
Habib tertegun. “Tapi mas nggak enak. Kitakan sudah mahrom dek. Mas udah janji bakal jadi mata kamu buat ngeliat, tangan mas akan jadi tangan kamu, dan kaki mas juga kaki kamu. Mas mau nebusin semuannya. Bukannya Nayya nggak ngizini mas buat berjanji, tapi mas harus berusaha nepatin apapun yang mas tekatin. Mas mau tepatin semuanya.” Jelas Habib. Memang seperti itu sebenarnnya yang ia inginkan. Bukannya ia seorang lelaki yang mesum, hanya saja, ia memang sudah bertekat mengurus Nayya dengan tangannya sendiri. Ia sudah menganggap Nayya sebagai tanggung jawab nya.
“Tapi Nay malu mas.” Jawab Nayya gugup.
“Nggak apa-apa. Mas paham, inikan memang pertama kali, nanti kalo udah sering nggak kok.” Ucap Habib lembut.” Yaudah. Ayo, mas juga mau istirahat, mas juga capek.” Lanjutnya. Sedangkan Nayya hanya pasrahkan hidupnya pada suaminya.
....
Habib menelan saliva kasar, ternyata membantu Nayya membersikan diri bukanlah hal yang mudah, tak semudah yang ia pikirkan. Ia mengompres seluruh tubuh Nayya dengan telaten. Tangannya gemetar, ia berkali-kali merapal istighfar. Tubuh Nayya sangat putih dan bersih, membuktikan jika tubuh Nayya sangat terjaga dari matahari, rambut panjangnya tergerai indah. Ia belum bisa mandi yang seharusnya, karenanya hanya dikompres saja. Karena tubuhnya yang masih banyak perban.
Jantung Habib loncat lancit, bagaikan lombah lompat jauh, ia bahkan menahan nafas saat ini. Sesekali ia tak mau menatap Nayya. Takut lepas kendali, tapi bukankah Nayya istrinya?, tapi saat ini bukanlah hal yang tepat!.
Sedangkan Nayya hanya menggigit bibir bawahnya erat. Wajahnya merah, bahkan sangat merah, ia sangat malu akan hal ini. ia bahkan menahan nafas. Huh pasangan ini memang sangat menggemaskan.
“Aduh...” Pekik Nayya sakit saat Habib memakaikan bajunya, ia memasangkan lengan baju ditangan kanan Nayya.
Habib langsung kaget,” Astagfurullah. Maaf dek, Mas nggak sengaja, yang mana yang sakitnya?. Sini mas liat.” Ucapnya panik. Ia menyentuh tangan kanan Nayya lagi.
“Mas jangan dipegang., sakit.” Teriak Nayya pelan. Bukannya membuat tak sakit lagi. Habib malah membuat tambah sakit.
“Aduh. Maaf.” Ucap Habib gugup.
Nayya masih menahan sakit ditangan kanannya. “Nggak apa kok mas. Nayya yang seharusnya minta maaf. Nayya udah bikin Mas repot.” Ucapnya merasa bersalah. Ia merasa telah membuat Hidup Habib hancur. Ia harus mengurusi gadis cacat seperti dirinya.
Habib merapikan baju Nayya yang belum sempat dirapikan. Ia memegang tangan Nayya tulus. “Adek nggak ngerepotin mas. Andai aja mas nggak buat Nay kayak gini. Mungkin Nayya masih bisa liat dan melakukan semua ini sendiri.” Jawabnya.
“Tapi Nayya nggak bisa jadi istri yang ma—“
Habib meletakkan jari telunjuknya dibibir tipis Nayya. “Adek Nay udah jadi istri Mas udah jadi Berkah dari Allah. adek udah menyempurnakan agama Mas. Jadi jangan mengucapkan semua hal seperti itu. Mas bakal lakuin yang terbaik buat adek.” Jawabnya tulus.
“Makasih ya mas udah mau nerima Nay cacat ini.” Ucap Nayya berat. Siapa yang ingin menikahi gadis buta? Patah tangan? Kaki juga? Wajar saja bunda dan ayahnya mau menikainya dengan orang yang membuatnya seperti ini.
__ADS_1
“Dan mas juga mau ngucap terimaksaih sama adek. Karena adek nggak benci mas, dan beri mas kesempatan buat tanggung jawab.” Jawab Habib cepat.
“Udah. Adek istirat dulu ya. Nanti mas bangunin kalo udah magrib. Mas juga mau istirahat.” Lanjut Habib. Ia mengelus rambut panjang Nayya yang terurai cantik. Ia mulai mengangkat dan menggendong Nayya lembut menuju kasur mereka. Kasur itu king size yang cukup mewah, itu baru Habib beli saat ia sudah menikah dengan Nayya.
Nayya hanya diam dan berbaring. Andai ia bisa berteriak memaki dirinya yang tak berguna. Tapi ia belajar untuk kuat ditengah gelap hidupnya saat ini. seperti malam, ia percaya, meskipun malam begitu gelap. Tapi tuhan ciptakan bintang untuk membuat warna gelap itu menjadi idaman setiap pecinta malam. Dan ia juga akan seprti itu. Ia akan menunjukan jika ia masih bisa bersinar meskipun ia hidup dalam kegelapan.
Tak lama Nayya pun terlelap dalam mimpi. Ia tertidur pulas memasuki alam mimpi. Dimana ia bisa melihat apa yang menghampirinya.
Tapi tidak dengan Habib. Ia mentap wajah Nayya sedari tadi. Ia berbaring disamping Nayya. Air matanya jatuh saat mengingat ia lah penyebab Nayya seperti ini, ialah yang merenggut cahaya kehidupan Nayya. Betapa sakit hati Nayya saat ini. Ia bahkan tak bisa membayangkan jika dirinya diposisi Nayya, apakah ia mampu bertahan hidup? Apakah ia masih ingin hidup?
Tanpa sadar ia bisa mengendalikan tangannya, ia menyentu pipi Nayya lembut. Ia menariknya lagi saat Nayya menggeliat. “Maafin mas ya Nay.” Gumamnya piluh.
Semakin larut ia dalam pikirannya, ia bahkan tertidur dengan posisi memandangi wajah Nayya.
...
“Dek... ehy, bangun, kita sholat magrib yuk...” Ucap Habib lembut, ia menepuk-nepuk pelan pipi Nayya.
“Adek sudah bangun. Ayo kita sholat.” Ucap Habib..
“Ayo mas.” Jawabnya serak. Tangan kirinya bergerak untuk mengucek matanya dan menutupi mulutnya yang masih menguap.
Habib terkekeh melihat tingkah Nayya yang seperti anak kecil. Dengan sigap ia menggendong Nayya menaiki kursi rodanya.
“Ah. Kaki Nayy sakit mas...” Ucap Nayya meringis. Karena Habib menggendong dan memegang kaki Kirinya terlalu erat.
Habib meringis. Ia lebih memegang dengan lembut. Ia meletakkan Nayya dikursi roda.
“Maaf, mas nggak tau. “ Jawabnya merasa bersalah. Sedari tadi ia menggendong dan membantu Nayya selalu membuat Nayya kesakitan dan meringis.
“Nggak apa kok mas. Ayo kita sholat, keburu habis nanti.” Ucap Nayya. Ia menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang masih berdenyut dikakinya.
__ADS_1
Habib tau jika Nayya menahan sakit. Ia memegang kaki kiri Nayya lembut. “Maafin mas ya.” Ucapnya lagi.
“Udah mas nggak apa. “ ucap Nayya memaksa tersenyum.
Habib menatap Nayya miris. Masihkah ia memaksa tersenyum diselah sakit? Didepan orang yang membuatnya seperti ini? hati Habib seperti dicubit. Entah, ia harus apa. Tapi semua yang dilakukan Nayya mampu membuatnya terpesona dan kagum.
“Mas...” Panggil Nayya saat Habib tidak menjawab.
Habib langsung tersadar dan berdiri. “Ayoo kita ambil wudhu.” Ucapnya .
Habib menorong kursi Nayya menuju kamar mandi. Lagi-lagi ia menguji imannya. Ia harus membantu bidadari berwudhu, ia membasuh seluruh bagian tubuh Nayya yang untuk berwudhu lembut. Saat selesai ia juga yang mengambil wudhu.
Habib kembali mengimami Nayya. Nayya sholat diatas kursinya. Air matnya mengalir saat ia tak mampu untuk melakukan gerak sholat, dia sangat rindu rukuk dan sujud.
Saat Habib sudah salam, ia melakukan wirid dan berzikir. Saat selesai, ia pikir Nayya sudah tertidur. Tapi Nayya masih mengikuti wirid dan zikirnya. Senyumnya mengembang. “Dek.” Ucapnya lembut.
Nayya menggerakkan keplanyanya. Ia tersenyum. Habib mendekat dan mencium kening Nayya lembut. ia mungkin tak mencintai Nayya, tapi entah mengapa, rasanya ia sangat suka mencium kening Nayya, seperti merasakan kedamaian dan kebahagiaan tersendiri.
Sedangkan Nayya masih saja diam tak bergemim. Mau melawan? Mulihat saja ia tak mampu. Tapi perhatian mereka teralih kepada didepan pintu..
Toktoktok... Assalamu’alaikum...
.
.
.
.
Beri like komen ya.
__ADS_1