
Rian disana membukakan matanya dan menatap Acha mengusap kakinya kaget.”Ehh ngapain? Tidak usah.”Gumamnya tak enak melihat Acha yang membersihkan kakinya.
Acha menggeleng dan menahan kakinya.,”Ih abang tidak boleh. Acha tu suka lihat bunda kayak gini sama ayah pas pulang kerja.. kata bunda ini tu pahala dan bisa menambah dekatkan istri dan suami. Jadi acha mau dpat pahala.. dan ikutin apa yang Bunda lakuin dulu. Acha mau punya suami kayak ayah Rey yang bisa sayang sama acha tak akan meningalkan Acha kapanpun dan tidak yergoda dengan wanita lain.. “Ujarnya bersinar.,”Dan acha yakin salah satunya gini, yaitu berbakti pada suami. Benar bukan benar?”Tanyanya dengan mata berbinar.
Rian disana mendengarnya tertegun. “Tap-“
“Abang diam dan nikmatin aja hm.. ini enak kok..”Ujarnya membuat Rian mengangguk pasrah dan juga menatap semua yang ACha lakukan, hingga mengeringkan kakinya dihanduk acha melakukanya dengan telaten.
sedangkan Habib dikagetkan dengan kakinya yang dicuci oleh Fatih membuat ia menatap Fatih dengan tanya"kenapa?"
Fatih pun menatapnya dan berkata " acah yang menyuruhku dan ini ya yang menyiapkan, Iya sedang mencuci kakinya Rian." Habib pun menghangat mendengarnya dan menatap Acha dan Ryan Bolehkah Iya iri
Acha disana pun tersenyum tulus pada Rian membuat Rian disana tersenyum tipis.”Selesai.. tara.”ujar Acha terkekeh gurih.
Rian disana mengangguk.”Sini.. “Ujarnya pada Acha menyuruhnya mendekat. Acha disana dengan polosnya mendengar dengan wajah cengo dan tanda tanyanya.. hingga..
Cup... Mata Acha membola ketika merasakan benda kenyal dan hangat itu menyentu pipi kanannya. Seakan tersengat ikan leleh ia menelan saliva dibuatnya menatap Rian yang sudah menjauhi wajahnya dan tersenyum.”Hadia buat istri soleha..”Ujarnya mengusap pipi Acha.
Acha merasakan dadanya berguncang hebat. Seakan-akan semua akan hancur dan diluluh lantakan detik itu juga. Acha disana tersenyum merasakan cumanya.”Hangat.”Gumamnya membuat Rian terkekeh.
Wajah Acha memerah menatap Rian dengan binar."Tapi disini masih dingin. Abang enggak mau kaish hadia disini juga gitu.??”Ujarnya menunjukan pipi yang tak dicium Rian dengan polos.
__ADS_1
Rian disana terkekeh dan menyuruhnya kembali mendekat. Dengan antusias Acha mendekat dan memajukan pipinya. Rian disana tak bisa menahan senyum lebarnya dan kembali mencium dipipi yang belum ia cium membuat Acha disana menahan diri untuk tidak teriak.
Suaranya tertahan karena ingat malu. Ia disana menutupi wajahnya yang memerah.”Ih acha malu.”Gumamnya. Rian disana menarik tangan yang menutupi ajahnya.”Kenapa malu? Bukanya suka?”Tanuya Rian disana dengan Tanya.
Acha disana memukul tangan Rian dan menatapnya dengan tatapan sebal.”Iyalah Acha malu soalnya dicium abang.. tapi kok dada acha kayak ada yang nendang-nedang gitu. Apa Acha lagi hamil dan dedek bayinya yang nendang?”Tanyanya polos.
Rian disana membelalak dibuatnya.”Ih kok hamil si Cha? Enggak mungkinlah Cuma dicium aja bisa hamil.. “ujarnya dengan wajah datarnya.
Acha disana menatap Rian dengan tak setuju.”ih abang kata bunda jika menikah yah punya dedek bayi. Siapa taukan Acha hamil sekarang dan bakal punya dedek bayi gemeuss.. imut-imut gitu... uhh.”Gumamnya disana dengan wajah gemasnya.
Rian disana menganga mendengarnya.”Acha hamil dan punya dedek bayi itu enggak cukup menikah saja. Akan ada proses yang harus dilaluin.. engak bisa hamil Cuma karena sudah menikah saja.”Ujarnya menkelaskan.
Rian disana menatapnya gusar.” Cha... bunda nggak boong sama acha kok.. “Ujarnya dengan sabar.
“Punya dedek bayi itu memang harus sesudah menikah, tetapi ada yang harus dilakukan dan ada porosesnya.”Ujarnya Rian dengan pelan dan sopan.
Acha menatapnya dengan Tanya.”Abang tau ngak caranya?”Tanyanya membuat Rian gelagapan. "Kalo bisa yok ajarin acha dong.. acha mau punya dedek gemeus.. dedek bayi..”Ujarnya dengan wajah memelas.,
Rian gelagapan.. ia tak bisa menjelaskannya. Ia menatap Acha dan berbisik.”Nnati yah abang ajarin, tapi Acha harus siapin dulu yah diri acha.. “Ujarnya membuat Acha meremang., ia merasa geli ketika hembusan nafasnya Rian menerpa klitnya.. sungguh.
Ehem... acha dan Rian tertegun, mereka baru sadar jika ada orang lain disini. Disana ada Habib yang sudah selesai dengan membersihkan kakinya dengan handuk dan menatap Acha dnegan tatapan tak suka da nada Fatih yang wajahnya memerah. “Ih muka paman Fatih kok merah kayak gitu.. belum makan yah?”Tanya Acha polos,
__ADS_1
Faith disana menatapnya dengan tak suka. namun suara Habib menginstruksi.” Iya belkum lah Cha. Kan dia belom nikah cha jadi enggak ada yang nyiapin, makan sendiri semuanya sendiri. Kalo kenapa mukanya merah itu karena iri sama kalian.”Ujarnya dengan kekehan.”Mangkanya jangan jomblo terus. Cari istri. Umur sudah tua juga,”Ujarnya membuat wajah Fatih semakin panas dan juga memerah.
“Ihh nggak sadar diri. Mas juga udah lama enggak nikah dan menduda. Dih ngomongin orang aja.”Ujar Fatih tak terima. Habib disana terdiam mendengarnya membuat senyum Fatih terbit,
”Tapi mas sudah kawin. Nah kamu belum kan?”Tanyanya. Fatih menatap Habib dengan delikan.
”Mas mesum ih.”Gumamnya membuat habib terkekeh.
“Mesum? Apa tu mesum? Kawin tu apa kawin?”Tanya Acha polos. Fatih dan Habib gelagapan dibuatnya. “Anuh. Bukan mesum tapi museum yah. museum yang tempat untuk naruh barang-barang antic atau sejara ituh loh. Kan abimu sudah tua dan sudah bersejarah. Harusnya dipajang bukan disini. tapi kalo kawin itu Nikah yah nikah!”Ujar Fatih mengelak.
Acha disana mengangguk.” Oh iya.. abi sama paman bisa ajarin Acha buat debay nggak? Acha mau dong satu.”Ujarnya polos.
Semua melotot dibuatnya dan Rian segera menbutup mulutnya.”Ih kan bang bilang nanti abang ajarin, ngapain minta ajar sama yang lain. Acha engak boleh bicara itu sama orang lain selain sama abang.”Ujarnya gelagapan.
Acha membuka mulutnya paksa dan menatap Rian mendelik.”Abang si bilangnya nanti. Achakan maunya sekarrang.”Ujarnya memelas.”Kemarin minta sama abi dan umi enggek enggak dapet mending bikin sendiri kan udah punya suami.”Ujarnya dengan gemas.,
Rian menatapnya tak tahan. Eh tahan karena gemas yah. ia segera menggendong Acha.”Yaudah yok kita bikin.. tapi diem engak boleh Tanya atau bicara ini sama orang lain.”Ujarnya. Acha yang digendong itupun kaget dan terdiam.. apa yang Rian akan lakukan? Kenapa ia takut dan juga kaget bukankah seharusnya ia senang? Yah ia harus senang bukan? Tapi kenapa suasananya semakin mencengram.?
“Anak zaman sekarang memang enak ada akhlaknya.”Ujarnya Aisya disela pintu menatap Acha dengan sinis membuat Habib meliriknya kaget.”Itu anak yang punya sopan santun? Pantas si kayak ibunya. Pergi tanpa pamit.”Ujarnya lagi.
Habib disana menatapnya tajam dna berkata.”sesuci apa si Ais sampai membicarakan anak dan istri saya? Kamu pernah lihat syurga dan jaminan dari Allah jika kmu manusia terbaik gitu hm?”Tanyanya dingin. Aisya diam mendengarnya dan menatap habib takut. Sebab wajah Habib sangat dingin.
__ADS_1