Istri Butaku

Istri Butaku
Alasan abi


__ADS_3

Mobil Habib melaju membela jalan dengan Acha disisinya. Rian? Ia mengalah untuk Habib, ia membiarkan Acha bersamanya. Bukan karena ia rela. Jujur tak ikhlas sebenarnya. Namun ia tau jika Habib lebih ingin bersama Acha. Ia ingin memberi waktu untuk keduanya bercerita dan juga bercengrama dengan dekat.


Acha disana tak bisa diam, ia sangat-sangat kagum akan pemandangan jalan yang ia lalui. Sungguh desa tempat pesantrennya Habib itu sangat bagus. Rumah-rumah warga disini rata-rata ditengah sawa dan juga kebun sawi-atau sayur-sayur lainnya. Belum lagi disini dikelilingi dengan gunung-gunung.. sunguh luar biasa disini.


“Wah... Berarti enak banget abi disini yah.. Abi dari sini berarti yah? enakan dikota atau didesa Bi?”Tanya Acha berderetan tanpa titik koma lagi. Rian disana menatap sekeliling dengan kagum tapi masih ditutup dengan wajah B aaja. Ia memang dari Indonesia hanya saja belum pernah keliling begini. Ia pernah Tour hanya ke Bali bukan ke sini.


Habib disana tersenyum melirik Acha yang heboh dan memvideokan tempat dan jalanan. “Yah ada enaknya dan ada tidkanya juga.. “Ujarnya disana dengan jujur. Matanya sesekali melirik Acha dan jalan. Sebab jalan disini cukup berliku dan kadang tanjakan dan turunan curam. Maklum disini dekat pegunungan.


“Enaknya apa dan enggaknya apa? Keunggulan dikota apa dan didesa apa? Soalnya kalo acha disuruh milih pasti mau didesa saja, soalnya dikota itu berisik dan juga kotor, enggak kayak ditempat Acha dan Arga tinggal. Kalo disini lihatlah. Bahkan sungainya aja jerni banget dan enggak ada sampah.”Ujarnya melirik sungai yang ia lewati itu. Yah didesa itu sungainya bersih-bersih. Bahkan sangat. Jikapun ada yang kotor paling ranting kayu atau pepohonan yang sudah mati.


Habib disana menggeleng.”Tidak juga. Itu hanya pemikiran orang yang tidak bersyukur atau hanya memandang di luar dan tidak mensyukuri yang di dalam miliknya atau miliknya.” Ujar habib. Acha menatap Habib lingliung. “Sebab disemua tempat ada keunggulan dan kekurangannya kecuali jika didesa kita tinggal kemarin. Disana memang sangat-sangat difasilitasi pemerintah. Dan sudah sangat tertata rapi. Bukanya abi menyalahkan pemerintah tapi juga masyarakatnya.”Ujarnya disana.”Contohnya jika diluar mobil layak pakai hanya 5tahun dan selebihnya harus dirusaki dan ada system lain sehingga diganti mobil baru. Mobil lama kembali didistribusikan kembali. Jika kita? bahkan mobil yang sudah jadi rongsokan masih dipakai. belum lagi jika di negara luar membuang sampah sembarangan itu akan didenda,”Ujarnya terkekeh.”Kita itu masih Negara berkembang bukan Negara maju.”Lanjutnya lagi.


“Jika orang-orang berfikir didesa itu lebih indah dan bagus sebenarnya benar. Sebab didesa itu orang-orangnya sangat ramah dan baik-baik, udaranya masih alami dan segar tidak ada polusi.. rumah didesa yang ditengah sawah atau kebun gitu juga bagus. Tapi semua itu juga punya resikonya. Resikonya kamu akan jarang bertemu tempat makan atau restoran. Jikapun ada kamu harus kekota dulu. Disini juga jarang sinyal Hp. Jikapun ada itu hanya beberapa kartu dan harganya jauh lebih mahal dari kota. Belum lagi jika rumah yang ditengah sawa itu resiko ada ular atau binatang reftil lain yang mausk rumah. “Jelas Habib secara sabar kepada Acha yang mendengarnya.


“Jika sungai disini memang sangat jerni dan juga terawat. Sebab memang sungai disinikan daratan tinggi jadi terus mengalir. Kami tidak membuang sampah diselokan atau disungai..!! sungai itu untuk mandi, cuci kakus. Jika mau buang sampah yang dibelakang rumah lalu dibakar mangkanya tidak ada sampah disini. “


“Jika dikotakan banyak polusi udara, sungainya banyak yang kotor dan tak layak. Bahkan kadang berbauh busuk. Diselokan yang menghitam dan dijadikan tempat pembuangan sampah. Orang-orang yang tidak memiliki keramahan... Tapi di Kota traportasinya lebih bagus, jika kamu mau kemana-mana kamu bisa mengenakan via online seperti g*jek. G*car dan lainnya bahkan jika kamu ingin makan atau Kamu ingin sesuatu kamu bisa memesannya lewat online dan akan sampai ke rumah kamu dengan diantar aplikasi tersebut tanpa repot-repot keluar rumah. Belum lagi jualan makanan didimana-mana, restoran dimana-mana, kamu tinggal pilih saja. Belum lagi disana bebas, jika kamu mau tinggal bersama lelaki yang notabene pacar tidak akan ada yang mengusili kamu. Tapi didesa? Uhhh satu kampung juga bakal tau haha.. karena norma Hukum Adat itu masih kental. Bahkan jika didesa itu ada cuci kampung, kamu bakal digiring kejalanan mengelilingi satu desa dengan keadaan sesuai hukumnya, lalu dinikahkan secara paksa dihari itu juga. Kamu harus bayar denda sesuai ketentuannya.” Ujar Habib.


Acha disana membulatkan mata. Sebab ia hidup dilingkungan bebas terus selama ini kan membuat ia kaget. “Belum lagi jika didesa kamu harus ada sopan santun. Jika ada yang tua ketika kamu hendak lewat kamu harus membungkukkan badann untuk kesopanan, atau kamu harus senyum jika lewat didepan orang tua. Norma kesopanan disini sangat kental. Sebenarnya kesopanan itu bukan hanya didesa saja seharusnya tapi dimanapun kita berada.”Ujarnya. acha mengangguk saja mendengarnya.


“Tapi Acha suka.”Ujarnya. habib meliriknya sebentar.”Acha suka batasan dalam hidup sebab manusia kadang lupa memanusiakan manusia lain. Kadang kita butuh tenakan untuk diarena kebenaran, kadang kebebasan membuat kita keluar dari jalur sesunngguhnya kodrat manusia. Karena fitnahnya dunia itu terlalu kuat. contohnya seperti tadi. Diluar bebas dan tak ada tekanan norma kesopanan dari lingkungan maka menimbulkan keapatisan yah kan?”Tanyanya.


Habib mengangguk.”Benar.”Gumamnya.” Jika dikota besar kadang jika ada yang kecelakaan itu banyak yang tak ada yang membantu dan menunggu aparat, sedangkan ia kritis. Itu ada alasannya karena akan ada sidik jari dan beberapa lainnya untuk dijadikan bukti, tapi disisi lain ia punya nyawa yang harus diselamatkan. tapi coba didesa. Mau kenal atau tidak, dekat atau tidak kamu tetap bakal ditolong. Yang terpenting menyelamatkan nyawa orang itu terlebih dahulu.,"


"Disini kami tidak ada pengemis loh, bahkan yang tak memiliki rumah sangat jarang meski rumahnya reot setidaknya ia punya rumah dan tidak tinggal didepan ruko-ruko.. Hah.. Acha disetiap tempat ada sisi fositiv dan negativnya masing-masing. Tergantung kebutuhan dan cara pandangnya saja. Jika mau yang tenang dan damai, memiliki udara yang segar yah di desa, tapi jika mau bebas, mudah kemana-,mana, transaksi online yah di kota.”Ujarnya disana.

__ADS_1


Acha mengangguk saja dan melirik hpnya.”Yah enggak ada sinyal, padahal baru upload pemandangannya yang cantik.”Gumamnya lirih.


Habib tergelak mendengarnya sebab baru saja ia menjelaskannnya. (btw ini tidak menjelekkan satu sama lain yah. baik didesa atau dikota. Sebab ini hanya membuat kesadaran pada kita saja jika sebenarnya bagus atau tidaknya tempat kita itu adalah bagaimana cara pandang kalian saja. Dan bagaimana rasa bersyukur kitanya saja. sesuai kebutuhan)


“Oh iya satu lagi. didesa itu jika belanja online ongkirnya mahal. Kadang bahkan mahalan ongkir disbanding barang yang kita beli.. lebih ke beli ongkir gratis barang.”Ujar Habib.


Acha disana tertawa.,”Tidak ada gratis ongkir kah?”Tanyanya disana.


Habib menggeleng.”Kadang ada si. Cuma enggak bakal gratis ongkir, soalnya jika ada itu hanya menutupi sepertiga atau seprdua ongkir selebihnya tetep bayar. Tapi tetap saja sangat mahal sekali.”Ujarnya, Acha disana menghela nafas dan menatap kedepan. Ternyata benar. Hidup itu selalu ada baik dan buruknya, dimanapun kita berada.. Hanya sudut pandang dan cara menerima diri kita yang membedakannnya.


Sesudah bercerita panjang mobil yang Mereka kendarai memasuki gapura yang bertuliskan pesantren milik Habib itu, Acha disana melirik kesisinya dan menatapnya. Mulutnya sedikit terbuka karena kagum. Disini ada banyak tempat seperti pondok yang ia tak tahu namanya, disana ada banyak anak-anak yang duduk disembarang, ada ditangga, ada didalam, semuanya berpisah—pisah sembari memegang Al-Qur’an. Ada juga dibawah pohon dan beberapa lainnya.”Mereka murid disini?”Tanya Acha membuat habib mengangguk.”Kecil sekali mereka.”Gumamnya terkekeh.


“Disini itu ada anak-anak warga yang bebas belajar Al-Quran, sebenarnya tidak diperuntuhkan bayar tetapi kami memberikan tarif hanya untuk membayar pengajarnya dan juga tempat mereka belajar seperti lampu, pondokannya, obor.. dan itu hanya untuk anak dibawahh umur 7 tahun, jenjang Madrasa Stanawia.. yang artinya itu SD, ada MTs yang setaradengan SMP (Madrasa Stanawia) dan ada juga yang MA(Madrasa Alia ) Yang setara dengan SMA. Ada banyak juga dari murid orang luar. Bisa dikatakan pesntren milik ‘kita itu adalah pesantren terbesar dikota ini selain karena tempatnya yang damai dan tentram kita juga menyediakan tempat dan nyaman untuk menghafal. Belum lagi karena pengawasannya yang ketat. Selain itu yang baru tamat SMA itu diharuskan mengabdi satu atau dua tahun untuk mengasah kemampuannya. Dia bisa mengajar dibeberapa tempat atau tetap dipesantren. Jadi jika tamat mereka bisa langsung kerja.”Ujar Habib dengan panjangnya.


Habib pun diam sejenak dan menjawab.”Saya lupa, tapi terakhir dulu setiap tingkatan itu ada Hampir 10.000 jiwa disini. Tapi katanya angkatan tahun ini lebih banyak lagi dan melonjak naik. Mungkin mencapai 15ribu jiwa.”Ujar Habib membuat Acha menatapnya dengan bulatan kaget.


“Dan karena mempertahankan pesantren ini abi memilih membantu Khumairo dulu.”Ujar Habib. Acha menatap Habib lagi dengan tatapan pertanyaan.”Dulu abi diberi pilihan, jika tidak mau menikahi Khumairo, maka pesantren ini akan dihancurkan dan diratakan ditanah. Sedangkan disini ada ribuan anak yang kurang mampu atau yatim piatu yang sekolahnya digratiskan dan dibiayai oleh beasiswa baik dari beberapa donator maupun dari pemerintah. Jadi jika pesantren ini dihancurkan, maka dimana anak-anak penghafal yang sekolahnya gartis itu menuntut ilmu, sedangkan penghafal iu bisa dihitung jari. Seribu anak itu hanya ada 1 yang terpilih. Bagaimana bisa abi menelantarkan ribuan manusia mulia seperti mereka.”Ujar habib dengan mata yang memerah.


Acha disana mendengarntya kaget. “jadi ini alasannya?”Tanyanya.


Habib mengangguk.”Dulu keluarga Khumairo meminta hutang dari pesantren ketika dibangun, padahal itu sudah dan sudah dibayar lunas dan lagi kami dijebak karena tanah ini diatas namanya keluarga mereka. Kakek kalian dan ayahnya Khumairo itu teman dekat dan kami mangkanya kami memiliki kepercayaan yang besar, tidak tahu jika berakhir begini. ”Ujarnya.”Kami ditipu dan dipaksa akan keadaan dikalah itu. Apa lagi pesantren ini diatas namakan millik Abi yang artinya abi penangung jawabnya. Mangkanya abi harus menanggung semuanya. Meskipun menyakiti Umi kalian. Sungguh abi tidak tau dikalah itu Umi kalian diculik dan hampir dibunuh oleh Khumairo dan kakaknya. ”Ujarnya Habib mengingatnya lirih.


“Udah yuk. Kita udah sampai.”Ujar habib. Acha baru sadar akan keterdiamannya dan menatap kedepan. Pikirannya mengambang kemana-mana, sebab ia juga kasihan kepada abinya jika begini. Baginya Habib tidak salah menikahi Khumairo, karena abinya disana mementingkan ribuan orang, ini penghafal loh, anak-anak langkah, yang jika diluar sana anak-anak yang tak bisa lepas dari hp karrena ada ribuan aplikasi social media dan game tapi mereka memilih menghafal huruf-huruf mulia itu. Acha bahkan ingin jadi penghafal tapi ia tak terpilih menjadi bagian dari mereka.


“Acha ayo keluar.”Ujar Rian mengagetkannya membuat Acha menatap kedepan lagi dengan kesadarannya. Ia menatap Habib membuka kan pintu miiknya dan ia menatap wajah Habib yang tersenyum tulus. Jadi ayahnya tidak sesalah itu kan sampai ia harus jauh dari abinya?

__ADS_1


Ia keluar dan tersenyum tipis menatap kedepan. Wooow... ia disana sedikit kaget melihatnya sebab ia disambut dengan banyak orang disana, ada ratusan mungkin, Habib disana mengandengnya. Rian berdiri disisinya Acha. Ia menaruh tanganya kebelakang dan menatap semua orang tajam. Apalagi beberapa orang memandang Acha kagum dan juga berbisik-bisik. Menatapnya juga. Ia risih dan ia tak suka. ia tak suka Achanya ditatap. Ingin sekali ia menyembunyikan Acha dipunggungnya..


“Assalamu’alaikum.”Ujar Habib. Disana sudah ada kedua orang tuanya. Fatih dan juga Aisya dan keluarga. Acha disana menatap mereka gugup, namun ia tak boleh gugup, ia diajarkan menatap semua orang dengan berani. Ia harus bisa yah kan? Meski tak bisa dipungkiri tulangnya gemetar karena ditatap banyak orang..


“Walaikum salam. Yaampun cucu Umi..”Ujar Umi Ana menyambut Acha.”Selamat datang sayang.”Ujarnya memeluk Acha. Acha disana tersenyum kecut dan bergumam baik saja. Umi Ana disana mengusap pipi Acha dnegan gemes.”ih kamu cantik banget si. Mirip banget sama Habib Cuma muka kamu sedikit mirif nayya juga.”Ujarnya. lalu Acha tersenyum mengangguk.


“Sama kakek tidak kah?”Tanya Kyai Abu mendekat dan ingin memeluk Acha. Acha disana dengan gugup menyambutnya,, sebab baru kali ini kan mereka bertemu. Mau menolak tapi tak sopan. Kyai Abu disana mencium kepala Acha sayang dan mengusapnya.”kamu sangat cantik nak.”Gumamnya disana.


Aisya disana hanya diam menatapnya. Dibilang suka yah tidak, tapi dibilang tidak yah memang hahaha.


“Dimana Arga?”Tanya Kyai Abu menatap habib yang sedari tadi tersenyum menatap mereka yang akrab. Kyai Abu menatap Rian yang tersenyum.”Yaampun ini suaminya Acha yang menikah kemarin. Masyalllah rupanya jika dilihat lebih dekat kamu sangat tampan.”Ujarnya memeluknya.


Rian tersenyum tipis.”Kakek bisa saja.”Ujarnya menyambutnya. Disana ada banyak perempuan yang histeris. Mereka pikir Rian anak Habib, ternyata bukan dan sudah menikah dengan anak Habib..!! kekecewaan terbesar buat mereka yang baru jatuh hati dan dipatahkan didetik itu juga.


“Arga tidak bisa ikut kakek. Sebab Arga sama Umi. Nanti jika kesini semua siapa yang jagain Umi yah kan Bi? Tapi nanti bang Arga akan sering kesini kok.”Ujar Acha memotong perkataan habib ytang ingin mengatakan sejujurnya. Ia mentap Acha tersenyum. Acha disana menatap semua orang polos.


Kyai Abu disana mengangguk.”Ais... kenalin lah sini sama anak-anak kamu, suami kamu. Kamu enggak mau sambut mereka apa? " Ujar Kyai abu mrnatap aisya.


" Oh yahhhh anak-anak ini anaknya Gus Habib yang udah Umi bilang tadi.. cantikan cucu Umi.. ini suaminya.. tampan banget kan.. inget jangan iri.. jangan iri. Jangan iri dengki. Jangan-jangan iri itu penyakt hati.”Ujarnya dengan menyanyi membuat Acha disana terkikih. Neneknya bisa saja.


Aisya disana menatap Aisya Dengan senyum paksa. Sedangkan Acha menatapnya memutar bola matta malas., dipikir mau apa? Penting tidak si Aisya batinnya Acha.


Aisya melotot melihat balasannya Acha. Heh.. maish syukur ia mau tersenyum..!!! tangannya terkepal dibuatnya.. Acha disana tersenyum kepada semua santri dan mulai kenalan singkat. Rian? Ia memilih masuk bersama kyai Abu. Ia tak suka jadi pusat perhatian....


kapan is Rian dan acha uwu uwu? nanti yah hoho

__ADS_1


__ADS_2