
Habib dan orang tuanya pun keluar dari ruangan itu. Pas berpapasan dengan ayah Nayya.. tapi ayah Nayya bahkan tak sudi menatap mereka. Ia melangkah masuk melihat istrinya sudah membantu Nayya berwudhu. Ia juga turut membantu Nayya memakai Mukena. Nayya melakukan sholat dengan tidur. Bunda Nayya dan Ayahnya berpelukan menatap putri mereka yang terbaring lemah. Muara sungai suci dimata mereka seakan-akan tak pernah kering 3hari ini. sungguh sakit hati mereka tak ada bandingan dari apapun didunia ini.
Dalam sholat Nayya pun menangis. “Yaallah. Hamba yakin jika engkau memberi cobaan ini kepada hamba karena hamba adalah orang yang terpilih. Hamba yakin ini semua adalah jalan yang terbaik. Maafkan lah semua dosa hamba YaAllah. Mungkin selama ini mata hamba selalu melihat hal yang Haram. Kaki Hamba berjalan dijalan yang salah dan tangan Hamba memegang hal yang tak harus dipegang. Mungkin kepala hamba selama ini hanya berisi dunia dan sedikit memikirkanmu. Hamba memohon ampunan kepadamu Yallah. Hamba mohon, Kuatkanlah Hamba menjalankan semua ujian darimu Yarrob. Engkau tempat hamba bersujut dan memohon. Jadi kepadamulah hamba bisa mengaduh dan meminta kekuatan. Aamiin” Doanya dalam Hati.
Seelah sholat ia bertasbih dan bersholawat. Ia melaksanakan sholat Dzuhur, meskipun sekarang sudah pukul 14:10. Ia juga tak lupa mengaji hafalan yang ia miliki. Ia bukanlah gadis yang hafal 30just. Tapi ia hanya hafal 17just tanpa sepengetahuan orang lain kecuali orang tua dan kakaknya.
...
“Bi. Habib mau minta maaf sama dia.” Ucap Habib didepan. Ia masih menunggu Nayya.
Orang Tua Habib tersenyum. “Ayooo. Kita masuk dulu kalo gitu.” Jawab abi Habib.
“Nanti kamu yang sabar aja ya...” Sahut Umi Ana. Karena ia tahu mereka akan mendapatkan penolakan lagi, entah berapa ribu kali mereka mencoba meminta maaf kepada orang tua Nayya. Tapi hanya tatapan sinis dan omelan panjang yang mereka dapatkan.
Habib dan orang tuanya masuk kedalam. Dapat ia lihat ibu Nayya dan Ayyahnya saling berpelukan dalam menangis. Entah, rasanya jantungnya sakit. Ia adalah penyebab semua ini
“Assalamu’alaikum Warahmatullahiwabaokatu...” Ucapnya sopan. Ia menundukkan pandangannya.
“Wa’alaikum salam.” Jawab Nayya. Sedangkan orang tuanya tidak sudi menjawab atau melirik mereka.
Habib tersenyum miris. “Boleh kami masuk?” Tannya lagi sopan.
“Biasanya juga kami larang masuk kamu tetap masuk. Nggak usah banyak basa-basi..” Ketus Uminya...
__ADS_1
“Bunda....” Peringat Nayya lemah. “Siapa ya?. Boleh kok, sini...” Lanjutnya untuk keluarga Habib.
“Nayya... Mereka keluarga yang udah bikin kamu kayak gini...!” Bentak ayah Nayya. Ia tak habis fikir untuk Nayya. Sedangkan Nayya sama sekali tidak tau siapa Habib.
“Ayahhh.... “ Ucap Nayya takut. Ia paling takut jika Orang tuannya marah ataupun murka kepada dirinya.
Sontak ayah Nayya sadar. Ia ingat Nayya tak tau siapa Habib, ia ingat jika Nayya tak dapat melihat. Ia mengelus puncak kepala Nayya. “Maafin Ayah ya. “ Ucapnya serak.
Sedanglkan Habib masih kaku didekat pintu, begitu juga keluargannya. sampai kyai Abu menepuk pundak anaknya. Habib segera mendekat kearah ranjang Nayya dan keluarganya. “Assalamu’alaikum Nayya...” Ucap Habib.
“Nggak usah basa-basi saya bilang... “ Sahut ayah Nayya ketus.
“Wa’alaikum salam.” Jawab Nayya.
“Kamu masih mau minta maaf kepada anak saya..!. kamu bisa liat putri saya buta..! cacat!. Bahakan masa depannya hancur gara-gara kamu!. Siapa yang akan mau menikah dengan anak saya? Saat dia cacat seperti ini ha?” Suara ayah Nayya menggema diseluruh sudur ruangan kamar Nayya.
Habib hanya menundukkan kepala. Jika ia dikatakan sama sekali tak merasa bersalah, maka salah besar. Jika menang ia tak merasa bersalah, tidak mungkin ia masih berada disini dan selalu meminta maaf. Begitu juga dengan kyai Abu dan umi Ana, mereka tak bisa menjawab apapun. Faktannya apa yang diucap ayah Nayya adalah kenyataan, bahkan sangat nyata..!
Ayah Nayya menatap Habib sinis. “Kamu congkel mata kamu, kamu patahkan kaki dan tangan kamu, kamu pecahkan kepala kamu. Baru saya bisa maafkan kamu.” Ucapnya kasar saat melihat Habib dan keluargannya tak bisa menjawab..
“Ayah kok ngomong gitu?” Sahut Nayya lembut. Ia tau ayahnya saat ini sangat marah, tapi semua yang dikatakan ayahnya ada benarnya.
“Kamu nggak usah belain mereka Nayya. Kamu denger Bunda, gara-gara mereka kamu nggak bisa liat lagi, gara-gara mereka kamu seperti ini....!” Ucap Ibunda Nayyakeras...
__ADS_1
Tangan Nayya terangkat meraba dimana keberadaan ibunya. Cepat-cepat ibunya menggapai tangan Nayya. Nayya menggenggam tangan ibunya lemah. “Bunda nggak boleh ngomong kayak gitu. Meskipun tangan kanan Nayya patah, tapi Nayya masih punya tangan kiri buat menggenggam tangan bunda kayak gini. Meskipun kaki kanan Nayya patah, tapi kaki kiri Nayya masih sehat. Mata Nayya memang nggak bisa liat wajah Ayah sama Bundah lagi. Tapi Nayya masih bisa liat meskipun dalam ingatan Nayya. Nayya masih sangat bersyukur, karena Allah memberi kesempatan buat Nayya sebelumnya bisa melihat. Banyak yang diluar sana memang dari lahir nggak bisa liat dunia ini. banyak yang lumpuh sedari lahir. Jadi Nayya kuat kok.” Ucapnya lembut. Tapi jujur saja ia sama sekali tak bisa tak menangis.
“Kalian liat!. Dalam sakit kayak gini aja anak saya masih bisa membela kalian. “ Ucap Ayah Nayya sinis menatap Habib.
Kyai Abu dan Umi Ana menatap Nayya sendu. Mereka sungguh tersihir akan kalimat yang keluar dari Nayya. Sungguh hati Nayya sangat mulia, bahkan dengan keadan seperti ini ia masih bisa berkata untuk selalu bersyukur.
Begitu juga Habib. Ia tak berani menatap Nayya, karena memang menatap Nayya yang bukan mahromnya dilarang. Mekipun begitu, itu tak menjadi penghalang untuknya tidak kagaum akan kemulyaan hati Nayya.
“Saya akan bertanggung jawab atas Nayya. Saya akan mencongkel mata saya. Saya akan mematahkan kaki dan tangan saya, saya akan memecahkan kepala saya. Asalkan bapak, ibu dan Nayya mau memaafkan saya.” Jawab Habaib tulus.
“Bagus. Jika begitu lakukanlah.” Jawab Ayah Nayya sinis
Habib mengangkat kepalanya menatap ayah Nayya. Tapi matanya teralihkan menatap wajah pucat Nayya yang berucap. “Jangan, saya tidak mau kamu cacat. Cukup saya, kamu masih punya orang tua yang harus kamu bahagiakan. Kamu masih punya dunia untuk orang lain. ayah tolong maafkanlah mereka.”
Ayah Nayya menatap anaknya sedih. Ia bahkan jatuh kelantai, hati anaknya sangat mulia. “Nayya, ayah harus gimana lagi nak?” Ucapnya serak.
“Nayya masih punya mata Ayah dan mata Ibu buat nunjukin jalan Nayya. Masih punya tangan Ayah dan ibu buat menghangatkan Nayya. Semuannya Nayya masih punya Ayah, Cuma penglihatan saja Nayya yang hilang.” Jawab Nayya.
“Jika ayah dan ibu mati siapa yang jadi mata kamu?. Siapa yang jadi penghangat kamu? Siapa yang gurusin kamu?.” Tanya ayahnya serak.
“Masih ada Allah Yah.... ingat Allah selalu bersama kita. Masih ada bang Cakra juga.” Jawab Nayya menangis. Ia tak kuat membayangkan orang tuanya pergi dari sisinya.
“Tidak semudah itu nak. Tidak...” Jawab Ayahnya menangis. Ibu Nayya memeluk suaminya erat untuk saling menguatkan..
__ADS_1
“Saya yang akan merawat Nayya. Saya kan tanggung jawab.” Sahut Habib disela-sela pembicaraan.