Istri Butaku

Istri Butaku
Kewajiban


__ADS_3

Habib menatap Nayya yang sedari tadi menjadi semakin kagum. Jujur saja, ia baru pertama kali melihat gadis yang tak pernah mau melihatkan kesedihan kepada orang tuannya. Betapa besarkah cintanya terhadap orang tuanya? Jujur saja, ia bahkan iri karena ia saja belum sebesar itu cintannya kepada Umi dan abinya. Ia bahkan masih terang-terangan mengeluh dan menangis kepada orang tua, Bahkan lagi.... ada saat dimana ia masih mengucapkan kata yang bertentangan. Sedangkan Nayya?. Menangis saja ia tak mau dihadapan orang tuannya?. Bahkan semenjak kecelakaan itu dan Nayya sadar. Ia sama sekali belum pernah mendengar Nayya mengeluh, baik dari cacatnya, makanan, capek, sakit. Bahakan kebutaan yang ia dapatkan.


“Adek nggak papakan?” Tannya Habib canggung. Ia mengusap air mata Nayya lembut.


“Nggak apa-apa kok mas.” Jawab Nayya sambil tersenyum piluh. Semua yang ia lewatkan saat ini sama sekali tak pernah ia pikirkan. Seakan-akan dunianya direnggut paksa oleh takdir.


“Habib. Ajak Nayya kedalam yuk, kenalin sama Fatih dan Aisya. Nayyakan belum pernah ketemu mereka.” Ucap umi Ana lembut.


“Bener. Ayokk Nayya...” Sahut kyai Abu.


Dibelakang Kyai Abu dan umi Ana sudah ada Aisya dan Fatih yang menunggu. Mereka yang sedari tadi menatap Nayya dan Habib dalam diam. Mereka bahkan tak tau harus mengatakan apa.


“Nay kenalin, ini ada Aisya dan ada Fatih.” Ucap Habib. Ia mendorong kursi roda Nayya menuju dekat keluargannya.


Nayya hannya tersenyum tipis. “Assalamu’alaikum. Salam dari Nayya semua.” Ucapnya polos.


“Hallo kak Nayya..” Sahut Fatih lembut. Ia tersenyum ramah padah kakak iparnya.


Tapi tidak dengan Aisya. Ia menatap Nayya sinis. Untunglah Nayya tak dapat melihat itu.


“Aisyaa....” Panggil umi Ana memperingati.


Aisya memutar bola mata malas. Ia mengulurkan tangannya dihadapan Nayya.


“Aisya adiknya kak Habib.” Ucapnya malas. Tapi sesaat setelahnya ia terkejut saat Nayya tak bergeming, bahkan matannya tak menatap tangannya.


“Hai Aisya. Salam kenal.” Nayya hanya menjawab lembut.


Aisya mengernyit. Ia melambaikan tangan dihadapan Nayya, “ Kamu nggak bisa liat?” Tanyanya polos. Bukan hanya Aisya yang kaget, tapi juga Fatih, pembantu dan ustadz temannya Habib.


Bukannya tersinggung Nayya memberi senyum manis sebagai jawabannya.


“Aisya....” Peringat umi Ana lagi.

__ADS_1


“Ais kan Cuma nannya mii. Lagiankan memang kenyatan. Jadi gara-gara dia cacat sama buta abang mau nikahin dia dan ninggalin kak khumaira.” Jawabnya lagi.


Nayya mengernyit. Khumairola? Siapa dia?. Ia hanua mendengar tanpa menjawab atau menanyakannya. Ia terlalu malas bergelut dengan hati yang rapuh.


“Aisya, abi nggak pernah ngajarin kamu ngomong kasar ya.” Sahut kyai sedikit meninggi.


“Aisyaa, kok mulutnya gitu?” Tannya Habib manis. Ia tersenyum miris nan masam kepada adik perempuannya. Yang sama sekali tak memikirkan perasaan orang lain.


“Habibb. Ajak Nayya masuk aja yuk, kasihhan dia. Pasti capek Nayyanya.” Ucap umi Ana. Ia ingin mengusir rasa canggung antara menantu dan anaknya.


Habib mengannguk. Ia membawa Nayya masuk tanpa bicara. Sampai pada Nayya yang angkat bicara. “Mas. Sekarang sudah jam berapa?” Tannyanya.


Habib melirik jam dipergelangan tangannya.” Sudah jam empat dek.” Jawabnya.


“Nay mau sholat Ashar. “ Ucap Nayya polos.


Habib membulatkan matannya kaget.


Nayya tak tau harus mengatakan apa. Ia tak tau mengabil air wudhu, tangga bahkan masih diperban, kakinya jauh lebih parah. Ia masih sangat canggung jika jilbabnya dibuka oleh pria. Meskipun Habib suaminya, tapi tetap saja Nayya masih merasakan canggung.


Habib menghentikan kursi roda Nayya. Ia melangkah menghadap Nayya. “Sini mas, bantu adek ambil wudhu.” Ucapnya lembut.


Nayya hannya pasrah. Toh ia juga mahrom bukan?. jantungnnya berdetak cepat saat Habib membuka jilbabnya pelan. Ia bahkan menangis, karena baru kali ini ia membuka jilbab dihadapan pria.


Habib terkejut melihat Nayya mennagis lagi saat ia mencoba membuka jarum bentul dijilbabnya. Ia nerik tanngannya kembali, ia menatap wajah cantik Nayya. “Adek kenapa nangis?. Apa karena Aisya tadi?” Tanyanya ragu. Ia sangat tak merasa enak kepada Nayya karena tak mendapatkan respon baik dari adiknya.


Nayya menggeleng cepat. “Nayya nggak tau. Nayya takut mas buka jilbab Nay.” Jawabnya polos. Ia bahkan bertambah menangis.


Habib terkejut, ia semakin tak tau berbuat apa. Ia baru kali ini mengurusi perempuan, “Aduh. Mas minta maaf, mas Cuma mau bantuin Nayya ambil wudhu kok. Maskan udah janji ngurusin Nayy dengan baik. Nayya jangan bikin mas takut.” Jawab Habib takut.


Nayya hannya mengannguk. Ia tak bisa mengelak. Toh kondisinya memang memprihatinkan. Ia mencoba tersenyum manis.”Jadi mas bolehkan bantuin adek?” Tanya Habib ragu. Nayyapun mengannguk patuh.


Habib menghembuskan Napas kasar. Tanngannya gemetar membuka jilbab Nayya. Sedangkan Nayya menetralkan ritme jantungnya yang tak terkendali.

__ADS_1


Habib tak bisa berbohong tentang kecantikan Nayya. Bahkan ia tak berkedip saat jilbab itu terbuka, rambut Nayya yang panjang diikat bawah supaya tak menimbulkan punuk unta, ( sanggul yang menjulang tinggi. Yang seperti yang diriwayatkan jika perempuan menggunakan punuk unta saat berjilbab, maka ia tak akan dapat menicum baunya syurga.)


Mata bening Nayya menatap lurus, ia merasakan tangan Habib yang mengguyuri tangannya pelan dengan air wudhu, ia mulai membaca niatnya. Mulai dari telapak tangan, air kumur-kumur Nayya, mengusap hidung, membersikan dan mengusapkan wajah, membasuk tanngan Nayya dari ujung kuku samapai siku, ubun-ubung, telinga dan juga kaki. Semuannya Habib lakukan dengan lembut, seperti tak ingin menyakiti bagian tubuh Nayya. Ia juga mengarahkan kursi roda Nayya menghadap kiblat untuk membaca niat.


Setelah membantu Nayya. Habib mengambil air wudhu untuknya sendiri. Nayya menunggu Habib penuh dengan kesabaran. Saat Habib selesai, ia menorong kursi roda Nayya menuju kamar.


Habib kembali gemetar saat melihat wajah cantik istrinya. Wajah teduh penuh dengan syahdu, ia memakaikan mukena Nayya dengan telaten, matanya tak henti-henti mengagumi kecantikan Nayya. Sebenarnya Khumairo lebih cantik dari Nayya, tapi ntah apa yang membuat Nayya menjadi lebih bisa membuat ia tak bisa menundukkan kepalannya, menjaga pandangan seperti kepada perempuan lain. Atau mungkin hati Habib memang sudah mengklime Nayya sebagai istrinya. Ia tak tau. Ada rasa damai tersendiri saat menatap wajah polos Nayya.


Ia meletakkan posisi Nayya dibelakang sajjadahnya. Ia mulai mengimami Nayya dengan khidmat. Nayyapun juga melaksanakan sholat dengan khusyuk. Rakaat demi rakaat, bahkan ia terlalu nyaman dengan sholat, rasanya ia ingin menambah rakaat sholat semakin khusyuk dan nikmatnya sholat itu.


Habib tersenyum lembut saat ia sudah berdoa. Ia menatap Nayya dibelakangnya. Ia mengelus puncuk kepada istriunya lembut dan mencium kening Nayya lembut. Nayya membola matannya. Ini yang kedua kalinya Habib mencium keningnya.


“Biar dapet berkah. katanya kalo cium kening istri saat udah sholat dapet berkah dari Allah hehe.” Ucap Habib canggung atas tindakannya. Entah, ia sangat ingin mencium Nayya setelah sholat, sebelum sholat, pergi berkerja. Ia ingin menumbuhkan cinta dihatinya, meskipun ia tak sadar jika ia sudah mengagumi Nayya sedari Nayya bangun dari tidurnya.


Ingin mengusir canggung Nayya mengalihkan percakapan. “Nay capek, mau istirahan mas.” Ucapnya gugup.


“Tapi adek belum mandikan?” Tanya Habaib. Nayyapun mengannguk. Ia memang merasakan gerah, tapi ia rak tau mau mandi bagaimana.


“Yaudah sini mas bantu.” Ucap Habib santai.


“Nggak. Suruh umi Ana atau siapa aja gitu. Nay nggak mau.” Jawab Nayya cepat. Siapa yang mau coba?. Memang ia suaminya, tapi tetap saja ia tak sanggup menahan malu. Selama ia sakit memang bundannya yang selalu membantunya membersikan diri. Tapi ia sampai tak memikirkan hal itu saat mau tinggal dirumah Habib.


Habib tertegun. “Tapi mas nggak enak. Kitakan sudah mahrom dek. Mas udah janji bakal jadi mata kamu buat ngeliat, tangan mas akan jadi tangan kamu, dan kaki mas juga tangan kamu. Mas mau nebusin semuannya. Bukannya Nayya nggak ngizinin mas buat berjanji, tapi mas harus berusaha nepatin apapun yang mas tekatin. Mas mau tepatin semuanya.” Jelas Habib. Memang seperti itu sebenarnya yang ia inginkan. Bukannya ia seorang lelaki yang mesum, hanya saja, ia memang sudah bertekat mengurus Nayya dengan tangannya sendiri. Ia sudah menganngap Nayya sebagai tanngung jawab nya.


Atau karena modus?


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2