
Sesuai janji Nayya kepada anak-anaknya. Ia menceritakan semua asal-usul pernikahan mereka, mulai daeri Habib menabraknya hingga buta, ia yang tak mampu berjalan hingga selama enam bulan karena tulang punggung dan kakinya patah, lalu ia yang diculik, dan Habib menikah llagi. Tangan Arga sedari tadi terkepal mendengarnya. Bahkan ketika Nayya menceritakan jika ia yang sudah menolak menikah tapi Habib tetap ingin menikahinya dan Nayya yang lumpu total.
Sampai Nayya yang diculik oleh kakaknya Khumairo, Aron.
Khumairo yang mengejar Habib dan Habib yang berjanji tidak akan menikah lagi karena menyayanginya. Demi apapun Arga tak tahan mendengarnya hingga ia merasa sesak didadanya. Sampai pada Nayya pulang namun Habib sudah menikah lagi.
“Stop Mi.. jangan dilanjutkan lagi.”Ujarnya. ia menatap nayya yang menceritakanya dengan tenang meski tak mampu ia pungkiri jika ia melihat jika mata ibunya sudah membening menitihkan embun yang siap meluncur kapan saja.
Nayya yang dihentikan cerita menatap Arga nanar.” Belum selesai. Kalian mau taukan bahagimana umi membesarkan kalian dan bisa bersama ayah Rey dan Bunda Rindu? Kalian hanya mendengar perpindahan Umi saja.”Ujarnya Nayya.
“Arga tidak peduli.”Ujar Arga nanar. Ia menatap Rindu nanar.”Arga tidak peduli bagaimana kalian bisa menjadi ayah dan ibu kami. Tapi yang kami tau tanpa adanya kalian mungkin kami sudah mati dalam tragedy penculikan itu.”Ujarnya nanar. Ia tak tahhan mendengar cerita Nayya yang berjuang hidup demi dirinya dan Rindu yang menyelamatkannya.
Nayya disana pun memeluk Arga yang nafasnya naik turun dibuatnya. “Arga tidak bisa terima.. Arga tidak mau ada ayah dihidup kita jika itu bisa membuat umi sakit. Arga tidak mau.”Ujarnya memeluk Nayya erat dan tak mau terlepaskan lagi. "Arga tidak mau Umi sakit. Arga sayang Umi.”Ujarnya disana lemah. Yah sikapnya sama dengan Arga lembut. Hanya saja ia dididik keras oleh Rindu membuat sikapnya berbeda jauh. Hanya hatinya saja yang lembt dan gampang menangis.
Acha disana diam menatapnya. Ia masih menerawang jauh diantartikanya, menghayal dan membayangkan ibunya diposisi itu. Ia yang tak mampu berfikir dewasa saja tau jika itu menyakitkan. Ia tak tau harus apa. Ia hanya bisa menyimak menatap keduanya.
“Tidak bisa begitu. Ayah kalian tidak tau jika ibu dikalah itu diculik.”Ujar Nayya membela Habib.
"Tapi dia malah menikah lagi dikalah Umi hilang dan beruang demi kami Umi. Dan sekarang dia mau bertemu kami kembali.”Ujarnya Arga disana dengan Uminya.
Nayya diam memeluk Arga. Ia menatap uminya dan mengusap pipinya.”Bagaimana bisa kami bersama denganya dengan baik-baik saja jika ia sudah menyakiti umi dari awal pernikahan hingga akhir. Bagaimana bisa?”Ujarnya disana lelah.
Lalu menatap lain arah.” Meskipun Arga tau yang salah itu adalah Khumairo dan kakaknya. Arga tau tapi suami Umi juga salah karena dia sudah mengabaikan ucapan Umi. Umi sudah mengorbankan hidup umi karena dia tapi dia malah menyakiti umi.”Ujarnya. ia sedikit tak nyaman memanggil orang lain dengan panggilan ayah.
“Hey.. suami Umi itu ayah kalian. Jangan gitu manggilnya.”Ujarnya Nayya kepada anaknya mengusap kepalanya.
Arga menatap lain arah.”Ayah kita hanya satu ayah Rey. Arga tidak mau memangil dia ayah.”Ujarnya lirih./”Mereka dua orang yang tidak bisa ditandingkan,jika mau panggilan lain saja.”Ujarnya disana tak suka.
Bagi Arga sikap Rey dan juga ayah kandungnya bagai langit dan bumi. Tak bisa disamakan. Lantas bagaimana bisa ia menyamakan keduanya? Bagaimana bisa ia memanggil dia juga ayah sedangkan ia tak pantas dipanggil ayah?
“Kalo Acha bagaimana?”Tanya Rindu kepada Acha disisinya.
Acha hanya menggeleng dan mengerjab lemah. Ia tersneyum nanar dan berkata.” Acha tidak tau. Yang Acha tau bertemu bukan berarti menerima, dan mengakuhi dia ayah kandung kami bukan berarti kami bersamanya. Jadi tidak ada yang harus diperdebatkan. Kalo kata Bunda jika masa lalu itu biarlah berlalu. Jika disamaratakan dengan masa depan, maka kita akan tertingal pada zona yang sama, sama ditempat tak akan maju. Yang artinya kita tak akan menemukan jati diri hingga mati.”Ujar Avha mengingat kata-kata Bunda Rindunya.
Arga diam menatap sang adik, benar kata adiknya, menemui ayahnya bukan berarti menerima, dan mengangap ia ayah kandungnya bukan berarti mereka harus bersama kan? Ia menatap Acha degan binarnya,. Adiknya sudah dewasakah?
Lalu ia mampu menatap air mata Acha yang jatuh lalu menatap bunda Rindunya dan uminya.”Bunda maafin Acha yah. Padahal bunda baik tapi Acha sakitin sama kata-ata ACha yang jahat.”Ujarnya kepada Rindu lalu memeluknya. Rindu membalasnya dengan senyumnya..
Mendengar rindu membantu Umminya saat diculik membuat Acha jadi tau san merasa sangat bersalah.
Lalu ia mendekati Uminya dan memeluknya erat.”Bunda terimakasih karena sudah berjuang sejauh ini untuk kami. Terimakasih Karena umi rela melepaskan ayah demi kebahagiaan kami. Terimakasih karena sudah berjuang sejauh ini. acha tidak tau jika umi berjalan sejuah ini untuk kami.”Ujarnya lirih disana dan nanar.
__ADS_1
Nayya disana mengangguk memeuknya. Acha menatap Arga sendu dan tersenyum.” Kakak juga mafain Acha kan? Acha janji akan dewasa kayak kajak, tapi acha tidak janji untuk bisa seperti kakak.”Ujarnya. Arga memeluk sang adik erat dan mengangguk.
“Jadinya gimana nih?”Tanya Rindu disana kepada mereka disana nanar.
Nayya menatap Rindu dan menatap anak-anaknya.”oh iya, ada kabar juga jika rumah disamping ini akan dijual. Nayya ingin membelinya untuk kita, Nayya takut nanti Habib suka kesini dan bertemu dengan anak anaknya jadi menunggu mbak dan Mas Rey. Nayya tidak neka nantinya. “Ujarnya meringis lalu menatap anak-Anaknya.
“Dan supaya mrereka juga bisa bicara dan mengakrabkan diri dengan Habib. Nay mau mereka saling kenal dan terbuka. Jika mereka merindukan mas Rey dan Mbak bisa kesini gitiu.”Ujarnya
“Acha arga enggak setuju. ”Kata keduanya cepat,” Arga engak mau. Arga mau disini saja sama bunda dan ayah. Tidak mau jauh-jauh.”Ujarnya menolaj dengan keras.,”Jika dia mau ketemu yah disini saja kenapa mau dirumah khusus kayak presiden saja.”Ujarnya menolak dengan mentah mentah,.
Rindu mendengarnya ikut sedih karena harus sendiri drumah ini. “Nay.”Gumamnya.
Nayya menatap Rindu dan anaknya mengeleng.”Keputusan nay sudah bulat mbak. Lagian perumahan disini susah kalo ada yang jual karena langkah. Nay juga tidak mau mereka pisah dengan mbak dan mas Rey. Mereka pindah Karena anak mereka harus berobat dikota lain. Nay mau hidup kami mulai dengan baru dan mandiri, tidak bergantung dengan mbak lagi. Atau nanti mbak dan mas Rey bisa kerumah.”Ujarnya Nayya.
“ Rumah disebelah sini kan?”Tanyanya disana dan diangguki oleh Nayya..
Rindu mengangguik.”Boleh juga si, tapi kita bikin pagarnya nyatu aja mau?”Tanyanyam
Nayya menatapnya binar dan menatap anak-anaknya yang lesuh. Rindu tersenyum.”Nanti kalo kalian mau kabur dari ayah kalian bisa kesini sama bunda, atau kalian bisa nginep disini kapanpun si. Rumah kalian Cuma buat kedok saja supaya ayah kalian tidak bisa memaksakan kalian.”Ujarnya Rindu.
.
Rindu disana menatap nayya lirih.”Disini saja yah Nay.”Ujarnya. nayya mengeleng.
Rindu disana menghela nafas dan menganggguk pasrah saja.”Uang beli rumahnya cukup?”Tanyanya, secara rumah disini mahal.
Nayya disana tersenyum.”Nay nyicil dua kali mbak, sekalinya lagi tahun depan.”Ujarnmya.
Rindu mentapnya tajam., "No. tidak ada hutang-hutangan, cicil-cicilan. Langsung bayar saja nanti mbak tambahin buat kalian.”Ujarnya.
Nayya mau membantah.”Jika tidak mau yah sudah arga dan acha disini saja. Kamu saja yang pindah. Mbak tidak mau ada hutang-hutangan yah, siapa jamin kamu masih hidup sampai tahun depan? Bahkan satu detik kedepanya tidak ada.”Ujarnya disana.
Nayya diam menatap Rindu lirih. “Tidak ada toleran sama mbak Nay. Kamu tau jika mbak tidak suka hutang. Ribah, zina dan sebagainya. Mbak itu udah anggap kamu adik mbak. Nanti kamu bicarakan dulu sama mas Rey sebagai kepala keluarga kita.”Ujarnya Rindu.
Nayya hanya mengangguk pasrah dan berjanji pada dirinya jika ia akan mengembalikan uangnya kepada Rindu. Tapi jika diingat ingat hutangnya bahkan tak akan mampu ia bayar sampai kapanpun, donor mata saja yang milyaran kemarin belum ia bayar. Ia hanya bisa menghela nafas saja dan bersyukur kenal dengan Rindu. Dan ini salah satu alasan kenapa ia tak mau menyakiti Rindu, karena Rindu adalah manusia baik. Manusia baik tak pantas untuk ia sakiti.
Acha dan arga hanya bisa diam saja dengan tak suka. Mereka tak mau, tapi mendengar jika ia bisa kesini sesuka hati membuat ia mau saja. Lagian rumah merekan disampingan saja. Jadi ia bisa membujuk ayah Rey atau bundanya kesana. Hmm senyum licik mereka terbit dibuatnya.
Disisi lain ada tangan yang terkepal disana menatap jalanan.”Siyalan sial sial sial..,”Gumamnya tak suka. Ia gagal ketika mau masuk dan memasuki rumah itu. “ Bagaimana bisa Nayya tinggal dirumahan terelit dikota ini. itu itu mistahil..!” Teriaknya tak suka. Dia aron yang tadi mengikutinya.
Aron tak habis pikir. Pajaknya saja sampai ratusan juta disatu tahunnya. Ia mengusap pelipisnya.”Jika begini akan sulit bagiku untuk mengusik hidupnya dan menculiknya. Aku hanya bisa berjalan diluar kecuali jika aku tinggal disana. Tapi mana bisa, disana orang-oranng sangat mengidamkan rumah disana, mana mungkin ada yang mau menjualnya.”Gumamnya.
__ADS_1
Ia menghela nafas dan memejamkan matanya. Ia harus memikir cara lain untuk menculik dan menghancurkan Nayya. yah, ia harus cari cara lain dengan lebih baik lagi. ia tesenyum sinis mengingat ucapan nayya pada Khumairo.
”Dia tetap Litel Lion yang Galak.”Gumamnya disana. Jatuh cinta itu memang gila, mau siapapun dia dan kapanpun . jika sudah cinta bagaimana lagi?
...----------------...
Pagi ini berjalan seperti biasa, Acha dan Arga memilih berjalan kaki kekampus karena ingin saja. Arga dan acha gandengan layaknya pacaran, dengan wajah yang mirip, tinggi badan yang sama, hanya mata dan juga kulit yang berbeda. “Bagaimana menurutmu ayah kandung kita?”Tanya Arga kepada ACha.
Acha disana pun menatapnya dan menghela nafas. Ia mengeleng.”Tidak mau memikirkannya. Ngapain dipikirin kalo kita punya ayah Rey. Bagi acha itu sudah cukup. ingat kata bunda kita harus bersyukur tentang apa yang kita punya. Hidup itu tidak ada yang sempurna. Jika ayah kandung kita tidak baik kita punya bunda dan ayah sebagai penggantinya.”Ujarnya bijak. Ia itu pengingat yang handal tentang nasihat.
Arga menatap sang adilk dan mengangguk benar yang dikatakan Acha. Lalu acha kembali bicara dengan senyumnya.”Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Karena kita sudah bahagia.”Ujarnya tersneyum sendu. meski ia sendiri tak mampu memungkiri jika hatinya sakit memiliki ayah kandung yang sudah menyakiti ibunya demi wanita lain.
Arga menatap adiknya lirih dan mengangguk. Sampai pada Acha disana tak sengaja menabrak mobil yang terparkir tak juah dari penjagaan perumahan rumah mereka.”auuu sakit.” Untung tubuhnya ditahan oleh kakaknya jika tidak sudah pasti jatuh dia.
Arga menatapnya kaget.”Yaampun Acha kamu engak apa-apa?”Tanyanya disana mengusap kaki adiknya yang terluka.
Acha disana menatap mobil itu dan Bugh.. “Nakal mobilnya, parkir sembarangan.”Ujarnya disana dengan kekanakan.
Arga disana menahan kaki Acha.”Jangan ditendang. Mobilnya enggak bakal sakit, malah kaki acha yang sakit.”Ujarnya. acha disana menatapnya cemberut.
Brak.. keduanya kaget ketika ada seseorang keluar dari mobil itu dengan garangnya.”Kalian ngapain tendang mobil saya ha? Mobil saya mahal tau..! Kalian tidak akan mampu beli. ” Ujarnya membentak, melihat Acha dan Arga yang berjalan kaki dengan baju yang sederhana dan hijab yang sopan membuat ia yakin jika mereka orang miskin mangkanya jalan kaki.
Acha berkecak pinggang dibuatnya menatap sosok didepanya itu. Sosok pria itu menatap mobil yang ditendang tadi.”Nah kan lecet. Kalian tidak akan mampu membayarnya nanti..!” Ujarnya disana membentak dihadapan acha.
Plak.... Acha reflek menamparnya kuat. Arga melotot dibuatnya. Acha menatapnya dengan tatapan polos dan tajamnya membuat sosok itu mengusap pipinya.
“Kamu—“ Ia ingin menamparnya namun Acha disana malah mentapnya tajam dan polos tak mengedip membuat ia tertahan.
“APA MAU BALES. INI BALES.”Ujar Acha menepuk pipinya sendiri.
“Acha..”Gumam Arga menahan Acha yang marah.
“Diem kak..!” Bentak Acha disana tak suka ditahan. Ia masih menatap sosok didepanya itu.”Bisa enggak bentak bentak tidak? Orang tuanya acha saja tidak pernah bentak kami. Cuma karena barang saja kamu begitu. Kalo kami miskin kenapa ha?”Teriaknya tak suka.
Sosok disana menatap Acha tajam dan Arga juga. “Mobil saya mahal, kamu tendang-tendang saja. Harusnya kamu itu minta maaf bukan ditampar. Tidak diajarin sama orang tua kamu tentang ettitud nggaa? Andai kamu bukan perempuan, sudah saya habisi kamu..”Ujarnya membentak lagi. sosok parubaya yang berusia 44tahun itu membentak.
“ Yah maaf, “Ujar ACha disana polos.”Acha tau acha salah tapi bukan berarti menyamai kami sama harga mobil. “Ujarnya.”Dan jangan salahkan ajaran orang tua kamui, yang salah Acha bukan orang tua acha.”Ujarnya polos lagi.
“Acha..!!” Gumam Arga disana meringis.
.
__ADS_1
.