
Slow update....! Yanh udah lupa alurnya baca lagi oke hehe...
Nayya terdiam sesaat, lalu ia menerima dengan menganggukkan kepala. Umi Ana pun tersenyum dan mencium pipi kiri Nayya dan kanan Nayya dengan tangisan mendalam, ia tak menyangkah akan mendapat menantu yang sama sekali tak ia kenal.
Tangan Kiri Nayya yang dikait infus terangkat meraba wajah Umi Ana yang tepat berada diwajahnya. “Umi jangan nangis yaa. “ Ucapnya.
“Umi nggak kasih Abi buat nyapa mantu abi?” Tannya kyai Abu mencairkan suasana.
“Maaf bi. Umi terlalu seneng sama mantu baru.” Sahut Umi Ana sambil menghapus air mata dipipinya. Ia berganti tempat dengan Kyai Abu. Kayi Abu menatap Nayya lembut.”Assalamu’alaikum Nayya mantu abii...” Ucapnya.
“Wa’alaikum salam.” Jawab Nayya. Ia tak tau harus jawab apa.
“Kenalin. Ini ayahnya Habib suami kamu, Nama Abi abburohman. Kamu bisa panggil abi Abu saja ya. Kami akan jadi orang tua baru untuk kamu.” Ucapnya lembut.
Tangannya terulur mengelus puncuk kepala Nayya.“Terimakasih Abi...” Jawab Nayya sambil tersenyum miris. Dengan mengatakan orang tua baru, berarti ia akan berpisah bukan dari orang tuannya.
“Semoga keluarga kamu sakina mawadah waroha ya. Pokoknya doa abi yang terbaik buat kalian” Ucap abi Abu.
Nayya hanya mengucapkan. “Aamiinn.” Yang berisyarat ‘semoga dikabulkan.’ Padahal hatinya saja masih tidak percaya jika ia sudah menikah.
Seluruh keluarga Nayya menatap Nayya sendu dan berdoa semoga kedepannya Nayya akan selalu dilimpahkan kebahagiaan.
Nayya Maura Nadifa. Umur 19tahun anak dari bapak Hamdan azwarka dan Ibu Radina. Gadis cantik yang baru menginjak semester empat diperkuliahan. Dia adalah gadis idaman bagi setiap pria, dengan wajah yang cantik dan hati yang bersih mampu mengikat hati siapapun, dia dari kecil sekolah di sekolah umum, tapi bukan berarti ia tak mengerti agama. Ia ingin sekali pesantren dari kecil, tapi karena ekonomi keluargannya membuat ia harus sekolah umum, sekolah pesantren itu sangat mahal, belum dari uang ukt, makan, penginapan, kasur dan jajan.
Belum lagi kakaknya yang juga masih sekolah membuatnya harus berjuang dan memahami keluargannya. ia putri kesayangan dari pak Hamdan atau yang lebih sering disebut pak Ham yang berumur 55tahun dan ibu Radina atau yang dipanggil buk Ina. Orang tuannya hanya pengelolah kebun sendiri, kadang hasilnya tak menentu, tergantu cuaca dan rezeki. Tapi semua itu tak menjadi penghalang bagi mereka untuk menyekolahkan anak-anaknya. Buktinya saja kakak Nayya yang mampu kulia di Turki saat ini
Meskipun begitu ia memilih sekolah yang selalu jauh dari rumahnya, karena memang sekolah diperkampungan membuat ilmu pengetahuan dan exschool kurang . apa lagi pasilitas yang minim membuatnnya selalu mau sekolah jauh, ia selalu sekolah dikota, bahkan ia rela sekolah dari rumah sampai kekota menaiki angkot atau membawa motor sendiri. Itu memakan waktu 1jam. Jika ia sekolah dikampung halamannya mungkin hanya memakan waktuu 15menit sudah sampai, bahkan banyak dari siswa/i berjalan kaki menuju sekolahan.
__ADS_1
....
Tak terasa Habib sudah menikahi Nayya sang gadis buta. Sudah 3hari ia menikahi Nayya. Tapi ia sama sekali tak dibolehkan merawat Nayya oleh orang tuannya. Ia hannya bisa menatap Nayya dari kejauhan. Setiap malam ia melaksanakan sholat tahajud didalam kamar Nayya. Tapi tanpa disangkah ia selalu melihat Nayya juga sholat tahajut dalam berbaring, ia selalu menangis dalam diam. dari situ Habib tau jika hati Nayya sebenarnya rapuh. hanya saja ia tak mau menampakkan kepada orang tuannya ataupun orang lain.
Ingin sekali rasanya ia mengusap air mata istriinya tersebut, tapi keberaniannya sangatlah kecil, ia hanya selalu menatap dalam diam dan mendoakan yang terbaik untuk dirinya dan Nayya.
“Buk. Biar saya saja yang menyuapi Nayya...” Ucap Habib sopan. Ini adalah haru ke4 dimana Nayya menjadi istrnya.
Ibu Nayya menatap Habib tajam. “Mentang-mentang sudah jadi suami. Kamu mau apa ha?, mau cari perhatian. Saya bisa urus putri saya sendiri...!” Ucapnnya ketus.
Habib menatap Mertuannya sendu. “Tapi buk, saya ingin belajar merawat Nayya istri saya.” Jawabnya sopan nan Lembut.
“saya masih bisa, kamu tidak usah memakai dalih istri atau suami saat ini. Janhan lupa kalo kamu penyebab putri saya seperti ini...! “ Jawab Bunda Nayya atau ibu Ina bundanya Nayya.
Nayya yang mendengar itupun angkat bicara. “Bunda jangan marah-marah. Nanti keriput, kan mukanya jadi jelek.” Ucapnnya menggoda. Ia hannya mereraikan dan mencairkan suasana.
“Assalamu’alaikum...” Ucapnya khawatir. Ia masuk tanpa meminta jawaban orang didalamnya. Ia langsung menghampiri Nayya dan mengabaikan Habib yang ia lewati.
“Wa’alaikum salam. ini suara Abang Cakrakan bun?” Tanya Nayya semangat.
“Wa’alaikum salam. iya ini abang kamu yang bandel udah pulang.” Ucap Ibu Ina. Ia memeluk putranya begitu erat.
“Nayya sama Bunda apa kabar? Nggak apa-apakan?” Tanya Cakra khawatir. Ia memeriksa seluruh tubuh bundanya. Saat selesai ia menatap Nayya yang berbaring diatas ranjang matanya lurus menatap keatas atap. “Adek nggak kangen sama abang hmmm?” tanya nya.
“Kangen dong. Abang apa kabar?” Tanaya Nayya semangat. Andai tangannya tidak patah. Sudah dipastikan ia memeluk abangnya demngan erat saat ini.
Cakrapun memeluk Nayya erat. Ia sangat mengkhawatirkan Nayya saat orang tuannya mengabarkan hal ini. ia baru tau kemarin saat ia menelpon orang tuannya. Hp orang tuannya sellau sibuk dan tidak aktif membuatnnya khawatir. Awalnya ia merasakan sesuatu yang tak enak hati tapi tak tau apa. Ternyata semua itu karena Nayya. Ya dia sangat menyayangi Nayya.
__ADS_1
“Abang. Sesak, Nay nggak bisa nafas.” Ucap Nayya. Cakra memuluknya terlalu erat membuatnya tak bisa menarik nafas dengan lapang.
“hehe maaf yaa. Kakak khawatir banget sama kamu. Tapi kamu nggak apa-apa kan?” Tannyanya sambil melepaskan pelukannya. Ia sama sekali belum tau keadaan adiknya. Ia hanya tau jika adiknya kecelakaan dan ayahnya pun tak menjelaskan keadaannya Nayya membuat ia khawatir setengah mati.
“Nay nggak apa-apa kok bang. Abang sehat?” Ucap Nayya sambil tersenyum. Jujur, senyum itu palsu! Hatinya teriris sakit karena tak bisa lagi menatap wajah tampan abangnya, wajah Kakaknya yang selalu melindunginya. Tapi ia harus tersenyum untuk menguatkan keluargannya.
Cakra menatap adiknya heran. Faktannya adiknya sama sekali tak menatap wajahnya, matanya selalu memandang tempat lain. Karena penasaran, ia menadakan tangannya didepan wajah Nayya, ia menggoyangnya kekanan dan kekiri. Tapi Nayya sama sekali tak ada respon.
Dug... jantungnya terasa diremas, ia mencoba menatap Nayya dari ujung kaki dan kepala. Semuannya hampir diperban. Ia mencoba menepis semua kemungkinan buruk terjadi. “Abang sehat kok. Nayya bisa liat abang?” Ucapnnya takut. “Kaki sama tangan Nay kenapa?, “ Tanyanya lagi.
Nayya terdiam akan hal itu. Ini yang ia takut jawab, Cakra menatap Ibu Ina bundannya meminta penjelasan. Tapi hanya tangisan sebagai jawaban. Sampai ia memanggil Nayya meminta penjelasan.”Nayy.....” Ucapnnya serak.
“Allah minta buat Nayy beristirat buat ngeliat kok bang. Sama nyuru Nay istirahat sebentar.” Jawab Nayya bergetar.
“Maksud kamu?” Tannya Cakra bergetar, hatinya bagaikan dicubit mendengarkan hal itu dari mulut Nayya.
.
.
.
.
.
**Maaf yey udah lama enggak up haha. malah udah dikasih cap END. soalnya ada 3novel yang harus jalan.
__ADS_1
Novel ini kagak ada yang mau baca soalnya hohoho.... Like komen and vote yaa kalo mau lanjut**....