
Semua mungkin menganngap jika dipart kemarin itu terlalu banyak epilog. Namun pada dasarnya apa yang aku bahas tentang Adam dan Hawa tentang pilihan dan juga kesengsaraan itu adalah Clue untuk pertemuan dan bab berikutnya hehe.. aku engak mungkin bikin bab yang enggak penting jadi mangat.
Tukang copy paste dan jiblak silahkan mundur..! saya nulis pakek otak dan tenaga.... Silahkan baca jngan bikin saya tambah banyak dosa.
.. ...
Semalam Nayya kembali tidur dikamarnya Putri. Bukan karena tak mau pulang, tapi semalam Habih pulang lewat dari jam sepuluh malam. Putri yang khawatir akan Nayya mengajaknya untuk mnenginap bersamanya saja. Nayya yang tak mau sendirian itu terima saja. Lagipula jika ia bisa melihat ia lebih memilih sendiri tapi karena ia buta makanya ia butuh pembimbing.
Ditambah ada pristiwa yang tidak mengenakkan.
Sakit yah.. hehe.. Sakit sekali yah ketika kita hanya menjadi benalu. Tapi lucunya Nayya malah terlekeh dan mengangap jika Tuhan sedang memberikan dirinya rasa jika semua makhluk dimuka bumi ini butuh manusia lain. Tak ada yang kuat dan taka da yang manidri lagi ketika Tuhan berkehendak..!
“Niang mau pulang ke rumah belum?” Tanya Putri menyiapkan makan untuk Nayya. ia memang tidur dibelakang ndalem tempat dekat para tukang masak para santri. Disana ada banyak tukang masak lainnya juga si atau para ustadza yang tinggal disana.
Nayya yang baru diberi makanan itu pun menghela nafas.. ia menggeleng. “Aku mau ke danau saja lah.. aku mau makan disana.”Ujarnya. putripun menganguk saja.
" Putri antar yah.”Ujarnya menawarkan bantuan. Disana Nayya tak banyak bicara. Ia hanya kenal beberapa orang saja.
Nayya mengangguk. “Yasudah.. ayo..”Ujarnya. putripun mengangguk sembari menaruh sarapan Nayya ditempat makan. Dengan santai dan juga cukup beberapa waktu mereka sampai. Disini masih pagi disaat dimana para santri sedang sibuk mandi dan beres beres. Dan udaranya masih sangat segar.
Nayya menghela nafas merasakan dinginnya pagi ini, “Niang maaf yah Putri tidak bisa menemani. Soalnya mbok Loli yang ngurusin antrian makan dan penjaganya enggak ada. Niang disini saja tungguu yah, nanti Putri jemput.,”Ujarnya.
Nayya pun mengangguk kembali disana. “Terimakasih Put.”Ujarnya lembut. Putripun disana tersenyum dan mengangguk. Ia kagum akan Nayya yang bahkan tak Nampak sedih sama sekali akan masalah ini, bahkan cerita saja ia tidak. Ia bingung kenapa Nayya yang bisa memendang semuanya dengan baik.,
Nayya menghela nafas dan memegang bekalnya tadi. Itu sama dengan bekal para santri biasanya jika sarapan dirumah itu beda.. ia menghela nafas ketika memakan makanan itu.. rasanya sangat beda dan juga emmm. Enak si tapi bagaimana bisa Tempenya direbus? Ini seperti tempe zombie..
Nayya menghela nafas lalu mencicipi makanan lain, dan ia mendapatkan kangkung.. Sepertinya. Tapi kenapa rasanya manis? Apa mengenakan kecap? Ia kembali mengambil yang lain. Dan ternyata ini lebih baik.
__ADS_1
Ikan teri samball.. cukup, ini enak dan juga terasa nikmat karena saus sambalnya sangat lezat.
Ia menghela nafas. Nayya sosok yang sedang gunda itu merasa semua makann ini layak seperti makann zombile dan tidak berpengaruh dilidahnya. Ia tak bisa menelannya lagi sungguh. Ia menghela nafas dan memakan saja yang bisa ia makan dan ia meletakkan makan itu disisinya. Ia sosok yang tidak kuat jika tidak makan, ia tidak suka sakit kepala dan lemas. Ia memang tidak mengidap mag, tapi tetap saja ia akan lemah jika tidak makan.
“Nayya..” Suara itu... itu suara Habib membuat Nayya disana tertegun dan mengerjab. Dia dibelakang Nayya.
“Yah..”Gumam Nayya dan mengambil minumnya. Susu coklat hangat yang disediakan oleh putri.
Disana Nampak Habib dengan kantung mata yang hitam dipinnggiran matanya,. Penampilanya cukup berantakan dari biasanya.. ia pun menghampiri Nayya dna memeluknya erat. Nayya yang merasakanya hanya diam dan memejamkan matanya, berat sekali yah rasanya jika menyangkut perasaan. Habib disana menangis diperlukan Nayya.
Semalaman ia tak bisa tidur memikirkan hal ini. Ada banyak yang harus ia pikirkan. Tadi ia menemui Putri mencari Nayya dan Putripun mengatakan Nayya disini, segera Habib kesini untuk melihat Nayya. sungguh Habib merasakan hatinya sangat hancur saat ini.
“Nay... kita bicara yah..”Ujarnya mengusap pipi Nayya dan mencium kepala Nayya. "Maafkan mas yang belum bisa jadi suami yang baik buat Nay... maaf.”Lirihnya disana tepat diwajah Nayya..” Mas cinta Nay.. jangan hukum mas Nay tolong.”Ujarnya sangat lirih bahkan suaranya terdengar sangat pelan dan juga piluh. Bagaikan dirinya menyimpan pulihan duri dilidahnya.
Ia tak sanggup Nayya menghindari nya terus menerus.
Habib mendadak mencelos menatap Nayya. ia harus bicara apa? “Tidak..” Gumam Habib disana lirih lagi. “Mas hanya mau bilang jangan tinggalkan mas yah.. Mas sayang sama Nayya.. Jangan pergi yah.. Mas sayang Nayya.. Maafkan mas.”Gumamnya dengan air mata yang jatuh lagi.
Nayya disana terkekeh mendengarnya lalu mengangguk. “Nay udah telepon ayah sama bunda. Insyallah nanti dia kesini buat jemput Nay.”Ujarnya. habib menegang ditempatnya dibuatnya.
Nayya disana mengusap rahang Habib yang didepannya dan menjatuhkan air matanya. “Nay benci dengan orang ketiga mas.. sangat membencinya.. Nay tidak menentang poligami tapi Nay tidak mau dipoligami.” Ujarnya lalu mengambil tangan Habib dipipinya dan menaruhnya didadanya. “Disini sakit sekali.”Ujarnya.
Habib disana diam menangis mendengarnya. “Apalagi mas mau menyembunyikan pernikahan Mira dan kamu karena tidak mau menyakitiku mas.. itu lebih sakit lagi hiks hiks,.” Gumamnya disana dengan lirih.. ia menangis tak tertahan.
Habib menegang dibuatnya.. “Ma-maksud kamu apa Nay?” Gumamnya tertegun.
Bahkan aliran darah ditubuhnya terhenti dibuatnya. “Nay mau pergi kemana? Kenapa bawa bunda ayah kesini? Rumah Nayy disini bukan sama mereka lagi Nay.. jangan pergi..”Gumam Habib sangat lirih. Air matanya terus berjatuhkaan dengan rasa yang tidak enak.
__ADS_1
Nayya disana menggeserkan tubuhnya hingga makan disisinya jatuh dan minumnya tumpah. "|Nay denger ucapan mas dengan Abi Abu dan kakaknya Khumaiuro semalam.. Nay dengar semuanya mas.”Ujarnya lirih dan menutup rapat matanya. Habib kembali menegang disana. Ia merasa jika tubuhnya melemah dan darah yang berhenti berdesir..
“ Habib tidak mau menikah lagi abi,.!! Biarlah Habib dan Nayya tinggal dirumah kecil asal kami bahagia...!” Ujarnya disana lirih dan menutup wajahnya nanar disana. Ia dipaksa menikah kagi membuat ia bingung. “Habib tidak mau pesantren ini digusur tapi bagaimana lagi? Habib bingung.”Ujarnya nanar lagi.
“Jangan risau... kalian bisa menikahi Mira tanpa sepengetahuan istrinya saja. Dia kan buta..”
Ucapan itu membuat semua orang terdiam. Habib menatapnbya dengan tatapan tajam dan datarnya. Itu suara Aron dan itu membuat Habib diam. “ Yah istrimu buta dan pastinya tidak akan ada yang tau. Lagipula kan Khumairo dirumah kami jadi bisalah kami menyembunyikan Mira dari kalian dan nanti jika anaknya lahir baru kalian bilang jika anaknya itu anakmu dan kalian bercerai..”Ujarnya lagi.
“Gila..!!” Teriak Habib disana menatapnya tajam lagi. “Tidak.. aku tidak akan mau, kau pikir semua itu hanyalah permainan. Ini pernikahan dan ini bukan suatu perkara semudah itu..!” Ujarnya membentak.
Aron segra mengambil semua berkasnnya. “Fine. Aku hanya memberi saran dan kau mengambil pilihan. Jika kalian tidak memberi pilihan maka besok pagi pesantren akan digusur jadi bersiaplah yah,.”Ujarnya disana tersenyum lalu pergi meninggalkan semua orang yang ada. “ lagipula istrimu tidak akan tau Habib.”Gumamnya.” Kami hanya butuh namamu. lagi pula aku bisa membuat hal yang keji untuk istrimu jika kau masih juga menolak Mira. ”Ujarnya lagi.,
Habib diam mendengarnya.. “Yah aku mau..!! tapi janji jangan bilang pada Nayya..!” Ujar Habib disana.”Kalian hanya butuh namaku bukan? Aku beri namaku tapi jangan pernah hancurkan pesantren ini dan istriku..!!!”
Tanpa Habib sadari jika Nayya mendengar semuanya. Dan sekarang Habib menangkup wajahnya disisi Nayya yang diam dengan nanarnya. Nayya disana tersenyum manis menatapnya namun tatapan hampa dan kosong. Ia memeluk Nayya dan bergumam.
“Tidak akan.. aku tidak akan mau kita cerai apapun caranya Nay. Aku sayang kamu.”Ujarnya lirih. “Tolong pahami aku Nay. Tolong.”Gumamnya lagi lirih menahan sesak didadanya.
Sungguh ia tak mau berpisah. Nayya disana ter ennyah dibuatnya. Ia tau jika Habib mengatakan semua itu dengan tulus, tapi hatinya terlalu sakit untuk diduakan, ia tak akan mau diduakan sungguh.
Alasanya karena masa lalunya, Cinta pertama yang menyakitinya dan berakhir dengan sekarang jika ia bertekat dengan hati yang tak akan mau diduakan.
“Mas asal kamu tahu. Aku bisa memaafkan banyak hal jika kamu menyakitiku. Tapi tidak dengan pengkhianatan, ataupun menduakan. Sungguh itu terlalu sakit untuk aku hadapi. Cukup satu kali saja..”Gumamnya lirih.
Habib mengeleng memeluknya. “Kamu bisa menyelamatkan pesantren ini. Aku tidak mau egois membuat kamu memilih antara aku dan pondok pesantren ini. Aku juga tidak menuntut apapun. kita jalan masing-masing, kita pisah saja yah?” Tanyanya lirih lagi disana.. Habib semakin hancur mendengarnya...!
^^^Tinggalkan jejak..^^^
__ADS_1