Istri Butaku

Istri Butaku
Tamu


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak yah...!


.


.


...Ada yang suka namun diam. Bukan karena tak memiliki nyali, tapi karena tau jika diri ini tak pantas.... NVS 31......


.


.


.


Sudah satu bulan lebih hidup Nayya semakin tentram dan tenang. Semuanya berjalan sangat indah. Habib suaminya semakin lembut dan baik meski kadang ia sering disakiti dan juga dihina. Karenanya Nayya lebih memilih sholat dirumah saja dan juga tak terlalu dekat degan Aisya. Jujur Nayya wanita yang bukan wanita baik.


Jika wanita baik akan selalu datang pada seseorang yang tak menyukainya, memberikan senyum tulus dan juga selalu diam atau mendekat tanpa takut. Nayya tidak, ia sosok yang bukan begitu. Ia jika tak suka yah dijauhi.


Baginya Jika didekati, namanya cari penyakit. Bisa dikatakan jika Nayya tak akan senyum jika orang itu tak pantas untuk disenyumi. Bukanya dia sombong, hanya saja ia sosok yang tak suka menjilat.


Ia lebih suka menikmati hal yang baik menjauhi hal yang bisa membuat ia sakit dikehidupan berikutnya.


Dan Lagi pahi ini beda cerita. Sedari subuh Habib bangun sebelum solat dan sesudah solat tadi sangat aneh, Ia muntah-muntah terius membuat Nayya bingung jadinya. Ada apa sedang suaminya? Kenapa tiba-tiba begini? Dengan mata yang tak mampu melihat ia merabah sekeliling dimana wastafel ada.


Disana ia bergumam.”Mas kamu dimana? Kamu tidak apa-apa kan?”Tanyanya khawatir. Terdengar lirih karena tak bisa membantu barang sedikitpun.


Habib yang sedari tadi muntah-muntah itupun menghela nafas berat dan bersandar dibawah wastafel.. “Tidak Uhewehh..”


Bicara saja ia tak mampu membuat ia kembali berdiri dan memuntahkan isi perutnya. Semua yang ia makan keluar tanpa sisa hingga kakinya melemah dan tubuh yang terasa memberat. Ia bahkan tak kuat menyangga tubuhnya.


Nayya mendengarnya merinngis dibuatnya. Putri tak ada dirumah, hanya ada mereka berdua.. Karena hari sudah pagi jadi Putri pergi ke dapur umum membantu para pengurus makan. dan bik Loli pun tak ada, ia pergi kepasar membeli perlengkapan masak untuk dapur setelah memasak dan membersihkan rumah tadi. I


Itu membuat ia merabah dengan tongkatnya memilih pergi ke dapur. Segera ia merambah apa yang bisa ia ambil dan menciumnya untuk mengetahui apa itu. Ia memang suka didapur dengan Putri jadi setidaknya ia tau dimana saja letak letak yang ia cari.


Ia menemuka Teh dan gula dan gelas, jadinya ia mengambil air panas yang sudah ia masaki dipenghangat air Batter Woiler..


Ting.. alatnya berbunyi membuat ia menekan yang ada namun tak sengaja tanganya yang terkena.


“Hu...ss” Ujarnya meringis dikalah itu. Ia mengibas-ngibas tangannya namun tak terlalu peduli. Ia kembali menaruh Gelas itu ditempat yang benar dan merabah lagi.


Ia mengibas tangan lain dan menaruh air panas itu digelas berisi Teh hingga merasa cukup ia mematikanya dan mulai mengaduknya.


Airnya hanya setengah dan ia kembali mencari piring atau nampan dan mencari gelas lain. Ia kembali menaruh air hangat sepertiga disana dan juga menaruh air dingin supaya angat kuku.


Dengan tangan yang masih perih ia menaruh gelas itu diatas piring dan melangkah menuju dimana Habib berada. Tuhan sangat mencintai hamba-hambanya. Membuat Nayya yang buta menjadi peka dan juga ingat jalan. Dengan lelah dan hati-hati ia berjalan menuju kamarnya.”Mas..”Gumamhya disana.


“Yah..”Gumam Habib terduduk dikamarnya memegang perutnya yang sakit. Itu membuat Nayya mendekatinya dan merabah sekeliling. Dengan lemah Habib memegang tangannya dan mengajaknya duduk.


Nayya memberikan minum pada Habib. ”Minumlah supaya kamu tidak mual lagi.” Ujarnya. Dengan senyum Habib menerimanya dan meminum air putih yang sedikit hangat terlebih dahulu lalu menatap Teh membuat ia meminumnya juga.

__ADS_1


Manisnya pas dan enak...


"Terimakasih.”vUjarnya, Nayya mengangguk dengan senyumnya disana. Sesekali ia mengusap tangannya yang perih yang sudah bisa ia pastikan jika jari-jarinya sekarang pasti sudah memerah akibat air tersebut.


“Bagaimana Mas? Mas sudah baikan?”Tanya Nayya disana mengusap tangan Habib polos hinga mata Habib menemukan tangan Nayya yang memerah dan juga Nampak sakit.


“Astaghfirullah. Tangan kamu kenapa Nay?”Tanyanya mengenggam tangan Nayya dan menyentuhnya membuat sang empu meringis. Nayya bungkam.


Habib menatapnya nanar dan mengambil kotak obat dengan gemetar. Ia pergi kebelakang dan mencari pasta gigi dengan cepat menghampiri Nayya lagi.


Ia mengolesnya ditangan Nayya membuat Nayya disan tersenyum merasa tangannya dingin.”Kamu kena air panas karena mas yah? Karena mau bikin air buat mas?”Tanyanya disana dnegan mata berkaca-kacanya. Suaranya bahkan hampir menangis.


Nayya disana menggeleng cepat.”Ini namanya luka untuk mendewasakan diri.”Ujar Nayya tersenyum manis.”Kata ayah kalo belum luka kita belum bisa, ibaratkan kalo belajar bersepeda jika belum luka yah belum bisa. Ingat luka sebagai pengingat jika berjuang itu sakit. Jadi jangan mudah menyia-nyiakan suatu hal.”Ujarnya terkekeh.


"Sama dengan kebutaan dan tak dapatnya aku melihat, aku memang tak dapat melihat, namun bukan berarti aku tidak bisa dan tidak boleh melakukan apapun. Aku yakin aku bisa karena Allah mempercayai ku menjadi sakit yang lebih kuat dibanding wanita lain. Atau bahkan kau lampu dan sakit parah sekalipun . karena aku berbeda bukan berarti aku tak mampu.. Karena bagiku Mampu itu untuk orang yang berusaha.."Gumam Nayya lagi.


”Jadi habisi yah teh dan airnya. Kan aku butuh perjuangan bikinnya.” Ujarnya.


Habib terkekeh disana dan mengusap kepala Nayya. Inilah yang membuat ia mencintai Nayya.. Baginya tak ada wanita yang sehebat Nayya diluar sana.


jika bagi orang lain Nayya yang beruntung karena bisa bersamanya, tapi tidak baginya, baginya yang sangat beruntung itu dia bukan Nayya


“Mas kenapa muntah-muntah? Mas makan apa semalem, atau gara gara apa?”Tanya Nayya disana dnegan miris mendengar suara suaminya yang Nampak sangat lemah. Mengusap kepalanya saja Nampak tangannya sangat dingin.


Habib menggeleng lemah dan menarik lembut kepala dan mencium rambut Nayya. ia menciumnya “Emm nggak tau.. mas enggak tau kenapa tiba-tiba aja..”Ujarnya menghela nafas.


Nayya menarik ra6butnya.”Jangan ditarik mas.. kenapa si.”Ujarnya menarik rambut yang dipegang habib.


“Assakamu’alaikum...!!”


Suara dari depan rumah membuat Habib dan Nayya disana tertegun. Nayya pun melepaskan Habib namun Habib kekeh memeluknya.


“Wa’alaikum salam..”Ujar mereka didalam serentak meski tak juga berdiri dan menyambut.


“Ih mas lepas dulu. Itu ada tamu, coba liat deh siapa, siapa tau dia penting.”Ujarnya Nayya disana. Ia dapat mendengar suara Habib yang menghela nafas kasar. Lalu merasakan pelukanya melonggar disana. Nayyapun berdiri mencari hijabnya.


Uhweekk..


kembali mual Hbaib membuat ia pergi kekamar mandi lagi. Nayya bingung mau menyusul suami atau orang diluar sembari mengenakan hijabnya..


”Tokk.. Tok.. Tok.. Assalamu’alaikum Niang... Guss..”Teriak dari luar membuat Nayya kembali memijit pelipisnya.


“Yah sebentar..”Teriaknya dan pergi menemui Habib. Namun Habib sudah keluar dan langsung memeluknya.


“Kamu tidak apa-apa?”Tanya Nayya mengusap pipi Habib membuat Habib disana kembali melemas dan memeluknya erat.


“Mau kerumah skait?”Tanyanya Nayya disana dengan lembut memijit pelipis Habib lembut mengusap pipinya tanpa menghiraukan tamu diluar..


Habib menggeleng kecil.”Tidak perlu Nay. Mungkin Mas hanya salah makan saja, soalnya semalam mas terlalu banyak makan syomai dan Es krim.”Ujarnya. Nayya menghela nafas dibuatnya.

__ADS_1


“Kan sudah Nay bilang. Mas si ngadi-ngadi. Masa makan syomai campur Es krim.”Ujarnya mendengus. Kan kacang pedas dicampur manis mana bisa begitu .


Habib terkeleh.”Mas kepengen aja yang beda nay. Tapi enak loh. Nanti mas buat lagi yah.”Ujarnya disana membujuk dengan mautnya.


“Enggak. Nanti mual lagi dan muntah lagi. Mana ada enak kayak gitu.”Ujar Nayya menentang Habib yang entah kenapa manja.


“Dikit aja Nay. Mas kepengen yah.’Ujarnya penuh binar menatap Nayya yang Nampak menentang apa yang ia inginkan.


“Enggak mas. Engak boleh, kan Mas masih sakit. Mending makan yang lain aja.”Ujarnya Habib disana mendelilk bagaikan anak kecil yang merajuk meminta mainan namun tak dikasih.


“Yaudah. Mas cium Nay aja gimana?” Godanya.


Kini Nayya yang mendelik. ”Sejak kapan mas kayak gini? Mana pakek izin lagi? Biasanya nyosor aja tu.”Ujarnya terkekeh.


Habib mencebik.”Emang engak boleh Nay?”Tanyanya disana.


Nayya pun memutar bola mata malas. Habib terkekeh dan menghujami dirinya ciuman dipipi semua inci wajahnya hinngga dibibir, disana cukup lama.


Kan sudah Nayya bilang dari awal.. Tidak diizinkan juga nyosor...,


Hingga satu suara yang mengagetkan mereka.


“Oh jadi karena ini enggak ada sahutan hmm?”Tanya disana membuat nayya dan Habib kaget. Habib pun disana melepas ciumanya dan menyembunyikan istrinya. Istrinya hanya mengenakan baju tidur dan hijab biasa jadi tak pantas untuk dilihat orang yang bukan mahrom.


“Oh astaghfirullah Umi ngagetin aja.”Ujarnya kaget disana. Namun ia lebih kaget lagi dikalah melihat orang dibelakangnya yang tak lain adakah ayahnya khumairo dan ibunya, disana juga ada Khumairo yang menatapnya nanar dan juga kiai Abu.


Ia semakin merapatkan Nayya dalam lindungannya. “Kalian apa-apaan si main masuk aja? Tidak baik dan tidak sopan..!”Ujarnya cukup marah disana. Entah kenapa Moodnya berubah dipagi ini,.


Semua cukup terkejut melihatnya. Baru kali ini melihatnya marah.”Kalian si enggak bukain pintu. Sibuk mesra-mesraan” Ujarnya si Asya sinis.


Nayya diam saja disana. “Kan jika kami diam itu tandanya tidak menerima tamu, lagi pula kau apapun kami lakukan tidak ada hubungan dengan orang lain. Toh kami juga sudah SAH...!”Ujar Habib masih kesal disana.


“Lagian kenapa pagi-pagi begini kemari?”Tanyanya lagi dengan helaan nafas.


Jujur Habib memang sosok lembut tapi menyangkut hal Pribadi ia cukup tertutup. Ia bahkan tak suka jika kamarnya dilihat banyak orang, ditambah ia sedang bermesraan dengan istrinya.


"Ini sudah siang Bib... "Ujar Umi Ana menatap Habib dengan kekehannya.


Oh Habib terlalu banyak muntah dan lemah hingga tak sadar sekarang sudah jam 10pagi...


Semua menatap habib dengan tajam dan mencuri-curi menatap Nayya namun hanya terlihat ujung jilbab saja.


“Ada yang ingin kita bicarakan Habib. Bisa kita bicara” Ujarnya sosok dingin disana, yang tak lain adalah ayahnya Khumairo. Anwar.....


.


.


.

__ADS_1


Jika masuk 20Besar di Rank aku bakal doble bahkan TriUP.... Malam ini...!


__ADS_2