Istri Butaku

Istri Butaku
Marah


__ADS_3

... "Setiap situasi buruk akan memiliki sesuatu yang positif. Bahkan sebuah jam mati pun menunjukkan waktu yang tepat dua kali sehari. Tetap positif dalam menjalani hidup. Allah tahu apa yang terbaik untukmu."...


Langkah kaki Habib lebih berat dibanding hari biasanya. Sikapnya semakin dingin dan tak tersentuh.


Ia bahkan tak melirik wanita yang terang terangan menunjukkan ketertarikan nya.


Jika kalian bertanya apakah ada yang mendekati Habib? Banyak, bahkan Khumairo masih mencintainya hingga sekarang dan menunggunya, ada juga banyak anak-anak dari teman ayahnya menjodohkan mereka, bahkan ada yang terang-terangan mengatakan ingin menikah dengan habib jika benar-benar Habib sudah bercerai dengan dua istrinya.


Bahkan lagi ni yah. ada juga yang mau menjadi madunya Habib.


Namun lagi lagi Hbaib menolak dengan dalih ia tak pernah menceraikan istrinya,, dan ia tak mau menikah lagi. ia sudah memiliki keturunan dan sebagainya. Jadi sudah tidak ada alasan untuk dia menikah lagi atau mendukan Nayya. ia memang sudah tak ada niat untuk menyakiti Nayya.


Namun kali ini ia dipatahkan dengan keadaan, dipukul oleh kerinduan dan dihancurkan dengan kenyataan. Semuanya sudah hancur. perasaan, hati dan harapan. Yang ada hanya hati yang sulit dimengerti oleh banyak orang. Namun lagi dan lagi itu hanya masalah pribadi namun ia punya tanggung jawab. Ia harus mengajar untuk kesekian kali dan bertingkah selayaknya ia baik-baik saja


Matanya menatap anak murid didepan matanya, hari ini ia mengajarkan dikelasnya Acha namun sudah lima menit ia disini ia tak bertemu dengan Acha membuat ia cukup rindu. Namun diam-diam ia hanya mengajar saja membuat banyak bisik-bisik yang membicarakan dirinya yang semakin hari semakin tampan.


Tak lama setelahnya Acha datang membawa ranselnya menatap kearah Habib diarah pintu. Habib tau hanya saja ia diam-diam bagaikan orang yang tidak tau. Acha disana pun menatap Tasya dan Radit membuat keduanya melotot menatap Acha.


Acha disana dengan nafas naik turunnya segera masuk dengan pelan-pelan, kakinya ia jinjit supaya tak menimbulkan suara yang keras. “Siapa yang suruh masuk?”Tanya Habib. Langkah Acha terhenti membuat suara hening.

__ADS_1


Acha disana pun menepuk keningnya dan tersenyum karena sudah ketahuan oleh dosennya.” Eh bapak. Hehe.”Ujar Acha disana segera mendekat mau bersalaman namun Habib segera mundur. Acha disana menggigit bibir bawahnya karena malu. Habib melipatkan tangan diatas dada.”Bapak tidak mau salam dengan saya pak? Saya murid bapak loh.”Ujar Acha nanar.


Habib menatap lain arah dan kembali bertanya.”Jangan sok baik. Saya kembali Tanya, siapa yang suruh kamu masuk? Kamu tidak disiplin sekali jadi mahasiswi yah. dua kali masuk dua kali juga kamu telah yah.. Kamu tidak bisa menghargai waktu? .”Ujar Hbaib disana sinis membuat Acha disana menatapnya dengan rasa bersalah.


Acha menunjuk tangannya.”Tadi Acha jatuh. Liat luka semua.”Ujarnya Acha menunjukan telapak tangannya.


Memang benar ia jatuh. Habib meliriknya dingin.”Jatuh dimana?”Tanya Habib. Ia jadi khawatir karena lukanya cukup dalam.


“Tadi Acha dikejar Gugug.”Ujarnya Acha polos.”Terius karena Acha takut jadi Acha lari kenceng-kenceng. Acha enggak tau Acha lari kemana terus Acha enggak sengaja kesenggol orang yang pakek motor. Terus acha kesesat engaak tau arah kampus tapi alhamdulillah tadi ada cowo yang bantuin Acha.”Ujarnya disana dengan polos.


Habib mendengarnya terdiam, ada rasa khawatir dihatinya.. Nampak disana Acha sangat polos menjelaskannya menjelaskan seakan-akan dia itu adalah kertas putih yang tana noda.


"Kenapa tidak diobati?? " Tanya Habib


“Duduklah..”Ujarnya disana. Ia sedikit lebah.


Acha disana pun mengangguk tersenyum.”terimakasih bapak.”Ujar Acha lalu segera mau duduk namun ia sedikit terpeleset hingga ia terdiam sejenak. Untung ia bisa menahan diri.


”Hati hati mangkanya..!” Ujar Habib disana. Acha disana pun terdiam dan mengangguk. Ia segera berjalan lagi dengan luka ditangannya.

__ADS_1


Duduknya Acha mengundang banyak pertanyaan Tasya dan Radit yang duduk dibelakangnya membuat Acha puisng.” Gimana kamu bisa dikejar anjing si ha? Yaampun kamu baik-baik saja kan?”Tanyanya Tasya disana dengan nanar kepada sang teman.


“Iya yaampun kita bisa kena omel bang Arga kalo gini. Kamu kok bisa ceroboh gitu si..!!” Tanya Radit menimbun masalah. Acha disana hanya memijit pelipis dibuatnya karena lelah dan juga sakit kepala. Acha disana menghela nafas menatap keduanya.


Temannya emang suka berlebihan sih.


“Yang didepan jangan berisik. Nanti kalian yang saya suruh menjelaskan didepan..”Ujar Habib.


Acha disana menghela nafas dan juga terkekeh.. ia mengeluarkan banyak buku bukunya ditas meja dan satu pulpen. Namun ia terdiam dikalah salah satu lelaki dikelasnya itu melemparkan Hansaplas dikmejanya cukup kasar. Lelaki yang memang terdengar sangat kasar dan juga tak berperasaan. Bukan hanya hansaplas tapi juga ada kotak obat.”Obatin. Saya jijik liat ada darah.”Ujarnya disana tajam.


Acha disana pun menganguk saja dan mengambil obat itu. Ia malas rebut membuat sosok itu memutar bola mata malas dan juga kembali bersandar menatap Habib didepan. Namun kembali terdiam dikalah ada yang bertanya kepada Nayya.”Nay coba kau liat. Itu ditangan pak Habib ada cincin yah kan? Pasti cincin nikahan mereka.”Gumamnya Taysa disana tersenyum,”Pasti dia setia yah. Liat cincinya aja tidak dilepas sampek sekarang.”Ujarnya baper sendiri.


Acha disana menajamkan matanya menatap cincinnya Habib. Jarak yang cukup jauh dan cincin yang kecil membuat Acha hanya mampu melihat samar-samar, namun satu hal yang ia tau. Cincin itu mirip dengan milik ibunya. Apa ia tak salah liat karena jarak yang jauh ini.


Namun ia harus berfikir positif. Kan cincin itu bentuknya bundar. Pasti hanya sama dari jauh.. dan jikapun memang sama bukankah itu hal yang wajar? Sebab itu adalah barang, yang bisa dijual dimanapun untuk menghasilkan pundi-pundi uang dari sang pemilikl bukan?


Setelahnya ia meringis measakan sakit dilukanya. Jujur sebenarnya lukanya itu bukan hanya diltelapak tangan dan dilengan saja, tetap juga ada dilututnya dan bagian bawah kakinya.. namun ia diam saja supaya tidak ada yang khawatir. Ia tak mau dikatakan caper.


Pukul sudah menunjukan jam 11 siang membuat perkuliahan itu sudah usai. ”Baik sampai disini masih ada pertanyaan?”Tanya Habib disana dengan tatapan tajam kepada anak-anak yang ada. “Jika tidak saya permisi.”Ujarnya membereskan peralatannya.

__ADS_1


“Caca caca mau nanya..!!!” Ujar Acha semangat membuat habib menatapnya. Acha mengerjab dan bertanya.”Enggak jadi.”Ujar ACha disna amembuat habib menatapnya dengan datar.”Bapak tu kalo marah lucu acha suka.”Ujarnya membuat gelak yang lain terdengar.


.


__ADS_2