Istri Butaku

Istri Butaku
Akad


__ADS_3

Dug... jantung Nayya berdetak cepat. Ia sangat gugup, ia yakin itu penghulu, dan itu menandakan jika ia akan menika dengan Habib.


“Wa’alaikum salam..” Sahut seluruh orang didalam ruangan. Habib menatap Umi dan Abinya lalu berdiri. Ia berjalan menuju pintu dan membukannya. Wajahnnya tersenyum lembut menatap temannya yang sebagai penghulu. “Mari masuk Ki.” Ucapnnya.


Penghulu yang dipanggil Ki itu bernama Ahmad Riki. Ia adalah teman Habib saat dipesantren abinya. Tepatnya masa MA.


Rikipun tersenyum dan masuk mengikuti langkah Habib. Saat ia masuk, bisa ia lihat keluarga Habib dan Nayya menatapnya.


Matanya lalu beralih kepada Nayya yang hannya diam saja terbujur diranjang. Nayya bagaikan mumi karena tubuhnya dipenuhi perban.


“Langsung saja. Nak Riki, mari sini..” Kyai Abu yang mengenal Rikipun menmabil Riki.


Mata Riki menatap kyai Abu dan tersenyum.


“Assalamu’alaikum kyai,. Kyai dan keluarga apa kabar?” Ucapnnya sopan. Ia mendekat dan mencium tangan kyai Abu lembut. Ia lalu melirik Umi Ana sebentar dan menangkup keduatangannya, ia meletakkannya didepan dada. Begitu juga Umi Ana.


“Allhamdulillah baik nak. Kamu apa kabar?” Tannya kyai Abu.


“Syukur Allhamdulillah kalo begitu kyai. Alhamdulillah Riki juga sehat.” Jawabnya.


“Segala puji bagi Allah nak.” Ucap kyai tersenyum tulus. “Sepertinya kita langsung saja mulai akadnya. Karena mngingat waktu yang sudah sore nak Riki.” Lanjut kyai Abu.


“Baik kyai. Mempelainya ada semua?” Tannya Riki.


“Ada.”


“Wali mempelai wanita?” Tannyanya lagi.

__ADS_1


“Ada ayahnya.”


“Jika begitu. Mari bawah ayah mempelainya kesini, beserta Habib dan kyai. Riki juga sudah membawah 2saksi dari kantor agama tadi untuk tanda bukti kepada negara untuk pengesahan akad ini.” Ucap Riki sopan.


Ayah Nayyapun mendekat. Ia sudah memakai baju batik yang ia gunakan untuk sholat tadi.


Mereka sama sekali tak mempunyai pesiapan apapun selain niat dan penghulu.“Saya Walinya.” Ucapnya tegas.


Rikipun mempersilakan duduk Ayah Nayya. Disana sudah dialaskan karpet rumah sakit dan dialasi sajaddah.


Habib mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya. Ia sangat gugup, ia melangkahkan kakinya untuk duduk didepan pak penghulu, disamping pak penghulu itu ada Ayah Nayya yang menatapnya tajam.


Dibelakangnya ada kyai Abu dan Umi Ana yang menenangkannya. Sedangkan Bunda Nayya memilih memeluk anaknya.


Habib tau data Nayya dari pihak rumah sakit, karena itu ia tak perlu meminta kepada keluargannya. ia juga sudah menyiapkan cincin dan maskawin seperangkat alat sholat. Semua itu juga disiapkan oleh Riki.


Habib sama sekali tak memakai baju ala pengantin seperti akad biasanya. Ia Hanya menggunakan baju kokoh putih dan peci. Sedangkan Nayya terbaring lemah dengan balutan perban hampir diseluruh tubuhnya.


“Allhamdulillah..” Ucap Habib sambil mengusapkan wajahnya. Ia menatap Nayya yang ada diranjang. Lalu matanya menatap Ayah Nayya yang sudah menjadi ayah mertuannya. Ia menyalami Ayah Nayya santun, meskipun ayah Nayya cepat-cepat melepaskan tanngannya. Ia juga menyalami umi dan Abinya ia mencium dan memeluk mereka meminta restu dan doannya. Tidak lupa para penghulu dan saksi


Sekarang ia kembali menatap Nayya yang sudah menjadi istrinya. Ia bangkit dari duduknya. Ia bahkan tak berani menatap Nayya lekat. Padahal Nayya sudah menjadi istrinya. Jujur selama ini ia tak perna memandang wajah Nayya lebih dari 2detik. Ia selalu menundukkan pandangannya untuk mengusir zina. Ia berjalan menuju ranjang Nayya.


Ibu Nayyapun bergeser. Habib mencium tangan Ibu Nayya yang sudah menjadi ibu mertuannya sopan dan meminta restu serta doa. Saat Bunda Nayya sudah menyingkir, dengan gugup ia menatap wajah Nayya. Ia baru sadar jika Nayya sangat cantik. Meskipun wajah Nayya pucat, ia masih begitu cantik. Wajah bulat yang ditutup kerudung, bibir tipis, mata bulat nan jerni, bulu mata lentik, hidung sedang. Kulir sawo matang menambah kadar manis dijiwannya. Wajahnya sangat tenang dan damai meskipun ada bercak air mata dipipinya.


“Assalamu’alaikum istriku..” Ucapnnya lembut.


Dug... jantung Nayya terpacu kuat. Ia tak tau harus menjawab apa kepada lelaki asing yang sudah menjadi suaminya. Ia mengerjab seakan berfikir. “Wa’alaikum salam.” Hanya itu yang bisa ia jawab.

__ADS_1


“Bolehkan aku memasang cincin pernikahan kita dijari manis kamu?” Tannya Habib lembut.


Nayyapun mengangguk tanda mengiyakan.


Habib tersenyum tipis. Ia memasangkan cincing dijari manis tangan kananyang patah Nayya cecara berlahan. “Maaf.” Ucap Nayya lemah.


Habib mengernyit. “Maaf untuk apa?”


“Maaf karena aku tak bisa memakai cincin dijari manis kamu. Dan maaf karena tidak bisa mencium tangan kamu.” Ucapnnya lemah.


Habib tersenyum miris. Masihkah Nayya berfikir itu kesalahannya?. “Tidak apa-apa. Akukan sudah berjanji akan menjadi mata, tangan dan kaki untukmu. Aku juga berjanji untuk membahagiakanmu.” Jawab Habib lembut.


Nayya tersenyum tipis. “Jangan berjannji. Jika kamu berjanji dan tak bisa menempatinya, maka kamu akan menadapatkan 2dosa sekaligus, yaitu dosa tak mampu menjalankannya dan dosa tak mampu menjalankan janjimu. Tapi jika kamu hanya bertekat meskipun tak berjalan sesuai tekadmu. Maka kamu hannya mendapatkan 1dosa, yaitu tak mampu menjalankan kewajibanmu.” Jawab Nayya.


Habib terkejut menatap Nayya. Ia tersenyum membenarkan Ucapan Nayya. Ia meletakkan tangannya dipuncuk kepala Nayya untuk berdoa sebagai ajaran Rasullullah. Setelahnya ia mencium puncuk kepala Nayya lembut.


Nayya bagai tersengat ikan Lele saat itu. Ini pertama kalinya untuk dia, dia tak pernah dekat dengan pria, apalagi dicium. Tapi ia hanya diam saja tanpa berucap apapun.


Kyai Abu dan Umi Ana menjabat tangan Bunda dan ayahnya Nayya lembut. Tapi tidak dengan mereka. Setelah itu mereka beranda mendekati ranjang Nayya. “Assalamu’alaikum menantu ibuk. Kenalin nama ibu Ana kamu bisa panggil Umi Ana.” Ucap Umi Ana lembut, ia berdiri disamping Habib dan mengelus kelapa Nayya lembut.


Nayyapun senyum sopan. “Wa’alaikum salam Umi. Maaf ya Nay nggak bisa cium tangan Umi.” Jawabnya miris.


Umi Ana tersenyum kecut menatap Nayya. Yang seharusnya meminta maaf itu adalah dia, karna dia Nayya tak bisa bersalaman atau melihat. Tapi malah Nayya yang meminta maaf.” Nggak apa-apa kok. Umi boleh cium pipi Nay?” Ucap Umi Ana lembut.


Nayya terdiam sesaat, lalu ia menerima dengan menganggukkan kepala. Umi Ana pun tersenyum dan mencium pipi kiri Nayya dan kanan Nayya dengan tangisan mendalam, ia tak menyangkah akan mendapat menantu yang sama sekali tak ia kenal.


Alhamdulillah bisa up.meskipun nggak banyak yang like dan komentar.

__ADS_1


semoga bisa mendapatkan ilmu dari novel ini.


jangan lupa like, vote dan komen ya....


__ADS_2