Istri Butaku

Istri Butaku
Bangun


__ADS_3

Nayya meringis dikalah merasakan kepalanya sakit. Ia mengerang dan mengusap kepalanya yang sakit. Tubuhnya terasa dingin dan kaku. Kenapa rasanya dirinya tidur dilantai? Dimana ia sekarang? Dengan pelan namun pasti ia membuka matanya untuk menghilangkan sakit kepalanya.


Gelap.. Lagi lagi gelap, tak pernah Nayya menghapus harapan ketika terbangun dari kegelapan ia mampu melihat lagi.. Namun bukan itu point utamanya. Sekarang ia dimana? itulah yang ia pikirkan. Ia menyibak kain ditubuhnya dna bangkit. Ia meringis disana.


“ Hallo.. Ada siapa disini.”Ujarnya mememijit pelipisnya namun tak mendapatkan sahutan sama sekali.


Ia merabah disekliling dan mengusap. Basah dan sedikit berlumut. Sangat dingin seperti batu ditengah goa membuat ia semakin terasa panik, ia tak mampu melihat membuat ia kemnbali berteriak.” Putri... Habib.. Fatih.. kalian dimana?!!!” Tanyanya disana berteriak keras. Ia sangat panik saat ini. Ia dimana? Seingatnya ia didanau dan ada yang membekapnya..!!


“Tolong.. Tolong.. aku dimana tolong..!!!” Teriak Nayya nanar mencari pintu. Namun dengan keterbatasan ia harus merabah dimanapun., sampai ia tersentuh pisau tajam membuat tanganya terluka, hinga ia tersentuh barang lan yang tajam. Ia tak tau harus apa dan ini dimana? Kenapa banyak benda tajam disini?


"Bersisik banget sini si tuanmu cewek... "Gumam Dava yang menjaga diluar sedang main itu lalu mau tidak mau ia mendekat Dimana Nayya berada.


Hinga ia mendengar suara pintu dibuka. Itu membuat Nayya terdiam dan bertanya.” Ada orang disana? Haloo. Ada orang? Ini dimana? Tolong saya.. saya dimana..?”tanyanya lagi dengan cepat lalu merabah dimanappun tanpa menghiraukan tangan yang terluka.


Sosok Dava yang melihatnya terdiam sebntar, kenapa perempuan didepanya ini tak mampu melihatnya. Malah meraba dimana-mana. itu membuat ia mendekat dan berdiri didepan wajah Nayya.. Namun Nayya tetap tidak melihatnya dan sibuk merabah lain arah hingga tangan mungil nan dingin itu menyentu wajahnya


Dugh..


Ia merasa jantungnya terpompa disana, dan tangan itu tetap mengusap wajahnya dan bertanya. “Habib? Tapi kenapa berkumis? Habib tidak berkumis. Kamu siapa?!!”Tanyanya segera menepis tangan dari sang wajah yang ia rasa asing.


Sosok itu melambaikan tangan dihadapan wajah Nayya. namun Nayya sama sekali tak merepon dengan tatapan kosongnya. Ia mengusap tengkuknya.


Serius Aron suka dengan wanita buta? Dia buta beneran atau tidak yah? Atau cuma ekting? Gumamnya. Ia takut ini hanya tipuan.


Itu membuat ia mengambil pisau disakunya dan mengarahkan tepat dimana Nayya yang terdiam bagai patung itu., ia cantik


Slap.. Hanya berjarak dua centi tapi Tak da pengaruh diwanita didepannya itu.


Bahkan ia tak mengerjab dikalah runcingan pisau itu tepati dimatanya.. Nayya benar benar buta..!! Gila. Aron benar benar gila. Bagaimana bisa ia menyukai seseorang yang buta..!


“HALOOO.. Masih ada orang?!!”Tanya Nayya melambaikan tangan disana. Itu membuat Dava disana menatapnya sendu hingga mata Nayya disana Nampak memelas. Ia menyimpan kembali pisau itu.


“Sekarang jam berapa? Nay belum sholat kah? Berapa lama Nay pingsan? Kenapa Nay disini? Hiks hiks. Apa salah Nay? Kenapa Nay bisa memiliki masalah seperti ini?”Tanyanya nanar disana dan terduduk menangkup wajahnya diselah selah lutut.


Dava diam menatapnya diam. Nampak Nayya mengusap air matanya dank e,mbali terdiam.. ia Nampak sangat lemah disana. “ Nay Haus, Nay lapar gimana ini.”Gumamnya lirih memeluk perutnya. Hari sudah berganti, Nayya sudah pingsan hampir selama dua hari jadi wajar saja ia lapar. Karena memang Aron memberikan obat tidur dengan dosis tinggi untuknya.


Dava merasa ia bersalah disini, ia pun memilih pergi meningalkan Nayya yang mengusap perutnya yang terasa pedih. Ia mau apa sekarang ia tak tahu. Benar kata orang lain, lebih baik lumpu dari pada tak bisa melihat. Tak bisa melihat itu sama sama dengan lampu total namun ia harus berusaha kuat membuat ia kembali duduk dan menunggu siapa yang datang. Ia yakin jika Tuhan membuat dirinya diposisi ini pasti ada hikmanya.

__ADS_1


Ia hanya bisa pasrah ditengah kegelapan.


Dava yang sudah berkutat dibelakang itu mengerang dan mengutuk diri, bagaimana bisa ia semenurut ini dengan sosok buta itu. Ia membawa mie yang berkuah dan dua tellor itu. ia masak sembarangan tanpa mencicipinya dulu. Asal jadi saja.


Air segelas dan pergi menuju ketempat Nayyalagi. Dan disana ia melihat Nayya sedang bergumam tak tahu apa yang ia gumam namun Nampak Nayya disana memejamkan matanya.


Ini semua ia lakukan karena Aron yang meminta tadi.


“Ehemm..”Gumamnya disana. Mata bulat itu terbuka menampilkan mata polos penuh permohonan itu membuat Dava semakin bersalah.


Dava memilih duduk disisi Nayya dan menaruh makanan itu. “Ini makan..”Ujarnya memberikan makanan dihadapan Nayya.


"Kamu siapa?? "Tanya Nayya takut.


Nayya disana mundur beberapa kali. Dava disana menatapnya heran.” Ayo dimakan? Kau mengganggguku yang dedag main game dan berteriak lapar..! Cepat makan jangan mundur..!” Bentaknya disana. Ia hanya tak mau menjawab pertanyaan Nayya.


Nayya disana pun diam mendengarnya lalu menjulurkan tangan kedepan.. “Dimana? Nay tidak tau dimana?”Tanyanya disana.. ia mencium makanan yang ada membuat ia tersenyum. “Mie kari? Hmm bauhnya harum.. “Ujarnya disela mata yang berkaca-kaca itu.. ia nampak polos.


Dava disana mendekat lagi dan menaruh mie didepan Nayya. ia menarik tangan Nayya dan memberi sendok ditangannya. “Ini mienya. Kamu bisa makan sendiri kan?”Tanyanya disana membuat Nayya mengangguk. Ia tak tau dia siapa tapi yang ia tau dia orang baik yang sudah mau memberikan ia makanan disela lapar.


Dava diam menatap Nayya yang kepanasan memakan mienya. Ia sedikit mengusap lidahnya yang terbakar membuat ia terkekeh disana. “Itu panas. Sini aku bantu saja, kau bisa tertimpa kuah panasnya jika begitu." Ujarnya menarik sendok Nayya dan mulai menyuapi Nayya.


Dan bisa bisa nya Dava disana menurutinya memberi ia minum. "Terimakasih. "Ujar Nayya tersenyum.


Dan Dava pun mengangguk dan menerima. “Kau tidak takut padaku?”Tanyanya pada Nayya yang sedang makan. Sungguh baru kali ini ia menyuapi sesseorang seperti babysister..!


Nayya mengangguk sebntar namun ia menggeleng berikutnya. Itu membuat Dava menatapnya bingung. "Apa maksudnya? bilang dengan benar...!!! "Bentuknya.


“Hm tidak.. Kamu orang baik, mangkanya kamu kasih aku makan dan mau menyuapiku. jadi aku tidak takut lagi seperti tadi hehe.”Ujar Nayya disana tersneyum.


Tersenyum? Dava tertegun menatap senyumnya. Sangat manis dan tulus. “Jikapun aku beri racun dimakananmu? Kau tau. Jika banyak diluar sana bersikap baik demi melakukan kejahatan. Contohnya banyak teman yang meracuni temannya.”Ujarnya disana membantah Nayya.


Nayya mengangguk. “Kita bukan teman jadi kamu baik.”Ujarnya. Dava kembali tertegun.


Baru kali ini ada yang mengatakan dirinya baik, ada rasa hangat duhatinya hingga natanya menatap nayya penuuh harap.


Nayya tersenyum dan kembali berkata. “Kita bukan teman saja kamu baik, apalagi kita teman, pasti kamu sangat baik.”

__ADS_1


“Aku menaruh racun dimakananmu. Apa itu baik? Apa kamu masih mengangappku baik?”Tanyanya lagi. Ia tak suka hatinya yang melemah.


Nayya disana tak berhenti mengunyah dan berkata. “Iya. Kau tetap baik, setidaknya kau tidak membiarkanku mati dalam kelaparan., kamu tetap orang baik, karena Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang itu baik dan jahat. Baik dan jahat seseorang itu tergantung pribadinya. Pada dasarnya semua orang tercipta menjadi baik.”Jawabnya lagi disana dan kembali mengangah minta disuap. Ia sangat lapar...!!!


Dava disana terdiiam disana, bahkan orang tuanya tak pernah bicara begitu..!! tak terasa air mata itu hamper jatuh dengan tangan yang menyuapi makanan itu kemulutnya sendiri.


Dan Uekk...”


“Kau kenapa?!!”Tanya Nayya terkejut mendengar bunyi sosok ddiepanya itu muntah. Ia pun disana terkejut dan merabah sebelahnya. Dava disana mengusap lidahnya dan menatap Nayya.


“Ke-kenapa kau tidak bilang jika ini asin? Kurang kuah?”Tanyanya disana terkejut menatap Nayya nanar. Tadi Nayya Nampak sangat menikmati makanan yang ia beri.


Nayya disana terdiam dan tersneyum/. “Aku suka rasanya. Enak kok.” Ujarnya tak bohong dan tak jujur. “ Mungkin karena aku lapar, jadi terasa enak dilidahku.”Ujarnya disana.


Dav disana mengusap kepalanya dan menaruh air minum didalam mie Asin milik Nayya tadi. “Yasudah jika begitu ini.”Ujarnya lagi mengajuhkan mie yang sudah tak terlalu asin itu. Ia menatap Nayya dan tetap mekannya. Kenapa rasanya ia berdosa yah memberi air dingin di mie Nayya? ia tersa jahat hanya karena itu? .


Namun binar dimata Nyya membuat ia tertegun. “Enak.”Ujarnya. ia tersenyum disana, ia bagaikan melihat bayi polos disana, ia merasa bertemu seseorang yang bisa menghargainya meski itu bukan hal yang harus dihargai.


Lebay yah? Hehe tapi terkadang orang jahat memang terlahir karena ditengah orang yang menuntutnya menjadi jahat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Disisi lain ada sosok yang dua hari ini sakit terbaring dirumah sakit,,. Beberapa kali ia memanggil nama istrinya, tata ada yang bisa melakukan apapun selain menatapnya prihatin. Tak ada yang tau apa penyakitnya saat ini. Karena sebiji nasipun tak dapat masuk kedalam perutnya, Jika makan pun akan keluar dan dimuntahkan lagi, ia kehilangan banyak cairan tubuh dibuatnya.


“Ayoh dong Bib. Makan yah nak, jika begini terus bagaimana kamu bisa sembuh dan mencari Nayya nak?”tanyan ya memberikan bubur dihadapan Habib yang sudah terkapar tak berdaya.


Habib disana menggeleng dengan lemah. Sudah hampir sepulih kali bolak balik wc karena muntah dan berakhir tak kuat ia kembali pingsan, tadi ia mau muntah lagi namun tak ada yang keluar karena perut yang kosong.


“ Ini aku yang masak loh mas.”Ujar Khumairo lirih kepada Habib yang diam saja.


Kyai Abu yang baru masuk disana menghela nafas dibuatnya. Ia membawa kotak pop mie dan juga menaruhnya dibawah nakas nya Habib.


Habib yang melihatnya pun mentapnya binar. “Abi. Habib mau makan mie saja boleh?”


.


.

__ADS_1


.


...Jangan lupa tinggalkan jejak yah guys... ...


__ADS_2