagaimana dirinya menjadi cantik. lantas ia harus jawab apa??
Ia cukup kagum dengan santri disini, sebab kebanyakan pandai bahasa inggris jadi jika bicara sangat nyambung... Namun ia kurang suka ketika ditanya perihal Scincare seperti sekarang. mereka ngeyel dan tidak percaya jika dirinya hanya menggunakan sabun cuci muka dan pembersih wajah.
“ Mbak Acha beneran enggak pakek skincare atau perawatan lainnya gitu, ke salon spa pasti akan pernah?”Tanya salah satu santri yang ia tau namanya Shifa.. matanya menyelidik menatap Acha yang menatapnya polos.”Pasti mbak bo’ongkan supaya enggak mau kita ikutan glowing kayak mbak Acha, ayo dong mbak jangan pelit-pelit sama kita. kita mau dong punya wajah glowing kayak mbak Acha. Siapa tau bisa dapat suami kayak mas Rian.”Ujarnya dengan senyum manisnya.
Acha disana menghela nafas mendengarnya, sudah ada puluhan orang yang bicara begini padanya. Apalagi tentang Rian membuat ia muak.
”Jangan jawab Cuma pakek air wudhu doang mbak. basah tau nggak jawaban gitu mbak. “Ujarnya temanya Syfa yang benama Deva itu tersenyum kepada Acha.
Namun senyumnya terlihat sinis.” Jawaban itu klasik buat cewek-cewek yang mau dianggap cantiknya natural dan polos, Saya tidak percaya.” Ujarnya lagi disana.
Acha disana tetap diam. “Bener banget Dev. Engak ada yang cantik natural gitu.. mentang-mentang glowing ngakunya gitu.. kita yang sholat sama wudhu terus engak gelowing-glowing yah kan.”Ujar Syifa.. emang yah. ketaatan dan juga serajin apapun manusia beribadah tidak menjamin hatinya bersih dan suci, tak menjamin jika ia memiliki akhlak yang baik. sebab tidak ada jaminan jika seseorang melaksanakan salat hanya untuk Tuhannya ada banyak yang mau salat hanya karena ingin dipandang dan dipuji oleh orang lain Semata.
__ADS_1
Acha disana menatap keduanya dengan tatapan datar. Hingga suara Fatih menghentikan suara itu.”Kata siapa itu hm?”Tanyanya. Acha melirknya dengan diam. Faith disana tersenyum merangkul Acha dihadapan anak santri itu.. kedua santri itu gelagapan melihatnya. Fatih menatap kedua santri yang berkulit sawo matang yang memang kulitnya terlihat masam.”Wudhu memang sebaik-baiknya skincare.. tidak percaya? coba lihat wajah-wajah orang yang rajin sholat dan wudhu. Pasti wajahnya bagus. Jika itu tidak berlalu untuk kalian, sharusnya bukan menyalahkan wudhu tetapi salahkan diri kalian yang tidak bisa bersuhu dengan baik dan sesuai ajarannya.”Ujarnya. mereka terdiam mendengarnya.
Faith kembali menatap Acha.”Acha memang pakek skincare kok. Selain membersihkan wajah dan juga untuk merawat kulit. Karena itu hhal yang penting. Jangan mengenyampingkan jika kebersihan dan juga kebutuhan kulit juga cenderung membuat kulit sehat. Dia tidak menjawab pertanyaan kalian karena sedang pusing dan lelah. Jadi biarkan dia istirahat dulu yah.”Ujarnya Lagi tersenyum.
Acha disana menatap Fatih binar dibuatnya. Keduanya teman yang baru kenal dengan Acha tadipun menatap Acha dengan tatapan bersalah.”Duh afwan niang.. kami tadi tidak tau.. Niang boleh kok masuk dan istirahat. Maafkan kami yang bikin niang kecapean.. kalo gitu kami permisi kebali keasrama yah.. kapan-kapan kita harus main dan berkumpul lagi yah Niang.” Ujarnya Devimembungkuk.
Oh iya, kenapa ia tak memanggil Nayya dnegan 'Mbak lagi? diganti dengan Niang? Itu karena Acha cucu Habib seorang Gus artinya ia memang niang. Tadi Acha tidak suka dipanggil Niang mangkanya mereka panggil mbak. Tapi jika ada anak pesantren lain atau ada prang tuanya mereka harus panggil Niang.
”Assalamu’alaikum.” Ujarnya Devi dan syifa dan pergi meninggalkan Acha yang menghela nafas legah. Sebab ia sudah mau istirajhat sedari tadi. Tapi banyak yang menyapanya dan mengajaknya mengobrol. Ia sedikit tidak nyaman mau meninggalkan mereka itu tidak sopan membuat ia harus pasrah bukan?
Acha ,mengangguk lemah.”Iya nih.. soalnya pinggang Acha encok.. tapi banyak banget yang ngajak Acha silatuhrohmi dan kenalan. Jadi Acha engak enak kalo masuk dan istirahat., kata Umi tidak boleh sombong dan harus kita sambut bagaimana pun keadaan kita. sebab kadang senyum kita pada mrereka itu bisa menjadi jembatan amal yang paling mudah untuk digapai.”Ujar Acha dengan senyum tulus.
Faith disana tersenyum mendengarnya.. hingga kaki Acha memasuki rumah orang tuanya Habib. Disana ternyata sudah ada Rian yang tertidur disofa keluarga diruang tamu, ada Habib juga membuat ia tak tega melihatnya.. ia segra menatap Fatih.” Paman tau kah dimana dapurnya?”Tanyanya disana.
__ADS_1
Faith menatap Acha dnegan tanda Tanya.”Disana si.. emang ACha mau ngapain.?”Tanyanya kepada Acha.
Acha disanapun melenggang kearah tunjukanya.”Arahin dong jalannya. Nanti acha tersesat.”Ujarnya dengan polos.
Fatih terkekeh.”Ini rumah tidak sebesar rumah Rindu atau rumah kamu di USA, ini rumah hanya memiliki beberapa ruangan dan kamar. Tidak seperti rumah Rindu dan kamu disana yang bahkan lantai satunya saja memiliki belasan kamar. Atau rumah nenekmu orang tua Rindu yang bahkan bisa menampung satu RT Dirumahnya.”Ujarnya dengan terkekeh.
Acha disana mengangguk mendengarnya dan benar saja. Hanya dua kali kelokan sudah sampai. Ia segera mendekat kearah panic disana dan mengishkan air.”Kamu mau ngapain si Cha?”Tanya Fatih mendekat dan mengambil alih panic.”Biar paman saja jika kamu mau apa. Kamukan sedang lelah.”Ujarnya disana menatap ponakannya itu dengan tatapan nanar..
Acha disana menggeleng.”Tidak tiidak... acha hanya mau masak air hangat kok paman untuk suami Acha dan ABi,. Nereka kelihatan sangat lelah jadi Acha mau mereka merendam kaki dengan air hangat supaya kuman-kumannya mati.. nanti paman bantu acha angkat airnya ketika sudah mendidi saja dan antarkan kepada ayah dan bang Rian.”Ujarnya polos.
Faith disana menatap ponaklannya dengan raut memelas.. sungguh ponakannya ini sangat polos dan juga baik. Ia mengangguk dan mulai menunggu airnya masak, disana ia melihat Acha yang menahan matanya yang mengantuk. Ia sudha berkali-kali menyuruhnya tidur tapi ia tak mau. Acha cukup keras kepala seperti Nayya.
Oke air sudah masak dan Acha mencampurkanya dengan air dingin dan diletakkan didua tempat. Fatih dan ia membawanya kedepan dnegan hanuduk ditangannya. Disana Acha mendekati Rian dan Fatih mendekati Habib. Acha disana pun dengan pelan memasukan kaki Rian keair hangat. Fatih pun disana menghela nafas menuruti apa yang Acha suruh ke Habib.
__ADS_1
Keduanya kaget merasakan kaki yang hangat dan basah. Rian disana membukakan matanya dan menatap ACha mengusap kakinya kaget.”Ehh ngapain? Tidak usah.”Gumamnya tak enak melihat Acha yang membersihkan kakinya.