
Saya yang akan merawat Nayya. Saya kan tanggung jawab.” Sahut Habib disela-sela pembicaraan.
Ayah Nayya mendongak menatap Habib. “Apa yang bisa kamu lakukan ha?” Tannyanya setengah membentak.
“Saya akan menikahi Nayya dan merawatnya. Saya akan menjadi mata, kaki dan tangannya sekaligus. Saya akan berjanji untuk membahagiakannya.” Ucapnya tegas. Ia sudah bertekat untuk bertanggung jawab. Ia tak mau hidup penuh dengan penyesalan.
Ayah Nayya menatap Habib sinis. “Kamu yang menyebabkan anak saya seperti ini, dan kamu mau anak saya nikah sama kamu. Mimpi kamu...!” Teriak Ayah Nayya.
“Ayah. “ Ucap Bunda Nayya. Ia membisikkan sesuatu ditelinga suaminya. ‘ Biarkan saja ayah. Biar Nayya ada yang menjaga dan merawat jika kita tidak ada lagi. Kita tidak bisa seperti ini terus. Siapa yang mau menikah dengan Nayya yang seperti ini. Bunda nggak mau Nayya jadi perawan tua.’ Bisiknya.
“Tpi Bun...”
“Ini keputusan Bunda.” Sekak Bunda Nayya. Ia hanya tak ingin Nayya hidup sebatang kara tanpa pendamping, belum lagi jika mereka meninggal, ia tak mau anak kesayangannya hidup sendirian, kesepian dan menyedihkan.
“Baiklah. Tapi saya mau kamu menikah sekarang juga sebagai bukti jika kamu benar-benar serius.” Keputusan Ayah Nayya tegas.
Nayya kaget akan hal itu. Ia mau dinikahkan dengan orang yang sama sekali tak ia kenali, wajahnya pun tak ia ketahui. Bagaimana bisa?. “Ayah. Nayya nggak mau menikah. Nayya nggak apa-apa kok.” Ucapnya.
“Ini keputusan Bunda dan ayah Nay.” Jawab Bundanya.
“Tapi bun. Nay nggak mau nikah karena kasihan atau tanggung jawab. Nayya nggak mau bun. Biarkan saja dia menikah dengan pilihannya, jika pun Bunda takut Nayya tak ada yang akan melamar, bunda jangan takut, karena jodoh sudah ada ditulis dilaulmahfuz.” Jawab Nayya tegas.
“Ini keputusan Ayah Nay. Kamu nggak boleh ngebantah!” Ucap Ayah Nayya tegas.
Habib menatap Orang tua Nayya yakin. Ia menatap Umi dan Abinya meminta persetujuan. “Kamu yakin nak?” Tannya Uminya.
__ADS_1
“Insyaallah Mi. Atas izin Allah.” Jawab Habib yakin tak yakin.
“Bagaimana dengan Khumairo?” Tanya kyai Abu pelan, takut keluarga Nayya mendengar.
Habib terdiam sesaat. Jujur saja Khumairo adalah gadis yang ia cintai selama ini. bagaimana bisa ia menikah dengan orang lain. Tapi sekarang Masalah ya bukan cinta, tapi tanggung jawab!
“Nanti Habib akan menghadap Khumairo dan menjelaskan semuanya. Habib yakin ia akan ikhlas. Habib juga belum menikahinya. Mungkin semua ini sudah jalan Allah.” Jawab Habib yakin. Ia juga tak tau bagaimana ia bisa bicara jika ia akan menikahi Nayya. Suara itu bagaikan muncul tiba-tiba dihatinya dan dolontarkan secara spontan.
“Abi sama Umi selalu mendukung kamu apapun yang kamu putuskan.” Ucap Kyai Abu yakin menatap Anaknya. Ia yakin jika anaknya mengambil keputusan yang benar dan selalu mendukungnya. Begitu juga Umi Habib. Ia menatap Habib dengan senyum mendukung dan mengangguk.
Habib kembali menatap orang tua Nayya yang mengelus puncuk kepala Nayya. “Saya akan mempersiapkan segalanya hari ini juga. Saya akan menghubungkan teman saya untuk membawa penghulu kesini dan maharnya.” Ucapnya. Orang tua Nayyapun menatap Habib. “Saya permisi keluar dulu untuk menghubungi mereka. Assalamu’alaikum.” Lanjutnya sopan lalu pergi.
Ia keluar dari ruangan Nayya dan menghubungi temannya yang menjadi penghulu. Setelah bercakap cukup lama, ia kembali kedalam dan menatap Umi dan abinya. Ia menganggukkan kepala sebagai istarat ‘sudah’
Nayya hannya diam tanpa bicara. Ia tak bisa membantah orang tuannya. Ia juga tak mau menikah dengan seseorang yang ia tak tau barang sedikitpun. Ia hanya pasrah apa yang akan terjadi padannya dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah.
Beberapa jam kemudian Azan Ashar berkumandang. Nayya awalnya tak mau memikirkan apapun, kepalanya sakit saat ia memikirkan bannyak hal. Ia memilih tidur. tapi matannya langsung sadar saat mendengar azan berkumandang. “Bun sudah Ashar kah?” tannya Nayya.
Bunda Nayya memegang tanngan kiri Nayya. “Iyya sayang. Kamu mau sholat?” Tannya Bundannya.
Nayyapun mengangguk. “Tapii pak penghulu belum datang. Kamukan mau nikah.” Jawab Bunda Nayya lembut. Seketika pula Nayya baru ingat.
“Tapikan penghulunya belum datang. Kita sholat dulu aja ya. Nanti baru nikah.” Jawab Nayya.
Habib menatap mereka dari jauh. Ia berdiri untuk melaksanakan sholat. “Buk, kita sholat saja berjamaah disini.” Ucapnya menyahuti mereka.
__ADS_1
“Jangan cari perhatian kamu...” Sahut ayah Nayya ketus.
“Ayah. Kita sholat berjamaah ya. Nayya kagen sholat berjama’ah sama bunda dan ayah.” Ucap Nayya menenangkan ayahnya.
Ayahnya Nayya melembut. “Iya sayang kita sholat berjamaah. Kita ambil wudhu dulu ya...” Jawabnya lembut. Berbeda drastis jika berbicara kepada Habib dan keluargannya.
“Iya . makasih ayah” Ucap Nayya sambil tersenyum.
Umi dan Abi Habib tersenyum menatap Nayya. Ia sangat terpesona akannnya. “Ya sudah. Ayo kita siapkan semuannya untuk sholat berjamaah.” Ucap Kyai Abu.
Habib dan lainnya hannya mengangguk. Habib pergi mengambil sajadah dan mukena. Untunglah ruangan Nayya adalah ruangan VIP, jadi sangat luas dan bisa menampung mereka untuk sholat berjamaah.
Bunda Nayya membantu Nayya untuk berwudhu. Ayahnya membantu menyediakan sajadah untuk sholat. Sebenarnya hatinya sungguh berat, tapi karena permintaan putrinya ia menjadi lemah dan ikhlas.
Saat selesai semua mereka melaksanakan sholat yang diimamkan oleh kyai Abu. Sedangkan Nayya sholat diatas ranjangnya. Sholat itu penuh khidmat bagaikan keluarga bahagia sampai syurga. Tapi saat berdoa seluru pihak keluarga menangis, entah menangis bahagia atau sedih. Tapi mereka sangat berharap jika kedepannya akan berjalan dengan baik dan selalu berada dijalan Allah.
“Yallah yaTuhanku yang maha pengasih lagi maha penyayang. Hamba meyakinkan seluruh hidup hamba ditanganmu Yarob. Hamba yakinkan seluruhnya kepada keputusan engkau Yaallah. Hamba yakin kan seluruh takdirmu adalah keputusan terbaikmu untukku, hamba hanya bermohon dan bermunajad kepadamu. Kuatlkan lah hamba untuk seluruh jalan dan kehidupan hamba kedepannya. Dan jika dia memang jodoh hamba, hamba bermohon yarob, jadikanlah baterah rumah tangga hamba menjadi kokoh dan bahagia. Jadikanlah kami seperti Khadija dan Rasullulah yang selalu bersama saat duka maupun suka. Saling menguatkan dan menghangatkan. Berkahkan dan karuniakan kami kebahagian Yarob,,,, aamiin..” Doa Nayya.
“Yaalah yarob. Hamba mohon, jadikanlah keputusan hamba menjadi keputusan terbaik.. bantu hamba untuk kedepannya Yarob. Hamba yakinkan seluruhnya kepadamu. Dan karuniakan kami selalu dalam keberkahan. Lindungankan selalu kami dengan rahmatmu. Jadikan hamba sebagai kepala rumah tangga yang bijaksana seperti Rasullullah saw. Amiin.” Doa Habib.
Setelah sholat Habib ingin menyalami ayah Nayya, tapi bukan ayah Nayya jika ia mau menerimanya. Habib hannya tersenyum miris. Ia menyalami Umi dan Abinya secara bergantian.
Saat sudah selesai sholat mereka bertasbih dan berzikir sambil menunggu penghulu. Tak terasa sampai pada jam 16;30 penghulu datang bersama dua rekannya.
“Assalamu’alaikum..” Salamnya saat didepan pintu kamar Nayya.
__ADS_1
Dug... jantung Nayya berdetak cepat. Ia sangat gugup, ia yakin itu penghulu, dan itu menandakan jika ia akan menika dengan Habib.