
Habib terjatuh memegang lututnya, menatap mobil Rindu dan Rey yang sudah menjauh. Ia menangis memegang dadanya.”DIMANA NAYYA..!! TOLONG BERITAHU AKU.. !!”Teriaknya nanar. Namun mobil itu sudah semakin jauh dan bersamanya dengan air matanya yang jatuh dan luluh akibat sesak didada.
” Nayya maafin mas.. Mas bisa jelasin Nay hiks hiks.”Gumam Habib lirih disana memukul tanah yang ada.
Sungguh Habib menyesal sudah menyia-nyiakan kesempatan Nayya, ia tak tau jika Nayya akan benar-benar pergi meninggalkannya, bahkan hilang bak ditelan bumi.. ia fikir dengan kebutaan Nayya ia tak mampu berbuat apa-apa. lagipula ia pikir yang ia lakukan adalah hal yang terbaik bukan? Ia melakukan juga demi pesantren ini. Ia tak mau pesantren ini digusur.
Namun semua yang dikatakan Nayya benar, khumairo meminta lebih, ia hanya mau menjadikan problem ini hanya batu loncatan supaya mereka dekat.. Entahlah. Katanya ia hanya mengatas namanya seorang nama untuk anak. Tapi lihatlah sekarang..
“Habib..!! tolongin istrimu. Istrimu pendarahan..!!” Teriak Abbi nya nanar dari dalam.
Namun rasa sakit hati Habib akan kehilangan Nayya membuat ia tak mendengar apapun selain wajah Nayya yang tersenyum indah dihadapanya. Mata kosongnya dan juga semua keindahan pada Nayya. ia sudah benar-benar jatuh pada pesona Nayya. melebihi apapun.. hanya saja ia tak tau menjadi seseorang yang kuat dan kokoh akan pendirian saja.
“HABIB... ISTRI KAMU PENDARAHAN.. BAWA DIA KERUMAH SAKIT.!”Teriak abinya lagi menyadarkan Habib yang diam menatap mobil yang sudah menghilang itu. Matanya menatap nanar Khumairo yang diangkat oleh abinya itu lalu memalingkan wajahnya.
Ia menghela nafas dan bangkit. Mata Mira memberikan wajah kesakitan dengan baju yang bersimbah darah. Habib merasa bersalah karena sudah mendorongnya membuat ia menghela nafas.” Cepat bawa kerumah sakit.. maaf.”Gumamnya lirih, ia ingat jika ia mendorong Nayya terlalu keras tadi..
"Masa... Tolong... sakit hikshiks.. "Khumairo disana meringis menahan sakit dibagian perutnya. Habib tetap diam mentatap Mira. Ia mau marah tapi percuma, mau diam tapi hatinya terus berteriak meminta dikeluarkan dari zona rasa sakit ini.
Tak ada yang lebih sakit ketimbang tahu Nayya pergi, dan dirinya harus membesarkan anak orang lain dan menelantarkan anaknya sendiri. Dan yang jadi pertanyaannya Nayya hamil beneran kan?
“Hiks huks Nay.. maafin mas.. pulang Nay.”Gumamnya liruh berdiri didepan mobil.
“Habib ayo masuk..!” Bentak kyai Abu membuat Habib mengangguk memasuki mobil disana. ”Kamu dibelakang temani Khumairo..!” Ujar kyai Abu.
Habib menggeleng dan berkata.” Ada hati yang harus aku jaga abi, aku tidak mau..”Ujarnya loirih dan lanm6gsung duduk..
Kyai Abu diam dibuatnya..”Cepat Abbi, dia bisa kehilangan nyawa jika lama begini.. apa harus Habib yang nyetir?”Tanya Habib disana dengan suara yang sedikit naik. Kyai abu disana mengangguk lalu mulai menjalankan mobilnya.
Khuamiro menatap pungung Habib lirih, dalam keadaan begini saja Habib masih tetap menjaga hati Nayya. apa yang telah diberi Nayya sehingga Habib menjadi takhluk padanya? Apakah ia yang terlalu egois ingin memiliki habib meski harus berbagi, atau Nayya yang terlalu serakah menginginkan Habib seutuhnya? Mira tadi sempat kegeeran karena Habib mau membantunya, ternyata salah. Habib hanya merasa bersalah saja pada dirinya.
...----------------...
__ADS_1
Dilain tempat ada Rindu yang menenangkan Nayya, tadi Nayya sempat memberikan alamat rumah Nayya dan Rindu sudah menjelaskan jika Habib sudah menikah lagi. Rindu cukup khawatir takut Nayya menangis, ternyata tidak. Nayya malah tersenyum mkiris, meski begitu Nampak tersirat kesedihan dimatanya dan kekecewaan. Rindu tak bisa berbuat apa-apa selain hanya menenangkanya dan diam.
Nayya menatap langit dengan tatapan kosong, sejauh apa ia menatap maka kegelapan akan tetap mengelilinginya. Tangannya mengelus perutnya dan bergumam. ‘"Maaf yah nak. Kamu harus pisah dengan ayahmu. Kamu bisa bahagia tanpa ayahmu.. maaf.”Gumamnya lirih. Air matanya sedari tadi meminnta keluar namun Nayya tahan, ia tak boleh menangis lelaki yang tak pantas ia tangisi.
"Heheh.. Aku egois yah mbak. Memisahka anak dengan ayahnya.”Gumam Nayya lirih disana. Menahan sesak, jujur ia sudah mencintai Habib, namun rasa sakitnya terlalu berat dan besar seakan cinta itu hanyalah seukuran jarum dalam jerami.. ia terlanjur membenci pengkhianatan dan menduakan. Bukan membenci poligami, namun ia benci jika itu dirinya yang merasakan.
Rindu disana tersenyum tipis dibuatnya. “ Iya kau egois.”Ujarnya lirih disana menjawab jujur.
Abel menatap Rindu tak mengerti, bukannya menenangkan tapi Rindu malah berkata jujur,
“Tapi kadang kita memang harus jadi egois untuk kebahagiaan diri kita. Karena hanya diri kita yang mampu menentukan apakah kita mau bahagia atau tidak.”Ujar Rindu disana lirih.
Nayya menahan tangisnya lagi dan berkata.” Aku hanya tidak mau berjalan dipenuhi duri, terlalu sakit dan jikapun akan berakhir bahagia,. Aku rasa lukanya terlalu dalam sehingga hatiku tidak akan pernah baik-baik saja.. maafkan aku jika harus egois mas.”Gumamnya lirih.
Tak ada maksud untuk meninggalkan Habib. Ia tau meninggalkan dan berpisah bukkanlah salah satu cara yang terbaik. Tapi Nayya itu pengecut akan rasa sakit. Bagi Nayya lebih baik sendiri dengan tanpa cinta ataupun luka ketimbang bersama cinta namun tersirat luka. Hidup Nayya sesimpel itu, ia tak mau merasakan sakit dan juga berharap akan kebahagiaan. Ia mau bahagia dengan caranya sendiri tanpa harus menunggu happy ending.
Hidup itu bukan dunia Novel breyy... yang sabar dan menahan rasa sakit dihianati dan juga tabah akan kejahatan, selalu tersenyum dan berbuat baik pada yang sudah menyakiti kita.
Yah kalo dia dapat hidaya kalo tidak? Mau hidup dengan rasa sakit sampai kapan? Bukankah kebahagiaan itu harusnya dijemput? Bukan ditunggu? Untuk apa harus menunggu jika yang ada didepan mata sudah ada?
Mobil Rindu dan Rey memauski perkarangan rumah Nayya, Rindu dan Rey muai turun. Abel membantu nayya turun. Mereka mulai memauski rumah Nayya. rumah Nayya itu sederhana tapi banyak tumbunan dilluarnya, sangat cantik dan rapi. Minimalis namun segar dengan warna serba ungu putih itu..
“Assalamu’alaikum..”Salam Rindu dari luar mengetok pintu.
“Waa’alaikumsalam..”Ujar dari dalam, dan ternyata sedang ada banyak orang.. Dan terbukalah pintu dari sosok lelaki tampan dan juga tinggi.. dia menatap Rindu dengan Tanya, namun menatap kebelakang Rindu membuat matanya disana membesar.” Nayya..!!”
Teriaknya disana lalu berlati menarika adiknya.
Nayya tersenyum menggigit bibir bawahnya. Suara kakaknya membuat ia menangis tak kuat.
Cakra disana menarik Nayya kedalam pelukanya.”Nay kamu kemana aja.. abang nyariin kamu sampek gila hiks hiks. Kami sayang Nayya, “Gumam Cakra menangis memeluk adiknya erat. Nayya tak tahan untuk tidak menangis, namun ia tetap tersenyum ditangisnya itu. Ia tak mau bicara apapun saat ini masih tetap memeluk Cakra erat. “Kamu enggak apa-apakan Nay ?”Tanya Cakra lirih kepada snag adik.
__ADS_1
Abel diam melihatnya, sedangkan Rey memeluk Rindu dengan sendu.
Nayya tetap diam mendekap sang kakak. Menyalurkan rasa sakit yang ada didadanya.. ia tak kuat untuk bercerita semuanya, diculik, hampir diperkosa, hamper mati sampai hampir keguguran.. dan sekarang ia harus menerima kenyataan Habib menikah lagi.
“Nayya apa kak? Dimana Nayya?”Tanya dari dalam dan itu ternyata ayahnya Nayya.. Ia mendengar suara Cakra menguat ia keluar.. Ia tak salah dengar kan jika cakra bicara nama Nayya..
Ayah Nayya menatap nanar Nayya yang dipelukan Cakra.. dengan tangis haru ayahnya memeluk Nayya dalam pelukan Cakra.”Nak kamu kemana aja hiks hiks. Kami khawatir tauk..”Tereiaknya disana mendekat erat kedua anaknya. Cakra melepaskan pelukannya namun Nayya tetap memeluknya erat tak mau terlihat menangis..
“BUNDA NAYYA PULANG.. BUNDA ANAK KITA PULANG..!” Teriak ayahnya kuat disana membuat Nayya menemuk mereka lebih erat. Ia bersykur dan bahagia.. ia memeluk ayannnya menyembunyikan kepadalah didada nidang ayahnya. Ayahnya memeluk anaknya sayang.”kamu engak apa-apakan nak? Jangan buat ayah khawautri.. hiks hiks.”Ayahnya bahkan tak malu untuk menangis memeluk sang anak. Nayya anak kesayangnnya..
“Mana Nayyanya ayah? Mana?”Tanya bundanya lirih.’'Nayya hiks hiks,” Bundanya yang Nampak kacau itu mendekati Nayya dan memeluknya erat,,. "Ini Nayya beberan kan yah hikshiks.. anak kita kan??? Dari mana saja kamu nak... Bunda khawatir..!!! "
Cakra menjauh ketika ibu dan ayahnya memeluk Nayya yang diiam sedari tadi.. ia menatap sang adik sendu Karena tau jika Nayya sedang tidak baik-baik saja.
Matanya mnelirik Rindu dang memeluk suaminya itu dengan helaan nafas... “ Kamu Rindu.. Kamu Rindukan?”tanyanya disana dnegan nanar, iia kenal Rindu, Rindu itu adalah adiknya Rasyid temanya dulu..
Rindu menatap sang kakak Nayya dan mengerjab.” Siapa?”Tanyanya disana heran. Rey menatap heran juga,
Cakra diam menerjab disana lalu menatap Nayya lagi.”Sebaiknya kita masuk dulu saja. Tidak baik diluar begini, apa kata tetangga nanti.”Ujarnya.
Nayya yang sudah menangis itupun tak sadar karena rasa lelahnya.. ia kembali pingsan.. “Yaallah sayang kamu kenapa..!!” Teriak ayah Nayya disana cemas melihat tubuh anaknya yang lunglai dan terjatuh. Untung ia memeluknya..
“Yah Nayya kenapa?”Teriak ibunya nanar disana..
“Sebaiknya dimasukan kekamar saja dulu, biar saya telepon rekan dokter saya disini.”Ujar Rey membuat kedua orang tua Nayya mengangguk.
Mereka bahkan tak sadar akan kehadiran Rindu dan Rey. Mereka bukanya tidak tau sopan santun. Kalian taukan bagaimana rasanya jadi mereka. Yang sudah mengkhawattirkan Nayya sampai gila dna tiba-tiba Nayya datang?
Mereka bahkan melupakan semuanya. Bunda Nayya yang sakit saja segera sembuh dan juga lupa jika ia sedang sakit.. Abel menatap mereka iri, ternyata Nayya sangat disayangi keluarga...
.
__ADS_1
.
...Jangan tinggalkan jejak yah. ...