Istri Butaku

Istri Butaku
Wanita


__ADS_3

Acha disama masih menepuk-nepuk pipinya dengan tak percayanya. Apakah benar ia akan dilamar oleh Rian? Ia akan diajak menikah dan mereka akan hidup bersama? Acha memang mencintai Rian sedari kecil. Lelaki yang dicintai sejuta Umat itu, lelaki tampan nan rupawan dan juga sangat pintar dan juga sopan. “Acha kayaknya belum bangun deh. Masih mimpi.”Gumam Acha disana. Ia masih sendiri sebab ayah dan ibunya pergi kehotel disamping rumah sakit ini yang mereka sewa untuk membersihkan diri sedangkan Rian, entah dia pergi kemana. Yang pasti ia sendiri.


“Permisi..” Ujar dari luar membuat lamunan Acha terhenti dan segera menatap sang empu. ternyata ada suster yang datang dengan alat-alat yang entah itu apa dan juga pengompres membuat ia tau jika suster itu akan membersihkannya.


Mata sang suster menatap Acha dengan tatapan tak suka namun tetap memaksa tersenyum. Acha disana mengerjab dan juga tersenyum.”Halo kakak cantik..”Ujar Acha disana ramah membuat sosok suster itu terdiam. Ia menatap mata polos Acha dan senyum tulusnya Acha. Namun ia tak boleh terpengaruh membuat ia menatap Acha dengan tatapan biasa saja.


“ Permisi. Saya mau ganti imnfus sama bersihkan kamu.”Ujarnya. Acha disana mengangguk dan juga tersenyum. Suster itu segera melakukan tugasnya. Acha disana segera mengambil cemilan yang diberi Rian tadi yang isinya tak lain adalah makanan yang terbuat dari bayam dan mengandung banyak protein.


“Suster mau?”Tanya Acha polos kepada suter yang tersenym dan menggeleng. Ia membersihkan tubuh Acha dengan pelan meski membenci ini tugasnya. Acha masih tak sadar sosok itu membencinya hingga ia merasa infusnya diganti paksa hingga berdarah.”Ahduhhh sakit..”Gumam Acha hampir menangis.


“Ehh-ehhh maaf tidak sengaja.”Ujar Ririn disana. Acha disana menatap tangannya dengan nanar meksi begitu ia tetap tersenyum dan mengangguk. Ririn disana diam menatapnya lalu memutar bola mata malas.


Kenapa acha tidak marah? Diakan sengaja tadi? Hingga matanya tertuju pada gelang dan cincin milik Acha.”Hmm nona sudah menikah?”Tanyanya.,


Acha menggeleng.”Tapi ini cincin?”Tanyanya disana. Acha menatap cincin ditanggannya.”Ih ini cincin dari bang Rian... ini gelang juga dari hang Rian, cantik kan suster?”Tanyanya polos. Tangan Ririn terkepal disana mendengarnya.


Bagaimana bisa rian memberikan cincin sebagus ini.? Ini pasti sangat mahal..! Dilihat dari bahan dan juga luarnya bisa dibilang harganya diatas ratusan juta.


Acha tersenyum menatap suster.”Suster cantik banget Acha suka.”Ujarnya. Ririn diam mendengarnya. Acha menatap rambut Ririn yang curly dan tubuh yang bagus. “ Pasti banyak yang suka suster kan? Suster cantik mau nggak jadi temennya Acha?”Tanyanya disana tersenyum.


Ririn disana tersenyum paksa meksi begitu ia tetap tersipu dikatakan cantik oleh Acha.”Kamu juga cantik.”Ujarnya pelan. Ia akui Acha itu cantik dan Imut. Ia akui juga jika sebenarnya Acha itu sangatlah lucu dan juga menarik..


“Acha tau..”ujar Achja PD membuat mata Ririn membutar.” Suster tidak suka sama Acha yah? Acha liat suster dari tadi senyunya tidak ikhlas banget.”Ujarnya polos. Suster itu menatapnya dengan tatapan datar.


Acha terkekeh.”Tidak perlu begitu. Acha tidak memaksa untuk kamu menyukai Acha tapi yang harus kamu tau Acha suka kamu karena kamu baik sudah membantu Acha disini selama Acha sakit. Terimakasih suster baik.”Ujarnya disana dengan polos.


“Assallamu’alaikum..” Dari luat membuat keduanya menatap kepintu. Suster Ririn segera membereskan rambutnya supaya terlihat rapi dan juga merapikan bajunya.. Acha? Acha disana mangat menatap dipintu yang datang tak lain adalah lelaki tampan nan rupawan yang membawa makanan ditangannya.


“Wa'alaikum salam/.”Jawab Acha dengan semangat dan dijawab lembut oleh Ririn. Disana Ririn tersenyum menatap Acha hangat tampa menatap Lain arah lagi. bahkan sosok Ririn tak ia tatap barang sedetikpun disana membuat tangan Ririn terkepal tak suka.


“Ini saya bawakan kamu makanan, kamu pasti tidak suka makanan rumah sakitkan?”Tanyanya Rian disana tersenyum.”Ini saya masak dengan resep yang diberi bunda kepada saya. Kamu pasti suka.”Ujarnya lagi disana tampa menghargai sosok lain.


Acha disana tersipu dibuatnya.”Benarkah?”Tanya nya disana membuat Rian disana tersenyum.


” Asikk.. tau banget si kalo Acha suka makanan bunda... memang deh abang calon suami yang paling sempurna sedunia.”Ujarnya Acha disana dengan menentang tangannya menjadi lebar namun ditahan oleh Rian takut infusnya nanti melukai rangan Acha membuat tergelak dan tersenyum manis. Rian tersipu dibuatnya namun ia mampu mengendalikannya

__ADS_1


Rian disana terkekeh.”Mana bisa begitu.”Ujarnya. Acha mengangguk.”Bisa kok...”Ujarnya. Rian mengeleng saja melihat tingkah calon istri kecilnya.”Tapi loh bang nanti Acha kalo kita nikah Acha mau jadi beban saja.”Ujarnya disana.


Rian disana menarik kening dan alisnya.”Maksudnya?”Gumamnya,


Acha disana terkekeh."Acha jadi beban. Enggak mau masak, enggak mau ngepel, enggak mau ngapa-ngapain. Acha Cuma mau jadi beban hidup abang saja.. Acha tidak bisa masak soalnya, Acha juga tidak dibolehkan capek..”Ujar Acha polos.”Nanti abang sama ayah bisa marah kalo Acha lelah.”Bisiknya bagaikan abang dan ayahnya ada disini saja. Ririn memutar bola mata malas.


“Mana bisa begitu.”Ujar Ririn disana menentang membuat Rian disana menatapnya. Rian sadar ada wanita lain hanya saja ia tak mau menatapnya. Baginya matanya tak boleh menatap wanita lain kecuali Acha sang calon istri.


“Bisa dong.”Ujar Acha disana menatap Ririn.


Ririn disana menggeleng.”Enggak lah. Wanita itu harus melayani suaminya. Harus masak, harus bisa nyapu dan cuci piring. Seperti saya, saya bisa semuanya, bisa mencuci.. bisa masak dan bisa segalanya. Jika mau jadi beban saja tidak usah menikah. Hanya jadi benalu.”Gumamnya disana memutar bola mata malas.


Acha diam disana menatapnya dengan mata yang mulai hendak basah. Rian disana menatapnya lalu menghela nafas.”Saya menikah dengan kamu memang mau jadiikan kamu beban saya bukan pembantu ataupun mengurusi saya.”Ujarnya. acha diam menatapnya dan mengerjab. “ Saya tidak meminta kamu mencuci ataupun sebagainya. Saya tidak akan mau menikahi kamu jika seandainya masih membuat kamu sulit dan juga lelah. Saya mencintai kamu yang menjadi beban saya bukan menjadi babu saya.”Ujarnya. Acha disana tersenyum dan tersipu. Mata yang berkata-kaca sekarang berubah menjadi penuh binar dibuatnya.


Ririn disana menatap Rian menolak.”Mana bisa begitu? Jika begitu seorang istri tidak berguna kan?!!! Wanita itu harus bisa melayani suaminya..!” Ujarnya disana menantang.”Saya diajarkan begitu sedari kecil.”Ujarnya lagi.


“Tapi dia tidak diajarkan begitu oleh keluarganya.”Ujar Rian disana dingin membuat Ririn terdiam gagu.”Dia dijadikan ratu, lantas apakah saya pants menjadikan dia babnu dikehidupan mendatang dengan saya? Apakah saya tidka malud engan keluarga yang membesarkannya?”Tanyanya disana dengan tak sukanya. Ririn diam disana menatapnya nanar.


“Hakikat wanita itu hanya melayani, melahirkan dan menyusui, selebihnya itu bukan kewajiban tapi melakukan bersama. Kenapa seorang wanita kamu selalu kaitkan dengan kewajiban memberes rumah? Mencuci dan memasak? sedangkan semua hal itu bukan kewajiban seorang wanita saja? Tapi juga bisa dilakukan oleh seorang laki-laki..!! “Ujarnya disana tegas,”Jangan memaksa keadaan. Saya mencintai dia bukan karena dia sempurna tapi saya mencintai dia dengan semua yang ada padanya. Paham?!!” Ujarnya dalam dan juga dingin. Ririn mengepalkan tangan dibuatnya lalu menatap lain arah.


“ Bang Rian ndak(Tidak) Boleh marah ini. suster cantiknya serem liat abang kalo gitu.”Ujar Acha. Meski ia senang mendengarnya.”Nanti Acha bakal belajar masak dan nyapu rumah., cuci piring buat abang. Bener kok yang dibilang dia.”Ujarnya disana tersenyum masam.”Contohnya umi dan bunda. Mereka kuat masa Acha Lemah dan tidak bisa.”Ujarnya lirih.


“Lain kali belajar sopan santun supaya tidak masuk dalam pembicaraan orang lain dengan tidak sopan..!! karena wanita dilihat dari akhlaknya bukan dari kepandaian bicaranya..!” Ujarnya Rian disana membuat Ririn berhenti sejenak lalu kembali berjalan. Rian disana tidak suka wnaita intar yang tak bisa menghargai orang lain.


Diluar Ririn mengepalkan tangan dan melirik pintu itu....


Duaarrr....


Ia menutupnya cukup kencang membuat sosok didalam kaget. Ia marah dan ia tidak suka akan hal yang dilakukan Oleh Rian. "Siyyalllah mereka.. "Gunanya mendengus dan berjalan dengan menghentakkan kakinya


Acha disana menghela nafas. Rian disana malah membuka makanan untuk Acha.”Susternya tadi cantik yah bang .”Ujarnya Acha disana dengan cepat untuk mengalihkan pembicaraan Rian yang Nampak tidak suka suster itu. Rian bukannya tak ingat tragedy tadi tapi ia sudah ingat kok. Tidak mau dibahas saja baginya tidak penting.


“Cantikan kamu.”Ujarnya. Acha disana menahan senyumnya namun tak tertahan membuat wajahnya memerah. Rian menatap Acha dan tersenyum.”Bahkan kamu jauh lebih cantik.”Ujarnya disana dengan jujur dan tulus. “Ih abang bisa aja.”Ujarnya Acha disana mengulum pipinya.


Rian disana menghela nafas dan berkata.”Wanita itu secantik apapun jika tidak bisa menjaga lisanya, tidak bisa menjaga sopan santun dan tutur katanya. Maka ia akan tetap jelek dimata saya.”Ujarnya membuat Acha terdiam. Rian disana tersenyum lagi.”Karena wanita itu berharga ketika ia mampu menghargai dirinya sendiri dan mampu menjaga lisannya sendiri.,”Ujarnya.

__ADS_1


Acha disana mengangguk. Ia paham”Tapi Acha tidak sebaik itu.”Gumamnya pelan dan mencicit takut jika Rian membatalkan pernikahan.”Tapi jangan batalin nikahnya kita.”Ujarnya melirik. Matanya memohon dengan tak maunya ditinggalkan.


Rian disana tersenyum dan berkata.” Kamu berharga dengan semua yang kamu milik. Dan jikapun melakukan kesalahan itu tandanya kamu bidadari dunia. Sebab tidak ada manusia sempurna dimuka bumi ini. kamu sempurna dimata saya. Lantas bagian mana yang harus saya lihat untuk membatalkan pernikahan kita?”Ujarnya disana dengan senyum manisnya, acha disana menatap lain arah dibuatnya. Jantungnya terpacuh dibuatnya. Ia membenci Rian yang menjadi manis.


“Ini makan.”Rian mengajuhkan makanan itu membuat Acha mangap. Rian menyuapinya dan berkata.”Makan yang banyak biar cepat sembuh.”Ujarnya. acha mengangguk dan mengunyah makanan yang terasa enak dilidahnya.


“Emmmm makanan abang enak banget.”Ujar Acha dengan mulut penuh dengan makanan.


Rian disana mengeleng.”Telen baru ngomong.”Ujarnya. Acha tersenyum lalu mengangkat dua jempolnya pertanda makanan Rian sangat enak. Rian menggeleng saja dibuatnya..


“Nanti Acha mau makanan makanan abang tiap hari.”Ujarnya Acha disana semangat. Rian diam disana mendengar celotehannya Acha.”Acha mau tidur tiap hari. Nonton terus banyak lainnya. “Ujarnya disana semangat., Rian disana hanya bergumam saja sedari tadi tanpa membantah apapun.


“Oh iya... abang kok enggak dingin sama Acha? Kan biasanya abang dingin terus enggak mau deket-deket?”Tanyanya Acha disana bingung.


“Memang mau abang jauh dari Acha?”Tanya Rian disana dengan dingin.


Acha menggeleng.”Mau lagi.”Cicit Acha mangap mengalihkan pembicaraan supaya Rian tidak berubah pikiran. Rian menggeleng dibuatnya. Ia menyuapi Acha lagi hingga pipi Acha penuh bagaikan hamster.”Pelan pelan. Enggak bakal ada yang ngerebut makanan kamu.,”Ujar Rian. Acha nyengir saja karena deg-degan.


“Assalamualaikum.. Chacha..”ujar dari luar. Acha mendengarnya ikut girang menatap keasal suara. Disana ada Rindu dan juga Rey, ada Rajja juga disana. Dimana Abu? Ia tidak ikut dan dimana Rani? Dia pergi kembali kekampus sebab ada yang harus ia urus. Rindu memeluk Acha dengan sayangnya.”Yaampun sayang apa kabar kamu?”Tanyanya disana.”Yallah makasih sudah banguni anak bunda stau ini... bunda sedh banget kamu sakit. Jangan sakit-sakit lagi yah..”Ujar Rindu disana.


Acha disana mencium Rindu dan berkata.”Bunda kemana aja? Kok Acha bantun bunda sama ayah enggak ada? Kalian enggak sayang sama Acha lagi yah?”Tanyanya disana dnegan muka polos dan tidak sukanya.


Rindu disana menggeleng.”Kakek lagi sakit jadi bunda harus bagi waktu sayang.”Ujarnya membuat Acha kaget.


Rindu mengusap kepala Acha.”Bagaimana bisa ada sosok yang buat bunda dapat gantiin kamu hm? Enggak ada yang secantik dan seimut kamu tau nggak..”Ujarnya disana dengan kekehannya. Ia mengusap pipi Acha yang tembem.


“Kakek sakit apa si bund?”Tanyanya. Rian bangkit dan menyalami ayahnya. Rey mengangguk dan mendekati Acha. Rian tau orang tuanya pasti merindukan Acha.


Rindu pun menjawab.” Biasa skait sudah tua. Dia hanya Rindu anak anaknya dan juga banyak lainnya kok. Kamu tidak usah mengkhawatirkan kakek sebab kamu yang kakek rindukan harus sembuh. Kamu dapat salam dari kakek..”Ujar Rindu serta membuka tasnya memberikan dodol yang jumlahnya lumayan banyak”Inii dari kakek. Kamu kan suka dodol, “Ujarnya.


Acha disana menerimanya dengan binar.”Ih kakek baik banget si. Masih sakit aja masih bikinin Acha dodol.”ujar Acha disana terharu.


Kakeknya memang sangat baik baginya. Rindu menggeleng.”Bukan kakek yang bikin. Dia beli karena tau kamu suka dodol rasa straubery.”Ujarnya disana jujur. Ia tak mau Acha kecewa ketika tau rasanya berbeda. “Tetap saja kakek sweat dan Acha sayang kakek... hiks hiks.”Acha menangis dibuatnya membuat ia memeluk Acha anaknya sayang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2