Istri Butaku

Istri Butaku
Kesempatan untuk Habib


__ADS_3

Sorry yey lama. Soalnya memang ini slow update. tapi ttp lanjut kok... Lupa? baca lagi aja hehe...


Habib diam sekaligus tersentu akan hati Nayya. Ia tak tau harus percaya atau tidak akan adanya gadis semualya itu dimuka bumi saat ini. ia masih mendengarkan cerita Habib secara khusyuk.


“Jika saya bilang kamu beruntung dapatin adik saya, mungkin kamu nggak akan percaya. Kamu menganggap saya seperti itu karena saya abangnya. Tapi saya akan katakan kepada kamu, kamu tidak akan pernah menyesal memiliki istri seperti adik saya.” Ucap Cakra serius. Ia memegang pundak Habib pelan. “Saya saja selalu menginginkan adanya satu saja gadis seperti Nayya dimuka bumi ini. bagimanapun dia, saya akan melamarnya saat itu juga.” Lanjunya.


Habib menatap Cakra. Tak ada tanda kebohongan apapun diwajahnya. “Insyaalah mas.” Jawabnya.


“Jika kamu memang suaminya. Saya mohon untuk kamu jagain adik saya sebaik mungkin. Jika kamu nanti tidak mencintainnya, jangan sakiti dia. Kamu kembalikan kepada saya, biar saya yang akan membahagiakan dia.” Ucap Cakra. Ia tersenyum tipis meskipun getir.


“Insya Allah. atas izin Allah, saya akan mengusahan membahagiakan Nayya.” Jawab Habib yakin.


“Saya percaya sama kamu.” Ucap Cakra. Ia beranjak lalu pergi meninggalkan Habib yang masih menatap lekat pungggung Cakra menjauh tanpa pamit.


Habib melirik jam yang sudah menunjukan pukul tiga sore yang menandakan akan datangnya waktu Ashar. Ia beranjak berdiri dan melangkah manuju mesjid terdekat.


.....


Besok paginya Habib pergi dari kamar Nayya. Ia hingin menggantikan bajunya, karena semalam ia menginap diikamar Nayya, meskipun ia sama sekali tidak diperbolehkan oleh mertuannya. Setidaknya ia bisa menjaga istrinya dari jauh sudah cukup.


Saat ia kembali. Ia membeli buket mawar untuk Nayya, ia memang sudah berniat akan membahagiakan Nayya. Ia juga membelikan bubur Ayam yang enak, tidak seperti dirumah sakit.


Saat sudah selesai, ia membela jalan menuju rumah sakit. Didalam perjalanan, ia mengingat seluruh ucapan Cakra kakak iparnya kemarin. Ia juga mengingat Khumairo sebagai calon istrinya yang ia tinggal dalam resepsi akad.


Saat ia terlalu larut memikirkan Khumairo, ia bertistigfar. Ia tak boleh memikirkan wanita lain selain istrinya. Ia sudah menikah, meskipun pernikahan itu bukan atas dasar perasaan. Tapi pernikahan ini atas izin Allah!.


Ia mendesah pelan lalu kembali fokus dijalan. Beberapa saat ia sudah sampai dirumah sakit. Kakinya melangkah menuju kamar Nayya. “Assalamu’alaikum.” Ucapnnya saat sudah sampai didepan pintu kamar Nayya.


“Wa’alaikum salam.” Jawab Orang didalam. Habib mmbuka pintu. Saat ia masuk, dapat ia lihat ibu dan ayah Nayya lagi mennyuapi Nayya makan siang. Disana ada juga Cakra yang duduk disofa.


Habib tersenyum lembut meskipun tidak dibalas. Ia memegang buket mawar dan kantong pelastik berisi bubur menuju istrinya. “Pak, Bu..” Ucapnya sopan. Ia belum berani memanggil Bunda dan Ayah sebelum mereka mengizinkannya. Ia mencium tangan mertuanya sopan. Meskipun ditepis karena terlalu lamban.


Matannya teralih kepada Nayya yang hanya diam saja. “Nayya. Saya bawakan bunga buat kamu. Ini...” Ucapnnya. Ia meletakkan buket itu sebelah kiri Nayya.


Dapat Nayya rasakan ada benda disisi kiri tepat dileselipkan tangan dan badannya. Harum bunga itu masuk kerongga hidungnya, ingin rasannya ia mencium dan melihat indahnya ciptaan Allah. tapi lagi-lagi keterbnatasannya membuat tembok besar dari harapan. “ Makasih..” Ucapnya sambil tersenyum.


“Saya juga bawakan kamu makanan. Kamu mau makan bubur Ayam nggak?” Tannya Habib lembut lagi.

__ADS_1


Nayya tersenyum lembut. Ia sudah seminggu makan bubur tanpa rasa. Meskipun sama-sama bubur, setidaknya ada rasa yang berbeda. “Mauu... “ Ucapnya cepat.


“Sini. Biar saya saja yang menyuapi Nayya.” Sahut Bunda Ina. Ia merebut bubur dari tangan Habib.


“Bolehkah saya belajar merawat Nayya dan menyuapinya?” Tannya Habib sopan.


“Boleh. Tapi nanti saat saya sudah mati..!” Jawab Bunda Ina judes.


“Bunn... dia suaminya Nayya, jadi dia berhak atas Nayya.” Sahut Cakra dari shofa. Ia sudah mendengarkan semuannya dari bunda dan ayahnya. Bagaimana Habib bisa menikah dengan adiknya sampai sebelum Nayya ditabrak.


“Kamu belin dia..!” Bentak bunda Ina.


Nayya mendengar itupun menjadi khawatir.


“Bunda... Nay nggak apa-apa kok makan sama dia. Bunda kan sudah dari tadi jagain Nay. Nay mau bunda istirahat dulu ya.” Ia mengucap pelan.


Bunda Inapun menatap putrinya. “Tapi Nay...” Ucapnya langsung dapat ditangkis oleh ayah Nayya.


“Bun. Ini sudah keputusan bunda buat nikahin mereka. Biarkan Habib belajar ngurusin Nayya. Kita keluar dulu, kita kasih waktu buat mereka.” Ucap ayah Nayya pelan. Ia sadar, tak selamanya mereka seperti ini. apa lagi setatus Habib sekarang suami. Ia adalah suami, karena itu. Ia memahami hati sesama pria.


“Tap---“


Sekarang hanya ada Nayya dan Habib didalam ruangan itu. Meskipun mereka telah resmi menjadi suami, istri. Baru kali ini mereka diberi ruang untuk berdua.


Dengan gugup Habib duduk disamping kasur Nayya. Ia bahkan masih belum berani menatap wajah istrinya. Ia sudah terbiasa menjaga pandangan terhadap lawan jenis sedari kecil.


Begitu juga Nayya. Ia hanya diam saja, ia tak tau melakukan apa. Tapi sebisa mungkin ia bersikap biasa saja. Ini bukan pertama kali ia dekat dengan pria. Ia dulu pernah berpacaran diwaktu sekolah tingkat SMP tapi itu bukanlah hal yang serius baginya. Ia bahkan hanya menganngap sebagai permainan belaka, setelah ia memahami jika itu haram. Dari detik itu juga ia tak pernah mau berpacaran, bahkan ia menjaga jarak dan pandangan begitu rapat.


Habib membuka bungkus bubur dengan rapi. Ia menatap Nayya yang menatap langit-langit rumah sakit. “Hmm...” Ucapmnya berdehem.


Nayya mengarahkan wajahnya kearah Habib. Ia tak tau harus merespon sepereti apa.


“Sini saya suapin.” Ucap Habib. “Akkhhh, buka mulutnya.” Ucapnya lagi. Ia mengarahkan sendok berisi bubur dihadapan mulut Nayya. Nayya pun mengaga menerima makanan dari Habib.


Entah mengapa, ketika Nayya membuka mulutnya, Habib ikut membuka mulutnya, ketika Nayya menutup dan mengunya. Ia juga melakukan hal yang sama, seakan-akan ia juga makan. Ia baru kali ini berdekatan dengan perempuan. Sungguh hatinya sangat gugup akan hal ini.


“Nay. Apa saya boleh bertanya?” Tannya Habib diselah-sela menyuapi Nayya.

__ADS_1


Nayya mengerjab. Ia menelan bubur yang berada dimulutnya. “Boleh.” Jawabnya.


Habib menatap Nayya dengan tersenyum tipis. Tapi sayang Nayya tak dapat melihatnya. “Saya boleh panggil kamu adek nggak?” Tannyanya gugup. “Maksudnya, kan nggak enak kalo saya panggil kamu nama, sedangkan kamu sekarang istri saya.” Lanjutnya cepat. Ia menepuk mulutnya karena keceplosan mengucapkan ‘istri saya; padahal itu nyata, tapi entah. Rasanya ada yang aneh dan lucu dikalimat itu.


Nayya tertegun saat itu. ‘istri saya’ kalimat itu menempel erat dihati Nayya. Ia takm menyangkah akan menemukan jodoh secepat ini. ia melepaskan nafas berat. “Boleh. Asalkan kamu membolehkan saya memanggil kamu mas. “Jawabnya.


Senyum Habib mengembang. Ia tak menyangkah jika Nayya menerima permintaannya dengan mudah. “Terimakasih.” Ucapnya bahagia.


Nayya tersenyum tipis, menambah kadar kecantikannya. “Sudah kewajiban saya mas.” Ucapnya. Ia sudah menggunakan panggilan yang sudah mereka sepakatai.


Habib meneguk silva. Ia menatap Nayya. “Apa saya masih boleh bertanya?” Tannya lagi.


“Boleh.”


Habib mengabil nafas sebelum bertanya. “Apa kamu membenci mas?” Tannya nya.


Nayya tersentum tipis. “Buat apa Nayy benci mas?” Tannyanya.


“Gara-gara mas kamu jadi seperti ini gara-gara ma---“ tak sempat Habib melanjutkan kalimatnya. Tapi Nayya sudah memotong tegas.


“Mas bukan Tuhan..! semuannya memang sudah kehendak Allah mas, saya sudah mengikhlaskan semuannya. Yang terpenting bagi saya. Bunda dan Ayah Nay nggak apa-apa. Nayya nggak mau denger mas nyalahin mas. Nay nggak suka mas mengeluh seperti itu.” Jawab Nayya lembut. "Allah.membenci hamba hambanya yang duka mengeluh. Jatuhnya nanti kita khufur mas....." Lanjutnya tegas.


Habib tak tau mengatakan apa-apa. Pemikiran Nayya, hati Nayya terlalu baik. Tapi mengapa ia diberi cobaan seberat ini?. tapi bukankah Allah memberikan cobaan kepada Hambannya sesuai kemampuannya.”Terimaksaih dek.” Ucapnya lembut. “Makan lagi ya, biar ceper sehat.” Lanjutnya. Ia kembali menyuapi Nayya dengan telaten. Sesekali memberi minum lewat sendok.


Nayya masih terbaring kaku diatas ranjang. Ia belum bisa duduk bersandar karena keadaannya seperti ini. tapi siapapun tak pernah mendengarkan keluhan Nayya barang sedikitpun, dan itu membuat orang tua Habib sangat mengagumi akhlak Nayya.


Sungguh Hidup Nayya bagaikan manusia hidup segan mati tak mau. Tulang kaki, tangan, pinggung bahkan matanya buta. Jika ia tak memiliki iman yang kuat. pastilh ia sudah hilang akal....


Kenapa orang yang beriman selalu diuji? sebab Tuhan ta.membenarkan manusia yng sudah mengaku beriman sedangkan saat diberi sefikit ujian ia mengeluh.


.


.


.


....

__ADS_1


**Come Backk...


Mari like..komen and vote hehe**....


__ADS_2