Istri Butaku

Istri Butaku
Pasar


__ADS_3

Sahur bersama orang yang sangat diharapkan dan ia sayangi untuk pertama kalinya sangat mengesankan bagi Habib, ia bisa merasakan keluarga yang hangat didepanya ini. sungguh suatu kebahagiaan baginya dan juga Fatih.


Untuk saat ini Fatih sangat bersyukur bisa melihat kakaknya yang bahagia dan juga tersenyum sepanjang hari, lalu bisa kembali berkumpul dengan Nayya dan juga keponakannya.


Habib jadi degdegan akan hal ini. ia bisa melihat Acha makan sedikit dan malas-malasan Arga makan banyak sedangkan Rindu? “Bunda Rindu kalian kok engak makan bareng? Dia engak puasa?”Tanya Fatih disana. Ia baru tau jika sebenarnya Rindu itu adalah sosok yang pernah ia sukai dulu. Dunia sempit sekali bukan?


Rey menatap Fatih tak suka. Tapi menahannya. “ Dia tidak mau makan didekat lelaki ajnabi. Memangnya kenapa? ada kepentingan apa kalian dengan istri saya?”Tanyanya disana dengan tatapan dingin. Fatih jadi merasa bersalah juga bertanya hal itu kepada Rey yang rupanya cemburuan itu.


“Kenapa enggak mau? Apa dia tidak nyaman adanya kita disini?”Tanya Habib tak enak.”Jika benar kenapa tidak bilang. Biar kami saja makan didapur tadi.”Ujarnya lagi dengan muka tak enak. Fatih diam menatap sang kakak yang memang hatinya lembut.


Rey menggeleng.”Bukan begitu. Tapi karena dia tidak suka berinteraksi dengan lelaki yang bukan makhromnya. Kalian harus paham saja yah jika istri saya tidak mau berbicara kepada kalian atau menghindar karena menghindari Fitnah.”Ujarnya lagi. Habib mengangguk paham disana lalu menatap Rey iri. Yah lelaki mana yang tak iri ketika melihat lelaki lain bisa mendapatkan istri sholeha?


"Kau sangat beruntung Rey. Bahkan lelaki yang paling beruntung. "Ujar Habib Disana lirih. "Aku saja iri. " Ujarnya jujur.


"Yah aku beruntung." Ujar Rey mengangguk. "Kau tak perlu iri. Kadang lelaki lebih suka menuntut dan meminta istri sempurna dan lupa menyempurnakan dirinya sendiri. Malu sama kuduk, mangkanya perbaiki diri nanti Allah akan perbaiki pula kasihmu. " Ujarnya Rey "Jangan dikembangin sikap iri kembangin itu sikap ingin memperbaiki diri. " Lanjutannya.


Habib hanya mampu menelan pilihan pahit lagi akan ucapan Rey. Ia sadar diri....!


“Ini yang masak siapa Mi? kok beda rasanya?”Tanya Acha disana dengan mengecap makananya.” Rasanya lebih manis dari biasanya.”Ujar Acha sembari makan sambal balado yang ada dipiringnya itu mengernyit. Lidahnya itu tak pernah salah jika menilai makanan.


Habib menatap Acha dnegan tatapan takut.” Ehh kamu tidak suka yah? Itu masakan Abi maaf. Kebiasaan Abi kalo masak yah ditaro gula sedikit soalnya Abi tidak suka pedas. “Ujarnya disana dengan cepat kepada Acha.


Acha menatap sang kakaknya Arga dan menatap Uminya. “Abi bisa masak?”Tanyanya polos. Habib mengangguk dengan meringis menggaruk tengkuknya. Acha mengangguk.


“Enak kok, Cuma biasanya bunda yang masakin juga pakek gula tapi enggak terlalu manis. “Ujarnya jujur.


“Lagian abi sudah keren kok bisa masak. Acha saja tidak bisa masak, soalnya engak dibolehin sama bunda dan umi. Soalnya acha pelupa, dulu pas kecil acha belajar masak sama bunda berapa kali tapi kadang gosonglah, kadang lupa matiin kompor, lupa naro bawang dimasakan, terus terakhir acha lupa naro lap diatas kompor jadi hamper kebakaran.”Ujarnya disana cepat.


“Oh iya. Acha kena ,marah dan dilarang itu gara-gara waktu kecil Acha lupa kalo pancinya panas jadi acha angket pakek tangan tanpa lap jadi kepanasan dan mutung(melepuh) Deh tangan Acha. Jadi engak dibolehin lagi sama mereka.”Ujarnya lagi polos.


Habib disana mengerjab menatap Acha yang memuji masakanya namun juga mengatakan jika makananya tak sedidah dengan lidahnya. Nayya yang menatap Achapun berkata.” Sebenarnya itu abimu suka makan manis soalnya dari sukunya tidak suka makan manis biasanya, jadi makanya kadang lebih banyak manis dan tidak suka pedas, tapi ada juga yang suka pedas seperti Pulau suku sumatera. “Ujarnya menjelaskan.


“Kalo manis suku apa?”Tanyanya Acha.


Nayya mantap anaknya.”Umi si tidak terlalu tau tapi kebanayakan si Jawa yah. Tapi ada juga disana orangnya suka pedas, jadi tergantung orangnya saja.”Ujarnya disana.


“Acha tidak suka Manis. Soalnya Acha sudah manis. Gula aja insecure liat acha.”Ujarnya Acha terkekeh.”Mangkanya lebih suka pedes, biar pedes suka iri liat Acha. Achakan manis.”Ujarnya. smeua orang hanya tergelak saja mendengarnya.

__ADS_1


“Arga suka masakan Abi? Oh yah kamu suka makan apa? Pedes atau manis?”Tanyanya Habib lagi disana kepada anak laki-laki yang hanya diam saja sembari makan masakan miliknya.


“Nah kalo abang iya suka makan maklanan manis. Mangkanya kalo bunda masak yang dia dipisahin, cabe aja ditaro gula.”Ujarnya Acha disana heboh.


“ Pokoknya kalo makan pedes pasti teriak kek orang gila pas kecil, terus mangis nangis enggak jelas padahal menurut Acha tidak pedas.”Ujarnya Acha lagi mengejek.


Arga menatap sang adikd engan mata yang menyipit. “Pedas itu bikin sakit perut Acha jadi tidak baik.”Ujarnya namun ternyata berbarengan dengan Habib.


Habib menatap Arga dengan polos dan Arga menatap ayahnya itu dengan salting. “Cie barengan.. jodoh kali ye.”Ujarnya Acha.


“Sembarangan. Kita cowok semua Acha..!.”Ujar keduanya. Acha kembali tergelak dibuatnya. Sedangkan keduanya hanya saling lirik., arga yang santay sedangkan Habib senyum senyum karena tau jika anaknya memiliki kesukaan yang sama denganya yaitu suka manis dan tidak suka pedas.


usaha Habib semakin hari semakin besar, bahkan tampa malunya ia meminta tinggal dirumah Nayya karema tak mampu membeli rumah disana, namun Nayya tetaplah Nayya tak akan mau menyuruhnya tinggal disana. Hanya saja ia dubuatkan kartu identitas diperumahan itu jadi dia bisa masuks sesuka hati oleh petugas disana.


Acha dan Arga? ,mereka mulai mau menerima Habib dengan tangan terbuka, tetapi ia tetap tak bisa bersikap sebagaimana ia bersikap kepada Rey. Ia lebih canggung dan juga ebih tertutup. Bagi Habib itu sudah lebih dari cukup kok. Ia menerima apapun yang dilakukan anak-anaknya kepadanya sebab ia tau jika ia juga yang membuat mereka terpisah.


“Pagi nayya.,”Ujarnya Habib datang dengan mobilnya kerumah nayya yang sudah siap dengan penampilannya dan juga kunci mobilnya ditangan. Dibelakangnya ada Acha yang mengenakan jaket super tebal dan Arga yang menbgandneg sang adik. Disana ada Habib yang mengenakan jaket hitam yang berbulu menatap mereka tersneyum. Maklum musim salju jadi sangat dingin.


“Ehhh abi.”Ujarnya Acha mendekati Habib.”Abi tolong bukain.. liat Acha kayak kepompong abi. Acha tdiak bisa gerak.”Ujarnya meronta-ronta dengan jaket super tebal dan juga bulu-bulu diatas kepalanya itu. Jaket yang berwarna biru sangat cocok dengan warna bola matanya yang sedikit kebiru-biruan.


Habib menatapnya dengan kekehan. “No bi No. jangan dengerin, dia kalo tidak begini tanganya suka nakal. Nanti dia bakal main salju terus sakit. Jangan mau tanganya itu lebih bahaya dari pada apapun. lagipula cuaca sangat dingin, dia alergi dingin.”Ujarnya Arga menarik hodie belakang Acha. Acha menatap abinya dengan muka memelas.


Puk.. "Ia nyebelin,...! "Acha memukul kepalanya dengan tangan yang mengenakan sarum tebal itu dengan gemes. Arga hanya menghela nafas sabar dibuatnya. Lalu Acha menatap ke lain arah sebal, ia lebih memilih melihat salju. Ia jadi ingin main slaju. Tapi bagaimana? Tanganya saja tidak bisa keluar. Ia hanya mampu menghela nafas.


Habib menatap nayya.”Kalian mau kemana salju begini? Bahaya loh soalnya jalananya sangat licin dan juga dingin. Lebih baik didalam saja sembari menghidup api unggun.” Ujar habib mengalihkan pandangan pada Acha yang menyedihkan itu. Ia tak bisa berbuat apa-apa.


“Anu kita mau kepusat perbelanjaan soalnya bahan-bahan dirumah habis jadi harus belanja. Tadinya mereka tinggal saja biar saya saja tapi mereka tidak mau tingal karena bosan. Jadi yah ikut saja.”Ujarnya dengan senyum manisnya.


“Yaudah mari saya antar saja yah kesananya supaya bisa jagain kalian seklian.”Ujar habib menawarkan diri.


Nayya mengangguk. “Yah lumayanlah yah tukang angkat barang dibanding kamu tidak ada kerjaan ye kan? Sekalian nyupirin kita sama bayarin belanjaan kita.”Ujarnya ketus karena ia tak suka berbasa basi.


Habib menatapnya dnegan terkekeh. “Sekalian saja kita nikah lagi secepatnya biar saya sekalian nafkahi lahir dan batin.”Ujar Habib dengan senyum manisnya., nayya memutar bola mata malas “Oh tidak semudah itu Fergous.”Ujarnya. “ Lihat dulu saya tidak mau nikah kedua kalinya gagal.”Ujarnya disana. Habib menghela nafas saja.


“Yaudah yok.”Ujar habib. Acha dan Arga mulai berjalan dengan Acha yang Nampak BETE. “ Acha nurut yah sama abangnya. Kan demi kebaikan adek juga yah.”Ujarnya disana dengan sneyum ramanya. Acha yang dipanggil begitupun hanya mengagguk pasrah dan mencoba ikhlas saja.


Nayya dan lainnya pun menaiki mobilnya Habib menuju pusat pebelanjaan. Sedari tadipun Hbaib mendenggar mueotral dimobilnya. Dan diam-diam Acha menyahut dan juga melanjutkanya membuat Arga dan lainya terdiam menatap sang adik. “Acha/”Gumam Nayya. acha yang dipanggil menatapnya dnegan tanda Tanya.

__ADS_1


“Kamu Hafal surah Al-Baqara?”Tanyanya Arga disana dengan tatapan binarnya.


Acha mengerjab dan menge5leng.” Acha tidak tau. Tapi jika mendengar begini Acha hafal, tapi jika disuruh hafal Acha suka lupa.”Ujarnya membuat Nayya dan Arga menatapnya binar.


“Coba Acha bacakan ayat ke 40sampai ke 50puluh abang dengr.”Ujarnya Arga. Acha diam sebntar mengingatnya dan menghitungnya. Ia mulai menghafalnya membuat scenyum semuanya mengembang.”Waahh acha hebat bisa hafal.”Ujarnya disana.


“Acha juga hafal surah Yasin dan juga Al-Mulk loh..”Ujar Acha dengan banggga, “Tapi kadang juga suka lupa. Oh iya. Acha juga hafal surah Al-Kahfi loh.”Ujarnya disana terkekeh membangakan dirinya membuat semuanya menatapnya binar.


“WQooh kok bisa Cha? Kok bisa pisah-pisah gitu ayatnya? Emangnya selama ini Acha menghafal lagi?”Tanya Nayya. “Iya nih adek abangnkok bisa hafal banyak surah gitu?”Tanyanya dengan binar.


Acha mengeleng.”Acha tidak menghafal karena Acha tidak bisa menghafal.”Ujar Acha dengan polos.”tapi kata bunda tidak apa-apa, yang penting Acha harus sering mengaji dan juga melafaskanya secara khidmat, harus mencintai Al-Qr’an dan biarkan ayatnya menyerap sendiri diotaknya Acha. Katanya penghafal itu bukan dari orang cerdas, tetapi untuk orang yang mau dan memiliki hati bersih. Memiliki iman yang tinggi untuk memilih membaca dan mendengarkan Al-Qur’an ketimbang membaca dan mendengarkan hal yang tidak penting. Hhhmmm mangkanya Acha disarankan untuk tidur sembari mendengarkan murotal, bangun subuh setelah sholat tahajud suruh membaca dua ayat saja sampai satu minggu terus berlanjut tapi ditambah jadi dua ayat hingga berlanjut. Jadi Acha hafal surat Al-Baqarah.”Ujar Acha bercerita.


“Wohh...”Nayya bertepuk tangan.”Acha keren banget. Jadi Acha hafal berapa just?”Tanyanya disana antusias. Habib diam mendengarnya saja.


Acha mengernyit menghitiung. “Tidak tau tapi sudah beberapa surah yang Acha sukai dan just 30saja. Tapi acha akan berusaha lagi sebagaimana kata Umi. Jika orang yang berusaha akan menuaikan hasilnya, maksi hasilnya gagal tapi kita akan mendapatkan pengalaman yang tak akan didapatkan orang lain.”Ujarnya polos.


“aahhh. Acha anak Umi makin pinter deh. Sini peluk dulu.”Ujar nayya memeluyk Acha. Acha disanapun memeluknya kaku karena bajunya. “Nanti Acha mau hadia dari Umi? Nanti umi belikan.”Ujarnya disana.


Acha menatapnya binar.”Beneran Mi?”Tanyanya. nayya mengangguk.”Acha mau main salju ditaman bareng abi. Mau main boneka Elsa itu loh yang bullet bulet ditaro wortel dihidungnya.”Ujarnya.


“No..!” Ujar Nayya dan Arga. Acha terdiam mendengarnya dan menatap mereka dengan sendu.”Tidak boleh. Nanti Acha sakit . kami tidak mau Acha sakit paham? Acha inget tahun lalu Acha main salju akhirnya Acha sakit stau bulan, karena acha meradang dan suhu tubuh Acha tidak normal?”Tanyanya disana.


Acha diam menatap mereka murung. Habib disana pun menatap anaknya dnegan ibah. “Ayo turun sudah sampai.”Ujar Habib. Dengan segera Habib membuka pintu mereka. Nayya dan Arga turun dengan Acha yang turun dengan muka sedihnya. Sesekali ia mendongak dan menatap salju turun. Ia menuulurkan lidahnya dan hap.. saljunya jatuh kelidahnya membuat ia tersneyum.


Habib disana menariknya dan merangkulnya.”Nnati kita beli es krim saja mau? Hadia dari abi.”Bisiknya.


“ Beneran?”Tanya Acha disana dengan semangat. Habib mengangguk membuat Acha merengut.”Tapi nanti kena ,marah Umi, nanti acha batuk mana lagi dingin. Enggak akh nanti acha dimarahin.”Ujar Acha mengusap hidungnya.


“Hmm kalo kita bikin saja bagaimana?”Tanya habib kepadanya. Acha menatap abinya dengan delikan.”Memang abi bisa?”Tanyanya.


Habib mengangguk.”Bisa dong. Apa si yang enggak bisa buat anak abi.”Ujarnya disana kepada Acha.


Acha mengangguk mengangkat jari kelingkingnya.”Janji.”Ujarnya.


Habib mengangguk dan menyambutnya.”Janji dong.”Ujarnya tersneyum. Acha bertepuk tangan dan memeluknya.


“Kalian janji-janji apa si kok engak ajak-ajak kita yah kan Ga.”Ujar nayya. arga berdehem saja akan ucapan uminya.

__ADS_1


“Ih Umi kepo. “Ujarnya Acha kepada uminya, nayya melotot dibuatnya membuat nayya tercengor.


__ADS_2