
Aisya disana membelalakkan matanya.”Kok bisa mas?”Tanyanya nanar. Semua orang dimeja makan pun ikut kaget dibuatnya disana memita penjelasaan dari Habib. “ Bukankah itu sangat berlebihan mas? Dia kan bukan istri mas lagi.”Ujarnya disana tak terima.
Habib disana menatapnya dengan memutar bola mata malas lalu mengusap bibirnya yang sudah tak ada selera makan itu. Ia menatapnya dan menjawab.”Itu memang haknya Nayya sebagaimana perjanjian mas dan orang tuanya sebelum menikah. Dulu sebelum menikah ayah Nayya meminta jaminan supaya mas tidak akan menyelingkuhi atau menyakiti Nayya mangkanya semua harta mas dialih ke Namanya Nayya. dan terbukti mas melakukan kesalahan mangkanya itu semua milik Nayya bukan mas.. lagi pula kata siapa dia bukan istri mas lagi? dia tetap istri mas karena tidak ada kata talak keluar dari mas dan mas tidak ada niatan menalak atau berpisah dari dia.. “Ujarnya dengan cukup tenang.
“Habib..”Gumam orang tuanya menatapnya nanar.”Bukankah kamu sedikit terlalu keras dengan Ais. Kan Nayya dan anak-anakmu belum tentu mau tinggal disini. Biarkan saja Ais dan keluarga kecilnya dirumahmu yah. atau kamu mau Umi buat kan rumah saja untuk gantinya?”Tanyanya tak enak dan kasihan pada Aisya.
Habib mengeleng.”Hanya sedikit mi. ingat hanya sedikit, jangan sampai sedikit ini membuat kalian lupa betapa banyaknya Habib mengalah dan baik kepada dia. Ini bukan hak atau milik Habib jadi Habib tak bisa berbuat apapun.. ini bukan hak kita. Lagi pula kenapa Umi tidak buatkan saja rumah untuk Ais kan lebih bagus?”Ujarnya membuat umi Ana disana ingin bicara lagi namun ditahan Kya Abu.
Kyai Abu disana mengangguk menatap Habib.,”Jika memamg itu keputusan kamu kami akan mendukung. Segera bawa ana-anak dan istrimu kesini kami akan menyambutnya dengan senang hati.”Ujarnya membuat binar dimata Habib memancar. Umi Anna. Asya dan suaminya menatap Kyai Abu namun sosok itu hanya menggeleng dan menatap habib tersenyum sebagai tanda jika tidak ada yang boleh melangar atau melawan.
“ajika begitu mas mau kekampus untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu terus nanti jemput Acha dan lainnya yah.. Assallamu’alaikum bi Mi.”Ujarnya segera menyalami kedua orang tuanya dihadapannya tulus. Keduanya menyambutnya dan tersenyum. Menatap anaknya menjauh lalu menatap Aisya yang disana Nampak hanya diam menatap makannnya. Bukanya tak ada warisan untuk Aisya. Hanya saja warisan untuk Aisya habis dijual karena suaminya mau membuat usaha. Yah begitulah dan sekarang ia tak lagi punya apa-apa kecuali bergantung pada suaminya dan usaha suaminya.
...----------------...
Disisi lain ada Acha yang sudah siap dengan gamis hitammnya, gamis yang longgar dan sangat cantik ditubuhnya. Jangan lupakan hijab moccanya yang sangat serasi dengan gamisnya memang si hijabnya tak sepanjang dan selebar umi dan bundanya hanya saja itu tertutup dan sangat rapi untuk tubuhnya, jika ada yang bertanya apakah Rian sudah melihat mahkotanya (rambut) Acha maka jawabannya belum sebab masa berkabung membuat mereka tak terlalu focus pada pernikahan mereka. Rian dan ACha sekalipun Nampak masih sangat terpuruk akan kejadian itu.
“Bang...”Cicitnya Acha keluar dari ruang gantinya. Ia memainkan hujung jilbabnya dan menunduk tak berani menatap Rian yang menunggunya sedari tadi sembari memain hpnya itu. Hingga Acha keluar dari kamar ganti baju saja ia tak sadar. Rian yang dipanggilpun segra menatap Acha dan mengerjab. Sungguh Acha sangat cantik dimatanya,
Acha yang ditatap intenspun menjadi gugup dibuatnya.. “Bang...”Cicitnya lagi sembari memilin uung hijab yang tiada habisnya.
Kakinya menginjak kaki satunya lagi membuat ia sangat lucu dijadapanya Rian. Rian ingin seklai mengarungi ACha dikamar dan tak ia biarkan keluar.. eh... fikiran jangan negative yah.. Fiur untuk dikarung bukan apa-apa.
"Sudah...??"
Acha hanya menggangguk saja.
Rian mengangguk dan mendekatinya. ”Ayok..”Gumamnya. acha disana mengangguk dan berjalan dibelakangnya Rian secara takut. Rian pun menatapnya dan berhenti. Acha ikut berhenti menatapnya kaget sebab ia berhenti secara mendadak.”Kenapa dibelakang?”Tanya Rian disana pelan menatap Acha.
Acha disana menggeleng dnegan polos.” Yah biar abang aja didepan.”Ujarnya. rian disana menghela nafas dan berdiri dibelakangnya Acha, acha menatapnya polos dibuatnya.
”Biar saya dibelakang kamu biar bisa melindungi kamu. “Ujarnya. Acha mendengarnyapun memanas dan memalingkan wajahnya.wajahnya bisa ia pastikan akan semerah apel busuk sat ini.
“Ayok.. kok bengong.”Ujarnya Rian.
Acha menggeleng.”Itu... abang saya. Acha tidak berani didepan abang. Abang kan lebih tua.”Ujarnya. Rian disana menatap jamnya dan menghela nafas. Ia pun segra berjalan diikuti Acha dibelakangnmya. Langkah Acha terlihat cepat mengikuti angkahnya Rian. Rian disana pun tersnyum samar dibuatnya.
Hingga menaiki mobil Acha disana panic ketika Rian membuka mobilnya. Rian disana menyuruhnya masuk. Saking tak sadarnya ia, kagetnya ia. Ia pun masuk dan lupa jika mobil ini pendek. Hampir saja kepalanya terbentur jika tidak Rian menahan jidatnya. Rian melihatnya tajam dan berkata.”Lain kali hati-hati hmm.”Ujarnya mengusap kepala Acha dan Acha terdiam kaku. Kenapa Rian sangat manis hmm??
Disepanjang jalan Rian tak bicara dan Acha yang diam juga. Tak ada gairah bicara dari Acha meksi ia sangat sangat suka bicara. Rasa rindu bundanya menyeruak hingga kerongga hingga melupakan ibu kandungnya sendiri. Dimana ibunya? Ia tau ibunya baik-baik saja karena ibunya sering menghubunginya kok. Jangan salah paham. Nayya tidak melepaskan anak-anaknya begitu saja.
__ADS_1
Hingga mobil Rian berhenti dikampus ia mengajar, acha disana menatap kampus Rian dengan tatapan binar, ia jadi merindukan kampusnya. Memang si tidak sebesar kampusnya dia,, tapi disini sepertinya menarik membuat ia tersenyum samar. Ia suka sekolah.. Rian segera turun dari mobilnya memancing kaum hawa menatapnya dengan tatapan kagum.
Hingga ia berputar dan membuka mobilnya Acha. Disana Acha pun keluar dengan senyumnya. Ia dibantu Rian untuk turun. Suara sorak-sorakan terdengar nyaring seakan-akan suaminya adalah artis. Hal yang membuat Acha tak nyaman dan tak ingin keluar.
Rian menatapnya heran.”Kok masuk lagi?”Tanyanya.
Acha menggeleng dan berkata.”It-itu kenapa mereka teriak gitu? Emangnya abang siapa si sampek gitu banget? Mereka liatin acha bang.’Gumamnya disana dengan tatapan lucu dan juga menggemaskan. Acha tidak suka menjadi pusat perhatian begini. Sebab ia tau jika ada 70-orang yang menyukai kita maka akan ada ratusan orang yang membencinya. Sebab kebanyakan manusia memiliki kehidupan berbeda-beda dan pola pikit berbeda.
Rian disana maju mendekati Dasboardnya, acha pun mundur dan melotot menatap Rian yang wajahnya sangat dekat dengannya, jantungnya terasa mau copot jika berdekatan beginiu, bauh Teh sangat wangi melekat ditubuh Rey. Acha suka bauh itu.
Rian disana mendapatkan apa yang ia inginkan. Masker.. yah.. ia memakaikanya diwajahnya Acha, acha diam saja merasakan sentuhannya dia. Rian disana tersneyum dan mengusap kepalanya sayang. “ Ayo. Sudah tidak ada yang nggelat kamu.”Ujarnya mencium kepala Acha,
"Tapi pengap." Gumam Acha mebuka cela sedikit.
Kya..... teriakan dari bebarap mahasisi terdengar nyaring karena hal itu. Acha bahkan sampai malu. Rian terkekeh melihat wajahnya Acha merah.
“Ih kakak acha tambah malu.”Gumam Acha memukul dadanya Rian dan Rian menangkapnya dengan ringan. Dan membawanya keluar. Acha mulai menghela nafas dan menatap keluar.
Kyakk... pak Rian bareng cewek...!!
Astaga siapa tu..!!
Yaampun tingginya hampir sama..!!
Siapa pak Rian yah..
Ih mukanya imut banget kayak baerbie....
Uhhh Astaga gue mimisan..!!.
Sok Manja.!
Cafer...!
Ada banyak yang dilontarkan oleh mereka dengan berbagai presepsi. Acha tidak suka suasana begini.
Jujur ia sekarang sedikit gemetar akibatnya. Rian disana segera menarik tangannya untuk pergi dari sana membuat suasana semakin banyak yang mengucapkan paradigma, bahkan kebanyakan mereka terang-terangan menatap Acha. Acha disana mencoba tak peduli. Menghela nafas dan focus mentatap kedepan dengan wajah datarnya. Rian disana mulai berjalan disisinya dan menatap jalan tampa menghiraukan ucapan-ucapan semua siswi disana.
“Abang punya banyak fans yah."Gumam Acha berbisik pada Rian. Rian disana terkekeh membuat banyak pekikan sebab Rian tak pernah menampakkan kekehan semanis itu sungguh,,!! Rian hanya mengusap tangan Acha.
__ADS_1
Acha yang diusap menghangat dan menatap Rian. Ia tak pernah membayangkan akan menikah dengan lelaki yang ia sukai sejak kecil ini. asanya mustahil dulu sebab Rian yang Nampak membencinya dan juga menjauhinya.
Sampai diruangan dosen disana Rian dan Acha masuk, tuilisan nama Rian ada di salah sagu meja disana. “Kamu tunggu sebentar yah, saya hanya mengambil beberapa berkas, nanti setelah ini kita pergi dari sini.”Ujarnya. acha disana mengangguk saja dan menatap kelain arah sembarangan. Disini tidak ada kursi untuk ia duduki, karena memang ruangamn dosen Tok.. yang disana dibatasi beberapa triplek untuk menutupi beberapa ruang. Hello Rian bukanlah dosen tetap disini dan dia juga rusak memiliki kedudukan yang terlalu tinggi jadi tidak ada ruangan khusus.
“Permisi mbak..” Dari belakang suara itu mengagetkan ACha yang berdiri didekat pintu. Acha menatap kebelakang dan menatap sosok lelaki yang tingginya dibawah Acha. Lelaki itu nampak menatap Acha dengan tatapan kagum dan juga berbinar. Disisinya juga ada sosok wanita yang jauh dibawah Acha tingginya., Acha menatap mereka dengan heran jadinya hingga sang perempuan mendengus tak suka melihat kakaknya yang menatap Acha tanpa berkedip.
”Kak.”Gumam sang wanita tersbeut.
Lelaki itu pun segera sadar dan mengusap tengkuknya”Aduh.. maaf-maaf hehe.”Gumamnya., acha disana tetap diam menatyao keduanya. “Itu maaf kamu siapa yah kok disini? Maaf seblumnya kami tadi ingin masuk kedalam. Kamu murid baru kah?”Tanyanya disana dengan berderet. Sang perempuan pun menelisik Acha yang bisa dikatakan kecantikanya jauh diatas rata-rata.
Bahkan dirinya merasa jika dibandingkan upil Acha ia akan kalah.. tinggi Acha bahkan diatas rata-rata lelaki disini. Dirinya hanya seketek Acha bayangkan saja tu bagaimana tidak insecure? Belum lagi bulu mata lentik nan lebat.. allis yang tertur dan juga tebal. Bibir tipis dan mata yang bulat besar. Meski mengenakan masker longgar ia tetap terlihat berkilau.
Acha disana tersenyum dan berkata.”Bukan.. Eumm..” Acha befikir sebentar.”im sorry.. saya tidak terlalu paham langue Indonesia.”Ujarnya dengan suara agak cadel membuat keduanya saling tatap. Nampak ACha tersenyum dan kembali menjawab.”Tapi saya bukan mahasiswi disini. Saya bersama abang saya.”Ujarnya menunjuk dalam ruangan. Yah Acha paham jika mendengar orang-orang mengenakan bahasa Indonesia tapi tidak dengan bicara. Ia sedikit cadel dan sedikit tak pandai. Lidahnya terasa terpelintir.. dulu dinegara orang Acha selalu mengenakan bahasa luar tidak Indonesia. Nayya mengajarkan tetapi memang setiap bicara dengan Acha kan kebanyakan orang luar jadi mau tak mau ACha lebih sering mengenakan bahasa luar..
Sosok itu tersenyum menatapnya.”Wahh maaf-maaf hehe.”Ujarnya lelaki.”Oh iya kenalin nama saya Kevin.. dan ini adik saya. Jika boleh tau nama kamu siapa dan kakak kamu siapa?”Tanyanya dengan mengulurkan tangan dihadapannnya Acha.
Acha yang mendengarnya dan menatapnya jadi tak enak. Tanganya ia tangkupkan didepamln dada dan mengatakan.,”Maaf saya tidak bisa.”Gumamnya. kevin yang sadar segra menarik tanganya dna menggaruk tengkuknya.
" Buset..! kakak adik sama aja, susah disentuh" gumam Kevin dalam hati.
Sosok sang adik terkekeh melihatnya.”Nama saya Acha dan kakak saya Rian.”Ujarnya denblgan suara berat.
“Wh.. kamu adiknya pak Rian?”Siara wanita disisinya Kevin membuat Acha mengangguk kaku. Sosok itupun menemukan binar dimatanya dan mendekati Acha ,mendorong kakaknya."Hay kenalin nama aku Cantika.. aku temanya kakak kamu. Kakak aku juga loh.”Ujarnya menunjukan sang kakak disisinya. Kakaknya hanya memutar bola mata malas.
Acha disana pun mengangguk kaku.”Oh yah kalo boleh tau kakak kamu katanya mau nikah. Kamu tau ngak mau nikah sama siapa? Cantik nggak orangnya..?”Tanya Cantika berturut turut kepada Acha. Acha disana diam tak tahu harus jawab apa hingga melirik kedalam. Tapi belum ada sosok kakaknya.
“Cantika..” Gumam Kevin menarik sang adik.. ia tersenyum pada ACha menatap mereka dengan tatapan tak paham. “kamu tau kan kalo mereka sedang berduka mana sempat Rian memikirkan pernikahan saat ini. jadi kamu diam saja dulu, kamu taukan kalo Rian dua hari ini engak bicara sama sekali. Jadi jangan banyak Tanya dulu.”Bisiknya pada Cantika.
Hingga suara Rian disana membuat semuanya menatap Rian.”Sudah.. yuk.”Ujarnya kepada Acha. Acha poun menatapnya dan mengangguk. Rian pun menatap kedepan dan kedua temanya membuat ia menatap mereka heran. Keduanya tersenyum manis.
“Dih engak bilang-bilang kalo punya adek cantik banget kayak bidadari.. kenalin atuh kenapa si Yan... siapa tau kita bisa jadi kakak dan adik ipar.”Ujarnya Kevin kepada Rian to The Point membuat mata Rian mendatar menatap temanya itu
Rian menarik tangan ACha.”Yuk..” Ujarnya.
Achapun mengangguk disana dan Rianpun menatap Kevin tajam hingga dihadapan Kevin ia mencium tangan ACha.
Acha melotot disana melihatnya.”Dia istri saya bukan adik saya.”Ujarnya.
Kevin disana menatapnya tak percaya.”Lawak loe. Adik loe sendiri yang bilang kalian adek kakak.”Ujarnya tak terima. Acha disana ditatap oleh Rian namun mata polosnya membuat Rian menghela nafas., memang benar ia adiknya tapikan sekarang adiknya menjadi istrinya yah kan? “Dia istri gue.”Ujar Rian disana dan Kevin menge;eng tak percaya menatap Rian menjauh.
__ADS_1
Cantika? Ia hanya menatap punggung Rian dengan tatapan terluka.. apa itu sainganya? Jika iya maka ia harus mundur... saingannnya terlalu berat bre.. wajar saja Rian tak meliriknya sedkitpun.. sebab Acha adalah bidadari yang tersasat.