
Pagi yang cerah diawali dengan yang cerahkan seharusnya? Namun beda dengan Arga. Si lelaki yang terkenal irit bicara dan ramah pada semua orang dan selalu menjaga pandanganya,, tak tersentuh dan juga terkenal sangat pintar dan juga kesayangan beberapa dosen, bahkan ia ditawarkan beasiswa.
Namun segera ayahnya tolak karena ia masih mampu membayar dan juga memasukan anaknya dengan uang yang mereka miliki. Tapi Arga malah mengalihkan beasiswa itu kepada temannya yang tak lain dari yatim piatu yang tak memiliki orang tua. Dia memang tak sepintar Arga namun dia orang yang sangat rajin.
Pagi ini Arga cukup pusing karena kaget ketika dosennya menyuruhnya harus sampai kampus jam 7 pagi, padahal tadi ia mau masuk siang jam 11 tapi kenapa begini? Padahal ia baru pulang jogging tadi. Ia segera menuju kamar mandi dan menyiapkan diri.
“Lah-lah.. bukannnya kamu masuknya jam 11 yah Ga? Katanya mau ke kantor ayah dulu?”Tanya Rey disana memakan Rotti yang Rindu beri. Ia menatap anaknya dengan tatapan heran. Ia hafal semua kegiatan anak-anaknya.,
Arga memjit peliisnya mentap ayahnya dan semua yang dimeja makan. Ia duduk sebntar dan menghabiskan sau gelas susu yang disiapkan lalu mengambil roti yang disediakan, ia menaruhnya diatas kertas.” Tadi dosenya Arga nyuruh dateng cepet buat bantuin dosen baru yang kemarin telat dateng buat ngenalin fakultas lagi.. “IUjarnya sedikit tak suka.
“Mau bareng Umi enggak? Kita bareng yuk.”Ujarnya Nayya kepada anaknya yang sudah mau pergi itu.
Arga disnana mendekati Uminya dan menyaaminya, tak lupa juga tersenyum.”Enggak usah mi. Arga mau cepet jadi pakek mobil sendiri aja.. maaf yah.”Ujarnya disana membuat Nayya mengangguk mengusap kepala anaknya sayang.
Arga menatap Rindu dengan rasa bersalah.”Bunda maafin Arga yah enggak bisa makan makanan bunda disini. Tapi Arga makan dimobil kok janji.”Ujarnya membuat Rindu disana tersenyum dan mengangguk. Arga memang sangat baik.
”Yaudah.. Arga pegi duluan yah.. Assalamu’alaikum..”Ujarnya mencium tangan Rindu dan Rey.
“IIya Arga hari-hati...!” Ujarnya Rey disana membuat Arga disana mengangguk dan melangkah menjauh dari sana. Ada yang bertanya dimana Raja? Raja sedang study Tour diluar membuat kedua dia tak berada diisini. Untuk sementara waktu dan pengurangan tokoh dinovel juga.
“Yaudah. Acha pergi sama siapa?”Tanya Nayya disana kepada anaknya.”Mau sama umi saja?”Tanyanya lagi.
Acha disana mengeleng.”Acha mau sama bunda, soalnya Acha mau liat panti dulu sama bunda, kana Acha masuknya jam 8.”Ujarnya disana.
Nayya disana menghela nafas.” Yaudah kalo giitu deh. Umi sendiri jadinya.”Ujarnya dan digelaki oleh Avha dan lainnnya. Nayya memang harus berbagi kepada anaknya. Anaknya dekat dengan Rindu dan Rey jadi tidak terlalu rewel jika tidak ada dirinya dirumah, namun sifat manjanya Acha kadang tak bisa dikontrol juga. Jadi bisa dikatakan dengan mereka hidup bersama bebannya Nayya ikut berkurang.
Namun dalam hati Nayya menjerit dan berkata.”Lihatlah mas Habib.. Khumairo.. aku masih bisa berdiri sendiri kan? Bisa tegak dengan anak-anakku? Bahkan jika kita hidup bersama, aku rasa anak-anakku tak akan sebahagia ini.”Gumamnhya dalam hati.
Anaknya tak kekurangan kasih sayang. Namun satu yang jadi pertanyaan., apakah anaknya akan senang ketika tahu mereka bukan anak kandung Rey dan memiliki ayah lain yang memilih anak lain? Jujur Nayya takut anaknya tahu meski suatu saat nanti pasti semuanya akan terbongkar. Setelah beberapa saat mereka pun pergi ke tujuan masing-maisng.
...----------------...
Langkah kaki sosok lelaki yang mengenakan baju jasnya dan juga kopi ditanganya itu terlihat santai menuju mobilnya. Tatapanya dingin dan tajam mnatap semua wanita yang menatapnya lapar. Ia sangat tampan dan juga mempersona dimata banyak orang disana.
Namun ketika melewati lampu merah ia harus terhenti dulu menunggu untuk lewat. Disana ia melirik sekeliling dan kembali lewat ketika mobil-mobil sudah berhenti dan dia boleh berjalan. Namun langkahnya terhenti sekilas ketika melihat satu sosok keluar dari toko bunga dan memasuki mobilnya.. sosok itu sosok yang ia kenal..
Ia mengucek matanya pelan dan melihat lagi.. jantungnya berdetak cepat melihatnya.
__ADS_1
“Tin..Tin.. Tin..”Suara klakson mulai terdengar membuat ia kaget dan segra berlari melempar kopi yang ia pegang.. ia menuju mobil yang melaju dan Brak..
“Arghh.. Panas.. Panas..Bunda Huaaaa...!!!!” Teriakan gadis dibelakangnya tak ia hiraukan dan tak ia dengarkan. Ia bahkan semakin berlari dengan cemasnya menatap mobil kian menjuah itu.”Nay berhenti Nay.. Ini mas Nay..” Teriaknya nanar disana namun mobil itu melaju cukup jauh.
Nafasnya memburu menabrak pejalan kaki dan beberapa kali ia menabrak pesepeda dan juga lainnya. Bahkan hamper ditabrak mobil dan juga mesin es krim.”Nayya pulang nayya.. ini Mas Nay..!” teriaknya nanar semakin jauh dan mobil itu tak terlihat. Air matanya jatuh mengingatnya. Itu benar benar Nayya tadikan? Ia menggigut kuku-kukunya nanar dan menghela nafas..
Sedangkan sosok yang tersiram air kopi panasnya Habib tadi disana menangis dipeluk bundanya dan dibawa ketoilet terdekat.”Hua bunda sakit hiks hiks. Bunda hua..”teriaknya merasakan perih dibagian sebelah wajahnya yang memerah dan matanya yang kemasukan serbuk kopi. Matanya sudah penuh dengan air mata sehingga membengkak. Tubuhnya kacau, semuanya jelek dan hitam.
Bundanya sibuk membersihkan wajah anaknya dengan air dingin dan lap basah.”Sutt diem dulu mangkanya jangan nangis. Liat mukanya tambah jelek tauk.”Ujarnya disana menghela nafas menatap anaknya yang terus saja menangis disana.
Acha disana menghentikan tangis namun masih sesuegkan. Yah yang kena itu Acha..!! ia menatap bundanya dengan nanar.” Bunda cakit... liat nih mukanya Caca mela-mela. Acha tidak jua jelek...”ujarnya disana karena tangisan suaranya tak jelas..
Rindu disana mengusap pelipisnya. Lalu ia mengeluarkan bajunya dari dalam tas.”Yaudah Acha bersihin dulu badannya kan acha mau kulia, atau enggak usah kulia dulu Acha nya hm? “Tanyanya disana lembut..”Atau mau pulang sama bunda biar nanti sore aja kita kepantinya?”Tadi mereka mau kepanti dengan jalan kaki sebab hanya dekat tetapi diperjalanan mereka melihat sosok lelaki yang diam ditengah jalan membuat mereka kaget dijkalah tiba-tiba saja Acha dilemparkan kopi dibagian wajah dan juga bagian atas bajunya dan orangnya pergi begitu saja tanpa bicara apa-apa. Jadilah begini.
Acha menatap bundanya nanar,”Enggak mau bunda. Acha mau skeolah.”Ujarnya menagis lagi.”Achakan enggak pinter kayak bang Arga, kalo kata bunda Acha boleh enggak pinter tapi enggak boleh males, nanti Acha tambah bodoh. Acha engak mau tambah bodoh, Acha mau sekolah dan banggain bunda, umi dan ayah kayak abang hiks hiks.”Ia bagaikan anak kecil yang sangat suci dan polos.
“Yaudah kalo gitu bersih-bersih dulu sana. Bunda beli salebnya nanti bunda kesini lagi. Bunda minta penjaganya jagain Acha dulu yah.”Ujarnya disana.
Acha disana menggeleng.”Suruh penjaga aja yang beli biar bunda jaga Acha. Acha takut.”Ujarnya nanar.
Ia pun dibantu oleh Rindu memasuki kamar mandi yang ada disana dengan lembut dan penuh kasih, sedangkan anak? Anak hanya menahan tangisnya sebab matanya yang memerah karena perih dan sakit, wajah yang terasa perih, untung saja itu bukan air panas yang baru diangkat dari kompor jika tidak suka mengelupas wajahnya. Itu saja wajahnya merah semua.
Bersyukurlah Rindu yang selalu siapsiaga akan baju dimanapun karena mau solat takut terkena najis dan lainnya. Jadi yah tidak meski pergi jauh-jauh lagi.
Kenapa Acha tak dibawa keklinik? Kan sudah dikatakan Acha tidak suka bauh obat dan yang berhubungan dengan suasana yang sakit begitu. Jadi ya gini.
Dilain tempat ada Habib yang disana menghela nafas dan menatap nanar kedepan. Ia mengusap wajahnya.”Apa cuma halusinasi atau Cuma mirip?”GFumamnya. ia menghela nafas dan mengeleng.”sepertinya Cuma mirip.”Gumamnya lalu memilih pergi, namun sekali lagi ia melirik kebelakang tanpa ia sadari jika ia berdiri disana lebih dari setengah jam dan telat menuju kampus melupakan sosok yang menunggunya.
Dilain tempat ada sosok yang menghela nafas berkali kali untuk mengusir rasa kesalnya. Ia menatap nanar kedepan pintu menunggu sosok yang akan datang. Sudah satu jam lebih ia menunggu tetapi sosok yang ditunggu tak juga ada.” Ini kok dosen bisa enggak disiplin? Awal tidak disiplin.? terus."Ujarnya menghela nafas menggeleng dan membaca buku.
Namun ia terdiam dikalah melihat dibuku itu ada surat yang berwarna pink, ia disana menatapnya dan membuangnya. Dan kembali terlihat membuat ia disana menghela nafas lagi. para wanita disini memang sering begitu. Bagaimana bisa mereka menaruh semua itu dilokernya bukan? Tapi tak apa, terserah mereka yang terpenting sekarang adalah dosen yang akan datang, karena merasa waktunya sia-sia ia memilih mengambil wudhu untuk sholat duha 4rakaat aja dulu dan sholat dimushola terdekat. Jangan salahkan dirinya yah.
sesudah ia sholat barulah ia menuju ditempat ia menungu dosen tadi, dan disana ternyata sudah ramai dengan dosen yang lain sedang bersalaman dengan sososk yang asing baginya. Apa dia dosen barunya? Tapi kok rasanya tak asing yah? Apa ia pernah kenal sebelumnya?
“Oh ini dia nak Arganya pak Habib.. maaf dia sedikit telat sepertinya tadi ia ketoilet sebentar.”ujar dari Dekan yang ada disana sopan kepada sosok didepanya itu. Ia tersenyum kepada Arga yang disana terdiam dna mengangguk.
“Maaf pak. Tadi saya sudah lama menungguh, karena sudah lama akhirnya saya memutuskan mengerjakan sesuatu dulu.”Ujarnya disana jujur namun tak bilang jika yang ia kerjakan adalah sholat. Sebab ia tak pernah mau membicarakan ibadahnya.
__ADS_1
Sosok didepanya itu tersenyum.”Tidak apa-apa. Maaf membuat kamu lama kenunggu. Maaf tadi ada urusan mendadak yang saya urus sebentar. “Ujarnya kepada Arga dengan senyum. Namun senyum itu Nampak sangat sendu dan sayu. Arga hanya tersenyum.
“Tapi ngomong-ngomong pak Habib agak mirip sama Arga yah.”Ujar dari pak dekan disana kepada mereka dengan kekehan.”Cuma bedanya pak Habib sudah tua dan Arga masih muda, dan bola matanya yang mirip.” Ujarnya disana menatap Habib dan Arga secara bergantian..
Arga disana pun menatapnya dengan diam. Benar, bola matanya mirip dengan bola mata miliknya membuat ia disana terdiam dengan bingungnya. Tapi ia pun bisa menjawab.”Kan didunia ini katanya ada 7 orang yang mirip mungkin kita salah satunya.”Ujarnya disana dengan santun
“Hahah iya yah. Siapa tahukan kalian anak sama ayah atau adik dan kakak.”Ujar pak Dekan disana tergelak membuat Habib disana smekain menatap Arga lekat dan juga dalam sedangkan Arga disana hanya menatap lain arah karena risih ketika ditatap begitu dengan orang yang tak ia kenal.
Gostur tubuh mereka memang mirip, bedanya Arga kurus dan Habib disana tubuhnya kekar, wajahnya Habib memiliki bulu-bulu halus sedangkan dia tidak, bahkan janggut saja ia tak punya. Bentuk wajah mereka sama, hidung mereka sama namun yang Habib lebih mancung sedangkan yang Arga Nampak sangat pas untuk wajahnya dan juga sangat cantik. Arga memang sangat tampan dimata Habib.
“Yasudah jika begitu saya pergi dulu pak Habib. Anda bisa meminta bantuan nak Arga untuk keliling kampus kita. “Ujarnya disana. Habibpun mengangguk dan tersenyum.”Terimakasih pak.” Ujarnya disana tersenyum membuat dekan itu menganguk dan pergi.
Arga disana pun tersenyum.”Mari pak saya bantu membereskan barang-barangnya. Atau mau keliling dulu?”Tanya Arga sopan. Arga memang pengurus dibidang pengenalan kampus. Bisa dikatakan duta kampus akibat kegantengan dia. Mangkanya dia disini.
Nampak Habib ingin memeluknya, matanya nanar. Arga sangat mirip dengan foto anaknya namun ia tak berani membuat ia menatap kebawah nanar dan tersenyum.” Kita bereskan dulu saja barang lalu nanti baru keliling. Mau?”Tanmyanya disana dan diangguki oleh Arga rishi. Mata Habib sangat beda dan juga sayu.
Arga dan Hbaib mulai memasuki ruangan milik Habib serta menatap barang Habib, hanya beberapa buku dan berkas penting, ada beberapa mab dan juga mainan disana. Namun Arga disana sangat risih ketika Habib menatapnya lama dan dalam sedari tadi, ia selalu ciri-curi pandang disana membuat ia tak suka. Bukan maksud apa, kan sekarang zamannya laki-laki tidak normal atau kembali lagi kezamannya nabi Luth. Astaghfiriullah Arga.. kamu tidak boleh begitu.
Arga pun menghela nafas menghilangkan pikiran jeleknya dan bertanya. “Bapak kenapa liatin saya sperti itu terus? Apa didiri saya ada yang salah?”tanyanya berani. Arga bukan pengecut yah. Dia pemberani, juara satu taikwonmwo dan juga karate malah.
Habib disana pun meringis, ternyata sosok yang ia tatap menyadarinya. Ia pun menjawab.”Anu. maaf yah, saya hanya merindukan anak saya. Sebab kamu mirip sekali denganya saat kecil.”Ujarnya disana tersenyum kepada Arga.
Arga disana mengangguk paham dan tersenyum.”Oh begitu pak.”Ujarnya. ia bahkan tak tahu harus bersikap seperti apa. Apakah itu alasan yang benar?
“Ibu dan ayah kamu ada kan?”Tanya Habib penuh harap. jujur dalam lubuk hatinya ia sangat berharap jika didepanya ini anaknya dan tadi yang ia lihat benar—benar Nayya. jadi keluarganya ada disini semuakan? Ia ingin sekali hal itu terjadi.
Arga pun disana mengernyitkan keningnya dan mengangguk.” Yah. Ayahku kerja dan ibuku juga sama. Mereka dokter.”Ujarnya disana membuat Habib terdiam.
Ternyata ia salah.. dia bukan anaknya ban? Kan Nayya buta.. akh iya bagaimana bisa ia memikirkan wanita yang menyetir mobil tadi itu nayya? kan Nayya buta yah....
.
.
.
... Jangan lupa tinggalkan jejak yah guys......
__ADS_1