
Tak semua masa kelam atau masa lalu bisa diceritakan, tapi ada juga yang harus diceritakan untuk meyakinkan dan membuang kekeliruan dalam tindakan... Karena tak semua orang menerima masa lalu dan juga tak terima karena suatu tindakan yang berkaitan dengan masa lalu. ---Novi
...----------------...
“Yaudah kalo enggak mau. “Ujar Rian disana. Acha melirik sedikit membuat Rian tersenyum,.” Saya kasih kesmepatan dalam hitungan tiga yah. jika kamu tidak berubah pikiran maka tidak akan ada perubahan..dan kamu akan jadi tetap asing didalam hidup saya.”Ujarnya..
Acha disana diam kaku mendengarnya.”Satu....” Gumam Rian menghitung.
”Hayoo loh Acha... ayooo ayok.,.” Ujar Abinya mmbuat acha tambah galau dan kacau.
Rian disana melirik Habib dan tersenyum. “ Dua...” Gumam Rian disana dengan dalam mau mempermainkan Acha yang Gunna.”Ehmm...” Gumam Rian disana dengan dalam lagi membuat Acha disana menggigit bibir bawahnya. Ia melirik Nayya dan habib dengan gundanya. Nayya? ia hanya diam menatap sang anak.
“Ti---“
” Iya Acha mau...”Teriak Acha yang tak sadar menaiki okta suaranya. Hal yang membuat ia mengutuk dirinya sendiri dan memejamkan matanya, ia memukul bibirnya yang lancang. Rian disana mendengarnya tersenyum.
“Mau apa hm?”Tanya Rian disana dalam.
Acha disana meliriknya takut dan kedua orang tuanya.”Yah mau itu. Mau yang ditawarin abang tadi.”Ujarnya Acha dengan gugup dan juga pelan. Bersyukurlah Rian suka mencongkel telinganya membuat ia tak congek alias tuli haha.
Rian disana menatapnya mengoda.”yah tawaran yang mana? Ucapin yang jelasin Acha biar Saya tau Acha setuju yang mana gitu?”Tanyanya. ia hanya ingin menggoda Acha saja kok bukan apa-apa. Lihatlah muka merah Acha itu sangat menggemaskan.
Acha disana mendengus.”Auuu ahkk Acha kesellll.” Ujar Acha merajuk karena digoda.
Rian disana hanya menatap kelain arah dengan menahan tawanya.
“Ciee yang malu.. bilang aja malu kalo mau deket juga, mau dicum dipeluk ye kan Cha.”Ujar Habib membuat Acha disana menatap Habib dengan melotot.
”Ihh Abi kok bilang itu.”Ujar Acha disana dengan tak terima.
“Loh kan memang itu perjanjiannya,”Ujarnya Habib. Acha disana menatap abinya dengan mata merah sebab abinya tak salah si. Ia saja yang malu untuk bilang. Masa ia harus jelasakan kepada Rian hal yang ini? nanti dia dibilang genit lagi. "Fiks kita musuhan.... " Ujar Acha dengan muka garangnya.
“Kalo enggak mau jelasin yah udah deh. Abang enggak maksa tapi perjanjian batal.”Ujar Rian disana dingin dan tegas. Ia bersiap ingin pergi dari sana tanpa melirik Acha lagi.
Habib dan Nayya menatap Rian tak percaya. Bisa-bisanya wajahnya cepat sekali berubah, ia pemberi Harapan Palsu? Apa Acha sedang di Ghosting?
“Ihh abang...!” Rengek Acha disana membuat Rian menatapnya dengan alis terangkat.?”Iya acha mau abang sayang sama Acha dan tidak jijik dan benci lagi sama Acha. Acha mau dipeluk, digandeng dan cium kayak abang sama mbak Rani. Acha mau gitu.”Ujar Acha disana hampir mengeluarkan air matanya. Hati Acha bersih mudah sekali menangis jika tulus mengatakannya. Gigi-gigi mungulnya sibuk menggigit-gigit kecil bibirnya karena gugup.
Demi apa jantungnya terpacu lebih cepat bagai dikejar kuda. Paradigma-paradigma tak terduga melayang dimana-mana dikepalanya. Ia takut sekali dibilang tak tahu diri dan makin dibenci.
“Ada syaratnya tapi.”Ujar Rian disana dengan tersenyum.
Acha disana mengerjab menatapnya.”Itu tandanya abang tidak Ikhlas dong jika ada syarat.”Ujarnya tak terima.
Rian menggeleng.”Bukan tidak ikhlas tapi ini memang demi kebaikan kita. dan akan saya lakukan semua perjanjian ini dengan sebagaimana yang kamu mau.”Ujarnya disana dengan senyumnya. Senyumnya sedari tadi tak lepas membuat dada Acha bergetar hebat tak henti-hentinya. Bisa-bisanya ia yang sedari dulu tak pernah menatap senyum itu tapi hari ini ia mendapatkannya berkali-kali? Tolong bilang kebaikan apa yang Acha lakukan kemarin hmm?
Acha diam disana dan Rian kembali berujar.” Kita bukanlah makhrom Acha.”Ujarnya disana dengan helaan nafas. Acha diam mendengarnya dan menatapnya serius. Mata Rian menatap kelain arah dengan tatapan nanarnya.” Mangkanya saya tidak bisa menyamaratakan perlakukan saya kekamu dengan ke yang lain. “Ujarnya berat lagi.
“Tapi kata Umi dan Bunda jika Acha saudara sepersusuan sama anak-anak bunda Rindu kan? Jadi tidak apa-apa. Bang Raja dan ayah Rey juga tidak apa-apa. Kita kan masih tetap satu darah, darah yang sama dari bunda Rindu.”Ujarnya Acha disana polos. Sebab ia tak tau tragedy Rian.
Rian tersenyum menatap Acha, ia mengeleng lemah dan berkata.” Saya bukan anak kandung bunda Rindu.”Ujarnya membuat mata Acha melotot tak percaya.
Rian menghela nafas dan berujar lagi.”Saya diadopsi ketika bunda Rindu belum menikah dengan ayah Rey, saya dan Rani anak yatim piatu. Orang tua kami sudah meningal sejak kami bayi. Kami diasuh oleh paman dan bibi kami, tetapi kami diperlakukan tak layak dan tidak pantas. Ada banyak masa kelam yang kami lewatkan sedari kecil.”Ujar Rian yang tegar. Jika ingat dulu bagaimana ia dan adiknya diperlakukan kejam oleh keluarga paman dan bibinya ia akan selalu menangis.
Flashback...
Ctar....
Ctar...
Arh....
Suara cambukan itu menggema di ruangan itu. Suara tangisan anak kecil bersahut-sahut. Satunya menangis karena melihat adik perempuan yang ia sayangi dicambuk, dan satunya lagi menangis karena merasakan sakit dipunggungnya.
“Paman tolong jangan siksa adik saya. Saya mohon...” Teriak sang kakak laki-lakinya bersujud. Ya dia adalah Rian dan Rani sang anak kembar. Matanya penuh dengan air mata pilu. Sungguh, ia lebih suka dirinya dicambuk dari pada kembarannya.
“Dia anak yang malas.” Ucap sang paman sambil menendang dada sang Rian secara kasar.
Rian terpental jauh membuat punggungnya terbentur dinding. “Kakak. Hiks hiks. Kakak...” Teriak Rani sambil menyucurkan air mata. Ia menatap sang kakak yang meringis kesakitan.
“Kalian saya kurung disini sebagai hukuman karena memakan makanan dikulkas.” Teriak paman mereka lalu pergi meninggalkan Rian dan Rani yang mengerang sakit satu sama lain.
__ADS_1
“Kakak maafin Rani hiks hiks, nggak seharusnya Rani mencuri es krimnya Tara hiks hiks. Gara-gara Rani kakak jadi gini.” Ucapnya sembari merangkah menuju kakaknya.
Rian memaksakan dirinya tersenyum. “Nggak pa-pa kok. Ini semua salah kakak. Kakak nggak bisa kasih kamu makan es krim.” Jawabnya sendu.
Rian memeluk adiknya yang penuh luka lembut, ia juga menepuk pelan kepala adiknya dengan sayang.
Rian dan Rani adalah anak yatim piatu. Ayahnya meninggal saat ibunya mengandung mereka, ibu mereka juga meninggal saat sesudah melahirkan mereka. Orang tua mereka saat masih hidup berkerja sebagai PNS, menyebabkan mereka mendapatkan tunjangan dari Ayah dan Ibunya. Tapi sayangnya paman mereka tamak, mereka memakai embel ‘paman’ Untuk mengambil uang tunjangan untuk Rian dan Rani untuk dinikmati oleh keluarganya.
Sejak lahir Rian dan Rani selalu dipukul dan disiksa, mereka selalu diperlakukan layaknya babu, padahal umur mereka masih sangat kecil. Tapi saat ini Rian bertekat akan membawa adiknya kabur dari rumah ini.Ia sudah lelah melihat adiknya disiksa. Ia tak mau lagi adiknya menderita.
“Pelan-pelan ya, nanti kamu lompat.” Bisik Rian saat dijendela, ia menggendong Rani untuk bisa dijendela. Untunglah gudang ini berada dibelakang dan memiliki Jendela yang cukup besar.
“Kakak. Rani takut.” Ucap Rani meringis.
“Nggak apa-apa. Kita harus pergi sebelum paman nyiksa kita lagi.” Jawab Rian sembari membantu adiknya.
Hap...
Rani melompat dari jendela dan disusul oleh Rian. “Kamu nggak apa-apa?” Tanya Rian saat sudah melompat dari jendela.
“Kaki Rani sakit kak.” Jawab Rani sambil menangis.
“Jangan menangis. Nanti kalo kita udah keluar kita bebas. Katanya kamu mau makan es krim yang banyak, nanti kakak kerja buat kamu.” Ia mengelus kaki Rani dengan penuh kasih sayang.
“Janji?” Rani mengangkat kelingking kanannya dengan raut polos nan menggemaskan.
Rian terkekeh geli dan mengaitkan kelingking mereka. “Janji.” Jawabnya. “Tapi kamu harus kuat ya.” Lanjutnya yang dibalas anggukan dari Rani.
Rian membawa adiknya hati-hati. Mereka harus melewati jalan belakang rumah, jika mereka melewati jalan depan. mereka tak akan bisa kabur. Tapi sayangnya tak ada jalan jika lewat belakang. Dibelakang rumah itu ada tembok yang sangat tinggi, mana mungkin mereka bisa memanjat setinggi itu, tapi mata Rian beralih kelubang yang terbuat dari besi. Lebih tepatnya jalan untuk keluar dan masuknya anjing sii paman.
Karena tubuh mereka masih kecil. Sepertinya muat untuk mereka lewati.
“Ayo dek. Kita lewat sini.” Ucapnya sembari mendorong adiknya untuk pergi duluan.
“Ih kakak. Nanti luka lagi, liat besinya tajem-tajem.” Jawab Rani takut.
“Cepet dek. Kamu pasti bisa, nanti kita ketahuan paman.” Ucap Rian.
“Nggak mau. Itu jalan untuk anjing kak.” Rani menolak keras. Lubang itu sangat kecil, ditambah disisi-sisinya ada banyak besi yang tertancap, pastilah akan menggoresi tubuh mereka jika lewat sana.
“Diem..” Gumamnya saat Rani meringis perih karena tubuhnya terluka. Saat Rani sudah keluar ia mengikuti Rani dari belakang.
Untunglah mereka tak ketahuan, sepertinya istri pamannya memang setuju jika mereka pergi. Buktinya saat ini ia tak peduli padahal Rian tau jika bibinya itu tau jika Rian dan Rani pergi.
Syukurlah...
Sesudah kejadian itu membuat Rani dan Rian lontang-lantung dijalanan, sudah seharian ini mereka tak makan. Ditambah Rani yang karena cambukan dan luka saat melewati jalan lubang anjing membuatnya demam tinggi. Lapar? Sangat lapar. Membuat Rian mencuri roti disebuah warung untuk adiknya. Namun sayangnya saat itu ia tertangkap dan dikejar warga.
“Bunuh saja pak. Masih kecil sudah berani mencuri...!”
“Kamu ini masih kecil tapi sudah suka mencuri. Nanti jika besar mau jadi apa kamu? Penjahat?”
“Jadi anak jangan nakal.”
“Hiss hiks. Maaf pak, “
Suara anak kecil lemah yang menangis memasuki telingah Rindu.
Cepat-cepat Rindu menuju kerumunan, ia membelah para bapak-bapak dan ibu-ibu yang menghakimi anak kecil. Dapat Rindu lihat, disana ada dua anak kecil, mungkin berumur 5tahun. Satu orang perempuan, gadis kecil itu terbujur kaku dengan banyak luka ditubuhnya, bajunya robek sana sini, tubuh mungilnya dipeluk oleh seorang pria kecil, mungkin itu kakaknya, sepertinya mereka kembar. Keadaan pria kecil itu tak kalah mengenaskan, wajahnya penuh air mata dan lebam, bahkan tubuhnya banyak luka memar akibat pukulan warga sekitar.
“Sudah, bawah aja kekantor polisi..!”
“Iya bener tu. Kalo nggak kita bunuh aja, itung-itung basmi penjahat masa depan.” Sahut dari warga lain.
“hiks hiks. Maafin kami, tolongin adik saya.” Guman pria kecil itu piluh, ia memeluk gadis kecil didekapannya erat.
Rindu menatap itu jadi teringat akan dirinya dan abangnya Rasyit. Meskipun mereka sering cek cok, tapi mereka bakal saling melindungi dan saling menguatkan.
“Allahhhhhh. nggak usah kasih muka polos. Dasar anak baj*ng..!” Teriak warga.
Rindu maju dan memegang tangan bapak-bapak yang mengatakan anak itu anak bajang. Tangan itu menggenggam erat kayu balok yang ia ingin hantamkan keatas kepala pria kecil itu. Refleks pria kecil itu menutupi matanya erat dan membawa gadis kecil dipelukannya semakin erat, seakan-akan melindungi.
__ADS_1
“ He... apa-apa’an kamu.?” Bentak pria paru baya yang Rindu tahan. Mata pria kecil itu kembali terbuka saat ia tak merasakan pukulan dikepanya, ia melihat Rindu yang mencekal erat tangan pria paru baya.
“Apa kalian tak punya perasaan. Lihat lah mereka masih kecil.” Ucap Rindu tegas.
“Dia pencuri..!” Teriak orang lain.
“Memangnya dia mencuri apa?” Tannya Rindu .
“Dia mencuri roti diwarung saya, masih kecil saja ia sudah berani mencuri, lalu bagaimana nanti...!” Bentak pria yang tak lain pemilik warung. Wajahnya merah marah. Usianya mungkin sekitar 30-40 tahun.
Rindu menggelengkan kepalanya. Inilah yang membuatnya ingin belajar hukum, mengapa hukum begitu kejam? Apakah sebanding roti dan luka?. “Berapa harga roti bapak? Dan coba bapak bandingkan dengan nyawa bapak.” Ucap Rindu.
“Maksud kamu apa ha? Kamu ini pasti kakaknya pencuri ini.” Bentak salah satu warga lain.
Rindu menghela nafas. Memang susah jika bicara kepada orang awam, belum lagi, tak semua dari kalangan kita memiliki ilmu tinggi dan memahami ucapan kita. Salah sedikit saja bicara, pasti akan melebar kemana-mana.
“Saya bukan kakaknya. Tapi saya tegaskan kepada kalian, Negara kita negara hukum. Tak sepantasnya bapak-bapak menghakimi orang seenak perut kalian. kalian pikir roti kalian bisa bawa kekuburan? “ Ucap Rindu tegas. “Jika bapak-bapak tidak mau bubar sekarang juga, maka saya pastikan saya akan melapor kepada polisi, dan siapapun yang sudah melukai anak ini akan masuk penjara. Dan tenang saja, saya anak hukum. Mudah bagi saya untuk menyebloskan kalian kepenjara.” Peringatan sekaligus ancaman dari Rindu.
Sebenarnya tak ada sangkut pautnya anak hukum dan penjara, tapi jika ia pengacara mungkin sangat berpengaruh. Apa lagi ia sekarang tidak kulia. Rindu hanya mencari alibi untuk tak memanjang tali kelambu.
Para warga pun saling bertatapan. “Kami bebaskan kali ini. tapi jika lain kali dia mencuri lagi, habis...” Acam salah satu warga.
Yang lainpun mengangguk. Saat sudah mengancam, barulah mereka pergi meninggalkan Rindu dan anak-anak itu.
Mata Rindu beralih menatap anak-anak didepannya. Tangisnya sangat piluh. Ia mendekat dan berjongkok didepan anak-anak itu. “Kalian nggak apa-apa?” Tannya Rindu.
“Kak. Jangan masukin kami kepolisi kak. Tolong kak. Maafin kami. Ini salah Rian, Rian mencuri karena adek Rani sakit belum makan dari kemarin, hiks hiks. Sekarang gara-gara Rian, Rani jadi gini. Kak bantuin Rian, Rian nggak mau Rani mati.” Ucapnya terisak-isak.
Tangisannya begitu piluh didengar Rindu.
Tangan Rindu terulur memegang kepala pria kecil yang kumuh itu. “Kakak nggak bakal masukin kalian penjara. Sini kakak bawah adik kamu kerumah sakit.” Ucap Rindu lembut.
Mata pria kecil bernama Rian itu berkaca-kaca. Jejak air mata suci masih mengalir deras dipipinya, wajahnya kotor penuh tanah. Disudut-sudut bibir dan mata-nya penuh memar. “Beneran kak?” Tanyanya penuh harap.
Rindu mengulurkan tangannya menggendong gadis kecil yang bernama Rani , awalnya Rian tahan, tapi Rindu mengucapkan. “Ayo. Nanti adik kamu makin sakit mau?” Tannya Rindu.
Tangan Rian langsung melepaskan adiknya, ia tak tau apa ini pilihan yang tepat, tapi ia sangat butuh abntuan gadis remaja didepannya.
Rindu mengangkat Rani berdiri. Tubuh Rani sangat kurus, bagaikan kurang gizi, wajahnya begitu pucat, tapi entah Rindu merasakan punggung gadis ini ada cairan yang menempel dibajunya dan merembas kekulitnya, bajunya berwarna biru tapi sudah menjadi hitam terkena debu dan tanah. Ia memegang tangan mungkin Rian digenggaman tangan kirinya. “Ayo. “ Ucap Rindu pelan.
Wajah Rian mendongak menatap Rindu. Lalu matanya beralih menatap tangannya yang ditangkap dan digenggam lembut oleh Rindu. Ia pun mengikuti jalan Rindu dengan terpincang-pincang sambil menggigit bibir bawahnya.
Rindu menghentikan jalannya, ia menatap Rian “ Kaki kamu sakit?” Tannya Rindu.
Rianpun menggeleng takut, ia menggigit bibir bawahnya kuat, bisa ia rasakan kakinya pasti terkilir, atau mungkin tulangnya retak karena pukulan dari warga..
Rindu menatap Rian, ia tahu jika Rian berbohong. tapi bagaimana ia bisa membawa dua anak sekaligus, ia saja sedang sakit sekarang. Tapi bagaimana ini? mereka bahkan belum sampai diarena bus atau dijalan besar. Ia memilih berjongok. “Naik punggung kakak aja.” Ucap Rindu.
Rian menatap Rindu. “Tapi Kak—“
“Ceperan. Nanti adik kamu tambah para loo.” Ucap Rindu lembut. Rianpun mau tak mau memeluk Rindu. Tangannya melingkar sempurnah dileher Rindu, kakinya menghapit kaki Rindu erat.
Rindu berdiri. Tak bisa ia berbohong, jika Rian dan Rani jika digabungkan Sangat berat. Tapi sebisa mungkin ia berjalan cepat pergi kejalan raya dan mencari taksi. Tangan kanannya memopong tubuh Rani. Sedangkan tangan kirinya menahan tubuh Rian dipunggungnya, supaya tubuh Rian tertahan. Ia beberapa kali berhenti dan memposisikan tangannya supaya bisa menahan Rian dan Rani.
“Kalo kakak nggak kuat, Rian jalan aja, nggak apa-apa kok.” Ucap Rian merasa bersalah.
“ Kita cari taksi dulu. Baru kamu bisa jalan ya.” Jawab Rindu ditengah menarik nafas dalam.
Untunglah Allah sangat menyayangi Rindu. Saat mereka sudah sampai dipinggir jalan, Rindu dapat melihat taxsi. “ Taxsii...” Panggil Rindu kencang.
Taxsi itupun berhenti Didepan Rindu. Rindu bejongkok sebentar untuk.menurunkan Rian., “ Ayo masuk.” Ucap Rindu.
Of Flashback..
Air mata itu kembali jatuh jika terinat kisah itu. “Jadi kakak bukan anak kandungnya Bubun Rindu?” Tanya Acha pelan tak percaya.
Rian menganggguk membuat Acha diam,”Dan mau bagaimanapun kita bukan mahkrom dan tetap tidak boleh berinteraksi secara intens.”Ujarnya. Acha mengangguk paham dibuatnya.
“Karena kamu mau dipekuk dan juga diperlakukan sebagaimana saya memperlakukan yang lain.. kamu harus..”Ia terdiam sebentar. Acha diam mendenarnya dengan serius., Rian menghela nafas menormalkan jantungnya.” Kamu harus jadi istri saya dan kita bisa bersentuhan.”Ujar Rian dengan gugup. Ia tak pernah segugup dan tidak percaya diri begini.
Acha menatapnya dengan tatapan tak percaya dibuatnya.”Maksud abang menikah gitu?”Tanyanya disana dengan tatapan menuntut. Jantungnya kembali terpacu dengan pertanyaan itu.”kamu bukan bang Rian kan? ini acha belum bangun kan?” Gumam Acha disana dengan lirih.
__ADS_1
. ....
...Ini part ada di Novel Rindu cuma disini ada banyak yang belum baca, jadi aku jelasin balik yah.... Jadi bagi yang sudah tau Jangan protes biar tidak ada kekeliruan hehe......