Istri Butaku

Istri Butaku
Dava


__ADS_3

Jangan sedih mulu kali ye...Mari bahagia...


.


.


.


...Aku tak mampu berbuat banyak jika yang aku hadapi adalah takdir ....---Habib...


...Dan aku tak akan mampu membantah jika sudah restu yang menjadi penghalang....Nayya......


Pandangan Nayya kosong kedepan, menatap langit yang mengelap. Sepoy-sepoy angin menerpa wajahnya yang masih basah karena menangis. Rumah ibu dan ayah Nayya saat ini berada didekat pantai membuat tatapannya tertuju pada ombak yang selalu menari-nari dihadapanya.


Ia ingin membantu Habib untuk meminta restu namun ia tak sanggup untuk membantah ayah dan bundanya sungguh..!! ia lebih baik menyimpan semuanya sendiri ketimbang harus melawan sebab ia sendiri tau bagaimana pengorbanan ayah dan ibunya membesarkanya, pengorbanan ingin membahagiakannya. Ia bisa merelahakan hidupnya tak bersama Habib sungguh..! dibandingkan membuat orang tuanya kecewa karena dirinya.


Nayya memang tidak pernah bisa membuat orang tuanya bersedih dan membantah sedikitpun. Baginya kebahagiaan bisa ia cek dimanapun dan bagaimanapun... Tapi tidak untuk orang tua..!


Masa ia membantah ayah dan ibunya sedangkan mereka melakukan semua itu demi kebahagiaan nya?


Tapi ia harus apa saat ini.? Mencari restu dan berusaha atau berserah dan pasrah saja? Semua terlalu sulit...!


Ia menghela nafas dan melangkah melompati jendela kamar. Ia tak mengenakan sandal sungguh..!! ia memilih berjalan menyusuri pantai. Pantai ini tidak sepi, disini ada banyak jualan dan juga ada banyak pengunjung biasanya, tetapi karena hari sudah malam jadi cukup sepih. Ia tersenyum merasakan pasir-pasir memenuhi kakinya.


Ayah dan ibunya pergi kerumah sakit menyusul anak-anaknya. Ia dikecam keras tak boleh kerumah sakit atau bertemu Habib. Orang tuanya takut jika Nayya berubah fikiran dan malah memilih Habib dibandingkan keluarganya. Padahal dalam hidup Nayya ia selalu menerapkan satu hal. “Orang tuanya adalah keutamaan baginya”


Air pantai mulai membasahi kaki Nayya yang kurus nan pucat. Nayya malah tersenyum merasa dinginnya air... ia membungkuk dn bermain pasir.


”Tidak boleh menyalahkan takdir. Terima dan syukuri apa yang aku miliki. Sebab Tuhan lebih tau apa yang hamba-hambanya tidak ketahui..!!”


Itulah gumaman Nayya dan juga gengaman dalam kehidupan Nayya.. ia yakin ketika menerima hidupnya maka ia akan bahagia.


Auu... Nayya disana merasakan ada yang menggigit kakinya membuat ia menatapnya. Penyu..!! ia terseyum melihatnya.


“Ih imut sekali... Tapi kasihan..”Gumamnya disana. Matanya yang membenggkak karena menangis itu membuat matanya menyipit dam tengelam. Ia melangkah ketengah untuk menaruh penyu itu hingga ia merasakan tangannnya ditarik seseorang.


“Hey...!! mau bunuh diri yah..!!!” Teriaknya.


Nayyya disana terdiam nyeri dibuatnya. Ia kaget bahkan hampir terpeleset. Sosok itu menggenggam tangannya sangat erat dan menariknya cepatt.. Nayya bahkan kaget dibuatnya dan penyu itu jatuh didalam air,,.


Nayya menghempaskan tangan itu dan memegang jantungnya yang hampir jatuh bersama penyu.”Mana ada..!” Ujar Nayya berdecap lalu menatap sang empu. Matanya membulat menatap sang empu dan sang empupun menatap Nayya membola. “Pak Dafa..”Gumam nayya disana iya. Dia bosnya Nayya...!! Kalian ingat kan siapa?


“DAVA.. BUKAN Daffa.. lebay.”Ujarnya disana.


Nayya memainkan bibirnya disana menye-menye membuat Dava berdecap.”Ngapain kamu disini? Bunuh diri ha? Jangan disini kasian banyak yang mau berkunjung enggak jadi karena takut sama arwa kamu. Kamu aslinya saja seram apalagi kalo sudah jadi arwah gentayangan.”Ujarnya disana menjelekkan Nayya.


Nayya disana melotot dibuatnya.”Ih sembarangan yah bapak ngomong. Kapan si pak bapak bicaranya baik kesaya.”Ujarnya membuat dava memutar bola mata malas.”Lagian seseram-seramnya saya masih seram bapak.. Seram muka seram mulut lagi.Lagian ngapian si bapak disini, merusak suasana aja...! ”Ujarnya memutar bola mata malas.


Dava disana menatap nayya mendelik. Ia menarik tangan nayya kedarat.”Ih bapak jangan tarik-tarik... Ini basah semua tauk.”Ujar Nayya menghempas tanganya namun cengramannya terlalu erat membuat ia hanya bisa mengerutu.


Dava disana ketika sudah didarat segera membuka jaketnya dan melempar ketubuh Nayya membuat ia segera memakainya,”Kamu kenapa? Ada masalah apa? Saya lihat kamu mau bunuh diri, dan kenapa kamu ada disini saya capek cari kamu tau nggak..”Ujarnya.

__ADS_1


Nayya menggeleng membesarkan bola matanya. Ingin membantah tapi ia segera dipotong Dava.”Kamu tidak bisa mengelak Nay. Mata kamu bahkan bengkak akibat menangis bukan?”Tanyanya mencondongkan matanya menatap mata Nayya.


Nayya disana menatapnya lirih dan mundur.”Saya tidak mau bunuh diri pak. Tadi saya Cuma mau nganter penyu kesana tapi bapak malah ngagetin saya mungkin hanyut sekarang penyunya gara-gara bapak. Bahkan jantung saya juga hamper hanyut..”Ujarnya.


Dava disana diam menatapnya dengan tatapan tak percaya.”Demi Tuhan pak saya enggak bo’ong.. saya memang nangis cuma enggak sebodoh itu buat mikir mo mati.”Ujar Nayya kesal.


Nayya segera mendarat dan membersihkan yang basah dibagian tubuhnya.”Lagian ngapain si pak nyari saya? Memang saya ada hutang sama bapak sampek-sampek dicari kesini? Bapak tau saya kesini di Indonesia dari mana?”Tanyanya kepada Dava.


“Kamu memang punya hutang kesaya mangkanya saya kesini.”Ujarnya membuat Nyaya melpotot tak terima.” Dan saya tau rumah kamu disini juga dari alamat di biodata kamu. Saya sudah satu minggu disini cari kamu tapi enggak nemu nemu.. pusing saya, kerjaan saya numpuk jadinya.”Ujarnya.


“Dih... apa emang utang saya? Berapa? Saya enggak pernah ngutang yah."Teriak nayya. dava disana memejamkan mata dibuatnya.”Ngacok bapak dih.. “Ujar Nayya memilih pergi dari sana.


Dava bos yang selalu mengajaknya rebut dan Nampak tak suka padanya. Herannya ia tak pernah dipecat hanya diberi hukuman saja sering., disuruh buat kopi setiap hari untuk dia. Membeli dia makanlah, memasaki dia lah. Padahalkan dia bukan OB..!!!


“Ett ets.....mau kemana? Udah dapet mau pergi gitu dari saya? Saya lama cari kamu dan kamu enggak ngehormatin saya gitu? Mau saya pecat.!” Ujar Dava menahan tangan Nayya.


Nayya memutar bola mata malas menatap Dava. Yah Dava kemari sudah satu minggu mencari Nayya. ia hanya tau alamat Cuma tidak tau secara signifiennya.


Ia tinggal dihotel berharap menemui Nayya.”Kamu tau, saya bahkan bilang sama Tuhan jika malam ini tidak juga ketemu kamu saya pulang dan Tuhan mempertemukan kita. berarti Tuhan enggak nyuru saya pulang bukan?”Tanyanya tersenyum.


“Memang bapak percaya akan adanya Tuhan? Bukanya bapak bilang enggak..”Ujarnya Nayya menanyakannya membuat ia disana diam.


“Yaudah bapak mau apa dari saya bilang...”Ujar Nayya lagi mencoba melemah.


Dava disana tersenyum.”Kan kalo gitu enak..”Ujarnya disana.”Saya laper Nay.. kamu punya tempat yang rekomen enggak disini?”Tanyanya menatap sekeliling.”Kemarin saya beli makanannya basi, sakit perut saya dua hari dua malam disini dibuatnya.”Ujarnya dengan muka malasnya..


Nayya menghela nafas.”Bos bodoh. Tau makanan basi tapi dimakan.”Gumamnya tak suka.


"Mana ada budaya makan nasi basi.... !" Bantah Nayya.


"Kan saya kira.. " jawab Dava geregetan.


Yah Dava pikir itu budaya dan juga ciri khas disini, agak berbau dan juga tak enak jadi yah ia makan saja baginya juga tetap enak dikalah itu. Mana lapar dan juga capek lagilkan membuat ia makan saja. Bodoh si. Ia sendiri juga mengatakan ia bodoh. Hanya saja ia tak mau ketahuan bodoh dimata Nayya.


Nayya menghela nfas dibuatnya.”Bapak lihat disana.”Ujarnya menunjuk jalanan membuat Dava mengangguk.,”Disana ada banyak jualan makanan, bapak tinggal pilih saja, nah pilih yang paling ramai biasanya itu yang paling enak dan diminati pak..”Ujarnya sabar.”Dan saya lagi tidak mau diganggu. Saya mau sendiri terimakasih.”Ujarnya melempar jaket nya dan memilih pergi.,


Ehhehh.. “Apa lagi si pak?!!” Marah Nayya ketika Dava menarik kerudungnya hingga ketudungnya melenyot dan tak lagi berbentuk. Dava cengir cengir dibuatnya menggaruk lehernya tak gatal.”Kamu tidak boleh sendiri. Nanti kamu mau bunuh diri lagi,, kamu harus ikut saya.”Ujarnya disana.


"Astaghfirullah..!!” Gumam Nayya mengusap dadanya tak tahan. Dava disana malah menatapnya datar.” Saya harus bilang berapa kali si pak jika saya tidak mau bunuh diri dan sendiri bukan karena mau bunuh diri.. Yaampun susah yah ngomong sama Batu..”Ujarnya disana marah dan mendumel seperti mak-mak biasa.


“Saya punya bukti Nay. Saya liat sendiri kamu tadi jalan ketengah sambil nunduk. Enggak ada alesan buat ngelak Nay. Untung ada saya kalo enggak kamu pasti udah nyebur kan tadi.”Ujar Dava disana dengan menatapnya datar.


“Ih bapak pen saya tampol deh pakk.”Ujar nayya dan menampol kepada Dava.


Auuu .


”Ini bukan pengen lagi,. tapi sudah Nay. Berani sekali kamu yah..! ”Ujarnya membuat Nayya menatapnya kesal. Dava disana geram ingin sekali memukul Nayya membuat nayya disana memejamkan mata..


Dava disana menghela nafas dan memakaikan nya jaket dibagian bawah pinggang Nayya membuat nayya terdiam kaku. Dava disana memakainya erat.”Basah nanti kamu masuk angin.. ayok.”Ujarnya menarik Nayya. Nayya terdiam disana menatap nya aneh.”Cepet, ada hal yang harus saya katakan juga sama kamu Nay.. jangan bantah deh. Dingin ini saya laper sumpah.”Ujarnya lagi.


Nayya menghela nafas dna mengangguk mengikuti Dava. Dava lelaki yang tiga tahun lebiuh muda darinya itu, belum menikah namun sudah punya anak. Ia tampan dna rupawan sungguh. Bahkan disepanjang jalan Nayya dan dia dilihati disana dengan tatapan yang memuja sebab disisinya lelaki sangat tampan. Ah Nay lupa jika malam ini juga malam minggu, malamnya para pemuda dan pemudi jalan jalan. Wajar saja sangat ramai.

__ADS_1


Nayya menatap telur gulung membuat ia memegang perutnya. Ia bahkan lupa jika belum makan seharian.“Kamu mau?” Ia bisa mendengar suara Nayya membuat nayya memejamkan matanya malu.


Namun Nayya menggeleng.”Saya lupa bawa uang."Ujarnya disana.


“Ngutang saja dulu sama saya.”Ujarnya Dava membuat nayya melotot.


” Wahh.. dasar pelit banget si. Traktir jadi cowok ih.”Pekiknya membuat semua orang menatapnya. Ia menutup mulut malu dibuatnya. Dava juga ikut malu bahkan..


Ehemm... Dava berdehemmm” Gaji kamu saya potong..”Ujarnya.


Nayya melotot dibuatnya”Bagaimana bisa begitu.”Ujar Nayya.


"Yah bisalah... Mau kaya harus pelit... "sukar Dava membuat Nayya ingin menggaruk muka Dava mengenakan kukunya.


Dava mendekat tukang telur gulung.”Jadi enggak nih?”Tanyalagi.


Nayya yang maish marah menatapnya dengan tatapan tak suka. Dava disana tidak peduli.. ia mendatangi tukang jualan itu bukan dengan bahasa Indonesia membuat sang penjual tak paham.


“( how much does this cost sir?) Berapa harganya pak?” Tanyanya. Namun sang penjual tak paham membuat ia bingung juga.


Nayya tersenyum dibuatnya. “It's” Dava menunjukan yang dijual membuat penjual itu mengangguk cengo. Matanya melebar dan bertanya. “How Mach?”Tanyanya dalam bahasa isyarat nya itu. Nayya disana tak mau menolong membuat ia kesal.


“Oh itu. Tu harganya satu tusuk seribu tuan..”Ujarnya sang pemkual tersenyum ranah.”Tapi jika beli sepuluh ribu nanti saya bonus dua tapi kita foto-foto yah... sesekali foto sama mas tampan pasti istri saya nanti ngiri litany. Istri saya hamil loh mas, semoga nanti anak saya bisa setampan mas.”Ujarnya ngaur.


Nayya disana menahan senyum dibuatnya melihat wajah Dava yang tak paham. Ditambah bagaimana bisa penjual mau anaknya mirip Dava? Dih manusia pelit, tak punya hati. Suka marah-marah. Muka si boleh ganteng tampil tingkah na’uzubillah.


“What?? Sibu?”Tanyanya Dava bingung membuat penjual itu mengeleng.


”Seribu...” Ujarnya menunjukan angkah satu.”Bukan Sibu.”Ujarnya. Dava menggaruk telinganya. Ia tak paham sungguh.. apa itu seribu. Matanya menatap Nayya dan menghela nafas.


“I wont...”Ia menunjukan sepulu jarinya disana.. “And... waittt..”Ia membuka dompetnya dan memberikan uang selembar seratus ribu.” Tis ia ini..”Ujarnya mengenakan bahasa indonesia.. mata sang penjual memerah dan mengangguk.


"100 tusuk? " Tanya sang penjual kaget.


"Yeess.. " Ujar Dava tak paham.


“Oke mas. Mas tunggu saja disana yah.”Ujarnya bahagia.


Dava disana menghela nafas dibuatnya. Nayya tetap tak peduli membuat ia mendekat Nayya dan mendengus.”Ada yah manusia jahat didunia ini. melihat orang kesusahan malah tersenyum senyum seperti orang gila.”Ujarnya menyindir.


Nayya disana tergelak.”Iya lah. Karena menderitanya bapak itu kebahagiaannya saya. Bukannnya bapak yang buat penderitaan saya jadi kebahagiaannya bapak. Jadi kita Adil.”Ujar nanya. Dava disana mendengus dibuatnya dan memilih duduk.. Ia tersenyum dibuatnya sebab baru kali ini Nayya bicara biasa sama dia dan Nayya bisa tersenyum karenanya.


“Ini mas dimakan.”Ujarnya sang penjual menghantarkan beberapa piring telur gulung yang jumlahnya sangat banyak. “Sisanya nanti lagi yah.”Ujarnya tersenyum dan segra masak.


Nayya disana tersenyum dibuatnya dan segera hendak memakannya. Namun ditahan oleh Dava membuat Nayya menatapnya tak suka.”Pelit..”Ujarnya dengan mata tak suka.


“Biarin..”Ujar Dava dan mulai memakannya dan memainkanya dihadapan Nayya. Nayya disana menelan ludah dibuatnya namun Dava disana tergelak dan juga mendorong satu piring.”Habisin.”Ujarnya.”Tapi masuk ke hutang.”Ujarnya membuat Nayya menggeleng.


“Sekalian minumnya. Masa makan saja pak.. “Ujarnya. Ia disana pun kembali menatap nayya.”Kamu saja yang pesan saya tidaklah mengerti sungguh.”Ujarnya disana. Ternyata telor dadar ini enak dilidahnya. Bahkan sangat enak membuat ia tak berhenti memakannya..


Nayya menghela nafas dan mengeleng.”No. bapak saja atau enggak usah minum...”Ujarnya dan makan membuat dafa mendenggus. Bisa-bisa ia salah bicara lagi nanti. Nayya terkekeh dan ia melupakan masalahnya. Meksi hanya sesaat.

__ADS_1


__ADS_2