
Ditengah kesibukannnya Nayya selalu menyempatkan memperdalam ilmunya dan memperbaiki akhlaknya. Bukan apa-apa.ia mau menjadi lebih baik lagi ditengah kehidupannya yang sekarang. Ia tersenyum menatap kedua anaknya yang ada didepan mata. Didalam bingkai foto dan tersenyum.
Perjuanganya selama ini tak sia-sia. Ia punya anak-anak yang baik-baik dan juga sangat menggemaskan. Arga yang penuh kelebihan dan Acha yang penuh kekurangan, semuanya melengkapi hidupnya yang kesepian dan juga kegagalan.
“Assalamu’alaikum Nayy.. apa kabar?!!!” Tanyanya seseorang yang langsung masuk mengenakan baju syar’I pink muda dan tersenyum manis kepada Nayya..
Nayya yang kaget pun menatap kedepan.”Wihh Wa’alaikum salam Bel.. kamu apa kabar tambah cantik aja nih kayaknya.”Ujarenya Nayyya disana terkekeh melihat sahabatnya ini. kalian ingat Abel sosok yang mnenyelamatkanya dulu? " Udah lama enggak kesini, layaknya sibuk banget yah Sekarang. Lupa ama temen.. "Cibir Nayya memeluknya dan disambut oleh temanmu itu tak kalah erat. Yah abel sekarang kan sudah pisah dan memilih kerja membuka cabe Coces dan kue kue Indonesia disini.
Sosok Abel disana terkekeh.”jelas dong tambah cantik hehe. Abel gtu loh.”Ujarnya bangga disana membuat Nayya mendelik.”Ngomong-ngomong apa kabar nih sama kamu? Sama ponakan-ponakanku apa kabar? Maaf baru jenguk, soalnya lagi sibuk banget Nay. ”Tanyanya disana dengan menaik turunkan alisnya.
Nayya disana menarikan tangannya. Ia bangkit.”Duduk disana aja yuk.”Ujar Nayya diangguki oleh Abel, mereka duduk dishofa yang ada dikantor itu.”Alhamduylillah kabarku baik, sama anak-anak juga baik. Bahkan sangat baik bel hehe. Kamu gimana kabar? belum ada tanda-tanda mau nikah?”Tanyanya Nayya disana.
Abel disana terdiam, gadis yang sangat cantik yang memilih mengenakan hijab seutuhnya sedari sepuluh tahun yang lalu hingga sekarang terdiam menatap Nayya. namun setelahnya ia menatap lain arah dan berkata.”Kan aku udah bilang Nay. Kalo aku enggak mau nikah.”Ujarnya disana menghela nafas dan tersenyum.”Siapa yang bisa menerima kekurangan aku? Bahkan aku sendiri malu dengan diriku sendiri. Aku trauma.”Gumamnya disana dengan sedih.
Nayya disana paham akan sahabtnya ini, diperkosa puluhan orang berkali-kali dengan keras membuat jiwanya tersabit dan terkoyak. “Tapi Bel, tidak semua lelaki begitu. Pasti ada laleki yang bisa menerima kamu apa adanya Bel. Kamu butuh keturunan dan juga menurunkan harta kamu, diri kamu dan merawat kamu nanti.’Ujarnya disana.”Kamu tidak mau punya anak emang?”Tanya Nayya nanar.
Abel menggeleng.”Tidak perlu, masalah harta aku bisa kasih keanaknya Mbak Rindu sebagai tanda terimakasih aku kemereka Nay, karena mereka kita masih ada disini kan, atau kasih ke anak kalian. Aku enggak butuh. Kalo pun nanti aku sudah tua paling aku kepanti atau nyewa babyisister. Sekarang ada uang semua ada.”Ujar Bela disana dengan bangga dan terkekeh.
Nayya mentapnya nanar.”Tapi beda Bel. Anak yah anak, harta yah harta. Kamu tidak ada niatan membuang masalalu kamu dan memulai hidup baru? Aku sedih liat kamu yang begini.”Ujar Nayya jujur.
“Lalu kenapa kamu enggak nikah sampek sekarang?”Tanyanya Bela disana kepada Nayya. Nayya terdiam membuat Bela terkekeh.”Karena tak mau diduakan kan? Kamu Cuma karena diduakan aja gitu apalagi aku yang udah hancur baik dalam maupun luar Nay. Aku enggak mau nikah.”Ujarnya disana menghela nafas. Nayya hanya diam, ia sendiri tak tau harus menjawab apa, sebab dirinya sendiri juga masih kacau akan pernikahannya.
Setelahnya Nayya disana menatap Bela yang menatapnya.”kamu tidak ada niatan menemui anak-anak kamu dengan ayahnya Nay?”Tanya Bela disana. “ Mereka berhak bahagia loh. Mereka berhak tau semuanya, sebelum semuanya terlambat.. Aku Cuma enggak mau nanti mereka salah paham dan terlalu dalam jatuh dengan kebohongan ini.”Ujarnya.
“Aku engak pernah bobong kemereka. Mereka saja yang terlalu jauh mengangap mas Rey adalah ayah mereka.”Ujarnya Nayya disana dengan diam.
“Kamu cinta mas Rey?”Tanya Bela disana membuat Nyya terdiam.
Bela terkekeh disana.”Siapa yang enggak suka sama lelaki yang baik gitu si yah Nay. Apalagi kalian selalu sama-sama Nay. Aku aja jauh dan enggak mau sama-sama lagi karena dulu aku sempat jatuh hati sama dia, karena perlakukannnya sama mbak Rindu. “Ujarnya Bela disana jujur. Matanya disana nampak berkaca-kaca menatap arah lain.”Dia sangat baik yah Nay.”Ujarnya.
Nayya mengangguk.”Sangat..”Ujaranya mengakuhi.”Aku Cuma kagum aja sama dia, kagum Karenna dia lelaki yang paling baik yang aku temui.. aku suka berandai., andai mas Habib kayak dia, aku tidak akan pernah menjauh kayak gini.”Ujarnya nanar.”Dan masalah cinta, aku enggak tau. Yang aku tau mbak Rindu kakak aku yang paling aku sayang dan tidak akan pernah aku khianatin.”Ujarnya nanar.
“Jadi intinya kamu suka mas Rey beneran?”Tanya Bela membuat Nayya diam.
__ADS_1
Bela disana pun terkekeh menatap lain arah. “Sadar Nay. Mbak Rindu orang baik, enggak pantes kita sakitin. Kita Cuma ujung kukunya aja, yah aku tau si dia mau kalo berbagi suami, tapi sadar diri.”ujarnya terkekeh disana. Ia menatap nayya dengan tatapan sinis. Ia tau cinta karena terbiasa hal yang wajar.
“Aku tau. Aku juga tidak ada niatan kok. Kan aku hanya kagum, “Ujar Nayya melotot tak terima.”Lagian aku engak kayak gitu. Kagum sama cinta itu beda.”Ujarnya membuat Bela mengangguk saja dibuatnya.
“Gimana kalo anak-anak kamu tau Rey bukan ayahnya? Kamu pernah enggak mikir gitu?” Tanya Bela membuat nayya mengangguk.”Kamu enggak ada niatan buat buka kejujuran yang ada? Acha bentar lagi juga bakal nikah. Enggak kaget tu Acha nanti pas mau nikah tau kalo Rey bukan ayahnya?”tanyanya disana, nayya disana pun menatapnya dengan nanar dan menggeleng tidak tau.
Nayya disana mengusap wajahnya nanar. Ia menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya.” Insyallah nanti aku kasih tau mereka.”Ujar Nayya disana dengan helaan nafas. Namun ia terdiam merasakan sakit dikepalanya. Sangat sakit membuat ia terdiam.
”Kamu engak apa-apa Nay?”Tanya Bela membuat Nayya menggeleng.
“Kamu kayaknya kesakitan?”Tanyanya Bela disana dengan tatapan khawatir.
Namun Nayya disana mengeleng dan tersenyum. “Aku Cuma binung. Gimana ngomongnya, tapi aku udah ada niatan buat jujur, soalnya mas Habib ada disini juga. Aku engak mau bertambah dosanya sama mereka.”Ujar Nayya membuat Bela disana mengagguk percaya dan paham.
"Habib disini. . Kalian sudah ketemu dong??? Cerita dong Nay Ia.... !!"
Sedangkan Nayya disana menatap lain arah, “Sudah saatnya kan?”Gumamnya lirih disana dan mengangguk. “Tidak ada niatan untuk menyembunyikan mereka, mas Habib saja yang tidak dapat menemukanku, bahkan mbak Rindu juga pernah mengirim foto anak-anakku sama mereka.”Ujarnya. Bela disana diam mendegarnya. “Nanti kalo aku bertemu lagi sama dia aku segera pertemukan mereka. Aku berjanji.”Ujarnya disana.
Nayya ingat dimana dirinya yang harus berjuang Dimana Dava yang mengorbankan nyawanya, iya Dava, lalu ia inngat dimana suara memelakkan itu, anaknya hampir mati. Dan ia sudah tau satu hal yang melakukan itu adalah Aron, kakak dari Khumairo. Rey sudah menyelidiikinya sampai ia tau semuanya...
Hari sudah semakin sore, dan Nayya pulang dijam yang seharusnya berbuka. Ia sudah berpesan pada anak dan keluarganya jika ia tak bisa berbuka dirumah. Ia harus berenti ditengah jalan dan memasuki salah satu café, namun sepanjang jalan café penuh semua akibat jadwal makan malam, tadi ia sesudah berbuka minum ia memilih sholat dulu. Dan sekarang ia mau makan tapi semuanya penuh.
Dan ini café kesekiannya yang ia pilih, tetap saja penuh.. namun ia tertegun mendengar suara dibelakangnya yang tak asing. ”Nay.”Gumamnya dibelakang.
Nayya pun menatap kebelakang sembari menenteng tasnya. Habib.. ia terdiam menatapnya, disana Nampak habib tersenyum kepadanya dengan senyum manis..
Nayya ingat ucapanya pada Bela tadi siang membuat ia tertegun. apakah saatnya ia bicara? Namun ia belum siap, namun ia punya satu alasan membuat ia disana tak tau harus apa. Ia menatap Habib dengan tatapan biasa saja. Lalu memilih pergi.
”Nay..!! disini penuh. Makan disini saja yah.”Ujarnya. namun Nayya disana memilih pergi saja dan memesan makanan untuk dibungkus.
Habib tak kalah cepat, ia pun sama seprti Nayya tadi, ia pulang kesorean dan sholat terlebih dahulu. Sekarang mau makan tapi bertemu Nayya membuat ia meninggalkan mejanya, ia harus bicara sama nayya.. dan mengikuti Nayya keluar membawa kopi, burger dan juga kurma.
Dan Habib sedikit tertegun ketika Nayya malah membuka pintu bagasinya hingga keataslalu duduk. Nampak Habib diam menatapnya dan Nayya tersenyum menepuk sisinya.”Duduklah ..” Ujarnya. Habib disana tersenyum dibuatnya.
__ADS_1
Nampak Nayya Memakan makannya Di tengah Habib disana membuka jaketnya dan duduk disisinya nayya. memenadang wajah Nayya yang menatap langit. Sangat cantik sampai ia ingin mengusap wajah itu dengan lembut. Namun ia tak berani. Ia tak berani.”Apa kabar?”Tanya Habib disana dengan sendu.
Nayya disana pun menatapnya dan mengajukan burger yang baru. Habib menggeleng membuat nayya kembali memakannya. Ia tetap tak bicara menatap langit. Matanya lenuh dengan air yang ingin keluar namun ia terus mendongak supaya air mata itu tak jatuh. Sampai suara hapenya Habib bergetar dan berbunyi. Nayya menatapnya dan disana tertera nama May Soon. Nayya terdiam dibuatnya.
Habib menatap nayya sebentar dan berkata dengan gugup.”Sebentar yah nay. Aku angkat telepon dulu.”Ujarnya. Nayya disana pun menatap lain arah dan jatuh air matanya.. sangat skait namun ia segra mengusapnya namun bodohnya air itu tetap mengalir deras hingga Nayya mengusapnya kasar dan memaki dirinya sendiri.
Nampak Habib menjauh dan mengangkat teleponnnya. Dan itu anaknya Habib. Haha, apa mereka sudah punya anak? Hahaha. Namun Nayya tetap bersikap elegan dan mengusap pipinya yang basah, menghela nafas dalam dan memejamkan matanya.
Culkup lama hingga ia membuka matanya, dan ternyata Habib sudah mendekat, Habib disana memperbaiki jaket yang ia beri pada Nayyya tadi hingga ia bisa melihat mata Nayya yang memerah.”Kamu menangis?”Tanyanya disana. Nayya tetap diam tak menjawab.
Nayya menghela nafas dan menjauh.”Mas..”Gumam Nayya bergetar disana dan menatap Habib. Habib tertegun,,nayya tersenyum dan berkata.” Anak kita sudah besar, mas mau bertemu mereka?”Tanya nayya disana tersenyum.
Lalu ia meletakkan lagi burgernya tadi, ia menatap lain arah, matanya kembali berembun.”Aku boleh egois tentang perasaanku, tapi aku tidak boleh egoiskan dengan kalian. Ikatan darah antara anak dan ayah? Ikatan yang tak bisa terputus bahkan sampai kesyurga? Mas berhak bagaimanapun keadaannya.”Ujarnya disana menjatuhkan air mata.
"Jadi kau benar benar Nayya ku??? " Gumam Habib lirih tak terdengar.
Habib disana menatapnya dan ingin memeluknya, namun Nayya menolak membuat mata Habib menatapnya nanar. Nayya disana menatapnya dan tersenyum “Mas berhak sebagai ayahnya. Nanti Nay akan bicarakan kepada mereka. Tapi maafkan Nay yang tidak jujur kepada mereka jika mereka memiliki ayah yaitu mas, mereka terlanjur menganggap orang lain ayah, ayah yang baik dan ayah yang mengurusi mereka selama ini. ayah yang memenuhi kewajiban sebagai ayah untuk mereka.”Ujar Nay,
Duar... bagai disambar petir dimalam hari. Habib menatap nayya terlemas, hal yang paling ia takutnya terjadi juga membuat ia menatap Nayya dengan tatapan tak percaya. Ia memegang dadanya dan menatap lain arah.”Kenapa? apa benar kamu sudah menikah lagi?”Tanya Habib. Nayya diam tak tau harus menjawab disana membuat habib terkekeh.
“Sakit sekali nay.”Ujarnya disana.”Apa ini yang kamu rasakan disaat tau aku menikah lagi?”tanyanya. Nayya malah melihat sepatunya dan menggoyangkannya. Ingin ia menjawab ia belum menikah lagi sampai sekarang. Bahkan niat untuk pergi dari Habib saja tidak ada karena ia sadar masih ada ikatan diantara mereka, masih ada rasa didadanya.
Habib disana memukul dadanya sendiri dan menatap Nayya. ia menjauh dan tersenyum. “Hiks hiks.”Namun ia tak mampu menahan sesak didadanya mendengarnya. Ia mengusap wajahnya yang berair. “kenapa Ku cengeng sekali Nay. Kenapa aku tidak bisa seperti lelaki lain yang tegas dan bisa menerima semua kosequensi dalam hidup Nay? Kenapa?”Tanyanya disana menangis.
“Andai aku bisa seperti lelaki lain Nay. semuanya tidak akan begini yah kan.”Ujarnya. Nayya disana menunduk tak tahu harus jawab apa, karena semuanya benar.
”Tapi semua sudah menjadi takdir.”gumam Nayya disana dengan nanar..
Habib disana menatap Nayya tak rela.”Katakan siapa lelaki beruntung itu?”Taya Habib disana tersenyum.”Aku Cuma mau bilang, terimakasih karena sudah menjaga kamu, wanita yang aku cintai, dan menjaga anak-anakku dengan sangat baik. “Ujarnya bergetar. Ia tak tau harus apa saat ini. ia tak tau harus apa sampai ia tak punya pilihan lain.”Terimakasih karena sudah memberikan kamu cinta yang tidak mampu aku berikan.. maafkan aku yang hanya bisa menyakiti kamu.”Ujarnya disana.
“Dan ini yang paling aku benci dari kamu mas.”Ujar Nayya disana dengan dingin.”Mudah sekali menyerah dan mengikhlaskan, padahal sesuatu hal butuh perjuangan. Aku membenci sikap kamu yang terlalu mudah menyerah.”Ujar Nayya dan bangkit.?
.
__ADS_1
.
... Selamat berbuka puasa.... ...