
Acha yang sudah selesai dengan pelajaran pertamanya,, ia menghela nafas dalam sebab pelajaran ini sudah sangat ia mengerti sedariawal. Ia disini mengambil jurusan Filsafah Islam. Dan ia pun duduk disebelanya pria yang mengenakan kaca mata. Bisa dikatakan pria ini tampan, namun tidak juga.
Hanya enak dipandang tapi Acha tak tertarik.
Acha memasuki buku bindeernya dan juga penanya. Ia disana juga menyimpan beberapa buku lain yang ia siapkan tadi. Hingga ia dikerumbuni beberapa lelaki dan perempuan.”Wah.. halo kenalin nama gue Jenni. Gue cewek paling cantik dikelas ini kemarin, tapi karena adanya loe kayaknya kita bakal saingan deh.”Ujar gadis yang tak mengenakan hijab itu tersenyum pada ACha yang mendongak. Ia menatap tangan yang terulur dan sosok didepannya.
Sosok yang mengenakan baju berwarna abu-abu kotak celana jins hitam sobek-sobek. Oh kemeja..!! namun mengenakan tengkop dengan dada rendah, rambutnya beerwarna silver yang diikat menampilkan leher jenjangnya.. kulit putih dan juga dandanan yang bagaikan kekoreaan. Sungguh ia memang benar-benar cantik. Acha akui itu, ia hanya kalah tinggi dan kalah mancung saja dengan Acha.
Acha tersenyum menerima tangan terebut.”Oh hay Jeni. Namaku Acha. Bisa dipanggil Acha atau Caca juga boleh.”Ujarnya tersenyum dan juga melanjutkan.”Kamu sangat cantik jadi tidak usah saingan.”Ujarnya membuat semua terkekeh geli. Ternyata Acha polos sekali.
“Dan gue Rose.. gue temennya Jeni sedari SD. Kita memang cantik banget kan.”Ujarnya dengan PD. Acha menatap sosok itu dengan tatapan tersenyum dan menerimanya. Wanita yang mengenakan dres Grean itu Imut dengan pipi tembem dna poni topisnya. Warna rambut coklat dan bola mata coklat membuat ia seperti bule-bule. Sayang sekali ia sangat pendek. Mungkin tingginya hanya 145 saja.
“Udah woy. Gue juga mau kenalan sama cecan..!” Teriak disana lelaki yang tak lain adalah komti disana. Ia mengambil jalan kedepan cepat.”Woy kenalin nama Gue Juno. Gue kembarannya jane.. gue ganteng kan.. dan boleh lah yah jadi suami loe yang cantik ini.”Ujarnya dengan alis baik turun dan pipi yang menampilkan lesung pipi dalamnya.
Acha menatap lelaki didepannya itu dalam diam. Ia ongat lelaki ini yang bertanya statusnya tadi. Untunglah ibu dosen menghentikan acara pertanyaan dan menyuruhnya segra duduk. Setidaknya statusnya tidak terbongkar.. ia diisana memang tak terlalu suka mengenai statusnya diumbar. Ia memang bangga memiliki Rian, namun ia tak mau kebangaanya menjerumuskanya kedalam lubang masalah nantinya.
"Gue Arjuna.. dipanggil .." ujar lelaki yang disamping Juna "karena nama gue sama dengan nama Juna jadi lo bisa panggil nama gue Ar atau Juju aja.." ? uja rnya menepis tangan Juna.
tangan mereka berdua masih tetap diabaikan oleh aca, ketika hendak menang ku tangan di depan dada, aca diberhentikan oleh suara Shifa.
“Woy..!! loe beneran adeknya pak Rian? “Tanya Sifa dengan menggebrak ,meja heboh membuat Acha kaget memegang jantungnya. Mata Sifa yang hebojh kembali bertaya.”Gue mau jadi kakak ipar loe boleh nggak gue ngefans banget sama pak Rian woy. Yaampun dia coll banget kayak yang dinovel-novel gitu. Gue udah ribuan kali ngirim surat cinta sama dia ditaroh diatas meja tapi Sampek sekarang ngak direspon. Bahkan katanya surat-surat itu nggak pernah di abaca dan selalu dibuang.”Ujarnya dengan sedih.”Tapi tetep gue cinta sama dia., gue suka sama dia fiks.”Ujarnya lirih lagi.
Acha mendengarnya menatap Sifa dengan tatapan bersalah. sifa disana memilih menatap Acha dan berkata.”Loe sebagai adeknya tau nggak kalo pak Rian punya pacar atau tunangan gitu? Pliss kasih tau gue dikit tentang dia... apa makanan kesukaan dia.”Ujarnya. ada banyak wanita lain yang menatap dan mendengar hal ini.
Acha mendengarnya mencoba tenang dan mentap Sifa dengan tatapan biasa saja.”Hmm. gimana yah ngomong nya, tapi bang Rian udah nikah dan udha punya isti,”Ujarnya dengan jujur.
Dan dirinyalah istrinya ingin ia bicara begitu tapi nanti bisa-bisa sangat heboh.
Brak.. acha dikagetkan lagi disana karena mejanya digebrak oleh Sifa.. sofa barbar sekali rupanya woy..!! “Woy Sifa..!! anak orang bis jantungan gara-gara loe. Bisa santay ja ngak si, gangu banget.”Ujar sosok disamping Acha yang ia tau namanya adalah Doni.
Acha disana mengusap dadanya namun kaget diucapan Siifa.”Diem loe culun..! gue ngggak butuh pendapat loe..!” Ujarnya sofa menunjuk wajah Doni. Doni menatapnya datar. Sofa menatap Acha.”Loe ngak suah bohong deh. Mana mungkin pak Rian nikah.! Dia bahkan belum sebar undangan dan sedari awal dia bilang dia masih single..!!” Bentaknya.
__ADS_1
“Santray bos.. dia adiknya..!” ujar Jeni disana menhn siifa. Sifa disana masih menatap Acha tajam.
”Dia ngpmong suka ngaco.. jangan-jangan dia nggak suka sama gue mangkanya bilang pak Rian udah nikah..”! Bentaknya disana.
Acha menggela nafas dna berdiri. Ia memilih pergi saja darri sana.” Woy mau kemana loe..?! Jawab dulu pertanyaan Sifa..”Itu suara Jeni yang menahan tangan Acha yang mau pergi. Acha disanapun tak jadi berjalan meninggalkan tempat itu dan menatapnya dengan tatapan datar.
“Gue harus jelasin apa sama kalian?”Ujarnya dinghin dan Jenipun melonggarkan tanganya ditangan Acha. “gue udah jelasin abang Rian udah nikah dan kalian ngak percaya. Dan menurut gue ngak ada untungnya kan gue buat kalian percaya. Percaya atau tidanya kalian dengan apa yang gue omongin juga nggak ada pengaruh apapun sama hidup gue. jadi yah terserah kalian. Gue ngak peduli.”Ujar Acha dengan lihai dan melangkah.
Brak.. “Wah main-main nih anak..!!!” Semua kaget ketika Sifa begitu. Acha yang hampir saja terkena kursi itu hanya diam dan kaget ketika seseorang menariknya dan memeluknya. Dan disana semuanya terdiam menatap sosok itu. Sosok lelaki tampan dan juga mirip dengan Acha, hanya saja beda ia tampan dan Acha cantik. Dia Arga.
Disana arga menatap semua orang dalam dan juga datar.”Kalian ngapain adik saya? “Tanyanya dengan datar dan dingin. Tak ada yang berani menjawab dan juga menyelah dia. Wajahnya sangat seram dan achapun melepaskan diri dari pelukan kakaknya. Arga disana menatap mereka dnegan lebih tajam.,”Berani kalian lukai adik saya maka saya jamin rumah sakit akan kalian nikmati detik itu juga..!” tegasnya dan menatap Acha. Acha disnana pun menggeleng pertanda ia baik-baik saja.
“Mereka baik kok kak." Ujar Acha dengan senyum membuat semua bungkam. Acha disana menatap semua yang disana lagi.”Tadi mereka ngajak kekantin tapi acha nggak mau, mangkanya gitu tadi Cuma nggak sengaja aja. Yah kan Jane? Sifa?”Tanya Acha dan keduanya menggangguk kaku dan menatap Arga penuh pesona.
Arga menghela nafas dan mengusap pipi adiknya. Ada rasa takut dihatinya tak mampu menjaga kembarannnya. “Kamu kalo ada apa-apa bilang sama abang yah. nanti biar abang hadapin dan hajar siapapun yang nyakitin kamu./”Ujarnya dan achapun tersenyum mengangguk. Semua diam dan achapun pergi.
“Gila ganteng banget woy..!!!” Itulah suara pertama yang keluar karena tertahan ketika menatap Arga tadi.. pekikan dan bahkan mengintip dari jendela dan keluar pintu orang-orang ingin menatap Arga saja.. sungguh ini alasan acha tak mau orang lain mengetahui jika ia punya kakak yang tampan.. alasanya ia selalu dibenci entah kenapa..!!
Disisi lain sosok Nayya yang sudah kerja sedari pagi itu merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Sungguh ia lelah saat ini, sebab ternyata ia memiliki banyak sekali pasien disini..!! ia menatap jam yang ternyata sudah jam 5, dan otomatis ia sudah selesai membuat ia siap-siap hendak pulang.
“Nay pulang sama siapa? Mau bareng sama saya?” Suara dari lelaki berparas manis dengan kulit sawo matang itu menghentikan tangan Nayya yang menyusun semua buku dan juga peralatan medis yang berada didepanya itu. Lelaki yang tak lain bernama Bimo itu tersenyum dibalik pintu pada Nayya.
Nayya disana tersenyum menatap Bimo. Ia menggeleng.”Tidak usah dok, terimakasih tawarannya tapi saya pulang lewat taksi saja.”Ujarnya disana sopan dan menatap si dokter karena sopan santun. Banyak yang harus ia susun sebenarnya tapi ia tak enak.
Bimo menatap Nayya dengan cepat menggeleng.”Enggak ngerepotin kok. Saya memang hanya mau berkenalan dan berbagi ilmu dengan dokter. Secarakan dokter sekolah dan juga kerja dirumah sakit luar sebelumnya pasti banyak dong ilmunya,”Ujarnya dengan membujuk.
Nayya disana menghela nafas, ia menatap Bimo, bukanya ia anak polos atau remaja polos seperti Acha...! umurnya sudah memasuki kepala lima ingat..!! dan ia tau ini hanya mos parah buaya diluar sana dna Bimopun sama..!!! hanya awal dari PDKT Kalo kata orang mah. Mana mau dia sama Bimo yang usianya bahkan baru setengah dari usianya itu..!
Nayya tetap menggeleng dan berkata.”Maaf yah Bim. Lain kali saja saya nebeng. Soalnya gocartnya udah saya pesan. Sekali lagi maaf yah,”Ujarnya dan mulai menyusun kembali barang-barangnya yang berantakan,.
Bimo menghela nafas.”Yaudah deh. Jika begitu saya duluan yah.. lain kali kita harus ngobril berdua yah..!! mau makan kek atau jalan pokoknya harus sharing yah... bay.”Ujarnya. Nayya tersenyum dan mengangguk. Setelah Bimo pergi barulah ia menghela nafas dan kembali menyusun apapun yang bisa ia susun.
__ADS_1
Setelah selesai iapun segera keluar dan juga mengisi hadir pulangnya.. dan ketika kakinya melangkah kedepan dan ternyata ia dikagetkan dengan Habib yang diparkiran dengan tersenyum melambaikan tangan padanya.. yah Habib disini membuat ia kaget dan juga menatapnya tajam. Kok Habib tau ia kerja disini si? Kan ini hari pertamanya masuk kerja dirumah sakit baru.
Disana ada Habib yang ternyata sudah menunggu selama satu jam sedari tadi, pulang dari kampus ia segera kesini karena mendapat kabar dari Arga menjemput ibunya sebab ibunya tak membawa mobil..! jadi ia tak akan menyia-nyiakan kesmepatan ini. apalagi pas melihat Nayya keluar dari rumah sakit dengan tersenyum menatapnya membuat ia baper sendiri. Namun ia terdiam ketika Nayya yang didatangi oleh seseorang. An itu laki-laki.
“Buk dokter.. bu Nayya yah...!” Ujar seseorang dari belakang membuat nayya menatap kebelakang.
Dan disana ada sosok lelaki yang mengenakan jas. Dan dia adalah ayah dari anak yang Nayya bantu tadi. Nayyapun tersenyum kepadanya.”Hm.. yah.”Gumamnya disana. Habib yang dari jauh menatap keduanya dengan tatapan datar dan raut tak dapat ditebak.
Sosok pria itu tersenyum lebar dengan nafas yang naik turun, ia mengejar Nayya sangat jauh namun Nayya tak mendengarnya tadi, dan ia sudah mencari nayya sedari tadi, namun ia tak bisa menemuinya karena menjaga anaknya baru ini ada waktu menemuinya dan kebetulan ketemu dikala nayya menaiki lift tadi.
”Saya mau ngucapin makasih sama dokter karena sudah membantu anak saya keluar dari masa keritisnya, saya tidak tau apa yang akan saya lakukan jika anak saya meninggalkan saya sama seperti almarhuma istri sayya dulu.”Ujarnya tulus dan penuh luka,.
Nayya mendengarnya mengangguk. Bukan sombong tapi ia sudah sering menengar kata-kata ini, “Sama-sama pak.. sudah menjadi tugas saya sebagai dokter, saya hanya berusaha selebihnya hanya kuasa Allah yang memberi kehiodupan pada hamba-hambanya dan juga anak bapak yang kuat dan juga mampu menyambut apa yang saya usahakan.”Jawabnya tegas membuat siapapun akan kagum akan nayya.
Sosok ayah tersebut mengangguk.”Sayya tidak tau harus apa.. saya hanya mau nomor rekening dokter biar saya tambah uang untuk membantu anak saya tadi saja boleh?”Tanya dia dengan tanda Tanya besar. Tampa tau jika harga diri nayya tercuil.
Nayya menggeleng dan tersenyum.Cukup bapak menjadi kuat dan kokoh untuk kesehatan dan keselamatan anak bapak saja itu sudah cukup menjadi bayaran untuk saya kok. Bapak tidak usah bayar sebab saya sudah ada gaji.”Ujarnya menolak.” Bapak harus hemat dan juga menabung untuk anak bapak sebab saat ini bapak punya uang tapi kedepannya bapak tidak bisa jamin. Jadi bapak simpan saja uangnya demi kesembuhan anak bapak yah.”Ujarnya disana lagi sendu.
Ayah dari anak tersebut terdiam menatap nayya. ia disana tak tau harus berkata apa karena yang dikatakan nayya benar. Mana usahanya Sekarang sedang turun dan hampir jatuh membuat ia pusing sekali. “Jika begitu saya duluan yah pak. “Ujar Nayya kepadanya membuat ia baru sadar.
Nayya berjalan meninggalkannya membuat ia kembali berkata.”Tunggu dok.. “Ujarnya. Nayya menatapnya dengan Tanya, “Biar saya antar saja yah sebagai ucapan tanda terimakasih nya. “Ujarnya disana tulus pada Nayya.
Nayya melirik Habib yang berada didalam mobil itu. Disana ia tau Habib ingin menjemputnya membuat ia menatap lagi sosok itu.”Oh yah. kenalin nama saya Vino... kamu bisa panggil saya Vin atau Ino atau Nono juga boleh.”Ujarnya menjulurkan tangannya.
Nayya disana mengangguk dan menaruh tangan kanan didada. Ia membungkuk dan berkata.”Maaf saya Nayya.. nama saya Nayya dan tidak usah repot repoy pak Bimo. Saya pulang sendiri saja kok. Terimakasih atas tawaran bapak.. insyallah lain kali saja yah saya terima.”Ujarnya, ketika Vino mau mengelak Nayya kembali berkata.”Saya bukanya tidak mau tapi grab saya sudah sampai.”Ujarnya dengan tersenyum pergi.,
Sosok Vano disana mau menjawab namun Nayya sudah....
pringgg
membuat ia menghela nafas nanar. Habib? Ia pun segera membuka pintu mobilnya hendak mengejar Nayya yang keluar dari parkiran.”Nayy..!!” teriaknya dan Vino pun menatapnya kaget.. siapa dia?
__ADS_1