Istri Butaku

Istri Butaku
Pulang bersama Habib


__ADS_3

Langkah kaki Habib menuju kekampus itu sangat santai dan juga pelan. Ia memang tak sepopuler Rian, tetapi ia juga sangat disukai banyak mahasiswi disini, andai ia belum menikah di[andangan mahasiswi pasti banyak juga yang suka dia meski umurnya memasuki kepala empat. Ia tak kalah tanpan dari Rian kok.. Bahkan ketampanan mereka tak ada yang menyaingi satu sama lain.


Tempat ia mengajar dan Rian itu berbeda yah.. Rian mengajar di kampus swasta dan juga termahal dinegeri iini.. sedangkan Habib? Ia mengajar di kampus islami, yang isinya beragama islam semua. Disini juga ia sudah menjadi dosen tetap dibagian ilmu Ushul Fiqh. Filasafah, Tasauf.. yahh dia itu dosen keagaan disini. Sesuai basic ia yang diamboil dulu yah. ia kan S2 Ushul Fiqh dari luar. Sikapnya saja yang ehem,..


“ Hai Bib.. Apa kabar?”Tanya dari rekan kerjanya yang tak lain dosen muda. Dosen muda itu memang memanggil Habib dengan nama tampa embel-embel formal, sebab kebanyakan orang tak menyangkah umur Habib memasuki kepala lima puluh itu.. Mereka fikir umurnya mungkin hanya 25an begitu.


Habib melirik sosok cantik itu dengan ramah.” Hmm kurang baik Vel.”Ujarnya. gadis itu bernama Vely. Bukan tak tau Habib jika wanita itu menyukainya, tapi Habib sok tidak mau tahu saja dan mengabaikanya. Hanya saja Veli Nampak masih mendekatinya,


Veli disana mendekati Habib dengan senyumnya. Hijabnya yang tak terlalu lebar itu ia mainkan.”: Hm kenapa tu? Mau cerita sama aku tidak? Aku bisa kok mendengar semua kelu kesah kamu.”Ujarnya manis kepada Habib. Tak seidkit yang tahu Habib adalah Gus dan juga tak akur dengan istrinya itu.


Habib mengangguk.” Lain kali Vel. Saya harus bertemu istri dan anak-anak saya terlebih dahulu yah.”Ujarnya tersenyum menekan kata-katanya kepala sang empu. Sang empu pun menatapnya nanar dan juga tak percaya. Ia tau Habib punya istri dan anak. Tapi rumornya?


“Kam,-kamu punya istri dan berapa anak Bib?”Tanyanya disana gugup menatap habib yang mai4sh menyusun file.


Habib disana menatapnya dan menjawab.”Istri hanya satu. Jika anak dua.”Ujarnya membuat snag empu diam menatap Habib nanar. Ketika semua usai Habib menatap Vely dan berkata.”Saya duluan yah..”Ujarnya tampa menunggu jawaban Vely ia segera berangkah dan meninggalkan ruangan itu. Ruangan dimana perkumpulan file-file siswa. Habib memang memisahkanya. Jika tugas anak-anak ia menyuruh mereka menaruh dilaci saja bukan diruanganya. Habib tidak terlalu suka banyak kertas dikamar. Baginya kamar adalah tempat istirahat dan ngefras otak bukan menambah beban.


Tak berselang lama Habib menghubungi Rey untuk menuju kerumahnya. Rey disana mengiyakan karena memang jam segini tugasnya sudah seelsai. Rey memberikan tugasnya kepada pegawainya saja. Ia hanya menawasi saja sebab ingin menemani Raja yang katanya setiap hari hanya diam dan murung. Ia tak mau anak-anaknya kenapa-napa. Ia menyayangi anak-anaknya. Bukan tak bisa egois ia menghabisi waktu diruanganya saja hanya saja ia tak begitu.. ia ingin meneruskan usaha istrinya dipanti asuhan dan panti jomponya, ia ingin meluaskan lagi pesantren milik keluarganya dan beberapa masjid yang mungkin terbengakai, Rey harus menyiapi dan menyesaikan semuanya supaya istrinya Rindu disana tenang meninggalkan beberapa harta miliknya.. benar. Bukankah itu harta? Bagi Rindu, apa yang ia miliki itu adalah milik Tuhan, sedangkan apa yang ia beri pada orang lain, maka itulah yang ia miliki. Apa yang ia miliki hanya untuk dunia sedangkan apa yang ia beri, maka itulah bekalnya mati nanti. Maka itulah yang ia miliki dan menyelamatkanya.


“Jadi Habib apa yang ingin kamu katakan kepada saya?”Tanya Rey disana kepada Habib yang datang kepadanya. Disana hanya ada dirinya dan Habib, tak ada anak-anak sebab banyak kegiatan lain yang harus dilakukan, tetapi ia sudah menghubungi Rian dan lainnya kok.


Habib disana tersenyum tulus dan berkata.”Saya mau izin kepada kamu untuk meminta supaya Acha, Rian, Arga tinggal dengan saya. Say-saya ingin merasakan dekat dengan anak saya.. saya ingin merasakan ia berada disisi saya untuk mengantikan beberapa tahun belakangan ini yang saya tak bisa melihat perkembanganya.”Ujar Habib gugup.”Kamu sendiri tau kan jika kami baru dipertemukan sekarang sedangkan usia Acha menginjak 18tahun., saya ingin sekali merasakan bagaimana bisa dekat dengan anak-anak saya meski Acha sudah menikah sekalipun. Saya minta tolong beri saya kesempatan untuk merasakannya..”Ujarnya dengan mata memelas bagaikan kucing menatap Rey.


Rey menatap Habib dalam, ia bisa melihat ketulusan sekaligus keinginan dan harapan. Ia bisa merasakan hal itu membuat ia iba sendiri. Ditambah tangan Habib yang saling berpautan membuat Rey sadar jika yang dikatakan Habib adalah semua kebenaran.”Saya sebenarnya menolak permintaan kamu.”Ujar Rey.

__ADS_1


Habib menatap Rey dengan tatapan tak menyangkah namun sambungan Rey membuat ia bungkam.” Saya sangat menyayangi mereka meskipun mereka bukan anak saya, terukti rindu sampai mengorbankan dirinya sendiri, ditambah saya takut kamu tidak bisa menjaga mereka dengan baik dan benar.. daya takut akan hal itu. Tapi disisi lain saya tidak punya hak untuk melarang mereka. Kamu memiliki hak untuk hal itu dan anak-anakmu juga mendapatkan wewenang menerima atau menolak kamu. Saya tidak bisa memberi keputusan kecuali dari mereka.”Ujarnya disama.,


Habib menatap Rey tersenyum. Rey menepuk pundaknya dan berkata.” Saya mengerti perasaan kamu dan saya akan terima apapun keputusan anak-anak kita nanti.”Ujarnya. habib Diana menatap Rey dengan tatapan penuh harap.


“Saya sangat-sangat heran kepada kamu bagaimana bisa kamu sebaik ini terhadap saya? Bukankah seharusnya membenci saya dan meminta Acha untuk menjadi anak kamu.”Ujarnya memelas pada Rey yang ada dihadapanya itu.


Rey disana menatap Habib dengan helaan nafas, ia menjawab,”Setiap orang pasti memiliki masa lalu yang kadang tidak semua oramg bisa menerima itu, tetapi itu tak ,menjadi dia bisa berada di posisi masa lalu orang tersebut. Termasuk saya dan masa lapu kamu. jika saya diposisi kamu mungkin saya akan melakukan hal yang sama, atau bahkan hal yang lebih dari itu. Tetapi bukankah dari sudut pandang saya untuk kebaikan? Dan tidak ada landasan yang ingin menjerumuskan kejahatan tau suatu hal yang tidak baik untuk kedepannya.”Ujar Rey. Habib menatapnya dengan tatapan nanar.


“Lalu bagaimana keadaan hubunganmu dengan Nayya?”Tanya Rey kepada Habib. Ia tak mau menambah beban dan menambah panjang bicara masalah anak-anak. Ia terserah dengan Habib bagaimana baiknya. Dan ia yakin juga jika semua demi yang terbaik untuk anak-anaknya.


Habib menghela nafas menatap Rey masam.”Terakhir kali kami meminta restu saya ditolak dan dipukul.”Ujar Habib masam. Rey disana hanya terkekeh dibuatnya menatap Habib. Kekehan yang membuat Habib tersenyum tambah masam.


“Disejarah manusia, ada sebuah siklus yang nggak akan berhenti, seringkali disebut sebagai roda kehidupan. Kadang diatas dan kadang dibawah. Bahkan hal ini berlaku dari genetrasi ke generasi. banyak sekali ada orang yang berlatar belakang yang susah, akhirnya memiliki kehidupan yang sukses. Dan bisa memberikan keturunan kehidupan yang nyaman, namun tidak jarang juga. Kita melihat keturunannya yang sudah terbiasa hidup enak akhirnya mmeiliki keturunan yang kembali hidup susah. Mungkin mengutip dari novel yang ditulius dari Michael Hopf “Waktu yang sulit. Maka akan menciptakan manusia yang kuat, manusia yang kuat akan menciptakan waktu-waktu yang indah. Waktu yang indah akan menciptakan manusia yang lemah dan manusia yang lemah akan kembali menciptakan waktu yang sulit.” Ujar Rey dengan tegas menatap Habib.


“Kamu dan Nayya berada dimasa yang sulit,, namun bukan berarti kalian tidak memiliki jidup yang indah, dan tak menjamin kalian selaku merasa sulit. Karena saya yakin kalian akan menemukan titik temunya. Jika tidak disatukan didunia maka akan disatukan oleh Allah. Bukankah indah jika disatukan oleh Tuhan secara langsung?”Tanyanya disana. Habib disana menatapnya tersenyum dan penuh binar. Ia mengangguk saja menatap Rey.


Diuikuti Rian yang bersalaman mereka duduk disisinya Habib.”Kenapa yah ajak kami pulang cepet?”Tanya Rian disana melirik istri kecilnya menunduk takut.. tak berani menatap Rian, sudah dua hari ia menghindar dari ayahnya ini. rian jadi tak tega melihat Acha.


Rey disana menatap acha dengan helaan nafas lalu menatap Habib.” Biar Habib saja yang menjelaskan apa yang ia inginkan. Ayah rasa dia lebih berhak.”Ujarnya menatap habib. Habib pun disana menatap Rey dengan tatapan sulit diartikan. Rey mengangguk membuat Habib menghela nafas.


Habib menatap Acha”Panggillah Arga terlebih dahulu. Abi mau bicara dengan kalian semua.”Ujarnya. acha mengangguk dan segera bangkit mencari Arga. Arga awalnya dengan namun mendengar penting membuat ia segera turun dan menemui Habib. Disinilah mereka sekarang. ada Nichol jga yang ikut nimbrung karena kepo.


Ketik semua sudah berkumpul barulah Habib memulai biara.”Sebenarnya begini... Abi kesini meminta izin kepada ayah Rey untuk meminta kalian supaya tinggal bersama abi. Abi ingin kalian tinggal dirumah abi. Abi ingin sekali berkumpul dengan kalian., kalian tau sendirikan jika abi tidak ada disisi kalian selama pertumbuhan kalian dari kecil hingga sedewasa ini. abi ingin bersama kalian.untuk Acha dan Rian. Abi hanya minta selama tiga atau beberapa bulan saja karea kalian sudah menikah. Tapi Arga, selama kamu belum menikah.. sebab ayah ingin menangung semua beban dari ayah Rey akan ditannggunga bisa sebagai ayah kandung kalian.”Ujarnya membuat semuanya diam dan menatap Habib dalam.

__ADS_1


“Abi hanya meminta itu saja dari kalian. Hanya beberapa waktu. Abi tidak akan melarang kalian kok jika ingin tinggal atau pulang bersama ayah Rey. Apa kalian ingin menginap dan bermain. Abi hanya ingin kita hidup bersama dan merasakan keluarga bahagia.”Ujarnya memelas. Hatinya berdegub kencang menatap semua orang yang menatapnya dnegan tatapan dalam. Apalagi Ran yang diam dan menatap datar kepada Habib. Menantu laknat memang, Seharusnya kan Rian disana tersenyum dan ramah kepadanya. Tapi ini apa?


Acha menghela nafas. Arga disana diam menatap ayahnya. Arga disana hanya diam mendengarnya membuat ia sesak. Apa ayahnya Rey melepaskannya kepada Habib karena masih marah akan kepergian istrinya? Apa ia juga menyalahkan Acha? “Ayah tidak keberatan?” Tanyanya disana getir.


Rey disana menatap Arga. Arga disana menepuk sisinya menyuruh Arga duduk. Ia menatap Acha juga membuat Acha disana meremas ujung bajunya takut. Namun Rian mengusap tanganya menguat membuat Acha dnegan dagdigdug duduk disisinya Rey. Disana Rey mengusap kepala keduanya sayang dan keduanya menatapnya dengan polos.


“Bagaimana bisa ayah tidak keberatan kehilangan waktu bersama anak-anak yang paling ayah sayang dan ayah banggakan?”Tanyanya disana menatap keduanya bergantian.” Tidak ada ayah dimuka bumi ini yang rekah kehilangan anaknya. Kehilangan waktu bersama barang sedetikpun.”Ujarnya disana dengan lembut.


“Ayah ti-tidak benci acha?”Tannya ACha disana menatap Rey nanar. Matanya berkaca-kaca polos.”Gara-gara acha bunda meninggal. Ayah jadi sendiri. Aya-ayah tiak benci acha begini mangkanya ayah nyuruh abi jemput kita gitu?”Tanyanya dengan unek-uneknya.


Rey disana menatapnya dengan kening mengerut.”Siapa yang bilang begitu hm?”Tanyanya lembut.”Dan bagaimana bisa ayah membenci kamu dan Arga sedangkan bunda kalian rela mati untuk kalian, ia sangat menyayangi kalian. Bukankah membenci kalian dan menjauhi kalian adalah hal yang menyakitkan buat bunda kalian?”Tanyanya disana lembut.”Ayah tidak menyalahkan kalian dan marah. Ayah hanya sedih bunda kalian meninggal hanya itu.”Ujarnya lagi.


Acha disana menatapnya lagi mencari kebohongan, namun yang ia lihat hanya luka dimatanya Rey membuat ia menitihkan lagi air matanya. Namun segrra dihapus oleh rey. ”Ayah ingin kalian memulai hidup dengan abi kalian. Kalian tidak kasihan dengan abi kalian? Dia sudah tua, duda dan tak punya anak selain kalian. Masa iya dia hidup sendiri. Kalian tidak kasihan apa? Kalo ayahkan ada Raja dqn Nichol. Ada juga yang lain dan maid disini. Kalo ayah kalian? Dia kan miskin jdi tidak bisa menyewa Maid. Ia harus masak, makan dan cuci baju sendiri. Kasihan bukan?”Tanyanya disana.


Mulut Acha terbuka menatap Habib dengan muka ibahnya. “Abi apakah ayah benar jika hidup ayahs emenyedihkan itu? Masak sendiri? Makan sendiri? Nyuci sendiri?”Tanyanya dengan mata yang menatapnya berkedip. Habib pun menatap Acha dengan menggeleng.


Hodupnya tak semenyedihkan itu. Ia menatap Rey disana Rey malah menatapnya dengan mata yang menyedihkan. Habib membenci hal itu.


“Abi benar tidak?”Tanya Acha. Habib kembali menatap ACha. ”Acha tidak mau tingal dengan abi jika begitu. Masa nanti Acha disuruh masak, makan, cuci baju dan cuci piring. Acha tidak bisa mending disini aja atau sama Umi. Dikira Acha pembantu yang diminta pulang Cuma untuk jadi tukang bersih-bersih.”Ujarnya dengan cerewet.


“Ihh kamu percaya sama ayah kamu? Abi tidak semenyedihkan itu. Duda kok ngomong duda.”Ujarnya membuat Rey melotot dan Rian terkekeh. “Abi disana memang tidak ada Maid hanya saja kami disana ada santri yang piket dan pelayan yang memasak dan bersih-bersih. Tapi jika baju yah abi lebih sering ke loandri atau disuruh bibik yang mencuci. Abi tidak semiskin dan semenydidhkan itu Acha jadi tenang saja. Abi tidak akan membiarkan tangan mulus kamu terkepupas karena sabun yang murah.”Ujarnya.


Acha disana mengangguk dan menatap Habib tak percaya,”Tapi ayah tidak pernah bohong. Pasti Abi halu jadi orang kaya kan?”Tanyanya menyelidik.

__ADS_1


“Memang ayah keliatan miskin yah?”Tanya Habib dengan menelitih dirinya. Dan kuranng ajarnya Acha mengangguk membuat Rey tertawa menatap wajah habib yang menatap anaknya pasrah.


Anak kurang ajar atau terlalu jujur?


__ADS_2