
selamat menunaikan ibada puasa yah. maaf kan aku iuga jika ada kesalahan dalam perkataan atau apapun itu. Saling memaafkan dibulan suci ini...
.
.
Setelah kejadian kemarin Habib menjadi merasa bersama dengan Chacha. Acha Habibal Nadifa itu namanya. Acha pingsan dengan tubuh yang membiru membuat semua orang panik. Radit dan Tasya segera menghubungi keluarganya dan yang datang hanya wanita yang bertudung dan juga lelaki yang ia sendiri tak kenal. Ia mau ikut tetapi sosok tudung itu malah mengabaikannya.
Harinya sangat tak enak memikirkan Acha sepanjang hari. Dimana wajah polos dan tangisannya. Tadi ia kekampus katanya Acha tidak masuk sekolah tanpa kabar. Ia mencoba meminta kontak nya namun tak juga ada kabar sebab nomornya saja tidak aktif. Masalah rumah? Katanya rumah Acha itu tidak ada yang tahu karena rumah Acha disalah stau rumah elit disana, bukan rumah elit tetapi rumah terjaga.
Rumahnya itu dipinggiran kota disana ada satu desa yang orang asing masuk saja harus bayar. Tak ada polusi, jika mengenakan mobil harus diservis pertigabulan dan juga mengenakan mobil tak berpolusi udara. Motorpun sama, semua disana kebanyakan pengguna pejalan kaki atau bersepeda. Bukan tak ada jalan namun memang rumah lingkungan sehat. Bahkan disana ada sungai yang sangat jerni dan juga biru. Tak ada sampah barang satu pun, dan rumahnyapun terpisah-pisah dan sangat asri. Jadi Acha tidak bisa memasukan sembarang orang disana.
Masuknya mahal Breee...
“ Kakak kok diam saja dari tadi? Kopinya diminum.”Ujarnya disana. Sosok lelaki yang mengenakan hodie dan juga baju dalam berwarna putih itu tersenyum manis. Karismanya sangat terpancarkan dan juga kental membuat siapapun tak akan mau melewatkan kesmepatan menatap manusia tampan satu ini. dia Fatih.
Habib disana menatap sang adiknya. Yah.. ia tersenyum menatap sekeliling, ia sekarang berada disalah satu café dekat kampusnya mengajar dan adiknyapun mengajar disana sudah satu tahun loh. “Memang ada masalah apa lagi kak? Masih masalah mbak Nay?”Tanyanya Fatih disana.
Habib disana memandang cangkirnya yang berisi cofe yang didepannya. Ia mmemutarnya dan mengeleng.”Bukan. ini masalah mahasiswa kakak.”Ujarnya disana menghela nafas berat. Andai saja ia tak keras kemarin.
Faith disana mendelik.”Kakak suka mahasiswa kakak?”Tanyanya disana membuat habib melotot. Fatih terkekeh.”Ih bercanda kak. Jangan gitu ih serem.”Ujarnya disana menghela nafas. Kakaknya tak bisa dibercanda meski sedikit.
Habib pun mendelik.”Kamu si. Mana ada kakak gitu, lagian umur kakak udah mau 43 ini dan kakak masih tetap mencintai mbakmu.’Ujarnya disana. Fatih hanya mengangguk dan meminum cofenya dengan nikmnat saja. Ia sudah bosan mendengarnya.
Namun ia terdiam dikalah Habib kembali bicara.”Kemarin kakak ketemu anak laki-laki dikampus kakak. Dia mirip banget sama kakak, kakak bahkan ngerasa dia itu diri kakak yang dulu.”Ujarnya menatap jauh membayangkan Arga.”Kakak Fikir dia itu anaknya kakak hehe. Ternnyata bukan, soalnya dia punya ayah yang sangat ia banggakan dan juga sangat baik. “Ujarnya disana menghela nafas. Dadanya sakit mengingat hal itu. Bolehkah ia berharap.?
Fatih disana pun menatap kakaknya dalam, ia ingat jika kemarin ia bertemu dengan sosok yang mirip dengan Nayya namun bermata yang berbeda, ia berniqob membuat ia terdiam. Apa ia bicarakan saja atau tidak yah? Ia takut ia salah orang dan memberi harapan kepada kakaknya itu.
“ Dan kemarin juga kakak sempat ngira seseorang keluar dari tokoh bunga itu Nayya. “Ujarnya. Fatih kembali terdiam mendengarnya.
”Tapi sepertinya hanya halusinasi seperti biasa, sebab dia mengendarai mobil dan juga bisa melihat.”Ujarnya disana mengusap kepalanya. Bahkan cincin pernikahan mereka masih ia pakai saat ini.
Fatih disana pun menjawab.” Mungkin Cuma kebetulan kak. Kakak yang sabar yah kalo jodoh tidak akan kemana.”Ujarnya disana. Habib hanya tertawa miris dan meminum kopinya dengan helaan nafas berat. Sangat berat mengingat masalalunya.
“Oh iya. Bagaimana kabar mbak Khumairo dan Abi anak kalian?”Tanyanya disana dengan Habib.
Habib disana mengatakan dan menggeleng.”Aku tidak tahu, lagipula aku tidak pernah lagi berhunguan dengan mereka. Karena Abu sudah tahu jika aku bukan ayahnya. Lagipula kami bukan suami istri, jadi aku tidak mau menambah masalah.”Ujarnya disana lagi,
“Kakak tidak takut jika nanti Aron dan keluarganya mengancam kakak lagi seperti sebelum-sebelumnya?”Tanya Fatih disana dengan menatap kakaknya dalam.
”Secarakan kakak selalu diancam sama mereka.”Ujarnya disana nanar. Ingatannya kembali dimana Abu masih kecil menanyakan Habib terus, tapi Habib mencari Nayya sampai keluarga Aron kembali mengancam untuk menghancurkan pesantren itu. Habib mau tak mau selalu bersama Abu.
(Abu atau Abi itu anaknya Khumairo. makanya Abuabiandra tapi dipanggil Abu oleh Habib tapi orang lain Abi.)
__ADS_1
Habib disana menggeleng.”Aku sudah menghapus semua kontak mereka. Jikapun aku punya hubungan itu aku sama Abu bukan sama keluarga atau ibunya.”Ujarnya disana membuat Fatih disana mengangguk.”Dan jika pesnatren dihancurkan kau tak perlu khawatir. Kakak sudah menyiapkan semuanya. Kita buat pesantren baru. Selama ini kakak menabung untuk kita.”Ujarnya disana dengan nanar.”Kakak tidak mau hidup dengan ketertindasan dan juga diancam oleh mereka. Kita boleh miskin tapi tidak dengan didiskriminasi.,”Ujarnya menghela nafas. Fatih mengangguk saja soalnya dia juga sudah menyiapkan banyak hal jadi suatu saat kelak ia memiliki senjata untuk mengembalikan semua serangan.
Namun mata Habib menatap keluar café dengan tak sengaja menatap seseorang yang memasuki mobil dengan sosok pria lain. Matanya menyipit. Itu hanya punggungnya saja. Ia kenal itu mirip dnegan punggung Nayya membuat ia terdiam.
”Kakak kenapa? Liat apa?”Tanya Fatih disana dengan menatap kakaknya heran.
Habib disanapun menggeleng dan bangkit.”Kakak tinggalkan dulu yah. Kakak ada urusan.”Ujarnya dan segera pergi meninggalkan Fatih yang menatapnya aneh. Fatih menatap kakaknya menjauh dengan helaan nafas dan menatap kecangkir kopinya.
Ia terkekeh.”Lucu yah kak. Aku yang menemukan kalian yang disatukan, kadang dunia memang tak seadil itu. Tapi aku yakin takdirnya akan lebih indah dari ini.”Ujarnya menatap lain arah. Yah.. dia lebih dulu mengenal Nayya dari pada Habib mangkanya sedari awal dia yang lebih dulu menerima Nayya bukan orang lain. Masih banyak rahasia yang belum ia keluarkan.
Mobil yang habib kendarai mengikuti mobil milik sosok tadi itu sangat cepat, ia disana pun dengan segera menyalip mobil-mobil yang ada sampai pada ia hampir menabrak siapapun.
Mobil yang ia ikuti sangat jauh jaraknya namun ia masih tetap bisa mengikuti kok. Dan ia bisa melihat mobil itu terhenti disalah satu pusat perbelanjaan bersama lelaki yang ada didekatnya. Dan lelaki itupun menyuruh wanita itu keluar. Wanita itu keluar dengan gelagat kesalnya.
Habib terdiam mengucek matanya. Ia disana terenyah menyentuh jantungnya. Dia sangat mirip dengan Nayya. bahkan sangat-sangat mirip.. yang beda hanya hijabnya yang tak sepanjang dulu, namun ia masih tertutup kok. Dan lagi sekarang dia lebih cantik dan lebih modis. Ingin sekali Habib melompat dan mengejarnya namun sayang ia harus antri dengan mobil lain untuk parkir. Jantungnya sudah ketar ketir disana.
Sampai sosok itu sudah masuk membuat ia memukul stirnya. Ia harus sabar membuat ia bersabar dan juga menunggu sampai bisa masuk dna memarkirkan mobilnya. Disana ia menatap kesemua arah dan ia tak ketemu siapapun. Ia harus musik kedalam mencarinyakan? Padahal didalam sangat ramai dan luas.
Sedangkan sosok Nayya disana menghentakan kakinya melihat bosnya itu. Bosnya itu sesuka hatinya saja menyuruhnya membelikan dirinya baju anak kecil untuk anak kakaknya yang baru saja melahirkan, dan yang paling mengesalkan itu ketika dia tak keluar dan malah menyuruh Nayya saja. kurang ajar memang kan?
“Ishh.. Mana ada dokter yang disuru-suruh begini. Akukan dokter bukan babysister ih.,”Ujar Nayya disana mencari baju yang ada dibabyshop disana. Tapi senyumnya terbit.”Tapi tak apa. kan bajunya lucu-lucu.”ujarnya dengan senyum.”Jadi mau punya baby lagi.”Ujarnya terkekeh.
“Yah buatlah sama ayahnya. “Ujar dari ibu-ibu disisinya membuat Nayya meringis.
Nayya menggaruk tengkuknya..”Sama ayahnya siapa? Orang yang mau buatnya aja enggak ada.”Ujarnya bergumam membuat ia disnaa menghela nafas dan mencari bajunya.
”dia pikir aku bisa diatur? Cih maaf yah. Tidak.”Ujarnya disana lalu berjalan menu ke rak dimana ada sepatu sepatu lucu dan unyu.
“Besokkan mau puasa, jadi aku beli persiapan aja yah buat sahur dan berbuka besok.”Ujarnya Nayya disana dengan senyum.”Alhamdulillah Yallah, terimakasih karena masih memberi kami kesempatan untuk merasakan puasa tahun ini.. Terimakasih..”Gumamnya lirih.
Karena ada banyak manusia yang mengira jika puasa akan kembali eh malah dia yang pergi. Banyak yang menyiapkan suatu hal yang tak pasti sedangkan malaikat maut sudah 70x dalam sehari menatap wajah kita.
Iya.. kalian tau? Seperhatian itu loh malaikat maut sama kita. Hitung saja berapa menit sekali ia menatap kita dan mengawasi kita.
Bayangkan ketika kita beruat maksiat dan berbuat jahat, berzina dan lainnya eh malah dicabut nyawa kita. Kalian tau? Mau bagaimanapun kondisi kita dan juga dimanapun kita ajal tak memandang waktu.
Mangkanya seseorang yang meninggal biasanya diambil ketika ia melakukan kebiasaanya. Jika ia kebiasanya sholat yah ketika ia sholat. Ketika kebiasanya mengaji yah ketika ia mengaji, atau ketika ia sujud yah ketika sujud, dan ketika tidur maka ketika tidur.
Tapi jika suka berzina yah ketika berzina, ketika gila kerja ketika kerja atau lainnya. Mangkanya jangan sibuk memikirkan jodoh saja, persiapkan yang lebih pasti seperti ajal, bukan jodoh. Jodoh itu belum pasti tapi ajal? Tak ada batas waktu dan ketentuan waktu untuk dijemput.
Ketika semua sudah selesai Nayya pun mengambilkan kotak susu coklat untuk Arga dan Acha, anak-anaknya suka sekali susu itu. “Ih.. beli banyaklah biar nanti pas buka dan sahurnya mereka minum susu biar kuat dan juga semangat puasanya.”Ujarnya terkekeh.
Dilain sisi ada Habib yang sedari tadi menatapnya dari jauh, ia bertemu dengan Nayya dari ketika ia keluar daddi banyshop selama 10menit yang lalu. Penampilanya kacau. Matanya sayu dan sendu. Air matanya mau meledak ingin mendekat namun ia takut. Takut Nayya menolak dirinya membuat ia tak sadar jika sosok yang ia tatap itu mendekat kearahnya.
__ADS_1
Nayya disana menatapnya heran, sebab sosok itu menatapnya dnegan tatapan sulit diartikan. Ia tak kenal membuat ia disana berkata.”Permisi. saya mau ambil makanan itu. Bisa geser sedikit?”Tanyanya disana. Namun sosok didepanya itu diam menatapnya saja. Nayya disana melambaikan tangannya namun sosok itu bahkan tak berkedip. Bahkan air mata ya yang jatuh.Nayya jadi takut.
Habib disana menatap Nayya nanar. Jantungnya berdegup tak karuan ketika mendengar suara Nyaya yang tak asing. Itu Nayya kan? Ia menghela nafas dan menatap Nayya nanar sampai sosok itu menjauh darinya membuat bibirnya masih kelu.
“Aneh."Gumam Nayya membuat ia terdiam. Ia dengar..
Nayya menghela nafas dan menggeleng, ia beli makanan lain saja. Tadinya ia mau membeli mie untuk anaknya. Anaknya suka makan mie dan ia mau membelinya. Tapi gara gara lelaki yang tak ia kenali itu membuat ia pergi saja lah.
“Tunggu,.!”
Nayya terdiam disana mendengarnya. Ia terkejut dikalah sesoerang iu menaruh banyak mie dikeranjangnuya dengan tersenyum. Nayya aneh dibuatnya.
”Ini ini hehe.. Maaf “Ujarnya disana menatap nayya nanar.
Habib disana merasa sakit ketika melihat mata Nayya yang menatapnya aneh. Apakah ia seaneh itu? Apa Nayya tak kenal? Mata mereka berbeda, pipi Nayya tak lagi tembem dan sekarang malah tirus.. ditambah dirinya yang semakin cantik diusianya ini.
“Terimakasih.” Gumamnya Nayya disana senyum paksa.
“Nayya..!” Gumam Habib membuat Nayya terdiam,,, suara itu? Apakah? apakah? Tangannya gemetar dibuatnya. Ia terdiam sangat-sangat kelu. Matanya menatap habis yang menataonya pilu.”Kamu kenal saya? Kamu Nayyya kan? Kamu Nayya kan?”tanyanya Habib berkali-\=kali.
Nayya disana terdiam menahan dadanya. Siapa dia? Kenapa bisa begini?
Namun ia bersikap normal dan bertanya.”Kamu siapa? Maaf saya tidak kenal anda..”Ujarnya disana dengan tegas dan pergi. Matanya memberat ingin menangis. Jika iya,, ternyata suaminya dulu sangat tampan.. Sungguh..!!
Namun ia terhenti. Sosok lelaki didepanya itu malah menarik tubuhnya dan memeluknya sangat erat. Hati Nayya yang tegar sekarang mendadak hancur. pelukan itu masih sama, sama hangat dan sama lembutnnya. Ia sempat terpanah sesaat namun hanya sesaat sampai tiga detik ia sgera memberontak.”Maaf tuan.. kita bukan makhrom dan saya sudah punya suami. Tolong jangan kurang ajar...!” Ujar Nayya disana tegas,,.
Habib terdiam lemah dikalah Nayya bilang’Punya suami’ namun ia tetap memeluk Nayya erat.”Iya saya suami kamu Nay. Saya Habib dan saya tau ini kamu kan Nay, nay tolong mas jangan pergi lagi yah.”Gumam Habib disana dipelulan Nayya sembari menangis,
Nayya disana terdiam mendengarnya, suara Habib sangat pilu sampai ia merasa sangat bersalah tapi semoga sudah berjalan kan?
“Tolong nay jangan tinggalkan mas. Mas tidak mau kamu pergi. Mas cinta kamu Nay hiks hiks,.”Gumam Habib disana.
Namun Nayya memberontak disana tak terima.”Lepaskan saya tuan atau saya akan terikak supaya tuan dipenjara..!!” Teriaknya disana. Habibpun disana segera menatap Nayya dan melepaskan pelukanya.
Nayya disana menatap Habib tajam, ia menatapnya sangat marah dan menghela nafas,.” Saya tidak kenal anda dan saya sudah punya suami. Jangan ganggu saya..!!” Ujarnya dan pergi dari sana meninggalkan Habib yang mendadak lemah.” Dan jangan ganggu saya, saya bukan orang yang kamu cari..!”
Tegasnya disana. Setelah pergi ia tak mampu memungkiri jika air matanya jatuh. Ternyata sesulit itu melupakan Habib kan? Padahal sudah tujuh belas tahun mereka berpisah.. kan sudah dibilang jika hati Nayya itu tulus dan juga lembut,
.
.
.
__ADS_1
.
...'Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys... ...